Kisah Nabi Yusuf as 11 – Kesejahteraan Rakyat Mesir

Ketika Nabi Yusuf as meninjau tempat pembagian gandum, ia menyaksikan bahwa banyak orang yang tak punya uang dan tetap mendapat gandum karena mereka rela menjadi budak istana. Salah satu budak mengatakan bahwa mereka dulunya budak yang mengabdi kepada seorang yang kaya dan dibebaskan di masa krisis, untuk berpindah menjadi budak istana karena istanalah yang menanggung hidupnya. Budak ini merasa bangga menjadi budak istana karena merasakan kebebasan dan kemerdekaan yang sangat berbeda dengan kondisinya sebelumnya. Budak-budak lainnya di belakangnya pun menyatakan hal yang sama.

“Aku hanya ingin kalian menjadi budak bagi Tuhan yang Maha Esa dan bukan untuk siapapun,” jelas Yuzarsif.

Kemudian dilihatnya seorang mantan hartawan yang kini telah menjadi miskin karena tak lagi memiliki istana, rumah, budak dan harta lainnya. Semua telah dijualnya agar dapat membeli gandum untuk keluarganya. Mantan hartawan ini bertanya apakah ia harus jadi budak istana juga agar dapat menerima jatah gandum. Dulu ia tak percaya pada Yuzarsif dan tak ikut menabung gandum untuk persediaan masa paceklik ini sehingga ia tak berhak mendapat gandum secara gratis.

“Kematian lebih terhormat bagiku dibandingkan perbudakan,” tolak bekas hartawan itu.
“Jika perbudakan adalah hal yang buruk kenapa kau membeli puluhan budak saat kau kaya?” tanya Yuzarsif.
“Itu justru yang menjadi penderitaanku, suatu hari aku pernah memiliki puluhan budak, apa aku harus menjadi budak pula?” tanya hartawan itu sambil memelas.
“Mungkin dengan kejadian ini kau dapat merasakan apa yang dialami oleh budak-budakmu,” jawab Yuzarsif.

Ternyata seorang mantan budaknya menyaksikan perbincangan itu dari belakang.
“Yang mulia aku salah satu budaknya dulu, ia sangat aniaya padaku,” serunya.

Mengamati hal itu Yusuf as pun menyadari bahwa pada kondisi Mesir telah jauh berubah. Saat itu tingkat kesejahteraan rakyat Mesir telah merata. Yang dulunya hartawan kini telah sama kondisinya dengan budak yang didzaliminya sebelumnya. Mereka yang sebelumnya dianiaya sebagai budak kini telah bebas merdeka di bawah tanggungan istana. Tak ada lagi yang dapat mendzalimi dan didzalimi seenaknya. Krisis pangan Mesir telah menjadikan pemerataan ini suatu hal yang nyata, yang sebelumnya tak terbayangkan oleh rakyat Mesir.

Nabi Yusuf as memerintahkan seluruh rakyat untuk berkumpul di depan bekas halaman kuil Amun untuk dapat menjelaskan mengapa ia menetapkan sistem yang telah dijalankan rakyat Mesir selama krisis pangan terjadi.

Setelah semua berkumpul, Yuzarsif bercerita bahwa dulu ketika ia masih menjadi budak Butifar, ia pernah membaca sebuah buku yang mengatakan bahwa Mesir akan menjumpai hari di mana semuanya akan berubah. Semua orang miskin akan menjadi kaya dan yang kaya akan menjadi miskin, semua hartawan akan kehilangan semua kekayaan dan budak mereka, dan semua budak akan mendapatkan kebebasan dan kemuliaan dirinya. Di hari itu dewa Mesir Amun tak lagi memiliki pengikut yang menyembahnya.

Butifar sangat menginginkan bisa menyaksikan hari itu terjadi, sayang beliau tak bisa menyaksikannya. Rakyat Mesir yang berkumpul saat itulah yang kini melihat semuanya.

Semua yang berkumpul bersorak sorai mengelu-elukan Yuzarsif.
“Hidup Yuzarsif, nabi Allah..”
“Hidup penyelamat dan penolong rakyat Mesir..”

Rudamun menambahkan bahwa Yuzarsif pun dulunya adalah seorang budak yang kini telah berhasil membawa Mesir pada kondisi yang berbeda tersebut, atas izin Allah.
Dulu para hartawan berlomba ingin membeli Yuzarsif, kini Yuzarsif menjadi majikan dari seluruh rakyat Mesir.

“Semua ini menandakan adanya Pemilik dari Setiap Keinginan, Sang Pemaksa di atas segala Paksaan, seru Yuzarsif.

Dengan izin dari Akhnatun, ia pun mengumumkan pada rakyat Mesir bahwa semua mantan budak dan budak istana kini telah bebas merdeka kecuali para mantan hartawan yang dulu menganiaya budaknya. Kalau mereka berbuat kekacauan mereka akan mendapat hukuman yang berat.

“Siapapun yang telah ridlo menjadi hamba Allah tak pantas dijadikan budak oleh perorangan maupun pemerintah. Aku tak punya maksud apapun dengan memperbudak rakyat Mesir selain untuk memerdekakan para budak dan menghukum mereka yang menganiaya budaknya,” jelas Yuzarsif.

Selanjutnya semua pengawal gandum akan memberi gandum secara gratis pada semua orang. Kerajaan akan mengenyangkan semua orang tanpa membeda-bedakan. Semua yang hari itu dimerdekakan dan belum merdeka akan mendapat perlakuan yang sama.

Yuzarsif juga mengumumkan bahwa bekas kuil Amun itu akan dibersihkan dari berbagai patung dan akan dijadikan tempat beribadah pada Allah.

Kejadian ini menandakan sebuah tonggak perubahan perekonomian Mesir yang sangat signifikan di mana semua rakyat mengakui dan menikmati pemerataan kesejahteraan. Sistem perbudakan dihilangkan dan tak lagi relevan karena tak ada lagi sekelompok rakyat yang menikmati kekayaan jauh melebihi kelompok lainnya.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s