Nasehat Lukman untuk anaknya, nasehat kehidupan bagi kita semua


Lukman Al Hakim..

Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul, tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur’an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hakikat hidup.

Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.

Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.

Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.

Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.

Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.

Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.

Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:

1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.

2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.

3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.

4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.

5. Ingatlah Allah selalu.

6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu

7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.

8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.

Nah sahabat, bukan kebetulan pesan-pesan Lukman Al Hakim ini muncul terbaca di hadapan sahabat semua. Bukan tidak mungkin pesan ini sesungguhnya adalah pesan Allah untuk sahabat pembaca sekalian.

Kita-kira pesan yang mana yang paling bermanfaat dan mengena bagi kehidupan sahabat? Yang mana yang kalau dilaksanakan bisa mengubah hidup sahabat menjadi lebih baik lagi?

Kenapa pesan yang satu itu penting?

Bagaimana sahabat bisa menjalankannya dengan baik mulai hari ini?

Apa langkah kecil yang bisa dilakukan untuk mulai melaksanakannya saat ini juga?

Bismillah ya, semoga berkah dan bisa menjadi jalan surga. Aamiin.

Sumber: laman Facebook Ilham Al-Asyi.

Kebaikan kita hanya dapat terjadi atas karuniaNya. Jangan sombong karenanya



Sebuah nasehat dari Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah (7 Rajab 691 H – 13 Rajab 751 H) 

Jika Allah mudahkan bagimu mengerjakan sholat malam, maka janganlah memandang rendah orang-orang yang tidur.

Jika Allah mudahkan bagimu melaksanakan puasa, maka janganlah memandang orang-orang yang tak bepuasa dengan tatapan menghinakan.

Jika Allah memudahkan bagimu pintu untuk berjihad, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan meremehkan.

Jika Allah mudahkan pintu rezeki bagimu, maka janganlah memandang orang-orang yang berhutang dan kurang rezekinya dengan pandangan yang mengejek dan mencela. Karena itu adalah titipan Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Jika Allah mudahkan pemahaman agama bagimu, janganlah meremehkan orang lain yang belum faham agama dengan pandangan hina.

Jika Allah mudahkan ilmu bagimu, janganlah sombong dan bangga diri karenanya. Sebab Allah lah yang memberimu pemahaman itu.

Dan boleh jadi orang yang tidak mengerjakan qiyamul lail, puasa (sunnah), tidak berjihad, dan semisalnya lebih dekat kepada Allah darimu.

Sungguh engkau terlelap tidur semalaman dan pagi harinya menyesal lebih baik bagimu dari pada qiyamul lail semalaman namun pagi harinya engkau merasa TAKJUB dan BANGGA dengan amalmu.

Sebab tidak layak orang merasa bangga dengan amalnya, karena sesungguhnya ia tidak tahu amal yang mana yang Allah akan terima?

🍃💦🍃💦

Sahabatku,

Semua amal yang berhasil kita lakukan bukanlah semata hasil kerja kita. Semua hanya dapat terjadi atas bantuanNya. Jadi jangan sombong atas amal baik. Bersyukur atas izinNya menjadi tanganNya berbuat kebaikan dan membantu yang lain melakukan hal yang sama dengan kerendahan hati lebih baik bagi kita.

Saat kita terhindar dari keburukan pun bukan semata karena kehebatan kita. Allah pula yang menghindarkan kita darinya. Syukuri dan jadilah tanganNya melakukan hal yang sama bagi orang lain dengan segala kerendahan hati.

Semoga kita semua dikaruniai hati yang selalu bersujud, menyatukan diri dengan tanah, mensucikan jiwa dari ujub, sombong, riya, agar semua tubuh, pikiran dan jiwa kita siap digunakanNya menjadi penyebar kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh makhlukNya di alam semesta sampai akhir zaman.

Aamiin yra.

💦🍃💦🍃

Terima kasih untuk Mbak Marlina Widiyanti yang telah menyampaikan pesan Ibnu Qoyim di atas pada group WISE. Semoga dibalas Allah berlipat-lipat ya, Mbak. Aamiin yra.

Kalau Allah berkehendak, sedekah pun bisa menyembuhkan penyakit yang paling mematikan sekalipun 



Sahabat,

Beberapa kali kudengar banyak teman yang jatuh putus semangat mendengar kata-kata dokter bahwa usia mereka tinggal sekian bulan. Banyak yang percaya saja dan menyerah, tak mau lagi berusaha apapun untuk sembuh.

Namun aku bersyukur banyak pula teman yang terus berusaha dan akhirnya menemukan metode penyembuhan yang bisa membantu menyembuhkan mereka atas izin Allah, tentunya.

Tak ada makhluk di penjuru semesta manapun yang bisa menentukan ajal kita. Ajal murni hanya ditentukan oleh Allah. Jangan pernah menyerah kalau ada dokter yang berani-berani bilang usia tinggal sekian bulan. Perhitungan tersebut dilakukan berdasarkan ilmu medis. Ilmu Allah jauh melampaui ilmu medis manapun yang paling hebat di alam semesta. Di Lavender Ribbon Cancer Support Group kita biasa berkata, “Kalau dokter angkat tangan, Allah turun tangan. Jadi, jangan pernah putus asa. 

Ada sebuah kisah dari Pak Ustad Bobby mengenai seorang Bapak yang didakwa tak lagi akan hidup lama, tapi kemudian berhasil bebas dari penyakitnya berkat sedekahnya dan doa dari ibu dhuafa yang dibantunya. Kita simak yuk. Semoga bisa menginspirasi ya.

🍃💐🍃

Merasa Diri Paling Merana

Saat itu saya tengah berada di kota Jeddah, Saudi Arabia. Terpapar dihadapan saya sebuah koran berbahasa Arab di lobby hotel. Tergerak saya melihat berita dan artikel yang tertulis di sana, hingga saya temukan sebuah tulisan yang amat bermanfaat ini.

Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra’fat. Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat Ra’fat mengalami penyakit di atas.
Ra’fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra’fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.
Demi mencari upaya sembuh, maka Ra’fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China. Ia berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah. Maka saat Ra’fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil tindakan operasi segera. Ketika Ra’fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.

“50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!” jelas sang dokter.

Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra’fat berkata, “Dokter, kalau operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke negara saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal.” Ra’fat berkata sedemikian sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.

Dengan enteng dokter membalas, “Terlalu riskan bagi saya untuk membiarkan Anda tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini sudah begitu akut. Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air kecuali dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin Anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda.”

Bagi Ra’fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam tempo itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi berangkat menuju tanah airnya.

Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra’fat untuk mendatangi semua orang yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia sambangi untuk meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra’fat berkata, “Maafkan aku, Ra’fat yang kalian kenal ini sungguh banyak kesalahan dan dosa. Boleh jadi setelah dua hari dari sekarang saya sudah tidak lagi panjang umur.”

Itulah yang disampaikan Ra’fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka cintai dan kagumi ini.

Ra’fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang kurus tak berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan berpamitan. Dan kondisi itu membuat Ra’fat menjadi sedih. Ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam kesedihannya ia membatin, “Ya Allah, rupanya keluarga yang mencintai aku, harta banyak yang aku miliki, perusahaan besar yang aku punya, semuanya itu tidak ada yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini! Semuanya tak ada guna, semuanya sia-sia!”

Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra’fat bertambah lemah. Ia hanya mampu perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih sambil berdzikir kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah manusia yang paling merana di dunia.

Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan tangan memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra’fat dan supirnya yang berada di mobil itu. Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah kerabat dengan tujuan berpamitan dan minta restu. Saat itulah menjadi moment spesial yang tak akan terlupakan untuk Ra’fat.

Beberapa ratus meter di depan, mata Ra’fat melihat ada seorang wanita berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di pinggiran tulang.

Ra’fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama. Rasa ingin tahu membuncah di hati Ra’fat tentang apa yang sedang dilakukan wanita itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra’fat memperhatikan. Maka ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk menepi.

Saat mobil sudah berhenti, Ra’fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang wanita. Entah apa yang membuat Ra’fat menjadi penasaran. Keingintahuannya membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.

Dalam jarak beberapa hasta Ra’fat mengucapkan salam kepada wanita tersebut namun salamnya tiada terjawab. Ra’fat pun bertanya kepada wanita tersebut dengan suara lemah, “Ibu, apa yang sedang kau lakukan?”

Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun tidak peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil mengumpil daging wanita itu berkata, “Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun langkahku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak makan. Namun hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati daging limbah yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan membuat kejutan untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan memasakkan sup daging yang lezat buat mereka.”

Subhanallah! bergetar hebat relung batin Ra’fat saat mendengar penuturan kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka ada manusia yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra’fat melangkah ke arah toko daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada petugas toko, “Pak, tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!”

Kalimat yang meluncur dari mulut Ra’fat membuat wanita tadi menghentikan kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra’fat. Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra’fat seolah ia berterima kasih lewat sorot pandang.

Merasa malu ditatap seperti itu, Ra’fat menoleh ke arah petugas toko. Ia pun berkata, “Pak…, tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa itu tidak cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya untuk setahun penuh!” Serta-merta Ra’fat mengeluarkan beberapa lembar uang 500-an riyal Saudi lalu ia serahkan kepada petugas tadi.

Usai Ra’fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka terhentilah langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:

“Allahumma ya Allah… berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki. Limpahkan karuniaMu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin,” dan seterusnya.

Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa itu terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt atas doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra’fat. Ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hampir saja Ra’fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra’fat pantang menangis, apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.

Ra’fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan tegap dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban itu! Ya, keajaiban yang ditambah saat Ra’fat membuka dan menutup pintu mobil dengan gagah seperti manusia sehat sediakala!!!

Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra’fat. Sepanjang jalan di atas kendaraan Ra’fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan oleh sang wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi indah.

Sesampainya di tujuan lalu Ra’fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan dan meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang sebab sakit liver akut yang diderita.

Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra’fat, sang kerabat berkata, “Ra’fat…, janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat. Wajahmu ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit.”

Awalnya Ra’fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.
Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa anaknya kembali datang ke Cina. Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi sudah disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan kepada Ra’fat dan keluarga:

“Aneh….! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra’fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini menjadi sempurna lagi?!”

Kalimat dokter itu membuat Ra’fat dan keluarga menjadi bahagia. Berulangkali terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut mereka. Mereka memuji Allah Swt yang telah menyembuhkan Ra’fat dari penyakit dengan begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka ia pun akan yakin bahwa hanya Dia Swt yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih dan merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara!

Bobby Herwibowo

💐🍃💐🍃

Sahabat,

Bahkan sedekah pun bisa menyembuhkan. Jangan pernah putus asa. Berikhtiarlah terus dengan penuh prasangka baik padaNya dan apapun hasilnya, serahkan padaNya. Ikhlas, berserah diri dengan penuh rasa syukur. Maka hati akan selalu tenang.

Jangan pernah berkeluh kesah, karena keluhan adalah tanda prasangka buruk pada Allah, sampah bagi dunia yang indah dan penarik sampah, kesengsaraan berikutnya. Allah mengingatkan bahwa makin banyak manusia bersyukur, makin besar karunia yang terlimpah, makin manusia tak bersyukur, maka azabNya sungguhlah besar. Hati-hati dengan keluhan. Bersyukur saja. Insya Allah karunia berlimpah.

Dan bagi para dokter, saya menghimbau, bacalah buku Mind Over Medicine, di mana Lissa Rankin, MD berbagi bagaimana strategi menyemangati pasien-pasien yang secara medis diperkirakan tak lama lagi bisa bertahan. Gunakan komunikasi yang baik, membangun motivasi dan membesarkan hati. Jangan matikan semangat pasien dan akhirnya mematikan semangat mereka. Selamatkanlah nyawa pasien semaksimal mungkin, termasuk dengan komunikasi yang memberdayakan, bukan mematikan.

Sebagai manusia janganlah kita sombong dengan merasa mengetahui batas ajal karena hal itu murni hak Allah. Jangan pula dengan sombong mengatakan bahwa hanya metode yang sudah uji klinis yang bisa menyembuhkan, karena bahkan sedekah pun bisa menyembuhkan, dengan izin Allah.

Semoga Allah lindungi kita dari kesombongan seperti ini. Aamiin.

Jangan terlalu sombong untuk terus mengucap mohon ampun padaNya. Istighfar dulu, istighfar lagi, istighfar terus 



Sahabat,

Siapa sih manusia yang tak punya salah? Salah merasa, salah berfikir, salah berkata, salah berbuat. Nggak punya salah? Maaf ya, itu perasaan yang sombong sekali.

Untuk itu, yuk kita kikis rasa sombong dengan terus memohon ampun padaNya. 

Ibnu Katsir rahimahullah, berkata:

“Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu memperbanyak istighfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya.”

Ibnul Qayyim, rahimahullah, mengatakan:

“Bila engkau ingin berdoa sementara waktu begitu sempit, padahal di dalam dadamu dipenuhi oleh begitu banyak hajat (kebutuhan), maka jadikan seluruh isi do’amu berupa permohonan maaf kepada Allah. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi olehNya tanpa engkau memintanya.”

Yuk, istighfar dulu, istighfar lagi, istighfar terus. Karena memang kita manusia yang tak mungkin tak ada salah.

Kapan terakhir kita merasa seseorang lebih hebat dari kita dan kita minder padanya? “Ah, siapalah saya, bisa apa saya dibanding dia?” 

Atau “Kok dia bisa saya tidak? Kok dia dikasih itu, kok saya tidak? Kok dia diperhatikan, kok saya tidak? Kok kemajuan dia bagus sekali, kok saya tidak? Huuuh…Tuhan tidak adil.”

Kapan terakhir kita merasa seseorang begitu miskin sehingga ia tak pantas bersandingan dengan kita atau keluarga kita? “Ih, siapa dia, kok berani menegurku tidak sopan begitu?”

Kapan terakhir kita mencela orang, “Ih, masak dia begini begitu, lho. Aduuuh… lihat deh…Hihihihi,” tertawa kegirangan dalam gosip bersama teman-teman?

Maaf, semua ciptaan Allah – termasuk kita dan dia – hebat, tak ada yang lebih hebat dan tak ada yang tidak hebat. Rezeki nya saja beda, tapi Allah adil. Beda rezeki bukan berarti raja lebih hebat dari pengemis. 

Jadi kapan mau minta maaf atas segala kesalahan kita pada orang lain dan padaNya?

Istighfar dulu, istighfar lagi, istighfar terus.

Yuuk..

Kita tak punya hak untuk sombong, atau merasa lebih baik. Hati-hati karena salah setan hanya satu: sombong



Sahabat, Iblis itu Muslim, sangat pandai dan ada sebelum manusia diciptakan. Kesalahan Iblis yang membuatnya harus mendekam di neraka selamanya hanya satu: ia sombong. Itu saja. Allah mengatakan sombong menjauhkan kita dari surga. Selama ada bibit sombong dalam hati, jangan mimpi masuk surga. Jadi penting sekali kita terus deteksi bibit sombong dalam hati.

Sombong adalah penyakit hati yang sangat sulit dideteksi. Benihnya sering muncul tanpa kita sadari. Ada beberapa jenis sombong:

  1. Secara materi: lebih kaya, ganteng, cantik, terhormat
  2. Secara intelektual: lebih pintar, merasa paling benar, paling cerdas, paling tahu, paling berwawasan.
  3. Sombong kebaikan: lebih suci, lebih taat, lebih relijius, lebih dermawan, lebih bermoral, bersusila, lebih tulus

Makin tinggi tingkat kesombongan, makin sulit kita deteksi. Sombong kebaikan sangat halus dan lebih sering membuat orang jumawa. Dengan mudah kita bisa merendahkan orang karena tidak serajin kita shalat, tidak pernah terlihat sedekah, atau tidak ikut ODOJ.

Coba lihat beberapa kalimat ini:

“Kalau tidak ikut pengobatan ini, pasti mati.” Maaf.. umur manusia di tangan Allah.

“Potong leher saya, pengobatan alternatif yang belum teruji itu metode abal-abal. Mana mungkin bisa sembuh.” Maaf, kesembuhan ada tangan Allah. Selama kita tidak musyrik, bisa saja yang belum teruji secara klinis menjadi alat penyembuh kita dari Allah.

“Aku sudah 16 tahun belajar dan tidak pernah ada pengobatan kanker seperti itu. Itu pasti bohong.” Maaf, lamanya belajar belum menjamin Allah berikan semua ilmu pada kita. Bisa saja orang lain mendapatkan sesuatu yang tidak kita dapatkan. Itu rejeki Allah baginya yang tidak perlu kita gugat.

“Tahu apa dia?” Maaf, siapa tahu dia lebih banyak tahu daripada kita.

“Dia itu kafir, tidak pernah shalat.” Maaf, mungkin ia shalat tanpa kita tahu, dan mungkin di akhir hidup ia lebih dekat pada Allah daripada kita.

“Aku sudah belajar setinggi ini, mana mungkin dia yang tidak sebanyak aku pendidikannya bisa lebih tinggi jabatannya, dan lebih kaya daripadaku?” Maaf, rejeki di tangan Allah, bukan ditentukan oleh lamanya pendidikan.

“Suamiku tak berarti. Aku yang bekerja menghidupi keluarga.” Maaf, bisa jadi rejeki bagi istri itu adalah bagian suami, diberikan Allah pada kita sebagai ujian, apakah kita mampu sabar dan adil, tanpa menyakiti hati suami. Tanpa suami belum tentu rejeki itu mampir pada kita.

“Istri tak tahu diri. Kalau kutinggalkan, mau hidup dari mana? Punya apa?” Maaf, rejeki tidak datang dari suami. Allah Maha Mencukupi.

Semua pujian hanya bagi Allah. Tak ada hak bagi kita untuk sombong sedikitpun. Kita hanya bisa merunduk, sujud, menjadikan diri hanya sebagai medium. Semua kebaikan yang menjadi hasil karya kita bisa terjadi hanya karena Allah, tidak bisa kita claim. Semua rejeki pun bukan hanya karena kita bekerja, ada juga kontribusi Ibu yang selalu berdoa, bapak yang selalu meminta, pimpinan yang juga memohon, pekerja lemah yang tawadlu, yang rejekinya dititipkan melalui kita. Bukan karena kita, bukan alasan yang bisa menjadikan kita sombong.

Hati-hati dengan benih sombong. Jaga hati, jaga mulut, jaga perbuatan. Jangan sampai ada yang sakit hati dan mendoakan kehancuran kita. Jaga jangan sampai di hari pembalasan kita tak mendapat jalan menuju rumah di surga. Sungguh rugi, sungguh tak berarti hidup kita, seindah apapun istana yang pernah kita tinggali di dunia, setinggi apapun jabatan kita, seperti apapun kekuasaan kita.

Karena hanya Allah yang bisa sombong, bukan kita.

 

Ingatkanlah, ajarkanlah, didiklah. Selebihnya, biarkan Allah yang menentukan



Demi masa,
sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian,
kecuali mereka yang beriman, beramal shalih,
saling mengingatkan
dengan kebenaran dan kesabaran.”
QS Al-Ashri 1-3

Saling mengingatkan itu sangat penting.
Bahkan menjadi salah satu syarat agar kita tidak rugi
Tapi ada syaratnya,
Mengingatkan harus dilakukan dalam kebaikan
Dan dalam kesabaran.
Aha.. ini dia tantangannya.

Sering kita merasa lebih tahu, lebih bisa, lebih pandai
Daripada orang yang ingin kita ingatkan
Seringkali kita kesal dan marah
Mengapa ia tak mau menerima apa yang kita ingatkan
Atau menerima, tapi tak juga faham benar
Atau tak bisa mencerna seperti kita bisa mencernanya
Dan tak menunjukkan perubahan seperti yang kita inginkan.

Di sinilah sombong bermain
Merasa lebih bisa
Merasa lebih hebat
Merasa lebih tahu
Merasa lebih mampu berbuat baik
Merasa lebih bersyukur
Merasa lebih taat
Tak mau menerima ketentuan Allah terhadap siapapun yang kita ingatkan
Memasang target pribadi,
Yang belum tentu sama dengan target Allah

Setiap orang punya perjalanan masing-masing
Setiap orang punya masanya masing-masing untuk berubah
Atau tidak berubah sama sekali
Setiap orang punya caranya sendiri
Dan belum tentu waktu, cara dan apapun yang terjadi
Sesuai dengan harapan kita
Tapi itulah yang terbaik baginya
Sesuai dengan ketentuan Allah

Kita hanya ditugaskan mengingatkan
Kita tidak diminta mengubah
Kita tidak punya hak untuk menentukan
Waktu, cara, atau apapun yang akan terjadi
Kita hanya ditugaskan untuk mengingatkan
Dan hanya Allah yang berhak mengubah hati

Tak perlu kecewa
Karena memang bukan hak kita
Berbahagialah bahwa kita punya kesempatan
Dan kesadaran untuk mengingatkan
Itu saja cukup
Itu pun sudah menjadikan kita sebagai wakilNya
Dan marilah kita mensyukuri
Apapun yang terjadi sebagai hasil dari usaha kita

Rasulullah pun tak mampu menjadikan pamannya beriman
Nabi Nuh harus merelakan anaknya mendapat adzab
Begitu juga nasib istri Nabi Luth
Bahkan Nabi dan Rasul pun tak mampu
Lalu siapa kita?

Jaga rasa, jaga pikiran, jaga kata, jaga perlakuan
Jangan sampai kita harus diingatkan pula oleh yang lain
Bahwa semua harus dilakukan dalam kebaikan
Dalam kesabaran
Bahwa bukan kita yang berhak menentukan hasil
Dan bahwa tak mau menerima keunikan orang lain
Termasuk anak, pasangan atau mereka yang kita cintai
Dalam menerima pesan yang kita sampaikan
Adalah bentuk kesombongan

Enggan berdoa itu bentuk sombong pada Allah, lho. Sudah benar-benar berdoa belum?



Sahabat,

Banyak teman yang mengeluh panjang kali lebar, tak habis-habis, berhari-hari, tapi saat diajak berdoa dan meminta pada Sang Pemberi, malas-malasan. Malah ada juga yang bilang, “Mana mungkin Allah rubah segala kondisi ini?”

Atau “Saya sudah mati-matian berdoa tetap saja begitu. Nggak ada gunanya, Mbak,” nah lho.

Hati-hati kalau bicara. Siapa kita merasa lebih tahu apa yang Allah bisa lakukan atau tidak. Sombong sekali perkataan ini.

Di bawah ini adalah sharing sahabat saya, Mbak Novie, pendiri dan pemilik perusahaan batik yang keren, cantik dan solehah. Beliau membuktikan kita tidak pada tempatnya sombong untuk berdoa. Jangan sok tahu dan menganggap tidak mungkin. 

Yuk kita simak sharing nya.
🌸🍃💐🍃

Sahabatku tersayang,

Sesungguhnya segala kesulitan itu ada digenggamannya Allah. Saya termasuk orang yang gak percaya bahwa kesulitan itu bakal lama hilangnya. Malah saya termasuk yang meyakini bahwa insya Allah bilamana kita yakin akan keesaan Allah, kita yakin akan kebesaran Allah, kita yakin akan pertolongan allah kemudian kita mau mendekatkan diri pada Allah. Kita perbaiki apa yang salah, kita tingkatkan apa yang kurang, maka semudah Allah mengganti malam menjadi siang, semudah itu pulalah insya Allah kesulitan kita akan hilang!

Pertolongan itu hanya milik Allah. Segala kekuasaan yang dilangit dan dibumi semuanya juga milik Allah. Dan apa saja urusan semua kembalinya juga kepada Allah. Cuman kadang-kadang kita lebih demen cari yang sulit. Solusi didepan mata yang dikasih sama Allah kita nggak pakai. Semua ikhtiar dunia dilakukan, namun pokoknya yaitu meminta pertolongan Allah kita lupakan.

Beberapa waktu yang lalu saya sedang ada masalah secara finansial. Cash adalah darah bisnis dan saya lagi butuh cash untuk memenuhi permintaan barang mitra kami dan scale up bisnis serta membayar beberapa tagihan. Sebagai manusia yang banyak khilafnya solusi saya adalah menyekolahkan sertifikat tanah perkebunan saya di Tembilahan. Kendalanya sawitnya di tembilahan dan bisnisnya di pekanbaru menyebabkan proses cair kreditnya agak lama. Padahal saya butuh cash cepet. Disamping itu saya sebenernya juga sudah janji sama Allah gak pengen riba lagi.

Iseng-iseng saya buka youtube Ustad Yusuf Mansur dan topik pembahasannya adalah keajaiban doa dan Shalat Tahajud. Segera malam itu juga saya geber Tahajud 8 rakaat ditambah Witir 3 rakaat. Saya menangis sejadi-jadinya. Merengek-rengek sama Allah. 

“Ya Allah, Engkau sudah ambil suamiku. Sekarang aku sedang berjuang untuk membesarkan putra putriku titipanMu. Aku yakin Engkau tidak akan pernah meninggalkan aku. Aku yakin Engkaulah tempat aku bersandar dan memohon pertolongan. Tolong selesaikan semua urusanku. Cukupi segala keperluanku.”

Setelah selesai witir saya sambung dengan membaca surat Yassin. 

Saya ingat banget nasihat bunda Dewi Motik bahwa bacalah surat Yassin. “Setelah bacaan kun fayakun di dua ayat terakhir ungkapkan apa yang menjadi hajatmu. Kamu akan menemukan begitu banyak kemudahan setelahnya, Novy.” Nasehat itu terngiang-ngiang dan segera saya praktekkan. 

Masya Allah..

Paginya saya mendapat telepon dari sahabat saya broker Century21 mencari properti yang disewakan. Subhanallah, Alah telah menjawab doa saya. Saya nggak perlu berhutang di Bank dan melakukan riba yang tidak sesuai dengan nuraniku. 

Segera hari itu closing salah satu properti saya di sewa oleh perusahaan cangkang sawit. Allah dulu..Allah lagi.. Allah terus.

Saya bener-benar merinding. Allah menepati janjinya. Ketika kita mintanya sama Allah, jawabannya gak pake lama. Langsung solusi datang sesegera mungkin. Allah senantiasa melindungi saya.

Saat ini saya hanya bertanya dan bersandar pada Allah saja. Karena dia benar-benar around tidak pernah mengecewakan hambanya.

I am Novie

Mompreneur

🍃🌸🍃🌸

Memang belum tentu semua doa langsung dibalas, karena Allah menjawab dengan berbagai cara. Bisa langsung terkabul persis sesuai keinginan seperti Mbak Novi, bisa diganti dengan yang lebih baik, bisa jadi ada musibah yang dijauhkan. Semua baik dan harus disyukuri. Yang pasti berdoa sajalah, jangan bilang Allah ga mungkin kabulkan atau ga mungkin kondisi berubah.

Sabar dan prasangka baik dalam berdoa. Minimal kita akan mendapat ketenangan dalam menghadapi masalah, eh .. tantangan. Ayahku tak pernah izinkan aku ucap kata masalah. “Ganti dengan ‘tantangan’ maka kamu akan lebih kreatif mencari solusi,” pesan beliau. Benar sekali.

Jangan merasa sombong dengan masalah yang besar sehingga kita menjadi orang paling menderita sedunia. Dan terlalu sombong pula untuk berdoa. Kikis sombong dan berdoalah.

Bismillah…

🍃🌸🍃🌸

Tulisan ini kubuat di waktu Tahajud, dan di akhir tulisan aku pun terhenyak, Allah sedang menegur melalui ilham tulisan ini. Ada beberapa kebingungan yang memang belum kubawa dalam tahajud. Masya Allah… Aku sampai tertawa di akhir tulisan di atas.

Begitu banyak cara Allah menegur. Saat kumenulis pun tulisanku bukan dariku. Semua itu dariNya. Bukan hanya untuk yang membaca, tapi juga untukku yang dijadikan penaNya untuk menulis. Menegurku, penulis pesanNya dan menegur pembacanya. Indah sekali caraNya mengur. Subhanallah…

Jadi jangan mengira sebagai penulis aku sudah sempurna dan bebas dari kesalahan. Tidak. Semua yang kutulis pun adalah teguran untukku. Kita sama-sama belajar dan kita sama-sama tumbuh. Sama-sama berlari menujuNya. Semoga Allah ridlo usaha kita mencari ridloNya.

Sudah ah, aku berdoa dulu ya.