Anak bisa jadi pembatal orang tua masuk surga 


 

Bismillah …

Ada seorang anak, yang dimasa kecilnya begitu lucu, menggemaskan, rajin, pintar, dan cerdas, serta hal-hal baik lainnya melekat ada pada diri anak tersebut. Pendidikan parenting yang diperolehnya di masa kecil begitu baik. Di sekolah prestasinya juga menonjol.

Sayangnya, saat ia beranjak remaja kondisi tersebut pelan-pelan berubah, sifat buruknya lebih dominan dari sifat baiknya. Sang anak menjadi pribadi yang berani menentang hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia mengusung nilai-nilai liberalisme yang menghendaki kebebasan individu dalam segala bidang, sehingga kehidupannya pun jauh dari nilai-nilai agama. Demikian berlanjut terus ke perjalanan hidupnya di masa tuanya.
Mengapa kondisi akhirnya bisa seperti itu?

Apakah resikonya kelak di akhirat hanya ditanggung sendiri oleh anak?

Mari kita bahas.

Mungkin Anda pernah mendengar cerita tentang orangtua yang sudah divonis masuk surga, tetapi kemudian dibatalkan dalam pengadilan akhirat hingga akhirnya dia masuk neraka bersama anaknya. Itu terjadi karena anaknya menggugat orangtuanya yang tidak pernah memperhatikan agamanya sewaktu di dunia, sementara orangtua sibuk dengan urusan ibadahnya atau dunianya sendiri.
Sebagai pengantar jurnal, dan mengenang gaya tausiyah yang kocak dari alm. KH. Zainuddin MZ, berikut ini saya cuplikkan tausiyah beliau mengenai hal ini.

Sampai sekarang saya tidak tahu apakah cerita tersebut derajatnya shahih ataukah tidak? Karena saya belum pernah menemukannya pada hadist Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, yang jelas makna yang terkandung di dalamnya sama sekali tidak bertentangan dengan makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur`an dan hadits-hadits shahih. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

[QS At-Tahriim: 6]

Tentang ayat ini dalam kitab tafsir Ath-Thabari, Qatadah berkata: “Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan laranglah mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya. Bantulah mereka untuk mengerjakan perintah Allah. Apabila kamu melihat mereka melakukan kemaksiatan, maka tegurlah!”

Ibnu Jarir berkata: “Kita wajib untuk mengajarkan anak-anak kita tentang agama Islam, kebaikan dan adab!”

Sedangkan Ibnu Umar berkata: “Didiklah anakmu, karena kelak kamu akan ditanya tentang pendidikan dan pengajaran seperti apa yang telah kamu berikan kepada anakmu. Anakmu juga akan ditanya tentang bagaimana dia berbakti dan berlaku taat kepadamu.”

Dari penjelasan para mufassir tersebut, dapat dipahami bahwa ayat ke-6 dari QS At-Tahriim itu merupakan sebuah perintah tegas kepada seorang Muslim untuk menjaga keluarganya dari siksa api neraka, yaitu dengan cara memperhatikan pendidikan agama mereka dan selalu memperhatikan tindak-tanduk mereka. Namanya kewajiban, maka bila perintah tersebut tidak dipatuhi dengan baik oleh seorang Muslim, tentu ada konsekuensi yang akan dia dapatkan di akhirat nanti.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa yang dipimpinnya.”

[HR Bukhari dan Muslim]

Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa bila seorang Muslim tidak mendidik anaknya dengan baik, maka kelak dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas tugasnya di dunia itu, dan tentunya ada konsekuensi yang akan dia dapatkan.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di surga. Kelak ia akan berkata, ’’Wahai Rabbku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?” Dijawab-Nya, “karena permohonan ampunan anakmu untukmu.”

[HR Ibnu Majah dan Ahmad, dan dishahihkan Ibn Katsir]

Bila seorang hamba mendapatkan hasil yang baik (di akhirat) karena dia telah mendidik anaknya dengan baik sehingga menjadi anak shaleh yang berdo’a memohonkan ampunan untuknya (hanya do’a anak shaleh yang diterima, saat pintu amal terputus, saat di alam barzah); maka dapat dipahami secara mafhum mukhalafah (pengertian terbalik), bahwa seorang hamba juga akan mendapatkan hasil yang tidak baik (di akhirat) karena lalai dalam memperhatikan dan mendidik anaknya.

Jadi, hati-hati bahwa anak bisa menjadi pembatal orangtua masuk surga.
Secara umum, Parenting adalah upaya terbaik yang ditempuh oleh orangtua dalam mendidik anak dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia dalam keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Untuk masa anak-anak, pendidikan parenting lebih ditekankan pada proses interaksi berkelanjutan antara orangtua dan anak yang meliputi aktivitas-aktivitas seperti: memberi makan (nourishing), memberi petunjuk (guiding), dan melindungi (protecting) anak-anak ketika mereka tumbuh berkembang.

Sedangkan parenting untuk usia remaja sebaiknya lebih ditekankan pada proses interaksi berkelanjutan yang meliputi aktivitas-aktivitas seperti: membekali dengan ilmu yang bermanfaat (enlightening), memberi petunjuk dan nasehat (coaching + counseling), dan melindungi (protecting) anak-anak dari serbuan perang pemikiran atau perang akidah. Ada sebuah petuah bijak:


“You will be the same person in five years as you are today except for the people you meet and the books you read.”

[Charlie “Tremendous” Jones]

Dengan demikian, orangtua seharusnya tidak lalai memperhatikan kualitas pergaulan anaknya, juga peduli dengan buku-buku bacaan anaknya. Tidak dengan kekuatiran yang berlebihan, namun bersama-sama belajar mengelolanya, agar tidak tumbuh benih-benih kebencian dalam kehidupan sosial yang majemuk.
Sungguh, betapa tidak akan ada artinya ketika anak telah berhasil meraih berbagai prestasi yang membanggakan, namun pondasi dasarnya rapuh. Hal ini bisa menjadi bom waktu bagi anak di usia dewasanya kelak, yang juga berdampak pada orangtuanya.

Lihatlah berbagai kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme yang banyak merugikan negara.

Lihatlah penjara-penjara kriminal banyak diisi oleh para terdidik.

Lihatlah kasus perzinaan, perselingkuhan, dan perilaku seksual menyimpang.

Lihatlah kasus anak tidak dianggap lagi oleh orangtuanya karena akidahnya telah digadaikan (murtad).

Lihatlah episode kehidupan dimana ada anak yang terbelenggu kesibukan duniawi tidak lagi peduli dengan orangtuanya yang telah berusia senja.

Lihatlah kasus mereka yang terperosok mengikuti aliran sesat, yang selain menggerogoti iman juga merongrong finansial serta merusak keutuhan keluarga.

Padahal, semuanya tampak baik-baik saja pada awalnya. Namun nyatanya, “life begin at 40″ diisi dengan gundah gulana, tiada kedamaian hati.
Sebelum semuanya terlambat, pandanglah anak-anak kita hari ini.

🌹 Sudahkah kita memperlakukan anak kita dengan baik?

🌹 Sudahkah kita menginvestasikan waktu yang berkualitas bersama mereka?

🌹 Sudahkah kita mengetahui harapan-harapannya?

… impiannya?

… keinginannya?

yang semuanya dibarengi dengan bekal ilmu yang bermanfaat dari orangtuanya?

Mari susun game plan pertanggung-jawaban terhadap titipan yang telah diamanahkanNya kepada kita.

Di dunia luar, anak diberikan pendidikan teknis (akademis) untuk masa depannya yang gemilang. Di dalam rumah, diimbangi dengan pendidikan karakter dari orangtuanya, karena itu telah menjadi kewajiban atas perintahNya. Anak-anak muslimin yang tidak berkarakter adalah mangsa empuk racun pemikiran.
Wallaahu a’lam bish-showab
Salam hangat tetap semangat,

Iwan Yuliyanto

05.02.2014
http://iwanyuliyanto.co/2014/02/05/anak-bisa-menjadi-pembatal-orangtua-masuk-surga/

🌹🌹🌹

Sungguh menyentak tulisan Mas Iwan ini.

Karena ini urusan keselamatan kita di akhirat yang abadi nanti, penting sekali bagi kita untuk memperhatikan dan memprioritaskan urusan ini.

Seringkali Ayah menyerahkan semua urusan pendidikan kepada Ibu. Padahal jelas-jelas ayahlah yang akan dimintai pertanggungjawaban pertama kali sebagai kepala keluarga.

Seringkali orang tua menyerahkan semua urusan pengasuhan anak kepada pengasuh di rumah, pembantu atau baby sitter. Padahal jelas-jelas mereka semua hanya asisten, bukan penanggung jawab utama. Sayang sekali kalau pendidikan dan masa depan anak – yang juga menjadi masa depan kita – kita serahkan sepenuhnya pada mereka, bukan?

Seringkali pula orang tua menyerahkan segala urusan pendidikan anak pada guru atau sekolah. Padahal jelas-jelas rumahlah tempat utama anak belajar, dan sekolah melengkapi dalam hal akademis.

Seringkali orang tua salah kaprah menganggap keberhasilan pendidikan anak terletak pada keberhasilan mereka menggondol gelar sarjana. Padahal jelas-jelas Allah mengatakan bahwa yang nomor satu paling penting adalah iman dan akhlak.

Demi masa depan mereka, demi masa depan kita semua, demi ridloNya yang menjadi kunci kebahagiaan dan keselamatan kita semua sekeluarga di bumi dan akhirat, marilah kita prioritaskan urusan pendidikan anak kita.

🌹 Jadi, apakah hal terkecil yang dapat kita lakukan mulai hari ini untuk membangun anak pewaris surga?

🌹 Bagaimanakah agar kita dapat terus meningkatkan usaha tersebut setiap hari?

🌹 Mengapa hal itu penting bagi kita?

Anak adalah cerminan gaya komunikasi orang tuanya. Bagaimana kita bisa berkomunikasi lebih baik dengan anak?


  
Sahabat blog terkasih,

Anak adalah amanah, tugas dari Allah. Kesuksesan mereka lahir batin, dunia akhirat, akan ditanya oleh Sang Pencipta dan harus kita pertanggungjawabkan. Baik tidak nya anak terpulang pada kita. Jangan marah kalau anak melakukan hal yang tidak kita suka karena anak adalah cerminan kita.

Simak paparan Bu Elly Risman pada hari Sabtu, 10 Januari 2015, @SACikeas, yuk. Semoga berkah dan bermanfaat ya.

🌹🌹🌹🌹🌹

Mendidik anak dengan baik, benar dan menyenangkan

Saat ini kebanyakan kita ternyata tidak siap jadi orangtua. Jika kita salah mengasuh anak kita sekarang, maka kita akan salah mengasuh cucu kita.

Mengapa kita tidak siap menjadi orang tua? Karena kita tidak menguasai tahapan perkembangan anak dan menguasai cara otak bekerja. Misalnya:

  • kapan anak boleh dikasih hp?
  • umur berapa anak boleh didudukan menonton tv?

Anak dibawah usia 3 tahun tidak boleh terpapar TV, karena anak usia tersebut memerlukan waktu 4-6 detik untuk memamah perubahan warna, gambar dan suara. Sedangkan pada TV perubahan itu terjadi 2-3 detik, sehingga dapatmenyebabkan kerusakan otak anak batita.

Banyak orang tua yang meletakkan anak batita di muka TV selama berjam-jam karena ingin mengajak anak belajar. Atau lebih parah lagi, karena tidak mau repot. Acara apa yang ditonton pun belum tentu dicek.

Itu baru urusan menonton TV. Belum yang lainnya.

Kita perlu mengetahui tahapan perkembangan anak, juga cara otak anak bekerja pada usia yang berbeda-beda. Apa yang kita lakukan dapat membangun atau merusak otak dan kepribadian anak yang tentunya berdampak panjang di masa depan anak.

Cara berkomunikasi dengan anak 

Cara kita berkomunikasi dan bahasa tubuh kita sangat berpengaruh pada perkembangan anak kita. Cara bicara yang salah dapat:

1. Melemahkan konsep diri anak 
2. Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama.
3. Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak.
4. Melemahkan kemampuan berfikir 
5. Melemahkan kemampuan memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri.
6. Menimbulkan rasa iri berkepanjangan yang dapat menimbulkan kesan “dunia tidak adil” sampai dewasa.

Danpak-dampak ini akan lebih besar dan lebih buruk daya rusaknya kalau sampai ada aspek emotional atau verbal abuse. 

Anak-anak yang mengalami hal-hal di atas cenderung berfikir negatif. Dan parahnya hal ini dapat terus terjadi di 40 tahun (krisis usia separuh baya). Mereka tidak hanya perlu dipeluk badannya tapi juga jiwanya. 

Dua hal yang perlu diingat terlebih dahulu sebelum memulai komunikasi yang baik dan benar:

🌸 Bila hati senang, otak akan menyerap lebih banyak. Jadi buatlah hati anak senang dulu sebelum berkomunikasi.

🌸 Banyak senyum. Ketika senyum, otot pipi bergerak.  Ini membuat otak dingin dan mengeluarkan seretonin (anti agresivitas). Tidak mungkin pula orang tua marah kepada  anak sambil senyum. 

Komunikasi orang tua yang tidak efektif:

🌸Bicara tergesa-gesa.
 Waktu terbatas, bicara panjang, sambil marah-marah dan muka kencang tanpa  plus tidak senyum.

🌸 Kurang kenal diri sendiri dan tidak introspeksi. Anak selalu disalahkan tanpa mau melihat porsi kesalahannya sendiri

🌸 Lupa kalau setiap individu itu unik dan tiap anak unik (QS. 3:6) dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, tak dapat dibandingkan.

🌸 Tidak mengerti perbedaan kebutuhan dan kemauan.
Kebutuhan dan kemauan bisa berbeda karena individunya berbeda, masanya pun berbeda. Rasulullah mengatakan didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.

🌸 Tidak mau memahami anak: 

  • Tidak membaca bahasa tubuh.
  • Tidak mendengar perasaan
  • Kurang mendengar aktif

🌸 Melakukan parentogenik (penyakitnya ortu) yaitu 12 gaya populer.
1. Memerintah
2. Menyalahkan
3. Meremehkan
4. Membandingkan
5. Mencap/melabel
6. Mengancam
7. Menasehati
8. Membohongi
9. Menghibur
10.Mengeritik
11. Menyindir
12. Menganalisa

12 gaya populer ini adalah gaya yang menghambat komunikasi. Ketika kita menggunakan gaya ini anak langsung mengalami hambatan untuk memahami.

Anak yang terlalu sering menerima bentakan, kemarahan dan nasehat panjang yang mengabaikan perasaannya. Maka anak akan merasa terpojokkan. Dampak kedepannya ketika anak sudah besar kalo tidak melawan atau diam. Susah diajak kerjasama.

🌸 Selalu menyampaikan “pesan kamu.” Contoh: “kamu sih…sudah mama bilang….”

🌸 Tidak memisahkan “masalah siapa” dan langsung memarahi tanpa analisa.

Nah, sekali lagi, anak kita adalah cerminan diri kita, gaya komunikasi kita, kelebihan dan kekurangan kita. Marilah kita lihat apa yang harus diperbaiki. Dan mulailah memperbaiki diri sebagai orang tua, bukan mulai dengan memarahi anak. Ingatlah selalu bahwa kita akan mempertanggungjawabkan semua ini suatu hari nanti.

Semoga anak kita dapat menjadi sumber bahagia dunia dan akhirat. Aamiin yra.

🌸 

Sudahkah kita ikhlas membangun keluarga hanya untukNya?


   

Sahabat blog,

Pernahkah terlintas, sesungguhnya untuk apa kita membangun keluarga? Banyak yang bilang “untuk bahagia, dong.” Baiklah, apa maksudnya “bahagia” di sini? Lalu kalau “bahagia” tak kunjung datang, anak tidak sesuai harapan banyak yang mengeluh, galau. 

Membangun keluarga adalah bagian dari ibadah suci untukNya. Kalau kita yakini bahwa melayani suami, istri, membesarkan anak diikhlaskan hanya untukNya tentu tak perlu ada galau. Yang penting kita jalankan tugas dan serahkan hasil pada Allah.. Dengan senyum, dengan rasa syukur, dengan ikhlas hanya untukNya.

Kalau gagal.. Ikhlas.. Karena itu ketentuan Allah, seperti putra Nabi Nuh as dan istri Nabi Luth as. Yang dinilai Allah usahanya, bukan hasilnya.

Kalau sukses.. Ikhlas dan bersyukur.. Seperti Nabi Ismail as yang penuh dengan ketaatan pada Allah swt, bahkan saat Allah memerintahkan ayahnya mengorbankannya.

Membangun keluarga hanya untuk Allah punya satu tujuan: menggapai ridloNya, untuk meraih surgaNya. Yuk kita simak tulisan Ustda Bachtiar Nasir tentang pesan Allah bagi kita semua dalam membangun keluarga, yuk..

🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌹🌹🌹

Cara Masuk Surga Sekeluarga

Oleh Ustadz Bachtiar Nasir

🍲 Coba suatu hari ingatkan seluruh anggota keluarga begini; 

“Kita kerjasama agar masuk surga sekeluarga yuk?”

🍡 Bagaimana caranya?

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. [Dikatakan kepada mereka]: “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan,” mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala [gelas] yang isinya tidak [menimbulkan] kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk [melayani] mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan. Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut [akan diazab].” Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. At Thur 17-28.

🍳 Ceritanya penghuni Surga saling bercengkrama berhadap-hadapan, masing-masing bertanya jawab bagaimana keluarga kalian dulu, koq bisa masuk Surga?

🍫 Jawabnya seragam; 
“Kami bisa masuk Surga karena dulu di Dunia, dikeluarga kami saling mengingatkan satu sama lain tentang siksa pedih Neraka.”

🍛 Karenanya Visi rumah tangga orang beriman adalah:

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa Neraka” (At Tahrim; 6). 

Ya Rabb, bagus!.

🍔 Rumahku Surgaku, akan terjadi jika masing-masing anggota keluarga memelihara dirinya dan mengingatkan anggota keluarga lainnya dari siksa Neraka.

🍕 Siapa yang tak sedih jika ada salah seorang anggota keluarganya (ayah, ibu, kakak atau adik) terjerumus ke lingkungan siksa “Neraka?”

🍮 Setiap anggota keluarga pasti sangat sedih jika Bahtera Keluarga pecah dan karam akibat terpaan gelombang kehidupan dunia yang mematikan.

🍦 Agar masuk Surga sekeluarga, ingatkan anggota keluarga kita yang sedang khilaf berbuat dosa atau lalaikan perintah Allah, jangan dibiarkan.

🍰 Jangan kecewa kalau peringatan kita diabaikan, atau malah dilecehkan, karena dakwah di tengah keluarga kadang lebih berat, jangan lupa doakan.

🍟 Nabi Nuh as tak pernah bosan mengingatkan anaknya yang tersesat, Nuh as terus mendoakannya sampai akhirnya Allah tenggelamkan Kan’an.

🍜 Nabi Luth as tak pernah berhenti memperingatkan isterinya yang membangkang, sampai akhirnya Allah binasakan isterinya bersama kaum Sodom.

🍰 Asiah binti Muzahim, tertatih -tatih peringatkan suaminya Fir’aun, konsisten mendidik Masyithah dan Musa as, akhirnya Asiah yang dibunuh Fir’aun.

🌺 Habil tak pernah takut mengingatkan dan menasehati kakaknya Qabil, rasa iri dan dengki berkecamuk sampai akhirnya Habil dibunuh Qabil.

🍄 Agar bisa masuk Surga sekeluarga perlu perjuangan dan pengorbanan yang besar, selain itu kesabaran dan konsistensi juga harus dilakukan.

🍧 Ingatkan suami agar bekerja ditempat yang halal, jangan bawa pulang penghasilan yang haram, karena akan jadi bahan bakar neraka Rumah Tangga.

🍹 Ingatkan isteri agar memperhatikan Pola Konsumsi Halal untuk keluarga, anak-anak akan susah diajak taat dan ibadah jika mengkonsumsi yang haram

🌻 Ingatkan anak-anak bahwa bahan bakar Neraka adalah Batu dan Manusia, jangan sampai salah seorang dari kita jadi bahan bakarnya Neraka.

🍧 Ceritakan bahwa penjaga Neraka adalah Para Malaikat Perkasa yang kuat dan kasar, mereka tak pernah khianati Allah dan pasti laksanakan perintahNYA.

🍁 Semoga bermanfaat buat kita dan keluarga kita masing-masing.

🌳 Selamat pagi yang indah bersama keluarga kita sampai akhirat yang khusnul khotimah

Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin

Reposted by IHQ🌴

📚Menyampaikan dgn hati📚

Majelis Keluarga Muslim Indonesia

Kiriman Citra Moeslim Roesli, YKM FEUI.

🌹🌹🌹🌻🌻🌻

Apakah yang akan kita lakukan hari ini untuk dapat ikhlas membangun keluarga HANYA untukNya? Dan membantu anggota keluarga kita masuk dalam surgaNya?

Kenapa hal itu penting?

Kalau saja Rasulullah saw ada di sini, kira-kira apa pesannya agar kita selalu ikhlas membangun keluarga untuk Allah swt, menuju ridloNya, menggapai surgaNya?

Keluarga berprestasi dunia akhirat mencari ridloNya, menuju surga.


   

:::::: PARENTING NABAWIYYAH ::::::
🌸 Lelah mendidik anak? Itu adalah bukti bahwa anda belum menikmati proses dan hasil mendidik anak.

🌷 Apakah kita bahagia setelah anak kita sukses (sarjana, dapat kerja, dll)? Itu terlalu lama. Apalagi kalau anaknya banyak. 

🌼 Anak-anak itu aset. Bukan beban. Anak sholeh yang bisa mendoakan orang tuanya, itu aset. Ketika kita meninggal, maka yang paling berhak mensholatkan kita adalah anak kita. Itu aset. Sholat jenazah itu isinya doa semua. Anak itu kekayaan di dunia dan akhirat.

🌰 Rosululloh bersabda: “Kamu (anak lelaki) dan hartamu milik orang tuamu.”

🌵 Artinya, walaupun sudah menikah, orang tua punya hak atas harta kita.

Anak-anak yang kita dorong untk menghafal Al Qur’an 30 juz kelak di hari kiamat yang mendapat keistimewaan bukan hanya anak itu, tapi juga orang tuanya (mahkota). 

🌲 Hilangkan anggapan bahwa anak-anak itu beban. Anak-anak kita tidak numpang hidup pada kita. Numpang? Anda sombong. Bayi lahir sudah membawa rezekinya. Yang menjadi masalah adalah kita belum “percaya” pada Alloh. 

🌹 Tidak ingin punya anak banyak karena biaya pendidikan mahal? Logis. Tapi itu iman belum berperan.

Kalau anak adalah aset, maka kita ingin punya sedikit atau banyak?

🌾 Apa fungsinya sabar dan syukur kalau bukan untuk bahagia. Tawakkal. Petani itu bahagia saat tanamannya tumbuh baik, padahal belum panen. Saat hujan turun, padahal belum menanam.

💐 Jadi bahagia itu jangan tunggu panen, jangan tunggu sampai anak besar. Asal prosesnya baik. Kalau seperti ini, maka orang tua akan bahagia sepanjang usia anaknya.

🌴 Ada masanya ketika orang tua panen raya. Syaratnya, hanya dengan cara Islam. Mendidik anak itu persis seperti menanam pohon.
Alloh berfirman dalam QS. 3:35-37, didik anak dengan pertumbuhan yang baik.

🍄 Di akhir QS. Al Fath berbicara tentang proses pertumbuhan tanaman hingga ia kokoh. Tapi dalam ayat ini Alloh tidak membahas hingga tanaman tersebut berbuah. Namun hingga tahap ini sudsh menyenangkan hati penanamnya.

🍁 Alloh berbicara ini (tanaman) ketika Rosul mendidik sahabat-sahabatnya.
Dalam surat ini, belum panen saja Alloh sudah memberikan kebahagiaan.

🍃 Anak kita yang menanam siapa? Kita. Setiap proses pertumbuhannya kita merasakan bahagia.

🌿 Lalu kapan Alloh bicara buahnya? Di QS. Ibrohim: 24-25. Baiknya anak kita nanti, maka itu adalah hak Alloh. Tugas kita adalah menanamnya dengan baik. Semoga kelak Alloh mengizinkan agar hasilnya baik juga.
🌹 Tapi ingat, pohon itu kan yang kita konsumsi bukan hanya buahnya. Mendidik anak juga sama. Tetapi itu dengan izin Alloh. Maka didiklah anak kita dengan maksimal. Ikuti caranya.
🌺 Dalam sebuah hadits Rosululloh menyampaikan bahwa ada sebuah pohon. Dimana Keberkahan pohon itu seperti keberkahan seoranng mukmin. Pohon apa itu? Pohon kurma.
🌻Pelajari pohon kurma untuk mendidikan anak kita. Pohon kurma itu berkah, kata Rosul. Kurma itu berbuahnya perlu waktu lama, sekitar 8 tahun. Tapi hasilnya juga sesuai dengan kesabaran kita memetik buahnya.
🌰 Sama seperti pohon zaitun yang bisa menopang perekonomian Spanyol. Jika pohon ini baik, maka ia akan lebih panjang dari usia kita.
🌲 Pohon ini usianya ratusan tahun. Terus berbuah. Nutrisi kurma berbeda dengan nasi. Sesuai dengan kesabaran menunggunya berbuah. 

🌷 Yang tumbuh pertama dari pohon kurma adalah thol/ mayang/ bakal buah, tapi perlu dikawinkan dulu. Berdasarkan hasil penelitian, mayang jantan kurma, memiliki warna, aroma, dan fungsi yang mirip seperti sperma manusia. 

🌿 Mayang, akan tumbuh berwarna hijau (kholal), menyenangkan dari segi pemandangan walau rasanya belum manis. Anak kita pun demikian. 
🌱 Susui dengan cara yang benar. Usia 3-6 tahun adalah usia yang sangat penting mendapatkan sentuhan dari orang tuanya karena sedang pandai untuk meniru.
🍄 Konsep pendidikan yang paling tepat di saat itu adalah keteladanan. Memang belum manis. Tapi kalau anak berperilaku baik dan lucu akan menyenangkan.
🌻 Setelah kholal kemudian akan menjadi berwarna kuning. Mulai ada sedikit rasa manisnya. Setiap fase ada warna-warna indah pada anak-anak kita
🌿 Setelah kholal kemudian akan menjadi berwarna kuning. Mulai ada sedikit rasa manisnya. Setiap fase ada warna-warna indah pada anak-anak kita.
🌺 Kemudian berwarna merah (balah). Rasanya sudah mulai enak. Kalau sudah usia 7 tahun Nabi perintahksn untk sholat. Dijaga hingga 10 tahun. Evaluasi. Bacaannya. Masih disuruh-suruh atau tidak. Bahkan Nabi memerintahkan untuk memukul dengan pukulan pendidikan. Jika sholatnya baik, yang lainnya akan baik. Dan perjelas status dia laki-laki atau perempuan. Pisahkan tempat tidur mereka. Apalagi dengan orang lain. 
💐 Usia 10 tahun seharusnya sudah tidak boleh cium tangan dengan gurunya. Sebaiknya pendidikan dipisah mulai usia 10 tahun. Pelanggaran di tahap ini akan buruk di usia berikutnya. 
🌷 Tanamkan ilmu agama terlebih dahulu. Bukan ilmu umum dulu. Bacakan ayat-ayat Al Qur’an. Sucikan hati mereka. Ajari ilmu tafsir dan ilmu hadits Nabi. Sesuai dengan QS. Al Jumu’ah: 2. Lalu kemana ilmu eksak? Itu nanti. Ada di dalam QS. Al Baqoroh.
🌳 Fase rusyda. Usia baligh. Bicara masalah harta. QS. An-nisaa’: 5 dan 6. Kemampuan menyimpan dan mengembangkan uang dengan baik, dll.
🌾 Kemudian kurma itu dari berwarna merah menjadi ruthob. Warnanya coklat. Rasanya manis sekali. Pada saat inilah anak akan berperilaku baik dengan sendirinya karena telah ditanamkan nilai-nilai kebaikan pada fase-fase sebelumnya.
🌺 Semoga kelak anak kita menjadi anak yang sholih dan sholihah. Aamiin.

📚 Oleh: Budi Ashari, Lc.

Kiriman Pipit, Fasil 21.

🌾🍃🌾🍃🌾🍃

Sahabat blogger,

💝 Seberapa penting berkumpul kembali dalam surga bagi keluarga anda?

💝 Dalam skala 1-10 seberapa besar komitment sahabat sekalian untuk mengumpulkan keluarga dalam surgaNya nanti?

💝 Apa saja yang harus sahabat lakukan berbeda agar keluarga bisa berkumpul lagi dalam surgaNya?

💝 Kebiasaan apa yang harus dibangun mulai hari ini agar keluarga dapat berkumpul lagi dalam surgaNya?

Semoga kita semua dapat berkumpul lagi bersama keluarga besar kita dalam surgaNya. Aamiin YRA.

Sudahkah kata-kata kita menjadi benih kebaikan?




Kisah nyata di AS. 

Ada seorang wanita kulit putih yang hendak melakukan perjalanan dengan seorang putranya yang berusia 6 tahun. Mereka menaiki taksi yang dikemudikan oleh seorang pria kulit hitam.

Karena si anak tak pernah melihat orang kulit hitam sebelumnya, maka hatinya sangat ketakutan dan bertanya pada ibunya:

“Ibu, apakah orang ini bukan penjahat? Mengapa kulitnya begitu hitam?”

Sopir tadi sangat sedih mendengarnya.

Saat itu pula, sang ibu berkata pada anaknya: “Paman sopir ini bukan orang jahat, dia adalah orang yang sangat baik.”

Anak terdiam sejenak, lalu bertanya lagi: 

“Jika dia bukan orang jahat, lalu apakah dia pernah melakukan sesuatu yang buruk, sehingga kulitnya begitu hitam?” 

Mendengar perkataan anak ini, mata pria kulit hitam itu berkaca-kaca, tapi dia ingin tahu bagaimana wanita kulit putih itu menjawab pertanyaan itu.

Ibu ini menjawab: “Dia adalah pria yang sangat baik, juga tak pernah berbuat jahat. Bukankah bunga-bunga di kebun rumah kita ada yang berwarna merah, putih, kuning dan warna lainnya?

“Benar bu!” 

“Bukankah biji benih dari semua bunga tersebut berwarna hitam?”

Anak ini berpikir sejenak, “Benar bu! Semuanya berwarna hitam.”

“Benih hitam itu yang memekarkan bunga-bunga berwarna-warni yang indah, sehingga dunia menjadi penuh warna-warni juga, bukankah begitu anakku?” 

“Benar bu!” Anak ini seakan tiba-tiba tersadarkan dan berkata:

“Kalau begitu pasti paman sopir ini bukan orang jahat! Terima kasih paman sopir! Anda telah membuat dunia menjadi penuh warna-warni, saya akan berdoa untukmu.”

Anak polos ini lalu mulai komat-kamit berdoa, sopir kulit hitam ini tak bisa menahan diri lagi utk tidak mengalirkan air mata.

Penjelasan yang bijak, membuat pengertian yang mendalam. Sudah bijaksanakah kita memberikan penjelasan-penjelasan terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita, agar dapat menenangkan dan mendamaikan suasana, tak ada lagi saling curiga mencurigai?

Edy Suwito Phua, Group Qi for Health.

Demi masa, termasuk orang yang rugikah kita? Cukupkah waktu kita untuk orang tua?


   

Di bawah ini adalah kisah nyata.

Selama 52 tahun ayahku bangun setiap pukul 5.30 pergi kerja dan pulang jam 17.30. Aku tdk pernah melihatnya tidur siang, ataupun hobi dan aktivitas lain, selain mengurus dan menghidupi keluarga.

Ia tak pernah meminta bantuan apa-apa padaku, kecuali sekedar memegang martil saat membetulkan sesuatu, itu caranya untuk berkomunikasi denganku.

Pada waktu aku berumur 22 tahun aku sekolah di luar kota, sampai aku berkeluarga dan ayah menelepon setiap hari. Beliau selalu menunjukkan perhatiannya pada keluargaku tanpa pernah sedikit pun mengeluh masalah yang dihadapinya. Tapi aku terlalu sibuk karena sebagai pengacara sampai tak punya waktu bercakap dengannya.

Waktu aku membeli rumah pertamaku, beliau sibuk membantu mengecat dan merapikan taman tanpa meminta apa pun, kecuali segelas es teh untuk kesempatan berbincang denganku. Tapi waktu itu kami sekeluarga mau liburan akhir pekan sehingga tak sempat banyak bicara dengan ayah.

Dua hari yang lalu dapat kabar dari RS pukul 4 ayah dirawat karena pembengkakan pembuluh darah. Aku segera cari pesawat untuk terbang ke kotanya, di sepanjang jalan teringat semua kenangan akan ayah. Termasuk waktu yang aku sia siakan untuk berbicang dengannya.

Aku baru sadar bahwa aku sungguh sungguh tidak mengenal ayahku dengan baik, aku bersumpah sampai di RS aku akan menghabiskan semua waktu bersama ayah. Aku tiba jam 1 dini hari, ayah sudah pergi 3 jam yang lalu. Kali ini ayah yang tak punya waktu untuk berbincang, bahkan untuk menungguku. 

Sejak itu aku belajar banyak dari ayahku, beliau tak pernah meminta apa-apa kecuali waktuku. 

Anda dapat melihat prioritas hidup seseorang, dengan melihat bagaimana mereka habiskan waktunya.

Setiap kita bisa cari lebih banyak uang, tapi tak bisa lebih banyak waktu. 

Hadiah terbesar yang anda bisa berikan kepada seseorang adalah WAKTU anda. Karena dengan memberi waktu, anda memberi bagian dari hidup anda yang anda TIDAK DAPAT tarik kembali.

Kiriman:

Samuel, Qi for health group

🌹🌻🌹🌻

Demi masa, sesungguhnya manusia itu makhluk yang merugi, kecuali mereka yang beriman, berbuat amal sholeh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Rasulullah saw bersabda:

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346].

Amal sholeh apa yang telah kau berikan pada orang tuamu hari ini?

Mengapa itu penting?

Ibu, ibu, ibu… Bagaimanakah kau akan membahagiakan Ibu hari ini?






🌿Kisah Hikmah

Makan malam terakhir bersama Ibu…

Ada banyak catatan yang mesti diperhatikan oleh seorang anak selepas menikah. Baik ia sebagai anak perempuan maupun laki-laki. Khusus bagi laki-laki, ada penekanan dalam hal ini. Sebab, hingga kapan pun, surga bagi seorang anak letaknya ada pada kaki ibunda.

Selain itu, selepas menikah, bakti seorang anak sama sekali tak otomatis terputus dengan alasan telah memiliki keluarga sendiri. Dalam hal ini, penting kiranya bagi kedua pasangan dan keluarga terdekat untuk saling mengingatkan.

Jangan sampai kisah ini terjadi antara diri dan ibu kita. Sebuah kisah haru nan memilukan ini, patut dijadikan cermin bagi kehidupan kita; sebagai anak maupun orangtua.

🌻🌻🌻

Sebutlah namanya Fulan. Sudah 21 tahun ia menikah dengan seorang wanita bernama Fulanah. Tepat di usia ke 21 pernikahannya, sang istri bertanya menawarkan, “Mas, tak berkenankah kau makan malam bersama seorang wanita?” Sang suami yang memang tak memiliki saudara dan anak wanita itu bertanya kebingungan, “Maksudmu?”

Lantas dijelaskanlah oleh sang istri, “Esok, keluarlah untuk makan malam bersama ibu.” Aduhai, rupanya Fulan ini amat sibuk mengurusi keluarga, pekerjaan dan kehidupannya. Lanjut Fulanah, “Sudah 21 tahun, sejak menikah denganku, kau tak pernah makan malam bersama ibu,” katanya menerangkan. “Teleponlah beliau, ajaklah makan malam. Beliau pasti amat mendambakan kebersamaan denganmu.”

Segeralah Fulan menelepon sang ibu. Dalam perbincangan udara itu, disampaikanlah maksudnya. Sang ibu yang telah lama menjanda dan hidup bersama keluarga lainnya itu amat sumringah mendengar ajakan itu. Meskipun, ada rasa tak percaya akan ajakan mengagetkan dari anak yang amat disayanginya. Pasalnya, masa 21 tahun bukanlah bilangan waktu yang sebentar.

Hari yang direncanakan pun menyapa. Fulan menuju rumah ibunya. Sesampainya di depan rumah sang ibu, sosok janda yang sudah lama mendambakan kebersamaan bersama anaknya itu tengah menunggu, tepat di rahang pintu. Tak ingin diketahui oleh saudaranya yang lain, sang ibu langsung menyambut, menghampiri dan bergegas masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, terjadilah perbincangan kecil antara keduanya. Tentang rumah makan dan menu terbaik yang hendak mereka tuju dan santap malam ini. Tak lama, tibalah mereka di tempat makan terbaik di kota itu.

Lamat-lamat, sang anak memerhatikan pakaian yang dikenakan oleh ibunya. Agak sempit. Rupanya, itu adalah pakaian terakhir yang diberikan oleh almarhum suaminya. Duhai, sang anak ini sampai lupa membelikan pakaian untuk ibunya.

Maka datanglah pelayan pembawa menu. Disodorkanlah daftar makanan yang hendak dipesan. Ternyata, sang ibu sudah tak kuasa membaca. Dengan senyum, Fulan menawarkan, “Aku bacakan menunya. Tunjuk saja menu apa yang Ibu kehendaki.”

Lantas dipesanlah aneka jenis makanan yang dihidangkan, tak lama kemdian.

Bersebab bahagianya yang memuncak lantaran diajak makan malam oleh anak kesayangannya, selera makan sang ibu tenggelam seketika. Sama sekali tak berminat untuk mencicipi, apalagi melahapnya. Sosok yang sudah hampir terbenam masa hidupnya itu hanya memerhaikan anaknya, dengan cinta dan rindu yang kian bertambah.

Di tengah menikmati menu makan malamnya, Fulan berkata, “Bu, ini yang pertama sejak 21 tahun yang lalu. Maafkan anakmu ini. Esok kita akan makan malam lagi untuk yang kedua.”

Mendengar kalimat itu, mata sang ibu berbinar sumringah. Binar bahagia itu semakin bertambah hingga kedua insan itu pulang. Sang anak mengantarkan ibunya ke kediamannya, sementara ia kembali ke rumahnya.

Waktu-waktu selepas itu, adalah waktu menuggu nan membahagiakan bagi sang ibu. Ditungguilah ponselnya guna berharap panggilan dari anaknya. Sementara itu, di belahan tempat lain, sang anak tetap sibuk dengan dunia, pekerjaan dan kehidupannya. Ia, benar-benar lupa dengan janji yang diungkapkannya sendiri.

Lantaran usia yang menua, sang ibu pun sakit. Makin hari, bertambah parah sakitnya. Alasan sibuk pun membuat Fulan tak kunjung membesuk ibunya. Hingga akhirnya, wanita berhati lembut itu wafat sebelum sang anak sempat menjenguknya.

Proses pemakaman pun berlangsung dengan lancar. Ada haru nan pilu yang menelisik ke dalam hati Fulan. Perasaan bersalah selalu datang belakangan. Andai perasaan itu bisa datang lebih dulu, mungkin saja ia akan bisa menebus dosanya.

Lepas pulang dari pemakaman, ponselnya bergetar. Diangkatklah oleh si Fulan. Tertera dalam layar, pemanggil adalah ruma makan tempat ia dan ibunya makan malam tempo hari. “Halo, Pak Fulan,” ucap suara dari seberang. Lepas disahut, penelepon melanjutkan, “Maaf, Pak. Dalam catatan kasir kami, bapak telah memesan tempat makan malam untuk dua orang. Tagihannya suda dibayar oleh Ibu anda.”

Entahlah apa yang dirasa olehnya. Tanpa penutup, dimatikanlah ponselnya sembari bergegas menuju rumah makan tersebut. Sesampainya di sana, sang kasir menyerahkan sebuah pesan tertulis tangan. Dari sang ibu. Tertera di dalamnya, “Nak, aku mengerti. Malam ini adalah makan malam terakhir kita. Meski kau sampaikan akan ada yang kedua, aku tak terlalu yakin. Maka, makanlah bersama istrimu. Aku sudah membayarnya untumu dengan uang Ibu.”

“Ibu, Ibu, Ibu,” demkianlah pesan Rasulullah Saw. Sosok mulia itu harus didahulukan dari sosok bapak. Sosok ibu adalah mutiara kebaikan nan tak tergantikan. Selalu ada mutiara yang bisa digali darinya. Pasti ada hikmah dari wanita yang mungkin saja, sudah kita sia-siakan sejak lama.

Rabbi, ampuni dosa kami, dosa bapak dan ibu kami. Sayangilah keduanya, sebagaimana mereka menyayangi kami di masa belia.

*Disadur bebas dari buku 1001 Alasan Kamu Harus Sayangi Ibumu, Monde Ariezta.

Kiriman:

Ibu Tuti, ODOJ fasil 8

🌻🌻🌻🌻

Bagaimanakah kau akan bahagiakan ibumu hari ini?