Salah satu tanda akhir zaman: banyak kematian mendadak. Siapkah?



Rasulullah sudah mengingatkan kita bahwa kita harus selalu siap dengan kematian. Bahkan hal ini adalah salah satu tanda akhir zaman. Dan betapa kita sering menyaksikannya hadir dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah . . . akan banyak kematian mendadak.” (HR. Thabrani)

Imam Masjid Nabawi berpulang dalam sujudnya saat memimpin shalat.
Mantan imam Masjid Istiqlal pun berpulang tanpa ada tanda-tanda sakit sebelumnya.
Seorang kawan berpulang saat sedang berolah raga
Sangat tiba-tiba.
Tak disangka.

Rasulullah pun mengatakan bahwa kematian mendadak itu justru nikmat bagi mereka yang cerdas dan selalu mempersiapkan hari akhirnya. Tapi bagi mereka yang terpedaya oleh waktu, kematian mendadak adalah bencana.

Aisyah radliyallah ‘anha, berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam mengenai kematian yang datang tiba-tiba. Lalu beliau menjawab,

“Itu merupakan kenikmatan bagi seorang mukmin dan merupakan bencana bagi orang-orang jahat.” (HR. Ahmad)

Siapkah? Rasulullah saw sudah mengingatkan ribuan tahun lalu. Jadi siap ga siap, harus siap, bukan?

Nah maka kita harus selalu mempersiapkan apapun yang akan terjadi. Berpegang erat hanya padaNya.
Janganlah terpedaya oleh waktu yang seakan-akan milik kita selamanya.
Hari akhir akan datang dan kita tak pernah tahu kapan.
Ini salah satu strategi yang Allah tetapkan agar kita selalu berusaha mempersiapkannya.

Bunda Yuni, sahabat kami di Lavender, sejak kecil mendengar dokter mengatakan, “Usianya tak lama lagi,” karena beliau diberkahi leukimia sejak kecil. Beliau pun selalu berusaha berbuat kebaikan. Dikumpulkannya anak dhuafa sejak kecil di rumahnya, diberinya baju, makan, tempat tinggal dan sekolah.
Sampai sekarang, di usia 63, beliau masih sehat bugar, dan sudah mendirikan sekolah bagi anak dhuafa. Beliau sampai sekarang terus mempersiapkan hari akhirnya, berusaha yang terbaik setiap hari.

Dua hal yang kita harus siapkan;

1. Hari akhir kita sendiri.
Teruslah memperkuat iman dan perbanyak kebaikan, amal sholeh.
Banyak sedekah, banyak tobat, minta maaf pada sebanyak-banyaknya manusia. 

2. Hari akhir siapapun yang ada di sekitar kita.
Jangan anggap orang tua kita akan selalu ada. Suatu hari bisa jadi kita menyesal karena belum membahagiakan mereka.
Jangan tunda kebaikan sama sekali. Terus berbuat baik. Karena mereka bisa dipanggil setiap saat.
Nikmati setiap waktu bersama mereka.
Jangan pedulikan yang tidak penting. Fakta bahwa mereka ada di samping kita, itulah yang harus kita syukuri.
Mereka ladang amal dan kunci surga bagi kita. Kita pun kunci surga bagi mereka. Saling bantulah menuju surga.

Jadi,
Sahabatku, apa saja yang dapat kita lakukan lebih baik hari ini agar bata-bata rumah di surga mulai dapat kita susun?
Bagaimanakah agar kita konsisten, disiplin mempersiapkan hari akhir kita setia hari dalam hidup kita?

Bagaimana agar kita bisa memberi makna lebih banyak bagi kehidupan orang-orang tercinta kita? Bagi masyarakat? Bagi umat?

Untuk apakah Allah ciptakan kita sekian puluh tahun lalu? Sudah kita jalankan kah tugas itu?

Mengapa semua itu penting?
Bagi kita sendiri, dan semua yang kita cintai?

Kita pikir waktu milik kita. Padahal waktu adalah milikNya yang terus diambil olehNya



Manusia sering merasa waktu adalah miliknya. Seenaknyalah waktu diperlakukan.

“Daftar haji yuk.”
“Ah nanti saja kalau sudah tua.”
“Bantu tetangga lagi kesusahan, yuk.”
“Nanti deh, lagi sibuk nih.”
“Dia lagi sakit, berkunjung yuk.”
“Masih ada waktu besok, kan? Besoklah.”
“Hafalkan Quran yuk.”
“Wah, berat amat. Nanti kalau sudah pensiun deh. Sekarang mah sibuk kerja.”

Nanti, nanti, nanti.
Masih ada waktu.
Sekarang lagi sibuk.

Seakan-akan kematian tak bisa datang mendadak.
Seperti Allah selalu kasih kesempatan.
Padahal belum tentu “nanti” masih ada.
Belum tentu “besok” masih bangun.
Belum tentu masih ada waktu.

Sibuk selalu ada.
Tapi apakah sibuk kita membawa surga?
Memang asyik sekarang,
tapi apakah bekal sudah cukup?
Karena ini satu-satunya waktu untuk bangun rumah di surga.

Kalau ada yang meninggal,
Jangan kita malah menjadi demotivasi,
Takut, sedih, ketakutan.
Kematian orang lain adalah pengingat.
Tambah amal,
Tambah sedekah,
Bantu lebih banyak orang
Tambah bacaan Quran
Pelajari lagi Quran lebih baik
Jangan sampai kewajiban dariNya dikorbakan
Banyak-banyaklah tobat dan minta maaf.

Karena kita tak pernah tahu kapan waktu diambil oleh pemilikNya.

Yang fana adalah waktu. Kita abadi, dalam pengawasan dan tanggung jawab terhadapNya.



Waktu itu menipu. Seakan ia akan ada terus. Padahal waktu terus berlalu.

Kita sering tak sadar dan terlena akan dunia. Tak ingat- atau bahkan tak mau tahu- bahwa waktu kita bisa habis kapan saja.

Ada tulisan yang bagus sekali mengenai hal itu. Kita simak yuk.
WAKTU YANG HILANG
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Kemarin, berita mengejutkan itu datang. Kepergiannya begitu tiba-tiba, bahkan nyaris tanpa tanda-tanda. KH Ali Mustofa Ya’kup, ulama’ yang dikenal berani dan tegas itu telah meninggalkan kita. Saya pernah menginap di hotel dan kamar yang sama saat mengisi acara di Yogja. Begitu juga saat Konggres Umat Islam 2005 di Jakarta. Hidup dan mati memang peristiwa biasa, tetapi kepergian orang yang kita kenal dan pernah dekat dengan kita pasti berbeda.

Seperti kata Nabi, “Kafa bi al-mauti wa’idha” [cukuplah kematian itu menjadi pengingat] [Hr. al-Baihaqi], tentu bukan kematian kita, tetapi kematian orang lain. Iya, kematian orang lain menjadi pengingat bagi kita, agar kita siap; kapan saja dan di mana saja, kematian bisa menjemput kita. “Li kullli ajalin kitab.” [Tiap ajal/tenggat waktu itu ada catatan/ketetapannya] [Q.s. ar-Ra’d: 38], sayangnya kita tidak diberitahu ketetapannya; kapan, di mana dan bagaimana?

Penyesalan selalu di belakang, setelah semuanya tiada. Ketika masih ada, ia disia-siakan. Sehat dan kesempatan, kata Nabi, adalah keadaan yang memungkinkan kita melakukan apa saja dengannya. Tetapi, keduanya justru banyak disia-siakan, selagi ada. Baru disesali, setelah keduanya tiada. Kematian telah menghentikan kita dari semua kesempatan yang ada, sehingga kita tak lagi bisa melakukan apa-apa. Bahkan, waktu yang kita lalui sesungguhnya juga menghentikan kita, karena apa yang telah kita lewatkan, tak bisa lagi kita kembalikan.

Begitulah hidup. Maka, tepat sekali, ungkapan yang mengatakan, “Man jadda wajada.” [Siapa yang sungguh-sungguh dalam berusaha, dia pasti akan mendapatkan hasilnya]. Karena itu, di akhirat, Allah pun menitahkan kita, “Iqra’ kitabaka, kafa binafsika al-yauma ‘alaika hasiba.” [Bacalah catatanmu. Cukup bagimu, hari ini, menjadi penghitung bagi dirimu] [Q.s. al-Isra’: 14]. Catatan amal perbuatan selama di dunia yang kita tulis sendiri. Baik, buruk, lebih, kurang dan sempurna, semuanya kita sendiri yang menulisnya.

Karena itu, kisah sukses di dunia, maupun di akhirat bukan hasil instan, tetapi hasil perjuangan. Ibn ‘Abbas, sukses menjadi seorang ulama’ hebat, bukan semata karena kecerdasan yang dianugerahkan kepadanya. Didoakan Nabi, saat lahir agar menjadi orang yang alim dan faqih, beliau pun mempunyai daya tangkap yang luar biasa. Sekali mendengar, 80 bait syair bisa dihapalnya. Pun begitu, beliau tetap berguru kepada banyak sahabat. Bahkan, dalam satu perkara, beliau biasa mendatangi lebih dari 30 sahabat. Tak hanya itu, beliau pun sanggup tidur di depan pintu rumah gurunya, seperti yang dilakukan kepada Zaid bin Tsabit. Beliau pun tak hanya bersungguh-sungguh dalam berusaha, tetapi juga menjaga kebersihan dirinya. Shalat tahajud dilakukannya tanpa absen, meski sedang bepergian.

Saat teman kecilnya mengatakan kepada Ibn ‘Abbas, “Mengapa kamu harus begitu rupa, sementara di sana ada Abu Bakar, ‘Umar dan sahabat yang lainnya?” Ibn ‘Abbas pun acuhkan ucapan temannya, dan tetap saja dengan usahanya. Saat keduanya dewasa, Ibn ‘Abbas telah menjelma menjadi ulama’ hebat di zamannya, sementara teman kecilnya yang sudah sama-sama dewasa itu tetap tidak menjadi apa-apa. Di saat itu, temannya berkata, “Laqad shadaqa Ibn ‘Abbas.” [Sungguh benar sekali Ibn ‘Abbas]. Teman kecilnya itu tak bisa lagi mengejarnya, karena waktu dan kesempatan yang ada telah hilang sia-sia.

Begitulah hidup. Kisah Muhammad al-Fatih yang sukses meraih bisyarah Nabi, sebagai penakluk Konstantinople, dan menyandang gelar dari Nabi sebagai ni’ma al-amir juga hasil perjuangan dan kerja keras. Sejak kecil, dia telah dididik dan dipersiapkan sebagai peraih bisyarah. Dia ditempa akidah, pemikiran dan pribadinya. Dia sanggup menghapal al-Qur’an sejak usia belia. Dia sanggup menguasai 8 bahasa. Dia sanggup menjaga qiyam lail-nya sejak baligh hingga wafatnya. Dia sanggup memikul beban berat dan tekanan yang luar biasa untuk mewujudkan misinya. Bahkan, sanggup melakukan hal yang tak lazim dilakukan manusia biasa. Dia mampu memindahkan 70 kapal hanya dalam waktu semalam, melintasi darat dan bebukitan. Membangun benteng dan meriam raksasa tak lebih dalam waktu 3 bulan.

Nabi dan para sahabat telah memberikan pelajaran kepada kita. Jaminan surga yang diberikan kepada mereka tak membuat mereka berhenti berusaha dan mengisi lembaran hidup mereka dengan perjuangan. Justru sebaliknya, ketika jaminan itu dinyatakan kepada mereka, mereka justru bekerja keras dan bersungguh-sungguh agar jaminan itu menjadi nyata. Maka, tak ada lagi waktu, kesempatan dan apapun yang mereka punya, kecuali dicurahkan untuk mewujudkan janji-Nya. Lihatlah shalat malam Nabi saw. hingga kakinya bengkak. Lihatlah Nabi, saat datang ke Taif, harus menghadapi lemparan batu dengan tubuhnya hingga berdarah-darah. Rumah baginda pun dikepung oleh kaum Kafir Quraisy yang berusaha menghabisinya. Saat di Madinah, tak kurang 27 kali perang dipimpinnya, sementara 79 perang besar dan kecil terjadi dalam 10 tahun di zamannya.

Bahkan, Abu Ayyub al-Anshari yang meraih kemuliaan, saat menjadi saksi Bai’at Aqabah di Mina, setelah itu rumahnya ditumpangi Nabi saat hijrah di Madinah, dan tak pernah absen sekalipun dari peperangan, tetap saja tak surut kesungguhannya. Saat itu, usianya sudah lebih dari 80 tahun, dan sudah udzur, tetapi tetap saja minta disertakan dalam ekspedisi ke Konstantinopel, tuk mewujudkan bisyarah kekasihnya. Semuanya itu demi melayakkan diri, dan mendapatkan satu tiket ke surga. Allahu akbar..

Jika mereka begitu rupa, hingga tak sanggup mencari alasan di hadapan Allah, sementara kita sebaliknya. Seringkali mencari alasan, padahal Allah tidak buta. Allah selalu melihat kita. “Inna Rabbaka la bi al-mirshad.” [Sesungguhnya Tuhanmu pasti selalu mengintaimu] [Q.s. al-Fajr: 14]. Lalu, apa yang menjadi alasan kemalasan kita? Apa yang menjadi alasan kita menyia-nyiakan kesehatan, waktu dan kesempatan kita?

Semoga Allah senantiasa menjaga diri kita. Membimbing dan memberikan taufik-Nya kepada kita, hingga kita bisa mengisi setiap lembaran hidup kita dengan amal shalih, meraih sukses di dunia dan akhirat. Amin..

Jum’at penuh berkah
29 April 2016/21 Rajab 1437 H

Kiriman:
Khadim Ma’had – Majelis Syaraful Haramain

🌻🌺🌹🌻🌺🌹

Jadi apa yang dapat kita perbuat agar kita menjadi manusia yang lebih baik dan cerdas?

Bagaimana agar kita dapat lebih siap memghadapi hari akhir?

Bagaimana agar kita menjadi manusia yang beruntung dan bukan manusia merugi seperti yang disampaikan Allah dalam Al Ashri?

Apa yang perlu kita perbaiki agar kita tak tertipu oleh waktu?



“W A K T U”

Waktu sedang “Jaya” kita merasa banyak teman di sekeliling kita.

Waktu sedang “Berkuasa” kita percaya diri melakukan apa saja.

Waktu sedang “Tak Berdaya” barulah kita sadar siapa saja sahabat sejati yang ada.

Waktu sedang “Jatuh” kita baru sadar selama ini siapa saja teman yang memperalat dan memanfaatkan kita.

Waktu sedang “Sakit” kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi harta.

Manakala “Miskin” kita baru tahu jadi orang harus banyak memberi/menderma dan saling membantu.

Masuk “Usia Tua”, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan.

Saat “di Ambang Ajal”, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia sia.

Hidup tidaklah lama. Sudah saatnya kita bersama sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA : Saling menghargai, saling membantu, saling memberi, saling mendukung dan saling mencintai
Jadilah teman setia tanpa syarat.

Jangan saling memotong dan menggunting sesama teman.
Tunjukkanlah bahwa kita masih mempunyai Hati Nurani yang tulus.
Jauhkan niat jahat untuk mencelakai atau memfitnah.
Jauhkan niat memaksa seseorang melakukan suatu hal untuk kepentingan pribadi kita
Apa yang ditabur itulah yang akan dituai.

Allah tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar.
Ketahuilah bahwa Allah selalu memberi pelangi di setiap badai, Memberi senyum di setiap air mata, Memberi Rahmah dan berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap doa.

Jangan pernah menyerah, terus berjuanglah.

Life is so beautiful and colourful.

Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan sebuah perjalanan
Saudaraku.

Indahnya hidup bukan karena banyak orang mengenal kita, namun berapa banyak orang yang bahagia karena kita.

Jangan pernah menjadi “gunting” karena gunting bisa memotong sesuatu menjadi terpisah, jadilah “jarum” meskipun tajam tapi bisa menyatukan apa yang sudah terpisah.

Kiriman Denti Kusdiantini, Lavender Jawa Barat.

🌻🌺🌹🌻🌺🌹

Allah sudah ingatkan bahwa dalam urusan waktu sebagian besar manusia merugi. Hanya mereka yang berbuat kebaikan, saling mengingatkan akan kebaikan dan mengingatkan dalam kesabaran.

Yuk, kita jadi manusia yang untung dalam hal waktu yuk.

Apa yang perlu kita perbaiki agar kita masuk dalam kelompok manusia beruntung dalam hal waktu?

Mengapa hal itu penting bagi kita, mengingat batas usia pun kita tak pernah tahu?

Ternyata menggapai surga itu sederhana, cukup dengan mensucikan hati dari iri pun jadi.



Dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.

Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’ Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’

Dia menjawab, ‘Silahkan!’

Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.

Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’

Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.

Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”

Sumber: Az-Zuhdu, Ibnul Mubarak, hal. 220 (alsofwah.or.id)

Kiriman Lyra Puspa, group Vanaya Coaches.

🌻🌺🌹🌻🌺🌹

Sahabat blog,

Apa artinya kisah di atas bagi kita?

Meraih surga ternyata sangat sederhana, tak rumit sama sekali. Cukup membersihkan hati dari rasa iri, dengki, atau sombong. Itu saja. Keberhasilan mensucikan hati pun bisa membawa surga.

Bukan hanya surga di akhirat. Sucinya hati dari segala rasa itu akan juga membawa surga dunia. Kita akan hidup tenang tanpa pusing berfikir mengenai perasaan yang tidak enak tadi.

Yuk kita usahakan sama-sama yuk. 

Jangan kecil hati kalau sulit, karena kisah di atas juga menyatakan bahwa bahkan sahabat Rasulullah saw pun belum mampu melakukannya. Tapi layak kita usahakan terus, kan?

Seberapa ingin kita masuk surga?

Seberapa penting surga dunia – berupa ketenangan dan kedamaian hati – dan surga akhirat, bagi kita?

Seberapa besar komitmen kita menggapainya dengan mengatasi satu halang rintang ini?

🌻🌺🌹🌻🌺🌹

Mampukah impianmu menarik banyak orang untuk mendukung?


Tahun 2009 Rob Campbell bercerita pada tahun 1977 dia masih berusia 22 tahun sebagai seorang programer yang tertarik dengan kemunculan PC (Personal Computer/komputer pribadi) ditelepon oleh Steve Jobs untuk bertemu (merekrut) di California, markas Apple. Saat ini (2009) siapapun yang ditelepon Steve Jobs pasti akan langsung naik pesawat terbang. Namun tahun 1977 Steve Jobs belum melegenda dan Campbell tidak banyak mengenalnya. 

Jadi sebelum bertemu Steve Jobs dia mengunjungi pesaing Apple (yang berminat juga merekrutnya) yaitu Tandy dan Commodore. Dia bertanya pada para eksekutif Tandy, “Apa visi Anda tentang PC?” Jawab mereka “PC akan menjadi tren berikutnya”. Campbell tidak tertarik bergabung dengan Tandy karena tren itu bisa hilang dan timbul.

Kemudian Campbell menanyakan hal yang sama kepada eksekutif Commodore, ” Apa visi Anda tentang PC?” Jawab mereka “PC akan mampu menaikkan saham perusahaan kami menjadi 2 dolar per lembar”. Campbell tidak tertarik bergabung karena saham naik dan turun.

Terakhir barulah dia bertanya pada eksekutif Apple, “Apa visi Anda tentang PC?” Jawaban Steve Jobs membuat Campbell merinding bahkan sampai 30 tahun kemudian. Steve Jobs adalah pendongeng ajaib. Selama satu jam penuh ia menjelaskan bagaimana PC akan mengubah dunia, PC akan mengubah cara orang bekerja, mendidik anak, menikmati liburan, merubah apapun kegiatan umat manusia. 

Campbell percaya dan akhirnya bergabung dengan Apple. “Steve memiliki visi, dia melihat melampaui cakrawala, semua yang ia sampaikan 30 tahun lalu terbukti saat ini.”

(Kiriman Pak Reva SB, di group Quantum Life Magnet)

Nah,
Bagaimana dengan mimpi anda?
Cukup besar dan jelaskah mimpi anda?
Mengapa impian itu penting bagi umat manusia?
Apa artinya impian itu bagi anda?
Seberapa penting impian itu bagi umat manusia?
Kalau anda harus menjelaskannya selama satu jam, apakah yang anda akan jelaskan?
Coba bayangkan wajah anda saat menjelaskannya. Seberapa semangat anda melakukannya?
Bagaimana agar anda dapat membuatnya menjadi jelas dan nyata bagi siapapun yang mendengarkannya?
Bagaimana agar anda dapat menarik banyak orang untuk mendukung anda mewujudkannya?

Kartono, pahlawan yang terlupakan



Kartono, nama lengkapnya RM Panji Sosrokartono, lahir 1877. Kakak RA Kartini ini pada tahun 1898 menjadi pribumi pertama yang kuliah di luar Hindia-Belanda, tepatnya di Leiden.

Sosrokartono adalah tokoh yang memberi inspirasi kepada R.A. Kartini untuk menjadi tokoh emansipasi wanita.

Cerdas, kesayangan para dosen dan menguasai 27 bahasa asing serta 10 bahasa nusantara. Beliau juga dikenal sebagai Pangeran ganteng, pinter, gaul, juga anak orang kaya, terkenal dan merakyat. Noni-noni Eropa menyebut si Sosrokartono, “de mooie sos” atau sos yang ganteng.

Orang-orang Eropa dan Amerika juga menyebytnya dengan hormat sebagai ‘de javanese prins’ atau Pangeran Jawa.

Tahun 1917, Kartono menjadi wartawan perang dunia di koran amerika, The New York Herald, cabang Eropa. Pada test masuknya, ia memadatkan artikel bahasa Perancis sejumlah 30 kata dalam 4 bahasa (Ingggris, Spanyol, Rusia, Perancis). Kartono lulus dengan 27 kata, sementara kandidat Eropa lainnya lebih dari 30 kata.
Sebagai wartawan perang, ia diberi pangkat mayor oleh sekutu, tapi ia menolak membawa senjata.

“Saya tak menyerang orang, karena itu saya pun tak akan diserang, jadi apa perlunya bawa senjata?”

Ia gemparkan Eropa dan Amerika dengan artikel perundingan Jerman-Perancis yang rahasia, tertutup, dalam gerbong kereta api, di tengah hutan, dan dijaga sangat ketat. Semua wartawan mencari informasi tersebut dan hanya beliau yang mendapatkan, sehingga hanya koran new york herald yang berhasil memuat hasil perundingan tersebut.

Tahun 1919 beliau menjadi penterjemah tunggal di Liga Bangsa Bangsa.

Tahun 1921, LBB jadi PBB. Ia menjadi ketua penterjemah untuk segala bahasa, mengalahkan warga Eropa dan Amerika manapun.

Kartono menemui Gubernur Jenderal W. Rooseboom pada 14 Agustus 1899, sebelum berangkat ke Batavia. Dalam pertemuan tersebut Kartono meminta Rooseboom benar-benar memperhatikan pendidikan dan pengajaran kaum pribumi di Hindia Belanda.

Profesor Dr J.H.C. Kern, dosen pembimbingnya di Universitas Leiden mengundang Kartono menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899. Dalam kongres yang membicarakan masalah bahasa dan sastra Belanda itu, Sosrokartono mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia Belanda yang tak dipenuhi pemerintah jajahan.

Dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), Kartono mengungkapkan: “Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”

Tahun 1925 Pangeran Sos pulang ke tanah air. Ki Hajar Dewantara mengangkatnya menjadi kepala sekolah menengah di Bandung. Rakyat berjejal temui si pintar ini, meminta air doa. Anehnya banyak yang sembuh. Maka antrian pun makin banyak termasuk bule-bule eropa. Akhirnya beliau dirikan Klinik Darussalam. Kehebatan inilah membuatnya juga dijuluki dokter air putih, karena mengobati hanya dengan menggunakan air putih.

Beliau pernah sembuhkan anak Eropa hanya disentuh-sentuh (tuk tuk tuk ..) dihadapan para dokter yang angkat tangan. Si anak sembuh hitungan detik.
Ia juga pernah memotret kawah gunung dari udara tanpa pesawat.

Soekarno muda sering berdiskusi dengannya. Bung Hatta menyebut beliau orang jenius.

Rumahnya berkibar bendera merah putih. tapi Belanda, Jepang, dan sekutu seolah tak peduli, sementara orang lain pasti dihajar.

Tahun 1951 belaiu wafat di Bandung dan dimakamkan di Kudus. Tak punya apa-apa, rumah pun kontrak. Padahal sebagai bangsawan dan cendekiawan ia bisa hidup mewah.

Orang-orang tak temukan pusaka dan jimat di rumahnya. Hartanya hanya kain bersulam huruf alif. (Dia terkenal dang julukan Sang ALIF).

Pada nisannya tertulis:
Sugih tanpa banda
digdaya tanpa aji
Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi),
suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut),
langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka),
anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).

Beliau wartawan, tapi PWI tak pernah singgung namanya.
Beliau tokoh pendidikan tapi kaum guru seolah lupa namanya.

Beliau hidup benar-benar hanya untuk pengabdian pada masyakarat. Tak mempedulikan harta, jabatan, predikat, titel, atau kebesaran-kebesara dunia. Benar-benar sebuah contoh yang sangat perlu diteladani di tengah gaya hidup hedonisme saat ini.

Menyimak kisah di atas, marilah kita merenung sejenak.

Apa arti kisah ini bagi anda?
Apa inspirasi yang begitu berkesan bagi anda?
Mengapa hal itu penting bagi anda?
Dalam perjalanan hidup anda saat ini, mengapa hal itu yang mencuat ke atas?
Kira-kira apa pesan Allah yang ingin Allah sampaikan pada anda dengan menggiring anda membaca kisah di atas?
Inspirasi apa yang ingin mulai anda terapkan dalam kehidupan, belajar pada kisah di atas?
Dalam hal apa anda ingin menjadi manusia yang lebih baik sebagai “rahmatan lil alamin” atau “pembawa berkah bagi semesta” belajar dari kisah di atas?
Mengapa hal itu penting bagi anda?

Sumber: