Konsumsi secukupnya saja. Bukan karena kita tak mampu bayar, tapi karena tak ada alasan menyia-nyiakan sumber daya yang terbatas itu

image

Sahabat blogger semua,

Saat ada pengumuman harga bensin dan listrik akan naik dan subsidi akan dihapuskan, saya termasuk yang gembira. Saya berkali-kali menyaksikan sendiri banyak orang yang tidak peduli akan energi. Ada pengusaha sebuah restoran yang menggunakan lampu sorot boros energi hanya karena “supaya keren.” Kalau ditanya kenapa tidak pilih alternatif yang lebih murah dengan enteng ia menjawab, “Kan saya bisa bayar.” Laah.. dia tidak sadar yanh bayar adalah rakyat Indonesia yang sebagian besar tak akan mampu menikmati makanan di restorannya melalui pajak mereka.

Setiap kali saya mematikan lampu kamar mandi di gedung perkantoran pasti ditegur petugasnya. Ada lagi artis yang membiarkan AC menyala di rumahnya selama ia pergi ke luar kota. Mereka tidak peduli dan merasa “bisa bayar” tanpa sadar yang bayar adalah seluruh rakyat Indonesia. Itulah kelemahan energi bersubsidi. Banyak yang jadi mubazir karena tak sadar energi itu mahal dan langka. Sumbernya pun tak tergantikan, rawan kepunahan.

Ada contoh kasus menarik di Jerman yang aku dapat dari mama di group WA:

Jerman adalah sebuah negara industri terkemuka. Di negara seperti ini, banyak yang mengira warganya hidup foya-foya. Ketika saya tiba di Hamburg, saya bersama rekan-rekan masuk ke restoran. Kami lihat banyak meja kosong. Ada satu meja di mana spasang anak muda sedang makan. Hanya ada dua piring mkanan dan dua kaleng bir di meja mereka. Saya bertanya-tanya dalam hati apa hidangan yang begitu simple dapat disebut romantis dan apa si gadis akan mninggalkan si pemuda kikir tersebut?

Kemudian ada lagi beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika mkanan dihidangkan, pelayan akan membagi mkanan tersebut dan mereka akan menghabiskan tiap butir makanan yang ada di piring mereka.

Karena kami lapar, rekan kami pesan lebih banyak mkanan. Saat selesai, tersisa kira-kira sepertiganya yang tak dapat kami habiskan di meja. Begitu kami hendak mninggalkan restoran, wanita tua yang dari meja sebelah berbicara pada kami dalam bahasa Inggris, kami paham bahwa mereka tak senang kami memubazirkan mkanan. “Kami yang bayar kok, bukan urusan kalian berapa banyak mkanan yang tersisa,” kata rekanku pada para wanita tua tersebut. Wanita-wanita itu meradang. Salah satunya segera mengeluarkan handphone dan menelpon seseorang.

Sebentar kemudian seorang lelaki berseragam Sekuritas Sosialpun tiba. Setelah mendengar tentamg sumber masalah pertengkaran, ia menerbitkan surat denda Euro 50 pada kami. Kami semua terdiam. Petugas tersebut berkata dengan suara yang galak,

“PESAN HANYA YANG SANGGUP ANDA MAKAN, UANG ITU MILIKMU TAPI SUMBER DAYA ALAM INI MILIK BERSAMA. ADA BANYAK ORANG LAIN DI DUNIA YANG KEKURANGAN. KALIAN TAK PUNYA ALASAN UNTUK MENSIA-SIAKAN SUMBER DAYA ALAM TERSEBUT.”

Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tersebut membuat kami semua malu bener, KAMI SUNGGUH HARUS MERENUNGKAN HAL INI. Kita ini dari negara yang belum makmur-makmur amat. Untuk selamatkan muka, kita sering pesan banyak dan sering berlebihan saat menjamu orang.

PELAJARAN INI MENGAJARI KITA UTK SERIUS MENGUBAH KEBIASAAN BURUK KITA.

“MONEY IS YOURS BUT RESOURCES BELONG TO THE SOCIETY.”

Jadi kawan-kawan, mari mulai mengurangi pemubaziran, karena uang memang milikmu, tapi sumber daya alam itu milik bersama.

🌷🌷🌲🌲🌻🌻

Benar sekali. Terima kasih Mbak Santi dan Mang Guy yang share kisah ini di wa group.
Jangan sampai Allah mempertanyakan kemubaziran yang kita lakukan. Allah paling benci perbuatan mubazir.
Astaghfirullah.
Maafkan kami ya Allah.
Semoga kau memberikan kekuatan bagi kami semua untuk selalu ingat untuk berbagi dan tidak mengambil jatah orang lain melalui tindakan kami yang berlebihan. Berikan kami kekuatan untuk selalu hemat, mengurangi konsumsi kami, menggunakan kembali apapun yang dapat kami gunakan kembali dan mendaur ulang sampah-sampah kami. Dengan demikian kami dapat berbagi dengan mereka yang tak mampu mendapatkan apa yang kami nikmati.

Aamiin aamiin yra

🌷🌷🌲🌲🌻🌻

One thought on “Konsumsi secukupnya saja. Bukan karena kita tak mampu bayar, tapi karena tak ada alasan menyia-nyiakan sumber daya yang terbatas itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s