Skip to content
Advertisements

Semua karuniaNya adalah pinjaman dariNya. Siapkah kita berikan kembali kalau perintahNya mengharuskan demikian?

image

Sumber gambar: laman facebook Dianansa Deviayani Ridwan

Assalamualaikum ww.

Sahabat blogger tercinta, in shaa Allah hari Minggu pagi tanggal 21 September 2014 ini saya dan suami akan menunaikan ibadah haji. Banyak pelajaran berharga yang kami dapatkan selama masa persiapan menjelang kepergian kami ke tanah suci. Salah satunya adalah pengorbanan. Selama tiga minggu ini kami akan mengorbankan segala urusan dunia kami hanya untuk bertamu ke rumahNya, memujaNya, menyibukkan diri hanya untuk beribadah padaNya.

Ada satu pesan dari sahabat saya, Pak Syafiq Basri, mengenai hal ini. Saya share di sini ya…

🍒🍒🍒

Saat itu Ibrahim telah menjadi tua dan sendirian. Di tengah kenabiannya, ia tetap seorang “lelaki” yang sebagaimana manusia lainnya, sangat menginginkan anak laki-laki. Ismail sendiri adalah pemuda yang cerdas, berbudi, dan kuat. Ia adalah upah kehidupan yang penuh perjuangan.

Ia membawa kebahagiaan bagi Ibrahim. Ia juga harapan, cinta, dan penerus keturunan Ibrahim— yang silsilahnya belakangan mengalir (bagai “Al-Kaustar”) hingga Nabi Muhammad SAW dan anak cucunya.

Tapi kini Tuhan memintanya mengorbankan “milik” yang paling dicintainya itu. Sekiranya pengorbanan yang diminta Tuhan adalah nyawanya sendiri, mungkin itu lebih mudah bagi Ibrahim.

Alhasil,  Ibrahim pun membawa anaknya ke Mina. Di situ Ibrahim masuk ke panggung untuk berevolusi, tempat idealisme diunggah, ‘tempat kebebasan absolut yang disertai penyerahan total diwujudkan’.

Kalau Ibrahim mengorbankan putranya, kita patut bertanya, “siapa” atau “apa” kah Ismail kita?

🎁 Jabatan?
👑 Kehormatan?
💰 Uang?
💖 Cinta?
👪 Keluarga?
📚 Ilmu?
🌄 Hidup kita?

Tak ada yang tahu, kecuali diri kita sendiri.

Menurut seorang intelektual Iran, DrAli Shariati, tanda-tanda “Ismail” kita adalah segala hal yang melemahkan keyakinan (iman), segala yang menyebabkan kita ‘mementingkan diri sendiri’, apa pun yang membuat kita tidak bisa mendengar pesan dan mengakui kebenaran, serta segala hal yang mendorong kita mencari pembenaran demi “kenyamanan”.

Syafiq Basri, SS WA Group

🍒🍒🍒

Nah,
Sahabatku sekalian, marilah kita melihat kembali pada diri kita sendiri. Apakah kita sudah lebih mencintai Allah dan Rasulullah saw daripada apapun yang ada di dunia ini?

Sudahkah kita rela meninggalkan atau mengorbankan kecintaan kita di dunia kalau hal itu harus dilakukan untuk menjalankan perintahNya?

Penghuni-penghuni gua (Al-Kahf):7 – Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

Allah sudah mengingatkan kita bahwa kita akan diuji dan bahwa semua pemberianNya sesungguhnya juga adalah cobaan untuk mengetahui iman kita:

Laba-laba (Al-`Ankabūt):2 – Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Hari dinampakkan kesalahan-kesalahan (At-Taghābun):15 – Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Semoga kita semua diberikan iman Islam yang kuat agar kita selalu dapat berpegang padaNya, karena Allah yang satu cukup bagi kita, dan semua yang lain hanyalah pemberianNya pada kita untuk menguji kita. Semoga kita semua sadar dan siap berkorban pada saat Allah meminta kita untuk itu… hanya untuk mencari ridloNya.

Aamiin yra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: