Menggapai malam seribu bulan: sudah sucikah tubuh, pikiran, perkataan, makanan, harta dan jiwa kita?

image

Gambar: dari laman facebook Aashiq al-Rasul

Assalamualaikum ww.

Setiap malam ganjil di 10 malam terakhir Ramadlan masjid-masjid penuh sekali. Kenapa hanya malam ganjil? Karena malam Lailatul Qadr diyakini turun pada malam ganjil. Semua yang memadati masjid pada malam-malam ini berharap mendapat malam seribu bulan.

Kemuliaan (Al-Qadr):
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Sesungguhnya siapa sajakah yang bisa menikmati malam seribu bulan? Yang diberi hadiah oleh Allah dengan kebaikan dan kemuliaan yang begitu tinggi? Benarkah semua yang terjaga pada malam itu mendapat kesempatan yang sama?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Benar sekali, semua umatNya sesungguhnya mendapat kesempatan yang sama. Kesempatan itu sudah dibuka sejak hari-hari pertama Ramadlan, bahkan sebelumnya, bukan hanya pada malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadlan. Malam Lailatul Qadr itu ibarat menjadi malam final, malam hadiah bagi mereka yang berhasil memanfaatkan setiap detik Ramadlan untuk mensucikan jiwanya, kembali pada fitrahnya.

Jadi untuk mendapatkan keberkahan dan indahnya karunia seribu bulan pada malam Lailatul Qadr marilah kita evaluasi diri, sudah sejauh mana kita mensucikan diri?

– Sudahkah kita sucikan tubuh?
Sudahkah puasa kita benar-benar kita lalui untuk mensucikan tubuh kita secara fisik?
Sudahkah kita mensucikan asupan kita dengan makanan minuman yang halal dan baik/thayib?

Jamuan (Al-Mā’idah):88 – Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Kalau puasa yang kita jalankan ditujukan untuk mensucikan diri kita tak akan membebani tubuh dengan makan besar saat sahur dan pesta saat buka puasa. Sel yang tadinya bersih akan dikotori lagi dengan berbagai makanan yang tidak siap diterima tubuh. Makanan yang tak membawa manfaat bagi tubuh, meskipun halal, tidak “baik” atau “thayib” jadi marilah kita hindari.
Yuk kita evaluasi, sudahkah kita benar-benar membangun kebiasaan hidup tidak berlebihan?
Sejauh mana kita ikuti teladan cara makan Rasulullah saw?

– Sudahkah kita sucikan harta?
Sudahkah semua sumber harta kita halal?
Yakinkah kita tak ada kemudlaratan dalam hal-hal yang kita kerjakan?
Sudah tunaikah zakat kita?
Seringkah kita sucikan lagi harta kita melalui sedekah dan infaq?

– Sudahkah kita sucikan pikiran?
Sudahkah kita bebas dari prasangka buruk terhadap orang lain?
Sudahkah kita berhenti curiga mencurigai?
Berfikir hal-hal yang tak baik? Merencanakan hal-hal yang tak membawa manfaat?
Sudahkah kita pelajari dan fahami Al Quran luar dalam? Lahir batin? Sudahkah Quran menjadi dasar pemikiran kita?
Sudahkah kita kenal dan fahami sifat-sifat dan nama-nama Allah?
Sudahkah kita internalisasi sifat-sifat itu dalam diri kita?

– Sudahkah kita sucikan jiwa?
Sudahkah kita bersihkan hati dari berbagai penyakit hati?
Sudahkah hati kita menjadi lembut, siap menerima segala pesanNya?
Sudahkah “rasa” kita sebagai sinyal nurani dan pesanNya memandu kita dalam membuat keputusan?
Sudahkah kita tundukkan jiwa kita untuk melakukan semua perintahNya dan menjauhi laranganNya?
Sudahkah kita rajin bertobat kepadaNya? Menghapus diri dari berbagai dosa kecil dan besar?
Sudahkah kita isi setiap detik, helaan nafas kita dengan namaNya?

‘’Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). Tidak (bisa) menyentuhnya kecuali orang-orang yang (telah) disucikan.’’ [Al Waaqi’ah: 77-79].

Marilah kita memperbanyak syukur dan tobat, menambah shalat dan sujud yang khusu’, memperbanyak zakat, sedekah, infaq, memaafkan luka-luka lama dan minta maaf pada orang tua dan semua yang pernah kita temui.
Semoga Allah meridloi semua upaya kita dan menganugerahkan malam seribu bulan bagi kita semua, membuka pintu surga FirdausNya untuk kita. Aamiin YRA.

‘’Allah menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa dianugerahi al hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang sangat ­banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman-firman-Nya).’’ [QS. Al Baqarah: 269].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s