Tidak ada pejabat yang punya anak dalam penegakan hukum. Berlakulah adil karena Allah menjadi saksi dalam keadlian.

IMG_0223

SOAL PENEGAKKAN HUKUM

Nabi Muhammad Saw pernah menyatakan bahwa hancurnya umat-umat (bangsa-bangsa) terdahulu karena mereka mempermainkan hukum. Kalau ada orang miskin terlibat kasus hukum, walaupun sangat sepele, maka hukum segera “ditegakkan”. Tapi kalau orang-orang terpandang (pejabat, anak pejabat, orang kaya, ‘penegak hukum’, dan orang terpandang lainnya) yang terlibat kasus hukum, maka hukum menjadi tumpul. Para penegak hukum yang menangani kasus tiba-tiba menjadi gagap, dan berusaha mencari “celah” yang dapat meloloskan orang terpandang yang bersalah itu dari jerat hukum. 

Rasulullah, Muhammad Saw, sampai bersumpah, “Demi Allah (yang jiwaku ada di dalam genggaman-Nya), seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya!”

Rasulullah Saw menyebut Fatimah binti (putri/anak) Muhammad, bukan anak Rasul Allah. Karena beliau menyadari, rasul laksana “jabatan” yang diamanatkan Allah kepada beliau. Kalau beliau menyebut Fatimah anak Rasul Allah, maka bisa jadi orang akan segan menangani kasus kalau–seandainya–nanti Fatimah benar-benar mencuri. Lagi pula, Rasul tidak punya anak. Yang punya anak adalah Muhammad Saw.

Itulah sebabnya, penegak hukum kita sering “kagok” ketika menangani kasus yang berurusan dengan “anak pejabat”. Padahal tidak ada pejabat yang punya anak. Yang punya anak adalah si Fulan atau Fulanah, yang jabatannya adalah Menteri, misalnya. Maaf, (ini hanya misal saja), umpamanya Kaesang putra Pak Joko Widodo tiba-tiba tersangkut masalah hukum, maka seharusnya kita tidak mengatakan, “Kaesang putra Presiden”. Karena presiden (sebagai jabatan publik) memang tidak ada yang punya anak. Yang punya anak Pak Joko Widodo, bukan Presiden RI. 

Menisbatkan seseorang yang terkena masalah hukum dengan jabatannya atau jabatan orang tuanya dapat membuat pengadilan berjalan tidak fair. Khawatir pengadil merasa sungkan. 

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau Ibu, Bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia, kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemasalahatanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dan kebenaran. Dan jika kamu memutar-balikkan (kata-kata) atau dengan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala yang kamu lakukan.” (QS. Al-Maidah [5] : 8)

Hakikat penegakkan hukum dalam Islam pertama-tama karena Allah dan untuk memenuhi “rasa keadilan” itu sendiri, bukan karena status sosial seseorang, tidak berdasarkan agama, bukan karena nafsu atau kebencian, apalagi karena membayar atau menyerahkan sejumlah besar uang. Dalam banyak kisah, dilukiskan bagaimana kaum Muslimin yang berperkara di pengadilan kalah melawan orang-orang non-Muslim, padahal hakim pengadilnya adalah seorang Muslim. Para pengadil memang tidak boleh memutuskan perkara dengan rasa kebencian yang sangat karena terdakwanya adalah orang yang menyakiti saudara, teman atau koleganya, atau juga sesama penegak hukum. Dalam Al-Qur’an Surat an-Nisaa ayat 135, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjadi penegak keadilan,

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan takwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Memang susah menegakkan keadilan, apalagi kalau ada “tangan-tangan siluman” yang menekan dan berusaha ikut mempengaruhi proses pengadilan.

Gunawan Yasni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s