Ilmu dunia untuk akhirat

Twends,

Einstein pernah berkata bahwa ilmu tanpa agama itu buta, dan agama tanpa ilmu itu lumpuh.
Memang benar, kita bisa lihat bahwa banyak sekali kerusakan terjadi karena ilmu yang tinggi, canggih dan hebat tidak digunakan untuk kebaikan, atau digunakan tanpa dasar agama dan dimensi akhirat.

Makin besar dan makin canggih ilmu seseorang, makin besar pula potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan, makin besar pula potensi ilmu tersebut menjerumuskan pemiliknya dalam jurang kesesatan. Jadi, ilmu benar-benar wajib kita gali dengan dasar dua dimensi, dunia untuk akhirat, bukan dunia saja.

Marilah kita gali ilmu sebanyak-banyaknya, karena ilmu inilah juga yang dapat membawa kita menuju surgaNya, bila digunakan untuk mencari ridloNya, dan dibagikan kembali kepada banyak orang untuk mereka gunakan dalam kebaikan.

Semoga semua ilmu kita dapat menjadi amal sholeh dan amal jariah dalam upaya kita meniti jalan menuju ridlo dan surgaNya.
Aamiin YRA.

🌷💐🌸❤🌷💐🌸❤🌷

Tausiyah malam (masih) dari eLJe🙂

Ada seorang sahabat yang bertanya tentang makna satu kalimat yang pernah saya tulis pada tausiyah malam beberpa waktu lalu, yang berbunyi : “Sesungguhnya hilanglah kebaikan ilmu dan hikmah, apabila dengan keduanya itu seseorang mencari dunia.” Kalimat itu saya ambil dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali.

Dengan keterbatasan ilmu, saya coba menggali makna kalimat itu. Mari kita coba pahamai makna ilmu dan hikmah. Ilmu adalah pengetahuan, dengan ilmu atau pengetahuan orang bisa mengetahui mana yang baik dan buruk. Sedangkan hikmah adalah kemampuan menentukan dan memilih yang baik serta meninggalkan yang buruk berdasarkan ilmu atau pengetahuan yg dia miliki. Dengan ilmu manusia bisa menjadi pandai, dan dengan hikmah manusia bisa menerapkan ilmunya untuk memilih jalan yang baik dan meninggalkan yang buruk.

Hikmah adalah pemberian Allah, sebagaimana firmanNya: ” Dia (Allah) menganugerahkan al Hikmah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah maka ia benar-benar telah diberi anugerah yang banyak. Dan hanya orang yang berifikir yang dapat mengambil pelajaran” (Al Baqarah : 269)

Dari ayat diatas jelas bahwa orang-orang yang diberi kemampuan dalam menggunakan ilmunya untuk memilih dan menjalankan yang baik serta meninggalkan yang buruk maka dia telah diberi hikmah oleh Allah.

Jadi, bila seseorang menggunakan ilmu pengetahuan dan hikmah yang diberikan oleh Allah untuk mencari kepentingan dan kesenangan dunia, maka hilanglah kabaikan dari ilmu dan hikmah tsb.

Bila diteliti lebih lanjut, orang-orang yang meggunakan ilmu dan hikmahnya selain untuk jalan ibadah kepada Allah sesungguhnya telah mengikuti jalan setan. Karena pada ayat sebelumnya, Allah berfirman :
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu untuk berbuat kejahatan dan kikir, sedangkan Allah menjanjikan untuk kamu ampunanNya dan kelebihan. Allah Maha Luas (anugerahnya) lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah ; 268).

Pada ayat diatas dijelaskan ada dua jalan, yaitu jalan Setan dan jalan Allah.

Jadi, kesimpulan ayat 268 dan 269 surat Al Baqarah diatas, kurang lebih sebagai berikut : bila kita menggunakan ilmu dan hikmah yang sudah sudah diberikan Allah untuk mencapai kesenangan duniawi, maka kita mengikuti jalan setan yaitu berbuat kejahatan dan kikir karena takut miskin. Naudzubillahi mindzalik.

Semoga ilmu kita menjadi ilmu yang bermanfaat dan Allah selalu menganugerahkan hikmah kepada kita serta hati kita dikuatkan untuk tidak menggunakan ilmu dan hikmah untuk sekedar mencari kesenangan dalam kehidupan dunia. Aamiin…

eLJe
Via Mas Faisal Tjatjo

🌷💐🌸❤🌷💐🌸❤🌷

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s