Hati-hati kalau tidak ikhlas, tidak sabar, tidak bersyukur, karena dampaknya bisa panjang menjadi sabotase diri di masa depan

image

Gambar: @IslamicArtDB dari laman facebook Amatullah Umm Abdullah

🍵 Cukup Letakkan Gelasnya 🍵

Seorang dosen memulai kuliah dengan memegang sebuah gelas berisi air, dan bertanya, “Kira-kira berapa berat gelas ini?” sambil mengangkat gelas tersebut pada posisi agak tinggi hingga seluruh mahasiswa dalam ruangan bisa melihatnya.

“50 gram..100 gram..150 gram..entahlah,” jawab seorang mahasiswa.

“Kita takkan tahu jika tak menimbang nya,” jawab sang dosen diiringi tawa kecil para mahasiswa.

“Pertanyaannya adalah apa yang akan terjadi kalau saya mengangkat gelas ini selama 3 menit?” lanjutnya.

“Tidak akan terjadi apa-apa,” kali ini jawaban seorang mahasiswa terdengar sangat meyakinkan.

Dosen tersebut masih melanjutkan, “Kalau saya mengangkatnya selama sejam?”

“Wah..tangan anda akan keram, Prof,” jawab si mahasiswa.

“Bagaimana kalau aku mengangkatnya seharian?” tanya sang dosen belum puas.

“Entahlah, mungkin tangan anda akan mati rasa, beberapa otot akan terluka mungkin juga lumpuh. Dan yang jelas anda harus dibawa kerumah sakit,” seisi ruangan tertawa.

“Betul sekali, lantas apakah berat gelas ini akan berubah?”

“Tidak, Prof.”

“Lalu apa yang harus saya lakukan supaya hal-hal buruk diatas tak perlu terjadi?” sang dosen terus bertanya.

“Anda tak boleh lupa untuk meletakkan gelasnya.”

“Persis, jangan mengangkat gelasnya terlalu lama.”

Masalah hidup layaknya gelas tadi, semakin lama kita bawa, semakin lama kita akan terbebani, semakin menderita pula kita pada akhirnya.

Bobot masalah takkan berubah sedikitpun hanya kita begitu lama dan dalam memikirkan nya.

Benar bahwa setiap masalah memang harus difikirkan untuk dicari solusinya, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita mempercayakan semua pada Allah, bahwa ditanganNya lah segala kuasa. Dia yang mengatur alam semesta, menjaga keseimbangan bumi, sangat mustahil jika Dia lupa memberi kita jalan keluar. 

“Dialah yang  menurunkan keterangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana” (Qs. Al Fath : 4).

Ketenangan hati adalah bukti kuatnya iman, sebaliknya kita harus hati-hati saat dilanda terlalu banyak kegelisahan, seolah masalah kita sangat besar, hingga merasa sebagai manusia paling menderita. Karena bisa jadi saat itu iman kita berada di titik nadir hingga syaithan leluasa menggoda.

Hiduplah dengan semangat pemburu syurga bukan sekedar pemburu dunia yg penuh tipu daya syetan didalamnya (bangga dg harta, kedudukan, kecantikan, dan lain sebagainya).
Bila smua kita pasrahkan kepada NYA  niscaya takkan ada masalah yang terlalu berat terasa.

Kiriman
Pak Fahrizal Zein

Terima kasih banyak, Pak. Semoga berkah untuk semua yang menulis, menyebarkan, mengajarkan dan menjalankannya.

🌺🌴🌺🌴🌺🌴

Teman-teman,

Banyak sekali manusia yang tenggelam dalam masalah dunia dan sulit untuk melepaskan diri dari masa lalu. Allah memang menciptakan otak yang sangat hebat, mampu melindungi pemiliknya dari berbagai trauma. Allah ingin manusia ikhlas, sabar dan syukur sehingga segala pengalaman menjadi pelajaran dan tidak menimbulkan energi negatif seperti kesal, sebal, iri, marah atau takut.

Memang tidak mudah.
Kita masih sering tidak rela, tidak sabar, tidak syukur dan tidak ikhlas. Bahayanya, kekesalan, amarah atau frustasi yang muncul menimbulkan hambatan energi dalam tubuh yang menetap. Otak pun merekam pengalaman buruk ini dan menyimpannya sebagai pikiran bawah sadar. Celakanya pikiran bawah sadar ini yang mengendalikan 90% perilaku kita.

Setiap kali kita menghadapi suasana serupa, pikiran bawah sadar akan mencegah kita melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan hal yang dulu pernah tak kita sukai. Seorang anak yang waktu kecil dilarang bertemu dengan orang yang baru dikenal, di saat dewasanya tak akan mudah bergaul dengan orang baru. Seorang anak yang dicap nakal sejak kecil akan percaya bahwa ia adalah anak nakal dan akan berperilaku seperti itu sampai ia dewasa. Inilah yang namanya sabotase diri, menghambat diri sendiri menjadi sukses.

Marilah kita rajin evaluasi. Gelas mana yang masih kita pegang sampai sekarang dan menyebabkan berbagai perasaan tak enak sehingga kita sulit untuk maju dan ambil resiko?

Apakah ada perasaan kecewa akibat tidak diperhatikan waktu kecil sehingga kita sekarang malas bergabung dalam komunitas karena takut kecewa lagi tidak diperhatikan? Atau malah secara berlebih mencari perhatian orang lain?

Secara spiritual, banyak-banyaklah bertaubat, kembali padaNya, meminta maaf padaNya dan mensyukuri semua hikmah yang telah diberikanNya melalui berbagai ujianNya. Semua pengalaman buruk sesungguhnya Ia berikan sebagai ujian naik kelas. Kalau belum ketemu hikmahnya, coba cari terus.

Secara fisik, pelajarilah teknik EFT untuk melepas hambatan energi yang melekat sejak kita kecil, agar hambatan ini tak menjadi penyakit. Kanker, tumor dan berbagai penyakit lain bisa muncul dari tumpukan hambatan energi ini. Tapping EFT ini juga bisa dipelajari dalam MBP training di Jakarta.

Sebagai coach dan pemimpin kita perlu pula membantu mereka yang kita pimpin untuk bisa meletakkan gelas yang mereka pegang sejak kecil. Ada banyak teknik dan metode Ericksonian yang bisa kita manfaatkan untuk membantu mereka meletakkan  gelas dan fokus mengejar impian mereka.

Yuk, ramai-ramai kita letakkan gelas kita dan mulai fokus ke garis finish kita, ridlo Allah dan surgaNya.

Semoga Allah berikan kita kekuatan untuk bisa melakukannya. Aamiin yra.

🌺🌴🌺🌴🌺🌴🌺🌴

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s