Ucapkan hal yang benar, penting dan baik, atau diam!

image

Mari praktekkan/melatih SATU amal baik hari ini:

Berkatalah yang Baik atau Diam.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.”
HR. al-Bukhari dan Muslim

Rasulullah pernah memberi pelajaran kepada ‘Aisyah ra atas ucapan jelek yang diucapkannya. Dikisahkan oleh ‘Aisyah ra,

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ صَفِيَّةَ امْرَأَةٌ-وَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا كَأَنَّهَا تَعْنِي قَصِيْرَةً-فَقَالَ: لَقَدْ مَزَجْتِ بِكَلِمَةٍ لَوْ مَزَجْتِ بِهَا مَاءَ الْبَحْرِ لَمُزِجَ.

“Aku pernah mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Shafiyyah itu seorang wanita (yang seperti ini).’ ‘Aisyah berisyarat dengan tangannya seolah-olah dia menyatakan ‘pendek’. Rasulullah  mengatakan, ‘Sesungguhnya engkau telah mengatakan sebuah kalimat yang jika engkau campurkan ke air laut, niscaya akan tercemari!’.” 
HR. at-Tirmidzi no. 2502, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor.”
HR. at-Tirmidzi no.1977, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim adalah perbuatan fasik dan membunuhnya adalah perbuatan kufur.”
HR. al-Bukhari no. 48

الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُوْمُ

“Dua orang yang saling mencela, dosanya ditanggung oleh yang memulai, selama orang yang dizalimi tidak melampaui batas.” (HR. Muslim no. 2587)

وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيْهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

“Apabila seseorang mencaci dan mencelamu dengan aib yang ada padamu, jangan engkau balas mencelanya dengan aib yang ada padanya, karena dosanya akan dia tanggung.” (HR. Abu Daud)

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا فِى النَّارِ

“Sesungguhnya seseorang mengatakan satu ucapan yang dia tidak menganggapnya sebagai ucapan jelek, namun ternyata dengan ucapannya itu dia terjerumus selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi no. 2314, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi)

أَنَّ رَسُولَ اللهِ n وَقَفَ عَلَى نَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُم مِنْ شَرِّكُم؟ قَالَ: فَسَكَتُوا، فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ

Rasulullah Saw pernah berdiri di hadapan sekelompok sahabat yang sedang duduk. Lalu beliau bertanya, “Maukah kuberitahukan tentang orang yang terbaik dan orang yang terjelek di antara kalian?” Para sahabat terdiam. Beliau mengulangi pertanyaan itu sampai tiga kali. Berkatalah salah seorang dari mereka, “Tentu, wahai Rasulullah. Beri tahukanlah kepada kami orang yang terbaik dan orang yang terjelek di antara kami.” Beliau pun berkata, “Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang bisa diharap kebaikannya dan orang lain merasa aman dari kejelekannya. Adapun orang yang terjelek di antara kalian adalah orang yang tak bisa diharap kebaikannya dan orang lain tak bisa merasa aman dari kejelekannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2263, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani  dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Lebih dari itu, ucapan yang baik akan membuahkan keutamaan di akhirat nanti.

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Siapa yang bisa menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan -red.) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan -red.), aku akan menjamin surga baginya.” (HR. al-Bukhari no. 6474)

Bahkan, ucapan yang lembut kepada ibu akan membawa kebaikan yang amat besar bagi mereka.

Dikisahkan oleh Thaisalah bin Mayyas,

قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ: أَتَفْرَقُ مِنَ النَّارِ وَتُحِبُّ أَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: إِي، وَاللهِ! قَال: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قُلْتُ: عِنْدِي أُمِّي. قَالَ: فَوَاللهِ، لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتَنَبْتَ الكَبَائِرَ.

Ibnu ‘Umar ra pernah bertanya kepadaku, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” “Ya, demi Allah!” jawabku. “Kedua orang tuamu masih hidup?” ia bertanya lagi. “Aku masih punya ibu,” jawabku. “Demi Allah! Sungguh, kalau engkau lemah lembut berbicara dengannya dan selalu memberinya makan, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau jauhi dosa besar.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 8, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 6)

Sebaliknya, ucapan jelek yang biasa terucapkan akan melekat pula dan menghinakan pemiliknya di dunia dan di akhirat.

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sungguh, seseorang mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk ucapan yang diridhai oleh Allah, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu Allah mengangkatnya beberapa derajat. Sungguh, ada pula seorang hamba mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk perkataan yang dimurkai oleh Allah, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu dia terjatuh ke dalam neraka Jahannam.”
HR. al-Bukhari

Ketika Mu’adz bin Jabal ra bertanya tentang amalan-amalan yang bisa memasukkan seseorang ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, Rasulullah Saw  bersabda,

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى، يَا رَسُوْلَ الله. قَالَ: فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ، قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ – أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِم؟

“Maukah engkau kuberi tahu apa yang mengokohkan itu semua?”
“Mau, wahai Rasulullah!” jawabku. Beliau pun memegang lidah beliau sambil berkata, “Tahanlah olehmu ini!” Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, akankah kita dihukum karena apa yang kita ucapkan?” Beliau bersabda, “Ibumu kehilangan engkau, wahai Mu’adz! Bukankah seseorang ditelungkupkan dalam neraka di atas wajah mereka—atau hidung mereka—karena hasil ucapannya?”
HR. at-Tirmidzi no. 2616, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani  dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi

Kiriman Mbak Lyra

🍒🌲🍒🌲

Terima kasih banyak, Mbak.
Yuk, kita test kata-kata kita:
🍒 benarkah?
🍒 pentingkah?
🍒 baikkah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s