Belajar dari Kisah Maryam Al Muqadassah

image.jpeg

Bagian 1 dari 2 tulisan

Sahabat,

Seminggu ini aku berhasil menyelesaikan dua film yang sangat baik untuk dijadikan pelajaran. Yang satu mengenai Maryam putri Imran, juga dikenal dengan Bunda Maria, dan Nabi Isa Al Masih. Film-film ini aslinya film seri Iran yang berhasil kutemukan VCD nya di Giant Bintaro. Keduanya dibuat berdasarkan firman Allah dalam Al Quran dan hadits.

Rasanya banyak pelajaran yang bisa kita petik di sini. Kita simak yuk. Kisah Maryam Al Muqaddassah akan kutulis di sini, sementara kisah Nabi Isa as akan kutulis sebagai kelanjutan dari tulisan ini.

Maryam Al Muqadassah

Kelahiran Maryam

Pada saat Hanna, istri Imran melahirkan, masyarakat Yahudi menanti dengan penuh harap. Mereka pernah mendengar Imran berkata bahwa Al Masih, juru selamat mereka, akan menjadi keturunannya. Raja Herud ketakutan, karena ada ramalan Al Masih ini akan menjatuhkan kekuasaanya. Pendeta-pendeta Yahudi di Baitul Maqdis pun ketakutan karena Al Masih tentu akan menggoyahkan posisi mereka sebagai pimpinan Kaum Yahudi. Pendeta ini bukan hanya khawatir kehilangan posisi tapi juga kenikmatan dan kemewahan hidup yang mereka nikmati sebagai pendeta pada saat itu.

Penduduk Yerusalem sangat berharap Al Masih segera hadir karena mereka merasa para pendeta dan raja selalu dzalim pada mereka. Mereka sangat kecewa saat Hanna melahirkan seorang perempuan.

Di lain sisi para pendeta lega dan punya kesempatan menuduh Imran dan Nabi Zakaria as sebagai nabi palsu. Raja Herud pun lega, kekuasaannya masih terjaga.

Nabi Zakaria as punya pendapat lain. Ia merasa Al Masih membutuhkan seorang ibu yang suci, bersih dari dosa. Jadi kemungkinan anak perempuan inilah yang akan menjadi ibu dari Al Masih. Jadi Maryam harus dijaga baik-baik. Maryam, yang sejak masih dalam perut ibunya sudah dinazarkan menjadi pengurus Baitul Maqdis, dibawa oleh Zakaria as untuk menjadi penghuni kuil.

Para pendeta Yahudi geger karena merasa tak mungkin ada perempuan yang tinggal dalam kuil. Tapi karena Raja Herud menyarankan agar para pendeta membiarkan Maryam tinggal di kuil agar “bisa dikuasai dan diatur supaya tidak berbahaya” maka para pendeta pun membolehkan Maryam tinggal di Baitul Maqdis.

Lalu para pendeta yang tadinya secara keras menolak Maryam, berebut memperoleh hak asuh Maryam agar “dapat mengontrol” Maryam. Dengan kuasa Allah Zakaria as lah yang terpilih sebagai pengasuh Maryam.

Maryam, sang gadis suci

Maryam yang konsentrasi beribadah sepanjang hari menjadi sangat terkenal karena kebaikan hati dan kehalusan budinya. Ia sangat rajin bekerja, selalu memberikan makanan kepada orang-orang miskin di sekitar Baitul Maqdis.

Baitul Maqdis pun menjadi ramai dikunjungi karena orang ingin bertemu dengan Maryam yang doanya dikenal sangat makbul. Orang tua yang anaknya sakit membawa anaknya untuk didoakan oleh Maryam. Orang-orang miskin banyak pula yang datang berpura-pura punya anak sakit agar didoakan dan diberi makan. Maryam tidak keberatan, ia sangat bahagia bisa berbagi meskipun tahu ia dibohongi.

Para pendeta terbakar oleh rasa iri. Bagaimana mungkin Maryam yang masih muda mendapatkan pujian dan penghargaan jauh lebih besar daripada mereka yang sudah jauh lebih lama mendedikasikan hidup bagi Baitul Maqdis. Mereka cemburu, iri dan berniat mengenyahkan Maryam dari Baitul Maqdis. Tak henti-hentinya mereka mencari kesempatan memaki, menghina dan memfitnah Maryam dan Zakaria as. Tak pernah sekalipun Maryam membalas atau dendam. Ia selalu berdoa pada Allah untuk memaafkan dan mengasihi mereka.

Maryam yang selalu kehabisan makanan setelah berbagi dengan masyarakat sering merasa lemas dan sakit. Allah iba dan mengirim buah-buahan yang begitu istimewa bagi hambaNya yang baik dan lembut hati ini. Zakaria as pun bingung melihatnya, dan Maryam berkata bahwa Allah memberikan karunia kepada hambaNya yang bersih tanpa perhitungan.

Allah berfirman:
Keluarga ‘Imran (‘Āli `Imrān):37 – Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Maryam perempuan pilihan

Suatu hari Maryam mendengar suara:

Keluarga ‘Imran (‘Āli `Imrān):42-43 – Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.

Maryam dengan teguh masuk ke dalam ruang utama Baitul Maqdis untuk turut beribadah bersama para pendeta. Maryam melihat para malaikat menyambutnya dan beribadah bersamanya. Ia pun mendengar kabar gembira bahwa ia akan menjadi satu dari empat perempuan utama di dalam surga. Berita ini membuatnya begitu bahagia.

Maryam dilarang keras masuk dalam ruangan itu karena hanya orang-orang khusus yang dapat masuk ruangan itu, dan terlebih-lebih karena ia perempuan. Kehadirannya pun menimbulkan murka para pendeta, dan kesempatan bagi mereka menghasut masyarakat untuk membuang Maryam. Mereka menganggap penjelasan Maryam mengenai firman Allah adalah kebohongan belaka. Mulailah mereka menyusun siasat jahat untuk merendahkan martabat Zakaria as agar mereka berdua dibuang dari Baitul Maqdis.

Maryam hamil

Maryam pergi keluar kuil untuk mengunjungi keluarga Nabi Zakaria as. Saat itulah Jibril datang menyampaikan firman Allah kepadanya:

Keluarga ‘Imran (‘Āli `Imrān):45 – (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).

Maryam:16 – Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,
Maryam:17 – maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.
Maryam:18 – Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.
Maryam:19 – Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

Maryam tidak dapat mengerti, bagaimana mungkin gadis sepertinya bisa hamil.

Keluarga ‘Imran (‘Āli `Imrān):47 – Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.

Maryam:21 – Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.
Maryam:22 – Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

Maryam tak berani mengatakan hal ini kepada siapapun karena takut aib dan kehinaan yang besar. Nabi Zakaria as dan keluarganya pun tak diberi tahu sama sekali. Namun istri dari pemimpin pendeta sempat mencurigai Maryam karena jalannya seperti orang hamil.

Para pendeta pun gembira. Makin banyak kesempatan untuk menginstruksikan pembunuhan Maryam dan Nabi Zakaria as. Berbagai keajaiban yang Allah tunjukkan tak juga mencairkan hati mereka. Sungguh hati mereka sudah beku dan dikuasai ambisi untuk menguasai.

Kelahiran Nabi Isa as

Maryam menjauh dari kuil, masyarakat, bahkan dari keluarga Nabi Zakaria as karena ia sangat khawatir dan malu. Semua orang pun heran dan tak dapat menemukan Maryam. Para pendeta makin mencemooh, memfitnah Maryam dan Zakaria as sebagai pendosa.

Di saat yang sama Raja Herud kedatangan tamu-tamu dari Persia yang mengaku melihat meteor yang akan jatuh di Yerusalem. Meteor ini hanya muncul sekali dalam ribuan tahun dan kemunculannya menandakan sebuah peristiwa besar yang sangat berdampak pada umat manusia. Mereka menduga bahwa inilah tanda kelahiran Al Masih, raja Judea.

Maka Raja Herud memerintahkan panglimanya membantu mereka mencari bayi Al Masih, dengan pesan untuk segera membunuhnya, karena rasa takut akan kehilangan kekuasaan.

Para tamu ini bertanya, apakah ada perempuan yang suci, mempunyai kelebihan dan pantas menjadi ibu Al Masih. Selanjutnya, kalau ada, apakah ia sedang hamil. Mereka berkata bahwa siapapun perempuan ini, mereka sangat mencintainya, sementara kaumnya sendiri tak dapat menghargai nilai dari perempuan suci ini.

Di tengah-tengah padang pasir yang gersang, di bawah teriknya matahari, saat kurma berbuah, Maryam merasakan kesakitan akan melahirkan.

Maryam:23 – Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”.
Maryam:24 – Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.
Maryam:25 – Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,

Maryam pun menggoyangkan batang pohon kurma yang ia sandari. Buah kurma pun berjatuhan untuk dimakannya. Mata air pun keluar dari bawah kakinya untuk ia minum. Sungguh Allah sangat memperhatikan hambaNya yang mulia ini.

Maryam:26 – maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.

Maryam pun memasuki kota menggendong Nabi Isa as, dengan penuh was was, karena ia sadar orang akan menuduhnya zina.

Maryam:27 – Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.
Maryam:28 – Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,
Maryam:29 – maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”

Para pendeta Yahudi yang saat itu sedang ramai mencemooh Maryam dan hendak membuka aibnya di depan umum makin mengejek Maryam dan mengatakannya gila. Mana mungkin bayi bicara. Tapi karena Maryam terus memberi kode untuk bertanya pada bayi maka merekapun bertanya pada bayi itu, siapa ia? Dan mereka pun kaget dan terkesima melihat bayi itu bisa menjawab.

Maryam:30 – Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
Maryam:31 – dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
Maryam:32 – dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
Maryam:33 – Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Semua pendeta tersebut terjungkal dan hancurlah siasat mereka menghancurkan Maryam dan Zakaria as. Semua yang hadir bersimpuh dan memberikan penghormatan pada bayi Almasih, termasuk para tamu Persia yang kebetulan sedang ada di sana.

Hikmah

Dari kisah ini ada beberapa hal yang kita bisa ambil hikmahnya:

DOs
1. Percayalah akan kekuasaanNya.
Kisah hidup Maryam adalah salah satu bukti kekuasaan Allah. Apapun yang ingin Allah ciptakan akan tercipta seketika. Kehamilan dapat terjadi seketika tanpa proses perkawinan.

2. Abdikan diri untuk akhirat, maka dunia akan menghampiri.
Maryam gadis suci yang sangat baik budi, memikirkan orang lain lebih dari ia memikirkan dirinya sendiri. PenghambaanNya pada Allah berbuah karunia Allah yang sangat besar. Hidangan istimewa muncul dengan sangat ajaib di kamarnya, mata air yang muncul tiba-tiba di bawah kakinya dan kurma yang berjatuhan tepat saat ia membutuhkan setelah persalinan.

3. Asahlah kemuliaan akhlak.
Budi baik dan hati yang bersih membuahkan kemuliaan lebih dari seragam mewah dan kedudukan yang tinggi. Para pendeta yang sudah puluhan tahun menjadi “pemimpin umat” ternyata kalah masyhur dan kalah mulia dalam pandangan umat dibanding Maryam yang masih sangat muda.

DONTs
4. Jangan takabur
Para pendeta di kuil Baitul Maqdis merasa bahwa mereka paling berkuasa dan tak mungkin ada yang lebih besar dari mereka. Mukjizat apapun yang Allah tunjukkan tak ada yang bisa membuat mereka tunduk.

5. Jangan haus dunia
Haus kekuasaan, posisi, martabat dan kemuliaan telah membutakan para pendeta Baitul Maqdis. Mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasrat dunia mereka, termasuk menyogok dan menyebar fitnah, sesuatu hal yang seharusnya jauh dari pikiran seorang pendeta.

6. Pemimpin harus waspada terhadap penyelewengan di bawahnya
Kedzaliman para pendeta tidak ditindak tegas oleh Helial, pemimpin tertinggi Baitul Maqdis. Helial adalah seorang pemimpin yang sangat demokratis, bijaksana, beriman kuat, namun tak awas dan tak tahu mengenai berbagai kedzaliman yang dilakukan pendeta lainnya.

7. Jangan mentoleransi kedzaliman
Ada beberapa pendeta yang sadar akan kedzaliman rekan-rekannya tapi saat mereka menentang semua sudah terlambat.

8. Jangan mudah dihasut
Raja Herud yang haus kekuasaan sangat mudah dihasut oleh adiknya yang iri terhadap Miriam, istri Herud yang juga putri raja sebelumnya yang dibunuh oleh Herud. Herud memerintahkan Miriam dibunuh. Ia kemudian sangat menyesal, mencurigai dan akhirnya membunuh anggota keluarganya satu persatu.

9. Jangan ragu-ragu meminta pada Allah.
Nabi Zakaria merasa mendapat pelajaran ketika Maryam berkata, “Allah memberi tanpa dihitung.” Maka kemudian Nabi Zakaria as pun memohon kepada Allah swt agar diberikan keturunan yang dapat meneruskan ajarannya menyampaikan pesan Allah swt. Allah mengabulkan dengan menjadikan istrinya mengandung Nabi Yahya as. Bahkan seorang nabi pun harus meminta kepada Allah swt sebelum diberikan.

Untuk yang sudah menonton film ini dan merasa ada hikmah lain yang dapat kita petik, silakan berbagi di sini.

Semoga pelajaran-pelajaran ini dapat mengasah diri, hati dan akhlak menjadi hambaNya yang lebih baik. Amin yra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s