Skip to content
Advertisements

Kisah Nabi Yusuf 10 – Kisah Zulaikha

Zulaikha sepeninggal Butifar

Zulaikha yang cantik mulai menyadari bahwa ia mulai lanjut usia dan memudar kecantikannya. Tak ada satu haripun berlalu tanpa Zulaikha memikirkan Yusuf, mantan budak yang dianiaya dan difitnahnya sampai masuk penjara. Cintanya pada Yusuf tak meredup sedikitpun. Setiap hari ia menanti kedatangan Yusuf.

Istana yang megah milik Butifar mulai sepi dan Zulaikha kehabisan dana untuk membayar staf istana yang demikian banyaknya. Satu persatu staf istana diberhentikannya. Apalagi ketika ia mendengar Yusuf memberikan kesempatan bagi rakyat miskin untuk bercocok tanam di tanah milik istana dan mendapat jaminan kesejahteraan dari negara. “Kalau Yuzarsif bisa berbuat baik, aku pun ingin berbuat baik dengan memerdekakan budak-budakku,” ujar Zulaikha.

Zulaikha buta sebatang kara

Setelah memerdekakan sebagian besar budaknya Zulaikha tinggal di istananya yang besar hanya dengan beberapa asisten terdekatnya. Setelah asisten kepercayaannya meninggal dunia ia makin tak terurus. Mantan perempuan nomor dua di Mesir itu mulai uzur dan harus dipapah setiap kali berjalan. Istananya dimasuki maling dan hartanya dirampok tak ada penjaga.

Zulaikha menangisi Yusuf setiap hari. Ratapan dan kesedihannya karena “tak berhasil melihat Yusuf” membuatnya benar-benar “tak bisa melihat.” Mantan perempuan paling kuat di Mesir ini buta. Pembantu terdekatnya akhirnya dimerdekakan agar bisa mendapat gandum gratis. Zulaikha buta dan terlunta-lunta. Ia sering duduk di pinggir jalan menanti Yusuf lewat seperti pengemis tua, menjadi bulan-bulanan anak-anak yang bermain di jalan. Kalau ditanya orang yang mengasihaninya ia berkata, “Aku memiliki rumah seluas istana, sesunyi kuburan. Lebih baik aku di sini.”

Beberapa kali Zulaikha berteriak, “Yusuf …Yusuf,” saat Yusuf berlalu di depannya. Yusuf selalu berhenti karena tak ada yang memanggilnya dengan nama Yusuf di Mesir, semua memanggilnya Yuzarsif. Seketika itu pula Zulaikha akan bersembunyi di tengah kerumunan karena tak ingin dilihat Yusuf dalam keadaan buta dan hina.

Zulaikha beriman pada Allah swt

Dalam deritanya Zulaikha masih sering meminta pada Amun tanpa hasil. Akhirnya di tengah kehinaannya ia menyadari bahwa Tuhan yang disembah Yusuf telah memuliakannya tanpa cela. Sementara Zulaikha, seorang Dewi Amun, telah jatuh ke lembah kehinaan yang begitu dalam.

“Bukankah wajar jika Yusuf menggantikanmu dengan Tuhan yang memuliakannya,” seru Zulaikha pada patung Amun dalam kamarnya. “Kini tunjukkan bagaimana agar Tuhan yang disembah Yusuf ridlo padaku,” tanya Zulaikha pada pembantu-pembantunya yang kembali tinggal bersamanya setelah merdeka.

Dimasukinnya kuil Amun yang penuh sarang laba-laba di dalam istananya dan dijatuhkannya semua patung yang pernah jadi tempatnya mengadu. “Wahai Tuhan yang disembah Yusuf, saksikanlah bahwa Zulaikha telah meninggalkan penyembahan pada dewa-dewa,” serunya.

Masih segar dalam ingatan Zulaikha bagaimana Yusuf sering menangis sambil berdialog dengan Tuhannya. Zulaikha pun ingin memiliki perasaan yang sama. “Aku tak pernah menangis untuk Amun, bahkan tak pernah untuk tuhan manapun. Aku sering menangis untuk Yusuf, tapi tak pernah padaMu. Betapa nikmatnya Yusuf bisa menyembah pada Tuhan sepertiMu di manapun ia berada. Pasti Engkau sangat Indah hingga seseorang seperti Yusuf meninggalkan semua keindahan hanya untukMu. Apakah Kau izinkan semua orang menyembahMu? Apakah perempuan berbaju hitam ini boleh menyembahMu? Akankah Kau dengar ratapannya? Aku tak tahu siapa Engkau, tapi aku yakin yang disembah Yusuf pasti Maha Kuat, tak ada yang menyamaiNya,” bisiknya lirih.

Zulaikha pun bersimpuh seperti Yusuf biasa bersimpuh. Ia pun menangis tersedu sedan seperti dulu dilihatnya Yusuf menangis saat saat bermunajat padaNya. “Ya Tuhan kini aku pun menangis padaMu,” ucapannya lirih.

Zulaikha bertemu Yusuf

Suatu hari Zulaikha ikut berkumpul bersama rakyat lainnya mendengar Yusuf memberikan pengumuman mengenai penyembahan terhadap Allah yang Maha Esa sebagai pengganti penyembahan pada dewa-dewa. Ia pun seperti biasa berteriak memanggil Yusuf. Yusuf mengutus Assinat untuk menemui perempuan tua yang memanggil-manggilnya itu Perempuan ini mengingatkannya pada mimpi-mimpi anehnya. Dalam mimpi-mimpinya seorang perempuan tua yang tak nampak mukanya memanggil-manggil meminta tolong.

Assinat pun menghampiri Zulaikha yang tak pernah tahu bahwa Yusuf sudah menikah karena semua orang di sekitarnya menyembunyikannya. Ketika Assinat memberi tahu Zulaikha bahwa ia adalah istri Yusuf dan menanyakan kebutuhannya, Zulaikha pun pingsan.

Assinat pun membawa Zulaikha pulang ke istana atas perintah Yusuf. Di istana Assinat mendengar kisah penderitaan Zulaikha selama tiga puluh tahun. Assinat tak sabar menceritakan hal ini pada Yusuf yang sedang mengadili biarawan Kuil Amun atas semua kebohongan yang mereka lakukan.

Assinat menceritakan mengenai perempuan tua yang setia mencintai Yusuf selama tiga puluh tahun di depan singgasana raja. Zulaikha pun dibawa menghadap raja. Saat itu Yusuf mendapat wahyu bahwa Zulaikha kini telah beriman dan penderitaannya telah menghapus dosa-dosanya. Yusuf pun diperintahkan untuk menerima Zulaikha sebagai istri. Ketika Zulaikha memasuki ruangan singgasana raja semua orang terkesiap. Tak ada yang percaya bahwa perempuan buta, tua dan papa itu adalah Zulaikha yang dulu kesohor kecantikannya.

Yusuf pun menghampiri Zulaikha, perempuan tua buta bungkuk yang ketika masih cantik pernah menjebloskannya ke penjara. Zulaikha kontan bersimpuh menangis di hadapan Yusuf. Yusuf pun tak kuasa menahan tangisnya melihat kondisi bekas majikan yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang ketika ia kecil.

Zulaikha meminta agar Yusuf mau memaafkannya.
“Maukah kau memaafkanku dan melupakanku?”
“KeinginanNya melebihi keinginanku melupakanmu,” jawab Yusuf.
“Kini apa lagi yang kuinginkan? Aku meminta Allah dan aku mendapatkanNya. Aku hanya menginginkan satu hal, melihat Yusuf,” kata Zulaikha lagi.

Yusuf mengatakan apabila Zulaikha menginginkan penglihatannya agar dapat melihat dirinya yang dirindukan sekian lama, tak ada kesulitan bagi Allah. Maka Yusuf pun bersujud berdoa agar Allah memberikan penglihatan kepada Zulaikha seperti Allah menyinari hatinya dengan iman. Semua yang hadir takjub ketika Zulaikha mampu melihat kembali.

Anekmaho menyangsikan semua keajaiban itu dan menganggap semua hanya drama. Maka Nabi Yusuf pun bertanya, kalau Allah menjadikannya cantik kembali apakah Anekmaho akan percaya?

“Tak mungkin ia dapat menjadi muda dan cantik kembali,” seru Anekmaho.

Yusuf pun berdoa dan semua yang ada di atas singgasana termasuk raja berdoa bersamanya. Atas izin Allah Zulaikha menjadi muda dan cantik kembali.

Anekmaho tetap diam tak bergeming, memang hidayah Allah tak diberikanNya kepada semua orang terutama mereka yang keras hati tak mau memberi tempat bagi sinar Allah. Hanya Khufu, salah satu biarawan Amun, yang menghampiri Yusuf dan menyatakan tobat.

Pernikahan Yusuf dan Zulaikha

Zulaikha yang tiba-tiba kembali penglihatan dan kecantikannya benar-benar takjub dan bersyukur kepada Allah swt. Ia meminta Yusuf menunggu karena ia ingin menikmati keindahan iman dan kedamaian berdua dengan Tuhan yang baru ia kenal.

Yusuf pun mengerti. Setelah bertahun-tahun mengidam-idamkan Yusuf kini Zulaikha sadar bahwa keindahan Yusuf tak ada apa-apanya dibanding keindahan penciptanya. Sebelumnya Zulaikha yang harus menanti Yusuf, kini Yusuf harus sabar menanti Zulaikha.

Menjelang 40 hari menyendiri bermunajat pada Allah swt Assinat, istri Yusuf, meminta Zulaikha menerima Yusuf sebagai suaminya. Zulaikha merasa kerinduannya pada Yusuf sudah tak seperti dulu. Kini dalam hatinya hanya ada Allah. Tak cukup Assinat, Firaun dan Ratu Nefertiti pun memintanya untuk menikah dengan Yusuf.

Di hari ke40, Malik mendatangi Zulaikha dan akhirnya Zulaikha pun menyatakan bahwa tak mungkin ia mencintai Allah tanpa mencintai nabiNya. Zulaikha pun menyerahkan jiwanya untuk cinta Yusuf sebagai wujud cintaNya pada Allah.

Zulaikha hadir di tengah kerumunan rakyat yang mendengarkan Yusuf mengumumkan dimerdekakannya semua budak. Tempat ini adalah tempat yang dikunjunginya setiap hari sebagai perempuan tua, buta, dicemooh masyarakat. Di tempat ini ia menghayati kembali penantiannya terhadap Yusuf. Dipanggilnya Yusuf. Yusuf pun terkejut dan menghampiri Zulaikha. Saat itulah Zulaikha menyatakan keinginannya untuk menjadi hamba dari utusanNya.

Yusuf mempersilakan Zulaikha naik keretanya. Bersama mereka menuju istana untuk menjadi suami istri.

Bersambung…

Bersambung…

Advertisements

2 Comments »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: