Catatan Haji 2: Persatuan yang membangun kekuatan

image

Kerumunan umat di depan Masjidil Haram

Sungguh menyenangkan mengamati berbagai jenis umat manusia yang hadir di Masjidil Haram. Sementara di belakangku terdengar celoteh bahasa Sunda, di sebelahku duduk dua ibu Monggolia, di depanku bapak-bapak berkulit hitam besar sekali melintas dengan cepat dan di depanku lagi, di sekeliling kabah, sungguh tak terkira banyaknya jenis manusia yang berbeda-beda melaksanakan thawaf.

Semua begitu berbeda, menarik karena keunikannya. Abang sungguh sangat senang memperhatikan berbagai keunikan tersebut. “Hebat ya Allah, semua benar-benar beragam, seru banget,” serunya berkali-kali.

Dan dibalik semua perbedaan itu, semua membaca Quran yang sama, semua langsung mengambil tempat dalam barisan begitu azan dikumandangkan dan siap berdiri untuk shalat begitu qomat memanggil. Semua melakukan gerakan yang sama dari berdiri, rukuk, sujud, dan salam. Semua berdoa dengan bahasa yang sama, dan menegur dengan ucapan yang sama, assalamualaikum. Sungguh indah dan damai rasanya. Aku dan abang rajin sekali menegur segala jenis manusia dengan salam yang universal ini, “Assalamualaikum ww,” dan semua pun membalas dengan seragam pula, “Wa alaikum salam ww.”

Semua menggunakan baju, penutup kepala atau kain yang berbeda dan sangat menarik, unik mencerminkan budaya asal negaranya. Di balik perbedaan cara berpakaian semua juga mengikuti prinsip yang sama, menutup aurat yang sama, ihram yang sama-sama putih, tak berjahit dan diselempangkan dengan cara yang sama.

Tak ada yang mempermasalahkan ada yang pakai celana cingkrang atau tidak, baca doa qunut atau tidak, baca yasin atau tidak, yang mana yang Muhammadiyah yang mana yang NU, shiah atau sunni. Semua sibuk dengan ibadahnya masing-masing, menghormati perbedaan yang ada, saling menegur dan berkenalan.

Inilah keragaman dan persatuan yang begitu indah. Semua berbeda, semua unik, dan begitu sampai pada urusan ibadah, semua tak lagi mempermasalahkan perbedaan. Semua mengacu pada satu ajaran.

Tak ada yang berani sombong dan menunjukkan yang ia miliki lebih mulia, lebih utama atau lebih hebat dibanding yang lain. Allah sudah memperingatkan bahwa hukumanNya sangat berat bagi mereka yang berjalan di atas muka bumiNya dengan angkuh, merasa lebih mulia dibanding yang lain, apalagi di rumah suciNya.

Semoga semua keragaman dan persatuan ini dapat terus dibawa dan dihidupkan begitu manusia-manusia ini kembali ke tanah air masing-masing. Jangan hanya menjauhkan diri dari sombong di tanah suciNya saja. Bersatulah, umat Islam. Di balik semua perbedaan kita semua adalah saudara.

Kamar-kamar (Al-Ĥujurāt):10 – Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Keluarga ‘Imran (‘Āli `Imrān):103 – Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjaga tali persaudaraan ini, menikmati indahnya keragaman dan mencaru titik temu persatuan persaudaraan kita semua, berpegang pada taliNya. Aamiin.

🌷🌲🌷🌲🌷🌲

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s