Cobaan dan ujian

Pada dasarnya, manusia hidup akan selalu ada cobaan dan ujian. Ujian dari Allah bisa berupa kesenangan dan kesulitan. Seperti firmanNya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (Al Anbiya : 35)

Banyak diantara kita yang mengeluh ketika diuji dengan kesulitan. Mengeluh karena merasa beratnya kesulitan yang dihadapi, mengeluh karena sulitnya mencari jalan keluar, mengeluh karena besarnya beban yang harus ditanggung, mengeluh karena kesulitan yang terlalu menyakitkan, mengeluh karena sudah lelah menghadapi kesulitan yang tak kunjung selesai, bahkan sampai ada yang mengeluh dan berpikir bahwa Allah sudah tidak sayang lagi kepadanya, naudzubillahi min dzalik.

Para alim-ulama sering mengartikan bahwa salah satu penyebab keluh-kesah yang teramat besar adalah karena kurangnya tingkat keimanan kepada Allah. Karena biasanya, pada saat ketika kesulitan tersebut tidak bisa diselesaikan dan tidak kunjung selesai, maka keyakinan atas doa yang dipanjatkan menjadi berkurang, dan ketika itulah iblis akan masuk dengan mudahnya untuk menggoyang keimanan kita.

Padahal Allah berkali-kali menyebutkan dalam Al Qur’an bahwa Dia tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuan hambanya.

“…seseorang tidak akan dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya…” (Al Baqarah : 233)

” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (Al Baqarah : 286)

“…Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kemampuannya…” (Al An’aam : 152)
.
“…Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” (Al Mu’minuun : 62)

“…Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya…” (Ath Thalaaq : 7)

Lihatlah, Allah telah berjanji dalam Al Qur’an sebanyak 5x kepada kita bahwa Dia tidak akan membebani kita dengan ujian dan cobaan diluar kemampuan dan kesanggupan kita.

Dalam hal ini, Allah menunjukkan bahwa Dia Maha Tahu, Maha Pengasih juga Maha Penyayang. Dengan segala PengetahuanNya dan kasih sayangNya, Allah menguji kita tanpa melebihi kemampuan kita. Juga ujian tersebut sebagai bentuk kasih sayangNya dalam rangka menghapus dosa dan menambah keimanan kita.

Di sisi lain juga dapat diartikan bahwa Allah percaya kepada kita bahwa kita mampu menghadapi ujian dan cobaan. Dengan segala rizki dan kekuatan yang telah Allah berikan, Dia percaya bahwa kita mampu menyelesaikan kesulitan dan melewati ujian dalam keadaan beriman.

Sekarang, semua tergantung pada kita. Apakah kita tidak percaya pada janji Allah? Apakah kita mau mengabaikan kasih sayang Allah yang diberikan lewat sebuah kesulitan? Dan apakah kita mau merendahkan diri kita dengan mengeluh dan merasa tak mampu mengahadapi kesulitan padahal Allah percaya bahwa kita mampu melewatinya?

Semoga, dengan rizki dan kekuatan yang telah Allah berikan, kita mampu melewati ujian dalam keadaan bertambah iman. Aamiin…

eLJe
Via Mas Faisal Tjatjo

🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Twends, semoga kita selalu ridlo dengan takdirNya bagi kita, dan semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, yaitu orang yang sabar dalam kesempitan dan syukur dalam kelapangan. Kita beruntung karena sabar dan syukur inilah yang akan membawa kita ke dalam surgaNya, bahagia yang abadi. Amin Amin YRA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s