Catatan haji 1: Logika vs perintah Allah

image

Begitu sampai di Mekah, kami langsung melaksanakan umrah wajib, pukul 2 pagi. Menatap pintu gerbang Masjidil Haram menyambut bersimbah cahaya lampu, tak kuasa kutahan air mata. Tenggorokanku tercekat, mata basah tergenang, hati kencang bergemuruh.. Allahu akbar..
Betapa baiknya Engkau, ya Allah. Maha Besar Engkau.

Kupandangi lorong-lorong yang telah lama tak kujalani, sampai akhirnya tibalah kami di hadapan  Kabah, rumahNya, tempat ibadah pertama di atas muka bumi ini seperti firmanNya:

Keluarga ‘Imran (‘Āli `Imrān):96 – Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Begitu sederhana, begitu bersahaja, kontras sekali dibandingkan dengan Zam Zam Tower yang menjulang di sampingnya.

Kotak hitam sederhana inilah yang menjadi pusat peribadatan seluruh umat Muslim sedunia. Semua perhatian tertuju padanya setiap detik di seluruh dunia. Tak ada waktu berlalu di atas muka bumi ini tanpa seorang hamba menghadap ke arah kotak hitam sederhana ini.

Kotak hitam sederhana ini dikelilingi setidaknya tiga juta orang setiap hari, berputar seperti alam semesta yang beredar pada garis edarnya. Bayangkan energi yang terhimpun dari perhatian jutaan manusia dari segenap penjuru bumi kepadanya dan gerakan jutaan manusia yang mengelilinginya setiap detik.

Begitu sederhana, begitu powerful.

Kalau kita tengok sejarahnya, ribuan tahun lalu tempat yang kini ramai dipenuhi manusia ini dulu adalah gurun kosong tak berpenghuni. Nabi Ibrahim as diperintahkan Allah membangun kabah bersama Nabi Ismail as.

Dengan patuh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as membangun Kabah (Baitullah), mengikuti petunjuk Allah swt, mengharap ridloNya semata. Allah bercerita mengenai hal ini:

Sapi Betina (Al-Baqarah):127 – Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Sesungguhnya kalau difikir, sungguh aneh perintah ini. Tak masuk akal. Mengapa bukan di Yerusalem, yang ramai? Mengapa bukan di tempat lain yang telah menjadi pusat perdagangan? Kenapa rumah suci ini harus dibangun di tengah gurun yang gersang, tak berpenduduk? Untuk apa?

Betapa sering kita mempertanyakan perintahNya dan mencoba mencari alasan dengan nalar kita yang sungguh tak mampu mencerna ilmu Allah di balik perintahNya itu.

Nabi Ibrahim as lebih cerdas daripada itu. Ia sadar ilmu Allah jauh melebihi ilmu manusia. Ia tahu perintah ini akan membawa kebaikan bagi umat manusia dan ia hanya seorang hamba yang dengan senang hati menjalankan perintah. Ia yakin ada suatu hal besar dibalik perintah tak masuk akal ini. Tidak bertanya, penuh percaya, penuh doa. Doanya bagi Mekah, Baitullah dan kita semuapun Allah kisahkan untuk kita renungkan:

Sapi Betina (Al-Baqarah):126, 128-130
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Nabi Ibrahim (‘Ibrāhīm):35-37- Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Dan marilah kita lihat betapa Allah telah memuliakan Nabi Ibrahim as dan semua keturunannya. Beliaulah Bapak dari para nabi berikutnya. Kabah pun kini menjadi pusat ibadah kita semua.

Sapi Betina (Al-Baqarah):125 – Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.

Kata-kata ini sungguh menjadi kenyataan sampai sekarang. Semua umat manusia berkumpul di tempat ini, tempat yang aman karena semua yang hendak menghancurkannya dihancurkan terlebih dahulu oleh pemiliknya.

Semoga Allah memberikan iman yang kuat bagi kita semua, ilham dan kekuatan untuk menjalankan semua perintahNya, meninggalkan laranganNya.
Semoga Allah membuka tabir ilmuNya pada umat manusia untuk perlahan-lahan dapat memahami hikmah di balik semua perintah dan laranganNya itu.

Tak terasa air mata pun menggenang mendoakan nabi yang mulia ini di akhir shalat. Rindunya kami padamu wahai nabiku. Semoga suatu hari kita dipertemukan dengannya dan tinggal bersisian dengannya di Surga FirdausNya.

Aamiin yra.

Masjidil Haram, 1 Dzulhijah 1423H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s