Catatan Haji 8: Yuk mulai menghafal Al Quran

Di Aziziah ini rombongan kami, jemaah haji Balda, diperkenalkan dengan Ustad Abdullah, ayahnya dan Rayan, adiknya. Ayahnya, Ustad Abdul Rohim, membawa keluarganya pindah ke Mekah agar semua anaknya menjadi hafidz. Subhanallah.

Ustad Abdullah menguasai 7 cara membaca Quran, menerima sertifikat dari Syekh di Universitas Madinah. Adiknya Rayan 17 tahun dan Nabila 21 tahun sudah hafidz Quran. Adiknya yang terkecil, Raniya 12 tahun, juga sudah hafal 10 juz. Subhanallah. Ayahnya pun tak mau kalah. Tadinya targetnya hanya membuat anaknya menjadi hafidz. Kini ia pun mulai belajar menghafal di usia 52 tahun. Ibunya pun kini mulai menghafal Quran. Subhanallah.

Ustad Abdullah menceritakan betapa indahnya rasanya memiliki keluarga yang hafal Quran. Allah selalu mencukupi keluarganya. Rizki datang dari berbagai sumber untuk segala keperluan mereka.

Tinggal di Mekah tidak menjadi jaminan hafal Quran. Banyak orang Mekah pun tak hafal Quran. Jadi menurut Ustad Abdullah semua orang bisa belajar menghafal Quran. Yang penting niatnya lurus, hanya mengharap ridlo Allah, dan disiplin total.

🍓🍓 Tips-tips nya adalah:
– mulai dengan yang mudah, juz ama
– mulai dengan surat yang keberkahannya ada landasan hadits nya, seperti Al Mulk, Al Waqiah
– hafalkan sedikit-sedikit, seperti 3 ayat setiap hari. Ulang di setiap kesempatan shalat fardlu dan sunnah
– ulang lagi di hari berikutnya dan mulai dengan 3 ayat berikutnya
– ulang terus yang sudah dihafal. Orang Mauritania unggul dalam hal hafalan karena semua ayat diulang setidaknya 100x
– mulai hari ini, sekarang, dari yang mudah, sedikit-sedikit

Alhamdulillah Ustad Abdullah dan adiknya, Rayan, mendampingi kami mempersiapkan dan menjalani perjalanan haji kami. Ayahnya sendiri adalah perwakilan Balda di Mekah. Selama persiapan haji di Aziziah kami pun banyak belajar membaca Quran, memperbaiki bacaan-bacaan shalat kami dan banyak konsultasi kepada Ustad Abdullah, Rayan, dan ayah beliau. Bahkan Nabila dan Raniya pun datang untuk membantu memperbaiki bacaan jemaah haji perempuan Balda. Alhamdulillah saya pun bisa “tentiran” langsung dengan Nabila dan Rayan.

Di bawah ini ada tulisan Ustaz Yusuf Mansyur di republika, kiriman Mbak Citra Moeslim Roesli dari Group YKM FEUI, yang sangat menarik mengenai hal ini. Semoga tulisan ini bisa memotivasi kita semua untuk mulai menghafal Al Quran dan mendorong keluarga kita hafal Quran. Aamiin yra.

🌷🌲🌷🌲

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

Sepasang ayah ibu menaiki panggung wisuda tahfidz Ma’had Ustmani, sudah dalam keadaan menangis.

Di panggung sudah berdiri ananda yang akan di wisuda sebagai hafidzah 30 juz. Di antara yang diwisuda, ada Ibu Ismah. Sekitar 4-5 tahun yang lalu mulai menghafal Alquran. Saat beliau bertemu dengan saya saat itu baru mulai menghafal Alquran. Begitu kata gurunya, KH Effendi Anwar, pimpinan Ma’had Tahfidz Ustmani.

Ibu Ismah ini, kemarin ikut diwisuda sebagai Hafidzah. Sudah menyelesaikan hafalan 16 juz. Sudah lulus tes tajwidnya juga. Kalau sekadar hafal, mungkin sudah langsung selesai 30 juz. Tapi ibu ini sekalian ngebenerin bacaan dan pemahamannya.

Bu Ismah lahir pada 1952 atau 62 tahun lalu. “Saya masih semangat nuntasin hafalan sampe30 juz. Nggak apa-apa saat selesai, umur saya barangkali nanti 70 tahun,” kata Bu Ismah. Bagaimana dengan kita?

Sehari-harinya untuk setoran hafalan dan membenarkan bacaannya, Bu Ismah, naik angkot sebanyak empat kali bolak-balik dari Cipayung ke Condet.

Di Ma’had Utsmani, Condet, wisuda 30 juz itu berat. Sebab selain benar hafalannya, juga kudu(harus) benar tajwid (bacaannya), dan sedikit memahami.

Selain Bu Ismah, Ananda Afifa juga berhasil melewati itu. Saat Ananda berdiri di panggung, bersama ayah dan ibunya yang sejak awal sudah menangis duluan sebelum naik panggung.

KH Effendi Anwar mengizinkan saya yang memberikan Ijazah Tahfidz. Gurunya beliau yang mengalungkan bunga. Tibalah saat yang mengharukan.

Kawan-kawan Ma’had Utsmani membuat replika mahkota. Ananda Afifa mengambil mahkota tersebut dan secara santun ia memakaikan ke atas kepala ayahnya.

Tangis ayah-ibu ini pecah. Ayah-ibu ini memeluk Afifa. Seperti ini nanti kejadian di Surga. Allah sendiri yang mewisuda dan memakaikan mahkota, kepada ayah-ibu yang memiliki anak seorang penghafal Alquran. Disaksikan bukan oleh manusia lagi, tapi seluruh malaikat-Nya.
Adapun anak-anak penghafal  Alquran, yang yatim, piatu, atau malah yatim piatu, alias tak berayah tak beribu, mereka pastinya lebih rindu lagi memakaikan mahkota penghafal Alquran untuk ayah ibu yang tak lagi berkumpul bersama mereka.

Sebagian anak-anak calon penghafal Alquran yang yatim, piatu, dan yang sudah yatim piatu, tidak seberuntung Ananda Afifa yang diwisuda, tapi masih bisa disaksikan ayah ibunya langsung, sebab masih hidup.

Sebagian dari anak-anak ini bahkan juga tidak mengenal dan tidak mengetahui seperti apa rupa ayah-ibu mereka. Tapi mereka tahu, Allah akan mengumpulkannya. Dan sekalian berkumpul di surga Allah. Langsung dibawakan mahkota para penghafal Alquran.

Semoga kita dipilih Allah juga, selain sama-sama berjuang untuk ikutan hafal Alquran, memiliki anak-anak keturunan dan keluarga penghafal Alquran, juga semoga bisa menjadi jalan mewujudkan anak-anak yatim, piatu, dan yang yatim piatu, menyiapkan, membawa, dan mempersembahkan mahkota penghafal Alquran, untuk ayah ibu mereka.

Sekarang, saatnya kita memulai. Nggak usah buru-buru, pelan-pelan saja, satu hari satu ayat, lalu istiqamah melaksanakannya. Insya Allah, 10 tahun akan hafal plus dengan maknanya. Dan Insya Allah, penghafal Alquuran akan mampu member syafaat 10 anggota keluarganya.

 Maman Sudiaman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s