Cinta yang suci

Twends,
Di bangku sekolah dulu aku bingung setiap kali mendengar bahwa manusia harus mencintai Allah dan Rasulullah saw lebih dari cinta pada dunia. Bagaimana mungkin. Susah sekali bagiku untuk membayangkan.

Ternyata Allah mendengar kebingunganku dan menjawabnya melalui berbagai bencana. Di setiap bencana aku selalu kembali kepadaNya, kembali menggali ajaran Rasulullah saw, dan tak pernah gagal menemukan ketenangan dan solusi hidup.

Ternyata aku termasuk manusia yang baru bisa benar-benar menghargai kasihNya setelah merasa kehilangan. Baru sadar ketika jatuh. Artinya, segala kejatuhan tersebut harus kusyukuri, karena dengan rasa sakit itulah aku diberi jalan untuk merasakan cintaNya.

Cintaku pun berkembang pesat seiring dengan pertumbuhan imanku dengan asahan berbagai bencana tadi. Cinta inilah yang kurasakan menjadi kekuatan dalam melangkah menggapai berbagai impian.

Kalau ada sesuatu kebaikan yang tampak tak membuahkan hasil, aku selalu mengatakan, aku melakukannya hanya untuk Allah, dan tak terasa berat apapun yang kulakukan itu.

Berbuat baik tanpa ucapan terima kasih, penghargaan, ganjaran atau benefit duniawi? Tak apa, selama itu kebaikan artinya kulakukan untukNya, tak perlu berhitung, karena nikmatNya yang dilimpahkanNya pun tak terhitung.

Didzalimi manusia? Sakit hati tentunya, tapi aku yakin Allah pasti melindungi, pasti menghibur dan memberikan ganti. Di dunia tak ada ganti? Tak apa, aku yakin di akhirat sudah disediakan gantinya.

Divonis kanker? Alhamdulillah, Allah kembali memberikan nikmatNya karena insya Allah dosa-dosaku dihapusNya dan derajatku ditinggikanNya. Kenapa harus sedih? Aku ditegurNya karena gaya hidupku yang mungkin tak berimbang, disuruhNya aku berbalik dan mencari jalan lain.

Keguguran? Alhamdulillah aku sudah diberi izin hamil beberapa bulan, orang lain belum tentu diberikan nikmat hamil

Kecintaanku padaNya dan pada RasulNya menyelamatkanku dari berbagai rasa galau, putus asa, demotivasi, dan berbagai hal negatif lainnya. Aku mampu untuk selalu positif, optimis, penuh kekuatan menerjang badai hidup. Aku tetap bahagia, bahagia karena terus merasakan cintaNya, melalui ajaran Rasulullah saw.

Semoga sahabatku semua pun selalu diberi petunjuk dan jalan untuk menikmati rengkuhan kasihNya, Sang Maha Kasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi, sumber segala cinta yang ada di alam semesta. Dan dengan cintaNya semoga hidul selalu terasa indah dan penuh keajaiban. Amin, amin yra.

Kita simak pesa  eLJe tentang cinta luhur ini yuk. Semoga bermanfaat ya.

…….

Tausiyah malam (masih) dari eLJe

Sahabat-sahabat,

Cinta tertinggi bagi seorang manusia adalah mencintai Allah dan RasulNya. Rasa cinta yang luhur dan tinggi kepada Allah dan RasulNya akan membuat manusia rela berjihad di jalan Allah. Salah satu bentuk jihad tertinggi adalah melawan hawa nafsu, terutama menuruti hawa nafsu yang akan membawa manusia ke jalan yang sesat serta jauh dari ajaran Allah.

Menyiarkan agama tanpa berharap keuntungan dunia, bekerja jujur, mendidik anak, sekolah, belajar, dll adalah bentuk-bentuk jihad lainnya.

Mari perhatikan firman Allah dibawah ini:
“Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (At Taubah : 24).

Dari ayat diatas jelas sekali bahwa cinta kepada Allah dan RasulNya serta keinginan berjihad di jalanNya adalah bentuk cinta yang sangat mulia. Cinta kepada Allah dan RasulNya harus melebihi cinta kita kepada dunia dan segala kenikmatannya. Dan bila kita mencintai dunia dan segala kenikmatannya melebihi cinta kita kepada Allah, maka Allah akan memberikan keputusanNya, dan keputusan itu pastinya sangat menyakitkan. Semoga, kita tidak menjadi manusia yang fasik, yang sudah diberitahukan tentang kebenaran tapi masih tidak mau tahu, naudzubillahi min dzalik.

Dan semoga Allah menguatkan hati kita untuk selalu menempatkan cinta kita kepadaNya dan kepada RasulNya diatas cinta kita terhadap dunia dan segala kenikmatannya. Aamiin.

Wallahu a’lam

eLJe
Via Mas Faisal Tjatjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s