Skip to content
Advertisements

Membesarkan anak ala Rasulullah saw

anakmu bukanlah anakmu

Ada seorang sahabat, ibu dari dua orang anak berusia 12 dan 15 tahun, meminta bahasan tentang mendidik anak menurut Islam. Malam ini, dengan keterbatasan ilmu, saya akan membahas sedikit mengenai hal tsb. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Berhubung permintaan ini datangnya dari seorang ibu, maka saya akan mulai membahas bahwa ‘Ibu’ dalam bahasa Al Qur’an disebut ‘umm’. Kita sering menyebut ‘ummi’ untuk panggilan ‘ibu’. Dari akar kata ‘umm’ dalam bahasa arab, maka terbentuklah kata ‘imam’ (pemimpin) dan ‘ummat’. Dari penjelasan tatabahasa diatas bisa kita simpulkan bahwa seorang ibu, melalui keteladanan, kepemimpinan dan perhatian yang baik kepada anak-anaknya akan menciptakan anak-anaknya menjadi pemimpin sekaligus membuat anak-anak itu menjadi ummat yg baik. Dan sebaliknya, bila seorang ibu tidak menjalankan fungsinya dengan baik, maka anak-anaknya akan hancur dan tidak bisa menjadikan anak-anaknya sebagai pemimpin kelak.

Seorang ibu selain mengandung, melahirkan dan menyusui anak, juga berkewajiban untuk menciptakan pemimpin-pemimpin ummat. Karena sesungguhnya, kesempatan seorang ibu untuk bersentuhan dengan anaknya lebih banyak dibanding seorang bapak. Walaupun kita tahu bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab ibu-bapak.

Ummu Al Fadhl bercerita:
“suatu ketika aku menimang seorang bayi. Kemudian Rasulullah mengambil bayi itu dan menggendongnya. Tiba-tiba bayi tersebut pipis dan membasahi pakaian Rasul. Segera saja kurenggut secara kasar bayi itu dari gendongan Rasul. Rasulpun menegurku ‘Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa bayi itu akibat renggutanmu yang kasar?'”

Dari riwayat diatas, Rasul tidak ingin ada rasa ‘rendah diri’ dan ‘berdosa’ mempengaruhi jiwa anak itu hingga dia dewasa. Menurut para ilmuwan, 90% dari karakter buruk seorang manusia disebabkan oleh perlakuan buruk yang ia terima sebelum dia dewasa.

Karena itu Rasulullah memerintahkan: “Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.”

Sahabat bertanya: “Bagaimana cara membantunya?”
Rasulullah menjawab:
“(1) dengan menerima usahanya walaupun kecil
(2) memaafkan kekeliruannya
(3) tidak membebaninya dengan beban yg berat,
(4) dan tidak memarahinya dengan makian yg melukai hatinya.”

Mari perhatikan empat point ajaran Rasulullah diatas. Apakah kita sudah menghargai usaha anak-anak kita? Apakah kita membebani mereka dengan keharusan mendapatkan nilai sekolah yang baik dan kita akan marah ketika nilai-nilai ujian mereka jelek? Apakah kita menghardik mereka untuk perbuatan yang tidak sesuai dengan harapan kita? Apakah kita sudah melembutkan bahasa kita ketika kita terpaksa harus marah atas kesalahan-kesalahan mereka? Apakah kita sadar bahwa marah kita seharusnya untuk mendidik mereka?

Bila empat hal diatas bisa kita lakukan dengan baik, insya Allah akan ada keterbukaan antara kita dan anak-anak akan ada komunikasi yang baik yang berdasarkan saling mencintai sehingga semua ajaran-ajaran kita bisa diterapkan dan bisa menjadikan mereka pemimpin-pemimpin kelak di kemudian hari. Semoga Allah memberikan sinarNya kepada kita, sehingga kita bisa meletakkan dasar-dasar pendidikan Islami dalam mendidik anak-anak kita. Aamiin. Wallahu a’lam.

eLJe
Via Mas Faisal Tjatjo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: