Kisah Nabi Yusuf 6

Amenhotep menjadi Akhnatun

Suatu hari raja Amenhotep mendapat laporan dan pembantu Ibu Suri, Ny Tee, bahwa biarawan kuil merencanakan tipu muslihat untuk membunuh Yuzarsif, atau Nabi Yusuf. Amenhotep meradang dan merasakan kemarahan yang memuncak pada biarawan kuil. Ia memanggil Yuzarsif untuk membahas penjagaan yang lebih ketat bagi Yuzarsif. Yuzarsif tak terlalu mengkhawatirkan rencana pembunuhan tersebut dan mengajak raja membahas mengenai hal yang lebih mendasar: tauhid.

Raja Amenhotep menyatakan bahwa ia sudah lama kafir pada Amun, dan ia beriman pada Tuhan yang menciptakan seluruh manusia dan alam semesta.
Yusuf bertanya, “yang terpenting apakah Paduka beriman pada Tuhan pencipta semua makhluk?”
Raja menjawab, “Ya, aku beriman padaNya dan aku beriman pada nabiNya. Bolehkah aku memanggilnya Atun? Amenhotep… Aku benci nama yang disandingkan dengan Amun. Aku penyembuh Atun, Tuhan yang satu, mulai saat ini aku mengganti namaku menjadi Akhnatun.”

Dengan semangat tauhidnya, raja kemudian berencana menjadikan agama tauhid ini sebagai agama resmi kerajaan Mesir. Yuzarsif mencegahnya. Menurutnya rakyat masih banyak yang cinta Amun. Belum saatnya mengganti agama seluruh masyarakat. Apabila raja mengumumkan agama dan nama barunya, maka kekuatan Amun akan perlahan-lahan melemah dan akan tiba saatnya agama tauhid ditetapkan.

Ratu Nefertiti pun otomatis beriman pada Allah, atau yang mereka sebut sebagai Atun, dan nabiNya. Ia pun menyetujui rencana Yuzarsif. Dengan mengganti agama raja, kuil istana pun akan ditiadakan dan para biarawan kuil Amun tak akan dapat lagi memasuki istana. Raja pun memerintahkan Minarus untuk selalu mendampingi Yuzarsif, karena tentu seluruh pengikut Amun akan marah dan mencoba membunuh Yuzarsif, sebagai orang yang dianggap menjadi biang keladi perpindahan agama raja.

Raja mengumumkan agama barunya

Keesokan harinya kebetulan adalah hari penghormatan Amun. Pada hari itu Amun mengalahkan tuhan Mesir sebelumnya, Ra, dan menjadi tuhan seluruh rakyat Mesir. Hari besar itu selalu diperingati rakyat Mesir setiap tahun pada masa itu, dan raja selalu menjadi pemandu acara, membersihkan patung Amun dengan menggunakan pakaian zirah khusus untuk upacara itu. Seperti biasa semua pejabat istana dan biarawan kuil hadir di istana untuk menyaksikan proses penghormatan pada Amun yang dipimpin oleh raja.

Pada hari itu Amenhotep 4 yang sudah menjadi Akhnatun memasuki ruangan menggunakan pakaian biasa. Ia tak menggunakan baju zirah khusus untuk acara tersebut, tidak membungkuk di depan patung Amun dan tak melakukan penghormatan apapun pada patung Amun. Semua tamu, terutama para biarawan kuil, yang menghadiri upacara tersebut di istana dibuat sangat bingung. Mereka ramai berbisik-bisik. Pada saat itulah raja mengumumkan ketauhidannya.

Raja berkata, “Mulai saat ini aku tak akan menyembah Amun, tapi menyembah Allah Yang Maha Esa.”
Anekmaho berdiri terpana mendengar kata-kata raja, ibu suri memalingkan wajahnya, dan semua tamu makin ramai menyatakan kekagetannya.

Dilanjutkannya, “Ya, aku beriman pada Allah Yang Maha Esa, aku beriman pada Tuhan seluruh langit, namun aku tidak menetapkan agama rakyat Mesir, setiap rakyat bebas menentukan agamanya.”

Raja pun berseru pada biarawan kuil Amun, “wahai para biarawan, keluarkan patung ini dari sini. Istana Akhnatun tak lagi membutuhkan patung ini mulai dari sekarang, termasuk kuil Amun, tak ada lagi kuil Amun di istana.” Raja mendorong patung Amun, ditangkap oleh para biarawan disertai desis kaget para hadirin dan tatapan kemarahan Anekmaho. Yuzarsif pun menjadi sasaran tatapan keji para biarawan dan pendukung Amun dalam ruangan tersebut.

Raja melanjutkan, “wahai para pembesar sekalian, bangsawan dan orang-orang terhormat Mesir, mulai hari ini aku menyembah Tuhan Yang Esa dan mengganti namaku, Amenhotep, menjadi Akhnatun, yang artinya abdi Atun (Allah). Sebarkan lah berita ini ke seluruh penjuru Mesir. Nama raja Mesir sekarang adalah Akhnatun.”

Di literatur barat kita bisa mendapatkan nama ini sebagai Akhenaton, raja Mesir yang melaksanakan revolusi beragama, dari politeisme menjadi moniteisme. Melawan tradisi menyembah dewa-dewa dan menggantinya dengan agama tauhid tentu tak mudah dan membutuhkan keberanian luar biasa.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s