Kisah Nabi Yusuf as 12 – Pertemuan Nabi Yusuf dan Saudara-saudaranya

Nabi Yakub berduka

Nabi Yakub as tak pernah mempercayai kata-kata anak-anaknya bahwa Yusuf meninggal dimakan serigala. Ia membangun sebuah rumah di tepi jalan yang dilalui pendatang. Hanya Bunyamin yang diperbolehkannya menemuinya. Setiap hari ia bertanya akankah Yusuf melalui jalan yang dipandanginya setiap hari.

Para pendatang yang pulang berdagang ditanyai pertanyaan yang sama, apakah mereka mengetahui kabar Yusuf. Jawabannya pun selalu sama, tak ada yang mendengar kabar Yusuf. Seorang pendatang bercerita padanya mengenai Yuzarsif, pemimpin Mesir yang sangat dicintai rakyatnya. Nabi Yakub pun berkata, “Betapa mirip namanya dengan nama Yusuf.”

Nabi Yakub, yang diberi gelar “Israil” oleh penduduk Kanaan, mengisi hari tuanya dengan berdakwah, mendidik cucu-cucunya yang disebut juga “Bani Israil” atau “keturunan Israil,” mengenai nabi-nabi Allah dan akhlak mulia. Ia mengajarkan bahwa nabi-nabi diutus untuk sekelompok kaum, namun akan ada nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia.

Bani Israil pergi ke Mesir

Ketika paceklik mulai melanda Kanaan Yakub memerintahkan anak-anaknya untuk pergi mencari gandum untuk mencegah kelaparan. Maka pergilah mereka ke Mesir karena semua orang memberi tahu mereka hanya di Mesirlah mereka dapat menemukan apa yang dicari.

Ketika mereka sampai di Mesir, Nabi Yusuf as pun diberi tahu bahwa ada sekelompok pendatang dari Kanaan yang ingin mendapatkan gandum. Setelah membaca daftar nama pendatang tersebut Yusuf pun merasa suka cita mendapatkan kakak-kakaknya telah tiba di Mesir. Reuni yang dijanjikan Allah akan segera terjadi. Yusuf mengundang saudara-saudaranya untuk menikmati jamuan di istana.

Pertemuan pertama

Yusuf memperhatikan saudara-saudaranya dari jauh bersama Assinat dan mulai mengenali Lawi, kakak yang paling baik padanya, dan Yehuda, yang paling buruk sangka dan nyaris membunuhnya.

Hal ini dikisahkan dalam Al Quran surat Yusuf:58.
Dan saudara-saudara Yusuf datang [ke Mesir] lalu mereka masuk ke [tempat] nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal [lagi] kepadanya.

Setelah tiga hari dijamu di istana 10 kakak beradik Kanaan tersebut bertemu dengan Yusuf. Yusuf bertanya mengenai keluarga mereka dan mereka pun bercerita mengenai Bunyamin. Saat Yusuf meminta mereka membawa Bunyamin mereka mengatakan mereka tak dapat membawanya karena ayah mereka yang sudah tua tak mau berpisah dengan Bunyamin karena Bunyamin dianggap pengganti Yusuf, saudara mereka yang dimangsa serigala. Mereka pun mengatakan bahwa ayah mereka sedih sekali berpisah dengan Yusuf dan menangis sampai matanya putih.

Yusuf sangat sedih mendengar kabar kesedihan ayahnya. Ia meninggalkan ruangan untuk melepas rasa sedihnya. Ketika ia kembali, ia kembali berkeras, menyatakan keraguannya. Ia meminta Bunyamin diajak dalam kunjungan berikutnya kalau tidak mereka tak berhak menerima gandum lagi.

Dalam Al Quran:
Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang se ayah dengan kamu [Bunyamin], tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu? (59) Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi daripadaku dan jangan kamu mendekatiku”. (60) Mereka berkata: “Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya [ke mari] dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya”. (61) Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya: “Masukkanlah barang-barang [penukar kepunyaan mereka] [2] ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi”. [3] (62) Yusuf 59-62.

Bunyamin pergi ke Mesir

Ketika anak-anaknya kembali ke Kan’an Nabi Yakub sangat gembira, namun beliau tetap tidak mau menyambut anak-anaknya karena ia masih belum memaafkan apa yang mereka lakukan pada Yusuf.

Ketika Lawi memberikan gandum yang ditakarkan oleh Yusuf Nabi Yakub as mencium aromanya dan merasa ia kenal dengan aroma ini. Namun ia sangat kaget mendengar berbagai kejadian aneh yang dialami anak-anaknya di Mesir. Perjamuan di istana, uang yang dikembalikan dan permintaan Yuzarsif, sang pejabat tinggi Mesir, untuk membawa Bunyamin dirasakannya sebagai sebuah keanehan. Ia yakin ada sesuatu di balik keinginan Yuzarsif yang besar untuk bertemu Bunyamin. Yakub as tak habis fikir. Ia tak mengizinkan Bunyamin pergi ke Mesir karena ia merasa anak-anaknya belum bertaubat atas yang mereka lakukan terhadap Yusuf. Taubat adalah bentuk penyesalan dan tekad untuk mengubah perilaku yang buruk. Tanpa taubat ia takut kejadian yang sama terjadi kembali.

Pada saat gandum mulai habis, istrinya dan semua anaknya membujuknya kembali. Akhirnya setelah anak-anaknya berjanji di hadapan Allah, Yakub as pun merelakan Bunyamin pergi ke Mesir. “Kutitipkan Bunyamin pada Allah, bukan kepadamu,” tegas Yakub. Yakub juga berpesan agar mereka semua masuk dari gerbang yang berlainan karena ia masih khawatir akan rencana yang disusun Yuzarsif.

Sementara itu di Mesir Yusuf as berpesan pada semua penjaga gerbang Mesir untuk membawa sebelas bersaudara Kan’an ke istana. Bunyamin dan kakak-kakaknya masuk Mesir melalui gerbang yang berbeda-beda agar tak dikenali, sesuai pesan ayahnya. Namun Malik berhasil mengenali mereka saat mengantri mengambil jatah gandum dan membawa mereka ke istana.

Saat jamuan istana berlangsung Yusuf meminta semua duduk berhadapan dengan saudara seibu. Bunyamin yang tak punya saudara seibu berdiri sendirian, sehingga Yusuf pun mengundangnya duduk di mejanya. Mereka pun berbincang mengenai ayah Bunyamin yang tua renta di Kan’an. Perbincangan ini membuat Yusuf meneteskan air mata. Akhirnya Yusuf menyampaikan bahwa ia adalah Yusuf, kakaknya, namun hal ini harus dirahasiakan dari kakak-kakaknya yang lain.

Karena sulit menahan emosi, Yusuf ke luar dari ruangan dan memerintahkan anaknya untuk memanggil Bunyamin ke kamarnya. Mereka pun berpelukan melepas rindu yang dipendam 36 tahun. Yusuf pun kemudian menggunakan strategi yang digunakan bibinya ketika bibinya ingin merawat Yusuf di rumahnya sendiri. Ia memerintahkan agar sebuah cawan diletakkan dalam barang bawaan Bunyamin. Ketika para pengawal menemukannya, Bunyamin mau tak mau harus tinggal bersama Yusuf.

Demikianlah adat di Kan’an. Kalau seseorang kedapatan mengambil barang orang lain ia harus tinggal mengabdi di rumah orang yang dicuri barangnya.

Yehuda mengatakan Bukan tak mungkin Bunyamin mencuri karena saudaranya pun dulu pernah mencuri. Yusuf marah mendengarnya. “Kalian benar-benar jahat. Hanya Allah yang tahu kebenaran tuduhan kalian,” serunya.

Kesedihan Nabi Yakub as

Akhirnya tinggallah Bunyamin bersama Yusuf. Keduanya sangat gembira dapat bersama kembali. Namun Bunyamin sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya. Yusuf menenangkannya. Ia melihat kesamaan kisah kakaknya Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as dengan kisah yang dirancang Allah untuk Nabi Yakub as dan dirinya. Nabi Ibrahim mendapatkan kembali Nabi Ismail karena dalam hatinya ia mengikhlaskan Nabi Ismail diambil darinya. Demikian juga dengan Nabi Yakub as. Ia harus ikhlas melepas Yusuf agar Allah mempertemukan mereka berdua kembali.

Nabi Yusuf as mulai memahami pelajaran yang Allah berikan kepada keluarganya, dan alasan Allah mencegahnya mengabari ayahnya. Selama 36 tahun Nabi Yakub as tak pernah mengikhlaskan Yusuf terbukti dari deritanya dan sikapnya terhadap Bunyamin yang dianggap pengganti Yusuf.

Benar saja dugaan Bunyamin. Nabi Yakub as menangis tak kunjung henti saat mengetahui Bunyamin tak kembali bersama kakak-kakaknya. Ia mengurung diri dalam rumahnya, dan matanya menjadi putih seluruhnya. Makan pun ia tak mau. Ia terus menyebut nama Yusuf dan Bunyamin sambil menangis. Ia pun tak mau dikunjungi atau dihibur karena ingin mengenang Yusuf dengan tenang seorang diri.

Saat itulah malaikat mendatangi Yakub as yang mengingatkan Yakub untuk mensyukuri anak-anaknya yang lain dan berhenti meratapi Yusuf.
“Tapi Yusuf tak tergantikan, ia adalah cerminan keindahan Allah. Aku kehilangan cermin yang meningkatkanku kepada Allah,” ratap Nabi Yakub.

“Hanya Allah yang tak tergantikan. Semua makhlukNya adalah cerminan keindahanNya. Allah pencemburu, dan setiap makhluk hanya punya satu hati. Ingatkah kenapa Allah memberikan kembali Ismail as untuk Ibrahim as? Karena Nabi Ibrahim merelakan Nabi Ismail dikorbankan sesuai perintah Allah.”

Nabi Yakub as kaget dan mengakui ia sangat malu atas kesalahannya. Ia menyatakan tekadnya untuk mengikhlaskan Yusuf dan Bunyamin. Ia langsung bersujud memohon ampun pada Allah swt. Ia pun berhenti menangis dan mulai mampu berfikir jernih.

Nabi Yakub as keluar dari rumahnya dan mengumpulkan semua anaknya. Ia menulis surat untuk Yuzarsif, pejabat Mesir yang Agung, bertanya apakah Yuzarsif dapat membantunya mencari anaknya yang hilang, Yusuf, dan mengembalikan Bunyamin. Maka berangkatlah anak-anaknya menyampaikan surat sang ayah untuk Yuzarsif.

Yusuf membuka rahasia

Yusuf menangis setelah menerima dan membaca surat ayahnya. Ia bertanya sambil menangis, “Celakalah kalian. Apakah yang kalian lakukan pada Yusuf? Tahukah kalian betapa menderitanya ayah kalian sebab ulah kalian?”

“Kami tak melakukan keburukan apapun terhadap saudara kami,” jawab Yahuda.

Yusuf meminta surat pernyataan perbudakan yang sudah disiapkan Zulaikha yang turut hadir di singgasana istana.
“Jadi kalian tak mengakui dosa kalian?” tanya Yusuf.
“Yang kami katakan benar, tuan. Percaya lah,” jawab kakaknya.

Yusuf membacakan surat serah terima budak yang dulu ditulis Sam’un saat mereka menjual Yusuf pada Malik. Kakak-kakaknya tercengang melihatnya namun masih mengelak, mengatakan mereka pernah punya budak yang mereka jual pada Malik. Bunyamin pun menyatakan bahwa hal itu tidak benar.

Zulaikha berdiri dan menyatakan sudah lama ia tinggal bersama Yusuf. Lawi tak percaya. “Semua ini tak mungkin terjadi. Bagaimana anda bisa tahu segalanya?” tanyanya kebingungan. Yusuf pun menceritakan semua yang terjadi pada Yusuf. Malik juga ikut bicara, mengingatkan mereka bahwa mereka menjual Yusuf padanya. Mimisabu, Minarus, Rodamun dan Assinat pun bergantian menceritakan perjalanan Yusuf atau Yuzarsif menjadi petinggi Mesir.

10 kakak beradik Kan’an kaget dan menangis ketika menyadari Yuzarsif petinggi Mesir adalah Yusuf, adik yang pernah mereka aniaya. Lawi bersimpuh meminta Yusuf menghukumnya, tapi Yusuf mengangkatnya dan memeluk saudara-saudaranya satu persatu.

Diberikannya gamis Nabi Ibrahim as yang dipakaikan Nabi Yakub untuknya dulu untuk diantar ke ayahnya. Dimintanya Lawi mengusap mata ayahnya dengan gamis itu dan membawa semua Bani Israil ke Mesir untuk diterima oleh Akhnatun dan tinggal di Memphis, Mesir.

Pertemuan ayah dan Anak

Ketika Nabi Yakub sedang bercerita mengenai Ahmad, keturunan Nabi Ismail yang menjadi nabi penutup, tiba-tiba ia mencium aroma Nabi Yusuf. Istri dan anaknya menganggapnya gila. Ternyata benar, beberapa hari kemudian Lawi datang membawa gamis kenabian dari Nabi Yusuf as.

Nabi Yakub jatuh karena kaget dan gembira. Diusapkannya gamis itu ke matanya. Ajaib, matanya dapat melihat kembali dengan seketika.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s