Utamakan ketulusan hati mendekat padaNya, tata cara mengikuti. Jangan sebaliknya.



Sahabat, 

Tulisan Pak Sobari ini bagus deh, kita simak yuk.

🍁🍂🍁🍂

Pernah saya tinggal diPerumnas Klender.  Rumah  itu  dekat mesjid  yang  sibuk.  Siang malam orang pada ngaji.

Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati.  Tak  cuma  di  mesjid.  Di rumah-rumah  pun  setiap  habis  magrib  saya temui kelompok orang belajar  membaca  Al  Quran.  Anak-anak,  ibu-ibu  dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang. Di  jalan  Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme.

Mereka cabang sebuah tarekat yang  inti  ajarannya  berserah pada  Tuhan.  Mereka  banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta,  tak  saya  temukan  corak hidup  macam  itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak  di  Senayan.  Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar  pengajian (ceramahnya  melibatkan  panitia, stadion,  puluhan  ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya:  jawaban  sosiologis  apa  yang  harus diberikan   buat   menjelaskan  gairah  Islam,  termasuk  di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu  saya  mencoba  menghayati keadaan.  Sering  ustad  menasihati,  “Hiasi  dengan  bacaan Quran, biar rumahmu teduh.”

Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya,  orang seperti kemarok terhadap agama.

Dalam  suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah.
Sudah  lama  ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun  menemui  pak  ustad  untuk  minta  bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad  Betawi  itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih  bersemangat belajar.  Katanya, “Menuntut  ilmu  wajib  hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak
diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat  amal  kita  cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

Setelah pendahuluan yang bertele-tele,  ngaji  pun  dimulai. Alip,  ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang
Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak  bakal  ia  bisa menirukan  pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit. “Ngain,” kata Kang Suto.

“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.

Itulah hari  pertama  dan  terakhir  pertemuan  mereka  yang runyem  itu.  Tapi  Kang  Suto  tak putus asa. Dia cari guru ngaji  lain.  Nah,  ketemu  anak  PGA.  Langsung  Kang  Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.

“Al-kam-ndu  …,”  Kang  Suto  menirukan.  Gurunya  bilang, “Salah.”

“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.

“Lha kam ndu lilah .,” Guru itu menarik napas. Dia  merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi, lain arti. Bisa-bisa kita dosa  karena  mengubah arti Quran.

Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,”gerutunya. Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.

“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa  menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima  tidaknya,  urusan Tuhan.

Lagi  pula  bukan  bunyi  yang  penting.

Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk  neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.”

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya  ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur  Tuhan.  “Biarkan, Musa.   Yang   penting   ketulusan   hati,  bukan  kefasihan lidahnya.”

“Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.

Sering kami lalu bicara agama  dengan  sudut  pandang  Jawa.

Kami  menggunakan  sikap  semeleh,  berserah,  pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia  zikir,

“Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi.  Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

“Ya  Tuhan,  adakah  gunanya  doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya  luas  tanpa  batas…”

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

Mohammad Sobary, Editor, No.21/Thn.IV/2 Februari 1991

🍁🍂🍁🍂

Sahabat,

Hati, hakikat, lebih penting daripada tata cara. Kedekatan dengan Allah adalah hal yang utama, jangan sampai tata cara memghambat keinginan untuk dekat dengan Allah. 

Jangan ribet mempermasalahkan perbedaan cara. Tahlil vs non tahlil, qunut vs non qunut. Persaudaraan dan ukhuwah lebih penting daripada perdebatan itu.

Marilah kita bersihkan hati, kedepankan hati, utamakan hati. Bila hati dekat denganNya, damai merasakan kehadiranNya, tenang dengan selalu mengingatNya, Insya Allah akan mudah bagi kita untuk menyempurnakan berbagai tata cara untuk menggapai ridloNya. PetunjukNya pun akan lebih mudah kita tangkap melalui berbagai hal yang menjadi alatNya menyampaikan pesan.

Ya Allah, jernihkanlah hatiku, sucikanlah tubuhku, pikiranku, jiwaku, agar aku siap menangkap sinar dan cahayaMu dalam hidupKu.

Aamiin yra

🍁🍂🍁🍂

Manusia Terbaik: Yang Hanya Memberi Manfaat Tidak Menuntut Manfaat



Sekelompok pemuda sedang berkumpul saat Rasulullah bertanya, “Sudahkah kalian mengikuti cara hidupku?”

Mereka pun berkata, “Tentu, Rasulullah. Kami ikuti semua cara hidupmu.”

Rasulullah lalu berkata, “Belum, kamu belum mengikutiku dalam satu hal. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang hanya memberi manfaat dan tak mengharap manfaat.” (HR Muslim)

Sahabat tercinta, sudahkah kita mengikuti cara hidup seperti ini? Fokus berkontribusi memberi manfaat, tidak menuntut mendapat manfaat. Manusia terbaik itu seperti matahari, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.

Ibu-ibu,
Mengurus anak, mendidik anak tanpa harus berharap, “Nanti dia harus berbakti padaku.”

Istri dan suami,
Mencintai tanpa menuntut pasangan loyal. “Kan saya sudah setia sama dia. Kok dia ga setia, sih?” Setia mah urusan dia sama Allah, kan? Bagus kalau kita diberi kesempatan oleh Allah untuk mmembuktikan kesabaran dan syukur tanpa pamrih kita. Sudah bagus punya suami dan nggak mukul. Bersyukurlah atas apa yang ada.

Warga negara,
Tak perlu bilang, “Ah, pemerintah brengsek.. Bisa dapat apa kita?” Mau kejar surga nggak? Ya sudah, fokus berkontribusi. Bagus kalau masih banyak ruang bagi kita untuk berbuat sesuatu. Bagus negara kita tidak dipimpin oleh orang model Hitler. Tidak ada perang. Bersyukurlah.

Dalam keseharian kita,
Tak usah berbuat baik hanya kepada yang baik. Senyum hanya untuk yang pasti senyum balik, atau sudah senyum duluan. Berbuat baik untuk Allah, bukan untuk manusia, bukan? Masalah dia berbuat kembali kepada kita itu pun urusan dia dengan Allah. Bukan tempatnya kita menuntut.

Ternyata dengan tidak banyak menuntut hidup lebih enak dan nggak stress, lho.

Kita coba yuk.
Insya Allah berkah. Bismillah.

Harapan sepertinya mustahil tercapai? Berdoa saja, karena bagiNya langit pun bukan batasan



Suatu hari kudengar seorang Ibu mengeluh panjang lebar mengenai anaknya yang kurang ajar. “Aku sih sakit hati, tapi kujalankan semua tugas sebagai ibu, ini ibadah untuk Allah.” Wah kalau sudah sakit hati, kasihan anaknya. 

Tak berapa lama setelahnya aku menerima kiriman doa ibu untuk anak. Kukirimkan untuk beliau. “Bukan kebetulan aku menerima doa ini di what’s app ku. Allah ingin aku kirim ini untuk Ibu. Ridlo Allah untuk anak itu tergantung ridlo ibu. Ridloi anak ibu ya.”

Beberapa minggu kemudian aku berjumpa kembali dengannya. “Alhamdulillah setelah mengamalkan doa itu anakku banyak sekali berubah. Ia cepat minta maaf kalau salah dan cepat berterima kasih padaku. Dulu aku belum ridlo dan sakit hati mungkin ya. Alhamdulillah setelah rutin kudoakan banyak sekali perubahan.”

Alhamdulillah. Bahagia sekali mendengarnya.

Office Girl di kantorku kemarin shalat bersama di mushalla. Setelah shalat ia berkata,”Bu, Alhamdulillah doa yang saya titip Ibu waktu Ibu umrah diijabah Allah. Adik saya menikah.” Alhamdulillah. Bahagia sekali mendengarnya.

Waktu aku di Nagasaki beberapa bulan lalu, aku berkunjung ke sebuah rumah indah di atas bukit, memandang pelabuhan Nagasaki. Lalu aku berdoa, “Ya Allah, ingin sekali punya rumah dengan pemandangan seindah ini. Aku tak tahu bagaimana. Tapi bagiMu tak ada yang tak mungkin. Kuserahkan semua padaMu, ya Allah. La hawla walla quwwata Illa billah (tiada pertolongan selain pertolongan Allah).” Aku pun tak lagi mengingatnya.

Ramadlan lalu Alhamdulillah kami mendapat rumah dengan pemandangan sangat indah. Proses dari pertama kali datang sampai menempatinya sangat cepat. Lalu aku pun teringat doaku di Nagasaki. Masya Allah, aku pernah minta rumah dengan pemandangan indah seperti ini. Alhamdulillah ya Allah. Sujud syukur.

Sepulang dari haji dua tahun lalu, sebelum masuk pesawat aku berkata pada Allah, “Ya Allah, kalau Kau berkenan, aku ingin sekali bisa duduk di depan agar bisa tidur enak, ya Allah. Aku tak tahu bagaimana tapi tak ada yang tak mungkin bagiMu. Aku Ikhlas apapun yang Kau berikan.” Ternyata aku tak mendapat kursi di depan. Tapi tak lama kemudian suamiku datang setelah berjalan-jalan melihat isi pesawat, “Di belakang banyak tempat kosong. Kita bisa ambil satu baris masing-masing supaya tidur selonjor.” Masya Allah. Tidurku pun nyaman sekali waktu itu. Alhamdulillah.

Banyak lagi kejadian lain yang membuktikan Allah benar-benar menjawab doaku sebagai hambaNya. Banyak juga yang tidak, hehe. 

Jadi apapun yang kita inginkan, berdoa saja. Apapun harapan orang lain, doakan saja. Melihat ada yang tak baik, kelakuan orang yang tak berkenan, tak sesuai dengan hati yang berkata, “Seharusnya kan dia begini dan begitu,” lebih baik didoakan daripada kita menggosip atau memelihara rasa tidak suka yang membuat kita sakit. 

Tidak mungkin? Itu kata kita. Kata Allah, tak ada yang tak mungkin.

Terkabul? Alhamdulillah. Ucapkan syukur. 

Tidak terkabul? Alhamdulillah juga. Artinya bukan itu yang terbaik. Siapa tahu kita sedang diselamatkan dari keburukan yang ada di baliknya. Yang pasti ada jawabannya. Kalau tidak di dunia ya di surga. Di surga pasti jauh lebih baik. Sabar saja.

Yang pasti doa yang ada dalam jalanNya selalu baik dan dibalas dengan kebaikan yang terbaik, yang belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Tetap itu yang terbaik.

Yuk berdoa yuk. Apa doa terbaik hari ini?

Apapun yang kita capai hari ini bukan hanya berkat kita tapi berkat banyak sekali orang. Bersyukurlah



Sahabat,

Detik ini kita sedang bernafas. Sadarkah bahwa banyak yang tak lagi diberi kesempatan bernafas olehNya?

Detik ini mata kita masih melihat.
Tangan kita bisa menggenggam.
Mulut kita masih bersuara.
Telinga kita masih mendengar.
Sadarkah bahwa banyak manusia yang tak bisa menikmati itu semua?

Detik ini masih ada orang di sekitar kita.
Masih banyak kesempatan bagi kita untuk berbagi.
Masih ada ilmu yang bisa dipraktekkan.
Masih banyak yang bisa kita ucapkan dan lakukan.
Sadarkah kita bahwa banyak yang tak lagi punya kemampun untuk melakukan itu semua?

Detik ini adalah hadiah Allah paling berharga bagi kita.
Detik ini adalah karunia yang harus disyukuri.

Syukur …
Dengan menyadari sepenuhnya bahwa semua karuniaNya ini ada, hadir dan nyata.
Dengan ucapan Alhamdulillah bagiNya dari hati yang paling dalam.
Dengan menjaga semua yang ada dan masih bisa kita nikmati ini.
Dengan menjaga semua pemberiaaNya ..istirahat yang cukup
..kerja yang tak melampaui kemampuan tubuh dan jiwa
.. bebas dari stress
Dengan mencintai semua karuniaNya tanpa pamrih
Dan dengan mengikhlaskan apa yang tak ada
Tak mengeluh tanpa habis
Karena karuniaNya selalu melebihi ujianNya

Juga jangan lupa..
Syukur adalah dengan menyadari
Bahwa semua ini bukan berkat usaha kita semata
Ada doa ibu di dalamnya
Ada kerja keras banyak orang yang terlibat menghasilkannya
Ada banyak guru yang banyak berfikir dan merenung di baliknya
Ada leluhur yang sujud penuh harap untuk semua keturunannya
Sampai Rasulullah yang selalu mendoakan umatnya
Sampai Nabi Adam as yang juga selalu meminta yang terbaik bagi umat manusia

Bersyukur dengan memberi tanpa pamrih
Karena Allah berikan semua limpahan karunia ini untuk kita beri lagi pada yang lain.
Karena kita pun menikmati kasih tanpa pamrih banyak manusia dalam sejarah.
Bersyukur dengan terus berbuat kebaikan
Terus mendoakan semua orang, semua makhluk
Terus mengingatkan orang lain dalam kebaikan dan kesabaran.
Dan jangan banyak berhitung denganNya
Karena kita tak pernah mampu menghitung karuniaNya

Detik demi detik sudah berlalu,
Apa syukurmu detik ini, sahabat?

Bahagia Itu Sederhana, Jadi Jangan Dibuat Sulit



Orang bilang bahagia datang dari luar.
Kalau pasangan cantik, kaya, baik.
Kalau orang tua mampu, perhatian.
Kalau pekerjaan baik.
Kalau anggota tubuh lengkap.
Kalau terkenal.
Kalau nasib baik.

Lalu kenapa banyak artis kawin cerai?
Pasangan cantik, kaya, terkenal?
Sementara ibu bapak yang tak kaya, tak terkenal bisa adem ayem bahagia sampai nenek kakek?

Lalu kenapa banyak pemenang lotre bunuh diri?
Sementara anak kolong jembatan banyak yang lari-lari bermain dengan bahagia.
Kaya luar biasa tiba-tiba tak bikin happy?

Lalu kenapa Nick Vujicic bahagia tanpa tangan dan kaki?
Terkenal di dalam luar negeri
Mampu memotivasi seluruh negri?
Sementara banyak orang yang lengkap semua anggota tubuhnya lompat dari gedung tinggi,
Karena tak lagi ingin hidup.
Bukan jaminan organ tubuh tak lengkap bikin tak happy.

Dan kenapa Louise Hay juga bahagia?
Dengan nasib yang tidak baik.
Ditinggal orang tua,
Pernah diperkosa,
Pernah dijadikan simpanan,
Pernah aborsi anak,
Pernah ditinggal suami,
Pernah kanker.
Sementara yang tak pernah kanker, tak pernah ditinggal suami, mengeluh panjang lebar setiap hari?
Bukan jaminan nasib baik membuat bahagia.

Bukan, bukan,
Bahagia datang dari hati kita saja
Saat kita tak repot mengatur Allah
Saat kita tak ingin menguasai orang
“Ia harusnya begini, harusnya begitu.”
Saat kita mensyukuri apa yang ada
Dan tak menuntut Allah beri yang tak ada
Tak pula merasa marah saat yang lain diberi dan kita tak diberi
Saat kita mau membuka hati dan menerima
Bahwa Allah lah yang paling berkuasa
Yang mengatur apa yang baik bagi kita
Bukan apa kemauan kita
Saat kita tak merasa paling bisa
Dan mau menerima batas kemampuan kita
Dan terus berusaha baik dengan apapun kemampuan kita
Tanpa ngoyo berlebihan
Mendzalimi diri sendiri
Memaksa diri mencapai kemauan kita

Bahagia itu sederhana
Bahagia itu simpel
Nafsu kita yang membuatnya sulit.

Siapa bilang orang lain bisa membahagiakan kita? Tidak. Bahagia datang dari kita.



Semua orang ingin bahagia dan semua orang mengira bahagia itu datang dari luar. Tidak. Sesungguhnya kitalah yang membuat diri kita bahagia atau tidak bahagia.

Bahagia adalah perjalanan, bukan tujuan. Bahagia adalah saat kita izinkan diri kita untuk melangkah sesuai dengan fitrah yang telah ditetapkanNya. Bahagia adalah saat hati bisa menerima semua keputusanNya dan percaya penuh padaNya. Bahagia adalah saat kita berserah penuh padaNya.

Berdasarkan ilmu yang kupelajari dari Hanara, ada 6 tingkatan bahagia yang perlu terus kita usahakan. 

Tingkat 1: Ikhlas

Bahagia adalah saat kita hidup di detik ini saja dan tak lagi berfikir “kenapa kemarin begini” dan “aduh, gimana kalau nanti begitu.” 

Saat semua nafas adalah nafas baru, tanpa membawa beban masa lalu atau khawatir masa depan.


Tingkat 2: Menikmati dan menghargai

Bahagia adalah saat kita bisa menikmati semua ketentuanNya, termasuk yang tak sesuai dengan keinginan kita. Saat kita percaya penuh akan kebesaranNya, dan sifat Maha Pengasih PenyayangNya. Saat kita prasangka baik padaNya.

Yang kita sukai belum tentu yang terbaik bagi kita dan yang kita benci bisa jadi adalah lebih baik. Bahagia adalah saat kita yakin bahwa Sang Maha Pengatur adalah yang paling tahu segala urusan yang terbaik bagi kita, dan kita tinggal menjalani.


Tingkat 3: Syukur

Bahagia adalah saat kita berterima kasih atas semua yang ada pada kita, karena semua datang dariNya, yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita.

Saat segala bencana pun menjadi baik karena kita tahu Allah punya rencana indah dibaliknya,

Saat segala ujian menjadi batu loncatan untuk terbang tinggi mendekat padaNya, menjadi makhluk yang lebih baik, kokoh dan kuat.


Tingkat 4: Tulus berbagi

Bahagia adalah saat kita berbagi pada siapapun dan membantu apapun dalam jalanNya, tanpa pamrih.

Bahagia adalah saat kita tak berhitung apa yang kita bisa dapat karena tahu bahwa kita sudah menerima limpahan karunia yang tak terbatas.


Tingkat 5: Bahagia bersama.

Bahagia adalah saat kita bahagia melihat kebahagiaan orang lain, meskipun tak ada hubungannya dengan kita, terutama kalau bisa enjoy saat yang dulu kita benci, membenci kita atau dzalim pada kita, bahagia juga.

Bahagia adalah saat kita bisa bebas dari rasa iri, dengki, curiga saat orang lain mendapat keberuntungan dan kebahagiaan yang berlimpah.

Bahagia adalah saat setiap hal terkecil yang kita jumpai bisa kita temukan keindahannya dan membuat kita pun bahagia, termasuk dari orang yang kita benci, atau membenci kita.


Tingkat 6: zero 

Bahagia adalah saat kita tak harapkan hasil, karena semua diserahkan padaNya. Tidak claim pencapaian apapun dan tidak kecewa kan kegagalan apapun. Saat kita fokus memberikan yang terbaik dan hanya yang terbaik dan makin baik, dengan penuh syukur. Apapun yang terjadi, dan apapun hasilnya.

Saat kita bisa melihat alam semesta dan sadar bahwa kita bukanlah siapa-siapa, karena semua kata, pikiran dan perbuatan hanya terjadi berkatNya, dariNya dan untukNya.

Saat kita menjadi semesta dan semesta ada di dalam kita, menjadi tanganNya dan alatNya untuk membawa kebaikan pada makhlukNya.

Bahagia adalah perjalanan

Bahagia tidak bisa datang langsung karena manusia diciptakan dengan nafsu.

Nafsu ingin memiliki, menguasai, merasa paling benar, membuat kita tak ikhlas. Kita merasa bisa mengendalikan kehidupan. Dan kalau tak sesuai dengan keinginan kita, ikhlas hilang, boro-boro syukur dan bahagia atas kebahagiaan orang yang kita “ingin atur” perilakunya.

Kita tak serahkan hidup kita pada Allah, tak izinkan Allah yang menentukan bahwa pasangan kita begini begitu. Kita marah kalau Allah menentukan lain. Memang kita siapa? Kita tahu apa dibanding Allah?

Ya itulah aturan Allah. Kalau kita biarkan Allah mengatur hidup kita dengan segala ketentuanNya, dan kita jalankan saja perintahNya, terus berbuat kebaikan, Insya Allah Allah tanamkan bahagia dalam hati kita.

Dan perlu perjuangan untuk mengatasi nafsu. Inilah nilai kita di mataNya.

Nah, kita evaluasi yuk.

Sudah ada di tingkat berapakah kita? Apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk lebih bahagia lagi di tingkat selanjutnya? 

Hidup yang penuh arti adalah seperti pohon yang terus menyebar benih kebaikan



Sebuah benih pohon rambutan jatuh ke tanah. Berkat tanah yang subur benih itu tumbuh menjadi pohon rambutan yang baik. Buahnya dinikmati banyak orang dari musim ke musim, tahun ke tahun. Disebarnya oksigen yang menyegarkan. Memandang kehijauannya pun membuat hati tenang dan bahagia. Bukannya ia sempurna, karena ada saja ulat memakan daunnya. Tapi kekurangan itu wajar dan tak membuatnya tak bermanfaat.

Benih yang dihasilkan pohon ini tumbuh lagi menjadi pohon lain. Puluhan, ratusan bahkan ribuan benih dihasilkan. Tak semua tumbuh, tapi ia tak peduli. Hasilnya banyak pohon rambutan lain tumbuh subur pula karenanya.

Pohon ini tak peduli pula tetangganya seperti apa. Cantikkah pohon sebelah, burukkah, ia tak peduli. Hujan, angin dan kilat tak membuatnya gentar. Bahkan hujan menyuburkannya dan angin menyebarkan benihnya lebih jauh lagi. 

Ada pula anak yang menjadikannya tempat menggambar. Ia tak peduli. Ia hanya sibuk berbuat baik dan menyebar kebaikan. Berdzikir dan bertasbih kepadaNya.
Sampai pada saat ia ditebang menjadi kayu bakar, ia pun berterima kasih pada penebangnya, dan api yang membakarnya jadi abu, karena inilah wujud baktinya pada semesta untuk terakhir kali. Dan ratusan, ribuan pohon lain, hasil benihnya yang tumbuh subur, siap melanjutkan perjuangannya. 

Sahabat,

Inilah hidup yang penuh arti, penuh manfaat. Setiap kebaikan sekecil apapun menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan yang sama, seperti benih yang menyebar luas, tumbuh kembang menjadi pohon baru. Kebaikan pun dilanjutkan oleh generasi penerus sampai akhir zaman.

Cobaan dan ujian adalah karuniaNya yang membuat kita bisa tumbuh lebih kokoh. Orang yang menyakiti, menggosip, tak pula menyurutkan tekad berbuat kebaikan. Tak pula harus membandingkan, merasa terlalu kecil atau terlalu besar. Fokus pada kebaikan, berbagi tanpa pamrih, dzikir dan ibadah padaNya.

Sahabat,

Apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk membangun hidup penuh manfaat dalam jalanNya seperti pohon di atas?

Mengapa hal itu penting? Dan untuk siapa hal itu penting?

Ya Allah,
sehatkanlah kami semua
sejahterakanlah seluruh sel tubuh kami
jernihkanlah pikiran kami
tenangkanlah jiwa kami
damaikanlah hati kami
isilah dengan ikhlas, syukur, tulus,
hanya untukMu
agar kami bisa bermanfaat
lebih banyak lagi
lebih lama lagi
lebih baik lagi
untuk membuat dunia ini lebih indah
lebih nyaman
lebih membahagiakan
bagi semua umatMu di alam semesta
dan izinkanlah semua kebaikan itu
terus membuahkan kebaikan lain
makin besar, makin banyak,
tak henti-henti sampai akhir zaman.
Aamiin yra.

Yuk…
Kebaikan kecil apa yang bisa kita lakukan saat ini juga?
Just do it.
Don’t even think.