Siapa bilang orang lain bisa membahagiakan kita? Tidak. Bahagia datang dari kita.



Semua orang ingin bahagia dan semua orang mengira bahagia itu datang dari luar. Tidak. Sesungguhnya kitalah yang membuat diri kita bahagia atau tidak bahagia.

Bahagia adalah perjalanan, bukan tujuan. Bahagia adalah saat kita izinkan diri kita untuk melangkah sesuai dengan fitrah yang telah ditetapkanNya. Bahagia adalah saat hati bisa menerima semua keputusanNya dan percaya penuh padaNya. Bahagia adalah saat kita berserah penuh padaNya.

Berdasarkan ilmu yang kupelajari dari Hanara, ada 6 tingkatan bahagia yang perlu terus kita usahakan. 

Tingkat 1: Ikhlas

Bahagia adalah saat kita hidup di detik ini saja dan tak lagi berfikir “kenapa kemarin begini” dan “aduh, gimana kalau nanti begitu.” 

Saat semua nafas adalah nafas baru, tanpa membawa beban masa lalu atau khawatir masa depan.


Tingkat 2: Menikmati dan menghargai

Bahagia adalah saat kita bisa menikmati semua ketentuanNya, termasuk yang tak sesuai dengan keinginan kita. Saat kita percaya penuh akan kebesaranNya, dan sifat Maha Pengasih PenyayangNya. Saat kita prasangka baik padaNya.

Yang kita sukai belum tentu yang terbaik bagi kita dan yang kita benci bisa jadi adalah lebih baik. Bahagia adalah saat kita yakin bahwa Sang Maha Pengatur adalah yang paling tahu segala urusan yang terbaik bagi kita, dan kita tinggal menjalani.


Tingkat 3: Syukur

Bahagia adalah saat kita berterima kasih atas semua yang ada pada kita, karena semua datang dariNya, yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita.

Saat segala bencana pun menjadi baik karena kita tahu Allah punya rencana indah dibaliknya,

Saat segala ujian menjadi batu loncatan untuk terbang tinggi mendekat padaNya, menjadi makhluk yang lebih baik, kokoh dan kuat.


Tingkat 4: Tulus berbagi

Bahagia adalah saat kita berbagi pada siapapun dan membantu apapun dalam jalanNya, tanpa pamrih.

Bahagia adalah saat kita tak berhitung apa yang kita bisa dapat karena tahu bahwa kita sudah menerima limpahan karunia yang tak terbatas.


Tingkat 5: Bahagia bersama.

Bahagia adalah saat kita bahagia melihat kebahagiaan orang lain, meskipun tak ada hubungannya dengan kita, terutama kalau bisa enjoy saat yang dulu kita benci, membenci kita atau dzalim pada kita, bahagia juga.

Bahagia adalah saat kita bisa bebas dari rasa iri, dengki, curiga saat orang lain mendapat keberuntungan dan kebahagiaan yang berlimpah.

Bahagia adalah saat setiap hal terkecil yang kita jumpai bisa kita temukan keindahannya dan membuat kita pun bahagia, termasuk dari orang yang kita benci, atau membenci kita.


Tingkat 6: zero 

Bahagia adalah saat kita tak harapkan hasil, karena semua diserahkan padaNya. Tidak claim pencapaian apapun dan tidak kecewa kan kegagalan apapun. Saat kita fokus memberikan yang terbaik dan hanya yang terbaik dan makin baik, dengan penuh syukur. Apapun yang terjadi, dan apapun hasilnya.

Saat kita bisa melihat alam semesta dan sadar bahwa kita bukanlah siapa-siapa, karena semua kata, pikiran dan perbuatan hanya terjadi berkatNya, dariNya dan untukNya.

Saat kita menjadi semesta dan semesta ada di dalam kita, menjadi tanganNya dan alatNya untuk membawa kebaikan pada makhlukNya.

Bahagia adalah perjalanan

Bahagia tidak bisa datang langsung karena manusia diciptakan dengan nafsu.

Nafsu ingin memiliki, menguasai, merasa paling benar, membuat kita tak ikhlas. Kita merasa bisa mengendalikan kehidupan. Dan kalau tak sesuai dengan keinginan kita, ikhlas hilang, boro-boro syukur dan bahagia atas kebahagiaan orang yang kita “ingin atur” perilakunya.

Kita tak serahkan hidup kita pada Allah, tak izinkan Allah yang menentukan bahwa pasangan kita begini begitu. Kita marah kalau Allah menentukan lain. Memang kita siapa? Kita tahu apa dibanding Allah?

Ya itulah aturan Allah. Kalau kita biarkan Allah mengatur hidup kita dengan segala ketentuanNya, dan kita jalankan saja perintahNya, terus berbuat kebaikan, Insya Allah Allah tanamkan bahagia dalam hati kita.

Dan perlu perjuangan untuk mengatasi nafsu. Inilah nilai kita di mataNya.

Nah, kita evaluasi yuk.

Sudah ada di tingkat berapakah kita? Apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk lebih bahagia lagi di tingkat selanjutnya? 

Hidup yang penuh arti adalah seperti pohon yang terus menyebar benih kebaikan



Sebuah benih pohon rambutan jatuh ke tanah. Berkat tanah yang subur benih itu tumbuh menjadi pohon rambutan yang baik. Buahnya dinikmati banyak orang dari musim ke musim, tahun ke tahun. Disebarnya oksigen yang menyegarkan. Memandang kehijauannya pun membuat hati tenang dan bahagia. Bukannya ia sempurna, karena ada saja ulat memakan daunnya. Tapi kekurangan itu wajar dan tak membuatnya tak bermanfaat.

Benih yang dihasilkan pohon ini tumbuh lagi menjadi pohon lain. Puluhan, ratusan bahkan ribuan benih dihasilkan. Tak semua tumbuh, tapi ia tak peduli. Hasilnya banyak pohon rambutan lain tumbuh subur pula karenanya.

Pohon ini tak peduli pula tetangganya seperti apa. Cantikkah pohon sebelah, burukkah, ia tak peduli. Hujan, angin dan kilat tak membuatnya gentar. Bahkan hujan menyuburkannya dan angin menyebarkan benihnya lebih jauh lagi. 

Ada pula anak yang menjadikannya tempat menggambar. Ia tak peduli. Ia hanya sibuk berbuat baik dan menyebar kebaikan. Berdzikir dan bertasbih kepadaNya.
Sampai pada saat ia ditebang menjadi kayu bakar, ia pun berterima kasih pada penebangnya, dan api yang membakarnya jadi abu, karena inilah wujud baktinya pada semesta untuk terakhir kali. Dan ratusan, ribuan pohon lain, hasil benihnya yang tumbuh subur, siap melanjutkan perjuangannya. 

Sahabat,

Inilah hidup yang penuh arti, penuh manfaat. Setiap kebaikan sekecil apapun menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan yang sama, seperti benih yang menyebar luas, tumbuh kembang menjadi pohon baru. Kebaikan pun dilanjutkan oleh generasi penerus sampai akhir zaman.

Cobaan dan ujian adalah karuniaNya yang membuat kita bisa tumbuh lebih kokoh. Orang yang menyakiti, menggosip, tak pula menyurutkan tekad berbuat kebaikan. Tak pula harus membandingkan, merasa terlalu kecil atau terlalu besar. Fokus pada kebaikan, berbagi tanpa pamrih, dzikir dan ibadah padaNya.

Sahabat,

Apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk membangun hidup penuh manfaat dalam jalanNya seperti pohon di atas?

Mengapa hal itu penting? Dan untuk siapa hal itu penting?

Ya Allah,
sehatkanlah kami semua
sejahterakanlah seluruh sel tubuh kami
jernihkanlah pikiran kami
tenangkanlah jiwa kami
damaikanlah hati kami
isilah dengan ikhlas, syukur, tulus,
hanya untukMu
agar kami bisa bermanfaat
lebih banyak lagi
lebih lama lagi
lebih baik lagi
untuk membuat dunia ini lebih indah
lebih nyaman
lebih membahagiakan
bagi semua umatMu di alam semesta
dan izinkanlah semua kebaikan itu
terus membuahkan kebaikan lain
makin besar, makin banyak,
tak henti-henti sampai akhir zaman.
Aamiin yra.

Yuk…
Kebaikan kecil apa yang bisa kita lakukan saat ini juga?
Just do it.
Don’t even think.

Jangan pernah merasa kecil. Teruslah berkontribusi



Ada sebuah lilin kecil dibawa oleh seorang pria menaiki tangga yang tinggi, menuju sebuah menara.
Di dalam perjalanan mereka menaiki tangga tersebut, si lilin kecil bertanya pada pria yang membawanya, “Kita hendak kemana?”

“Kita akan naik lebih tinggi dan akan memberi petunjuk pada kapal-kapal besar di tengah lautan luas.”

“Apa? Mana mungkin aku bisa memberi petunjuk Kepada kapal-kapal besar dgn cahayaku yg sangat kecil?

Kapal-kapal besar itu tidak akan bisa melihat cahayaku,” jawab lilin kecil lemah. 

“Itu bukan urusanmu. Jika nyalamu memang kecil, biarlah! Yang harus kau lakukan adalah tetap menyala dan urusan selanjutnya adalah tugasku,” jawab pria itu.

Tidak lama sampailah mereka di puncak menara dimana terdapat lampu yang sangat besar dengan kaca pemantul yang tersedia di belakangnya.

Pria itu menyalakan lampu besar dengan memakai nyala lemah si lilin kecil. Dalam sekejap, tempat itu memantulkan sinar terang benderang, sehingga kapal-kapal di tengah laut melihat cahayanya. 

Tanpa si lilin kecil, si lampu besar tak akan bisa dinyalakan. Kapal-kapal pun bisa menabrak batu dan tebing yang ada.

Berkat si kecil, si besar bisa mencegah hilangnya nyawa banyak manusia.

Banyak di antara kita saat ini menjadi lilin kecil. 

“Siapalah aku?”
“Bisa apa aku?”
“Aku bukan siapa-siapa.”

Ingatlah bahwa kita semua diciptakan hebat oleh Allah. Semua orang diciptakan untuk sebuah missi tertentu. Kita memang belum tentu punya jabatan tinggi atau kemampuan besar. Tapi saat kita menyerahkan diri, pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan hanya untuk Sang Pencipta, Ia akan menjadikan kita sebuah bagian penting dalam alam semesta. Dari sisi kita, tak ada yang bisa dilihat. Kita hanyalah seutas benang kecil. Tapi dari sisi Allah, tanpa kita, rajutan alam semesta tak bisa tercipta tanpa benang kecil yang ada pada kita ini.

Teruslah berbuat kebaikan. Janganlah pernah merasa kebaikan kita terlalu kecil atau tak ada artinya. Selama kebaikan itu ada dalam jalanNya dan diniatkan untuk menciptakan kebaikan lainnya, ia akan terus menyala dan menyalakan lilin dan lampu yang besar lainnya.

Tak ada kebaikan yang percuma, tak ada keringat yang sia-sia. Semua punya nilai dalam rajutan semesta indahNya.

Sekarang, kebaikan baru apakah yang dapat kita lakukan terus setiap hari?

Terinspirasi kisah yang dikirim Yudi Tjauw, group Fortune Alumni

Berbuat baik? Lakukan saja, tak usah dipikir, karena Allah yang menuntun



Assalamualaikum ww, Sahabat blog tercinta.

Mau berbuat baik?
Lakukan saja langsung.
Jangan fikir kepanjangan
“Ah nanti apa kata orang”
“Orang bilang aku riya (sombong) nggak, ya..”
“Apalah artinya ini kecil. Malu.”
“Telat ah, sudah basi.”
Hati-hati, bisa jadi itu setan sang penggoda yang tidak happy kalau kita berbuat baik.

Pagi ini baru terjadi.
Aku melihat sebuah ayat di posting oleh sepupu jauhku, Teh Tita, yang mengatakan “Jangan putus asa.”
Maka aku buatkan image nya, dan tulis pengantarnya. Aku sebar ke berbagai group.

Tiba-tiba ada yang japri, dan mensyukuri posting tersebut karena ia benar-benar sedang putus asa.

Aku tambah lagi dengan beberapa panduan untuk ikhlas menghadapi cobaan. Dan ia pun makin mewek, merasa Allah sangat sayang cinta padanya.

Masya Allah…

Allah gerakan tangan Teh Tita pagi ini untuk menyampaikan ayat tersebut. Allah gerakan pula aku untuk membuat image nya, menulis pengantarnya dan berbagi di berbagai group.
Aku tak berfikir apa-apa, hanya ingin melakukan sesuatu yang aku fikir baik saja.
Tak ada bayangan apa yang akan terjadi.
Tak ada pengetahuan bahwa ada yang sedang putus asa.
Aku pun tak tahu kalau ia tak japri.

Masya Allah..
Aku sangat bersyukur Allah menggunakan tanganku sebagai wakilNya membantu temanku ini.
Allah gunakan mataku untuk bisa membuat image dan menulis pesan yang ternyata menggetarkannya.
Allah bersihkan hatiku agar apapun yang terkirim diterima dengan enak dan nyaman, bahkan bisa menggetarkan.
Semua dilakukanNya untuk sahabatku ini.
Tanpa aku tahu.
Dan mungkin bukan hanya yang satu ini. Mungkin banyak lagi yang tidak menghubungiku langsung tapi menjadi tujuan Allah menggerakkanku pagi ini.
Masya Allah..

Jadi sahabat,
Kebaikan kecil apa yang bisa kita lakukan hari ini?
Bagaimana agar bisa lebih sering melakukan kebaikan?
Dan kenapa itu penting?

Ya Allah,
sehatkanlah kami semua
sejahterakanlah seluruh sel tubuh kami
jernihkanlah pikiran kami
tenangkanlah jiwa kami
damaikanlah hati kami
isilah dengan ikhlas, syukur, tulus,
hanya untukMu
agar Kau bisa menggunakan kami
lebih banyak lagi
lebih lama lagi
lebih baik lagi
untuk membuat dunia ini lebih indah
lebih nyaman
lebih membahagiakan
bagi semua umatMu di alam semesta
dan izinkanlah semua kebaikan itu
terus membuahkan kebaikan lain
makin besar, makin banyak,
tak henti-henti sampai akhir zaman.

Aamiin yra.

Yuk…
Kebaikan kecil apa yang bisa kita lakukan saat ini juga?
Just do it.
Don’t even think.

Jangan pernah putus asa, terus berusaha, fokus pada proses



Assalamualaikum ww

Untuk semua yang sedang berjuang,
Jangan pernah putus asa
Terus berusaha
Jangan fokus di hasil
Karena itu adalah hakNya

Jatuh bangun itu biasa
Tak ada yang instan dan langsung bisa
Semua butuh proses dan semangat baja

Nikmati dan syukuri proses yang ada.
Banyak pembelajaran yang tersedia.
Kedekatan kepadaNya
Ketaatan hanya untukNya
Hati yang makin ikhlas,
Selalu bersyukur
Dan bahagia apapun ketentuanNya

Maka keberhasilan akan menjadi bonus dariNya

Bismillah…
🌹💐❤️🌹💐❤️🌹💐❤️🌹💐

Banyak orang yang fokus hanya pada hasil. Bahkan untuk mencapainya menghalalkan segala cara.

Sesungguhnya semua ujian dan cobaan yang Allah berikan, hanya punya satu tujuan; menjadikan kita kembali padaNya, ikhlas akan semua ketentuanNya, syukur dan sabar. Dan akhirnya semua itu, bila mendapat ridloNya, akan membawa pada keberhasilan.

Keberhasilan kita bukan disebabkan karena kita hebat, cerdas, pintar, atau kuat. Kita hanya berhasil karena Allah izinkan kita berhasil.
Ada yang sembuh kanker hanya dengan baca Quran, ada yang dengan sedekah.
Kalau dilihat dari kaca mata orang yang menuhankan metode, tak mungkin, tak masuk akal, “gak make sense” dan lain-lain.
Tapi tak ada yang tak mungkin menurutNya.
“Gak make sense itu bagi kita, karena otak kita belum sampai. Tapi ilmu Allah seperti samudra dan ilmu kita hanya seperti air yang menempel di jari saat jari itu kita celup dalam samudra ilmuNya.

Semua mungkin, kalau Allah izinkan.
Maka marilah kita terus mendekat padaNya.
Usaha sebaik mungkin.
Jangan terpaku pada hasil,
Tapi pada semua pelajaran untuk bisa kembali pada fitrah,
Menjalani jalan menujuNya.
Saat kita berjalan menujuNya,
Kita akan membangun hati yang makin ikhlas,
Makin bersyukur,
Makin halus dan mampu menangkap pesanNya
Melalui intuisi dan perasaan kita.
Hati yang keras akan melembut,
Otak yang tak mau membuka akan lebih mampu menyambut ilmu-ilmu baru.
Jiwa yang bergejolak menjadi lebih tenang
Sifat yang sombong akan mau merunduk
Bukankah itu semua yang Allah ingin kita bangun untuk bisa masuk dalam surgaNya dengan ridloNya?

Bismillah…

Kesembuhan tidak tergantung obat atau metode, tapi pada ridloNya


Assalamualaikum wwSahabat-sahabat semua,
Banyak sekali orang yang mencemooh apa yang saya jalankan atau katakan terkait dengan apapun yang saya jalani untuk mengatasi kurikulum kanker saya. Bahkan ada yang menuduh promosi atau marketing. Bahkan pernah ada yang keluar Lavender karena mengira saya “marketing” dari salah satu metode yang saya jalankan. Hahaha… Dibayar pun tidak. Saya hanya ingin berbagi pengalaman. Tapi karena saya mengambil jalur alternatif pengalaman ini menjadi seperti “najis” di mata mereka. Bahkan sebuah cancer support group sampai mengeluarkan saya dari group tersebut karenanya.

Pada saat saya didiagnosa CA November 2012 lalu ada teman yang juga didiagnosa hal yang sama dan mengejar kesembuhan ke dokter di Amerika Serikat. Harga tak menjadi masalah baginya. Sementara saya menjalani sesuatu yang kata mereka “tidak make sense” atau “tidak ada dasar risetnya” atau “bukan evidence-based.” Alhamdulillah Allah ridloi saya masih hidup sampai sekarang dengan metode yang “tidak make sense” itu, sementara yang mengejar metode evidence-based dipanggilNya dalam 6 bulan.

Bukan dokternya yang salah, bukan evidence-based nya yang salah, atau metode saya “lebih benar” atau “lebih baik” tapi memang kesembuhan tidak ada di tangan makhluk manapun di muka bumi. Kesembuhan murni hanya ada di tanganNya. 

Alhamdulillah metode ini cocok bagi saya, menjadi jodoh saya. Seperti suami saya menjadi jodoh saya. Beliau memang diciptakanNya untuk saya. Bukan berarti laki-laki lain tak ada yang lebih hebat, tapi memang inilah jodoh saya. Sama seperti pengobatan.

Banyak yang mengejar dan menjalani metode yang evidence-based juga berhasil, ya artinya Allah ridlo. Jodoh. Banyak juga yang mengejar metode alternatif dan tidak berhasil. Ya bukan jodoh. Allah menginginkan jodoh lain untuknya.

Nabi Ayub as diberikan sakit 18 tahun dan tak pernah merayu Allah minta disembuhkan. Allah menyembuhkannya tanpa bekas, saat Nabi Ayub as mengatakan bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang padanya. Itulah bukti taat dan iman Nabi Ayub as yang membawa ridlo Allah menurunkan kesembuhan.

Ada pula yang menyesal telah menjalani metode pengobatan alternatif dan berkomentar “pengobatan ini buang waktu.” Nah lho… Ikhtiar dibilang buang waktu pula.

Setiap ikhtiar yang kita lakukan di jalanNya, didasari ilmu, semua punya nilai kebaikan. Kalau sudah dijalani jangan disesali. Lakukan yang terbaik dan jangan pakai kecewa, khawatir, marah, atau merasa “lebih” yang membawa sombong. Itu semua berasal dari setan yang memang diciptakanNya untuk menggoda dan menguji kita semua.

Mintalah hanya padaNya dan jalankan semua perintahNya, hindari semua laranganNya.

Kanker 80% dipengaruhi pikiran, perasaan dan kondisi jiwa, yang tak sesuai fitrah ketetuanNya. Kemarahan, kecurigaan, prasangka buruk, kekhawatiran, sombong, semua tak sesuai dengan fitrah. Maka Allah tegur dengan sakit agar hambaNya kembali ke fitrah. Semua atas dasar cintaNya. Kanker, seperti juga semua penyakit dan bencana, adalah bentuk cintaNya bagi kita. Dekatilah Sang Maha Penyembuh. Rayulah Allah dengan hati yang indah, bersih dan jiwa yang tenang. Metode, dokter, alat apapun, hanya jalanNya, caraNya menyembuhkan. Tapi hanya RidloNya yang benar-benar akan menyembuhkan kita. 

Jadi jalankan ikhtiar secara maksimal dan serahkan segala keputusan hasil padaNya saja, bukan pada dokter, tabib, herbalis, atau siapapun. Karena mereka hanyalah tanganNya dalam proses kesembuhan atau apapun yang kita kejar.

Dan setelah semua kita lakukan, ikhlaslah apapun hasilnya. Apapun itu… kesembuhan atau bukan… semua adalah wujud cinta dan kasihNya. Terimalah dengan ikhlas, hargai dan syukuri pilihanNya bagi kita karena pasti baik, lalu bagilah kebahagiaan dan rasa syukur itu. 

Bismillah…
🌹💕💐❤️🌹💕💐❤️🌹💕💐

Sudah merdekakah kita dari diri kita sendiri?



Tahun 1945 kita merdeka dari penjajah
Tahun ini banyak yang bertanya
Apakah kita merdeka dalam ekonomi
Tapi apakah ada yang pernah bertanya
Apakah kita juga merdeka dari diri kita?

Sudahkah kita memiliki impian
Dan mengejarnya dengan bahagia?
Merdeka dari rasa rendah diri
Merdeka dari cemooh orang lain
Merdeka dari rasa malas?

Sudahkah kita bebas melakukan tugas
Untuk beribadah di muka bumi
Merdeka dari kemelekatan pada dunia?
Ingin berjiwa sosial tapi takut miskin?
Ingin jujur tapi tergoda korupsi?

Sudahkah kita menjadi tangan kasihNya
Menyebar cinta dan karuniaNya
Merdeka dari rasa dendam?
Merdeka dari rasa benci?
Merdeka dari rasa tak berdaya?

Sudahkah kita jalani cobaanNya
Dengan ikhlas dan syukur sesuai fitrah?
Merdeka dari ketakutan akan mati?
Merdeka dari khawatir tak berkesudahan?
Merdeka dari amarah kepadaNya?

Sudahkah kita menjadi khalifahNya
Yang adil, bijaksana dan penuh kasih
Merdeka dari rasa ingin menguasai?
Merdeka dari kekecewaan
Saat yang terjadi tak sesuai harapan?
Saat yang dicinta tak kembali mencinta?
Saat tempat curahan hati ternyata berkhianat?
Saat anak tak mampu berbakti?
Saat pasangan memilih untuk seingkuh?

Kita dilahirkan hanya untuk ibadah
Sederhana dan tak berbelit
Menyebar rahmatNya untuk semesta
Dengan ikhlas
Menerima semua ketentuanNya
Dengan penuh penghargaan
Dengan penuh syukur
Tulus berbagi
Tanpa pamrih tak harap kembali
Dan untuk bahagia dalam tiap kondisi
Sudahkah kita merdeka menjalaninya?
Tanpa rasa diri yang menjajah?

Sudahkah kita merdeka dari diri kita sendiri?

Berpeganglah hanya padaNya
Melekatlah hanya padaNya
Bukan pada makhluk
Yang setiap saat bisa mengkhianati
Yang tak pernah bisa sempurna
Yang sesungguhnya butuh kita
Untuk sabar dan mengasihi tanpa pamrih
Inilah kunci merdeka dari diri sendiri

Sang Pencipta menciptakan kita
Lengkap dengan sang penjajah
Ia pun menjadi kunci kemerdekaan
Dari diri kita sendiri.

Sejauh apa kita sudah berpegang padaNya?