Menata hati

Twends,

Di saat kita sudah berupaya sekeras mungkin, merasa sudah bekerja cerdas, bekerja efektif efisien, mengikuti segala macam tips, kiat, atau teori paling hebat di dunia, dan hasilnya tidak menggembirakan, sangat wajar kalau kita sedih.

Lalu kita terus berusaha, visualisasi, tahajud, berdoa, sambil terus bekerja, dan belum juga tampak hasil sesuai keinginan…

Lissa Rankin, M.D., penulis buku “Mind Over Medicine,” mengatakan, “Learn to let go.” Mungkin Tuhan punya niat lain, dan berterima kasihlah.

Memang gampang bilangnya, betapa susah menjalankannya. Tapi kita wajib menjalankannya. Dari kaca mata seorang Lissa Rankin, M.D. kalau kita tidak learn to let go, kita akan stress, dan kalau berkepanjangan bisa sangat buruk bagi kesehatan. Banyak orang yang stress mengalami kekecewaan hidup berujung mengidap penyakit-penyakit berbahaya, termasuk kanker.

Dari kaca mata orang beriman, hal ini juga bisa menimbulkan kekecewaan dan prasangka buruk pada Allah, menjauhkan kita dari sabar dan syukur, dan akhirnya kehilangan kesempatan mendapat pahala tanpa batas. Pahala tanpa batas hanya diberikanNya bagi mereka yang mampu sabar dan syukur dalam setiap kesulitan, bencana dan ujian.

Sabar menghadapi ujian Allah berbuah pahala tak terbatas, dan mensyukurinya berbuah karunia yang berlimpah dariNya. Sayang kan kalau terlewat begitu saja karena kita tak mampu menata hati?

Kita simak yuk pesan Bang BRH di bawah ini untuk bisa sabar, tawakal dan mensyukuri ujianNya. Semoga kita semua mampu menjadi orang beriman yang pandai menata hati dengan sabar dan syukur.

Amin YRA.

……

Orang yang beriman selalu punya cara tersendiri untuk menata hatinya, meski apa yang tengah dialaminya sangat berlawanan dengan apa yang diharapkannya. Manusia selalu mengharap hasil yang indah atas segala ikhtiar dan usaha, namun tidak jarang apa yang diperoleh itu bertentangan dengan harapannya.

Menerima dan mensyukuri apapun bentuk ketetapanNya adalah ciri khas dari orang yang beriman yang selalu bertawakkal, yang menyandarkan kepadaNya atas segala hasil bentuk ikhtiar dan usahanya.

“Jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepadaNya saja” [Yunus 84].

“Dialah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepadaNya, dan kepadaNyalah kami bertawakkal” [Al-Mulk 29].

Tawakkal bukanlah sikap berpasrah diri, namun menyandarkan kepadaNya segala hasil upaya dan ikhtiar sebagai wujud dari keimanannya.

“Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang ber-Iman harus bertawakkal” [At-Taubah 51].   

“Dan hendaklah orang-orang beriman itu bertawakkal kepada Allah saja” [At-Taghabuun 13].  

¤| Alangkah beruntungnya orang yang tawakkal, yang senantiasa mempasrahkan kepadaNya segala hasil dari apa yang telah diusahakannya.

“KepadaNya lah dikembalikan semua urusan-urusan, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepadaNya” [Hud 123].

“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan bertawakkallah kepada Allah” [Al-Ahzab 2].

“Hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri”. [Ibrahim 12].  

¤| Alangkah beruntungnya orang yang tawakkal, karena Allah menyukai orang bertawakkal.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya” [Ali-Imran 159].

“Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” [Ath-Thalaaq 3].

Semoga renungan jelang akhir tahun 1434-H ini dapat bermanfaat bagi para kerabat yang kebetulan membacanya. Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin. [BRH].

3 thoughts on “Menata hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s