Catatan Haji 3: jangan pernah khawatir. Allah adalah sebaik-baik penjaga makhlukNya.

image

Berlari di antara Bukit Safa dan Marwa mengingatkan kita pada Siti Hajar. Seorang ibu yang baru saja melahirkan anak, ditinggal oleh suaminya di tengah padang pasir, sendirian.

Sejarah dibalik sai ini dikisahkan dalam kitab Riyadush Shalihin sebagai berikut:

Ketika Ibrahim keluar berkelana bersama Isma’il dan ibu Isma’il, mereka membawa geriba (kantung empat air) yang berisi air, ibu Isma’il minum dari persediaan air dalam geriba tersebut sehingga dia dapat menyusui bayinya. Ketika tiba di Makkah, Ibrahim menempatkan keduanya di bawah sebuah gubuk. Tatkala Ibrahim hendak kembali kepada keluarganya, ibu Isma’il mengikutinya di belakang hingga ketika sampai di dataran yang agak tinggi/gundukan, ibu Isma’il memanggilnya dari belakang; Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau meninggalkan kami?. Ibrahim menjawab; Kepada Allah. Hajar berkata; Kalau begitu, Aku telah ridla kepada Allah. Perawi berkata; Lalu Hajar kembali (ke tempat semula dia dan minum geriba kunonya dan bisa menyusui bayinya hingga ketika air persediaan habis dia berkata; Sebaiknya aku pergi dan melihat-lihat barangkali ada orang.

Perawi berkata; Maka dia pergi dan naik ke atas bukit Shafaa lalu melihat-lihat apakah ada orang namun dia tidak merasakan ada seorangpun. Ketika sampai di lembah dia lari-lari kecil dan mendatangi Marwa, ia lakukan yang demikian berkali-kali. Kemudian dia berkata; Sebaiknya aku pergi dan melihatnya, yang dimaksudnya adalah bayinya. Maka dia pergi mendatangi bayinya yang ternyata keadaannya seperti ketika ditinggalkan seolah-olah menghisap napas-napas kematian sehingga hati Hajar tidak tenang. Dia berkata; Sebaiknya aku pergi dan melihat-lihat barangkali ada orang. Maka dia pergi untuk mendaki bukit Shafaa lalu melihat-lihat namun tidak ada seorangpun yang ditemuinya hingga ketika dia telah melakukan upaya itu sebanyak tujuh kali (antara bukir Shafaa dan Marwah) dia berkata; Sebaiknya aku pergi dan melihat apa yang terjadi dengan bayiku, ternyata dia mendengar suara, maka dia berkata; Tolonglah (aku) jika memang kamu baik. Ternyata (suara itu) adalah malaikat Jibril ‘Alaihissalam. Perawi berkata; Lalu Jibril berbuat dengan tumitnya begini. Dia mengais-ngais tanah dengan tumitnya. Perawi berkata; Maka memancarlah air dan ibu Ism’ail menjadi terperanjat dan segera menampungnya.

Perawi berkata; Berkata Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam: Seandainya Hajar membiarkannya pasti air akan mengalir. Perawi berkata; Maka Hajar minum dari air (zamzam) itu sehingga dapat menyusui bayinya. Kemudian serombongan orang dari suku Jurhum lewat di dasar lembah dan mereka melihat ada seekor burung, seakan mereka tidak percaya, Mereka berkata: Tidak akan ada burung melainkan pasti karena ada air. Akhirnya mereka mengutus seorang utusan mereka untuk melihatnya yang ternyata mereka memang berada di kawasan yang ada air. Utusan itu kemudian kembali kepada mereka dan mengabarkan (apa yang dilihatnya). Kemudian mereka menemui Hajar dan berkata; Wahai Ibu Isma’il, apakah kamu mengizinkan kami untuk tinggal bersama kamu atau kami hidup bertetangga bersama kamu?.

Dapat kita pelajari betapa kuatnya iman Siti Hajar. Istri mana yang tenang ditinggal suami bersama seorang bayi di tengah padang pasir seorang diri. Ketika ia tahu bahwa hal itu adalah perintah Allah ia pun tenang. Allah pasti akan menjaganya.

Benar saja, setelah ia berusaha keras mencari air berlari di antara Bukit Safa dan Bukit Marwa, akhirnya air zam zam pun muncul. Tak lama sebuah rombongan pun datang untuk tinggal bersamanya.

Allah pun memuliakan Siti Hajar dengan memerintahkan kita mengulang apa yang beliau lakukan.

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:158)

Demikianlah pelajaran yang Allah ingin kita pelajari dengan melakukan Sai. Kuatkan iman kepada Allah, jangan pernah khawatir selama kita menjalankan perintah Allah karena Allah pasti akan menjaga kita.

Abang, suamiku, mengingatkanku akan pelajaran ini seusai kami melaksanakan sai. “Itulah hidup. Yang penting kita usaha. Selebihnya serahkan pada Allah.” Kisah ini pula yang membuatnya tenang meninggalkan Hana, putri kami yang baru berusia 7 tahun. Allah pasti akan menjaganya, karena Allah adalah sebaik-baik penjaga.

Kami pun tenang meninggalkan usaha kami di Jakarta. Selama ini pun Allah yang menjaga usaha kami. Kami hanya alatNya dalam membangun wadah untuk orang lain dapat bekerja. Dan pada saat kami pergi memenuhi panggilanNya ke tanah suci, tentu Allah sudah menyiapkan segala sesuatunya bagi kami. Kami berupaya sebaik mungkin, dan kami serahkan pada Allah.

Semoga kita semua dapat membawa kisah Ibunda Siti Hajar ini dalam setiap aspek hidup kita. Jangan pernah khawatir. Jalankan saja semua perintahNya, sebaik mungkin. Allah pasti akan menjaga kita lahir batin. Percaya saja, sabar, nikmati dan syukuri setiap prosesnya.

Bismillah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s