Kisah Nabi Yusuf 9 – Keruntuhan Kuil Amun


Simpanan gandum di kuil Amun mulai habis namun para biarawan tak bersedia membayar gandum dengan harga tiga kali lipat lebih mahal dari yang lainnya. Mereka mencoba bernegosiasi dengan Akhnatun namun Akhnatun menyerahkan semua urusan ini kepada Yusuf. Akhirnya para biarawan pun mengancam untuk mengimpor gandum dari negara lain. Mereka mencari gandum ke mana-mana dan mencoba bernegosiasi melalui Ibu suri. Tak ada yang berhasil. Satu hal yang tak mereka ketahui sebelumnya adalah bahwa paceklik terjadi di semua negri lain.

Anekmaho tak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas kemenangan. Yusuf. Kemenangan yang didapat tanpa pasukan, tanpa pertumpahan darah, tanpa menghukum siapapun. Kemenangan yang berkelanjutan bukan tak mungkin didasari oleh kebenaran yang sesungguhnya.

Akhirnya mereka terpaksa mengorbankan emas perak simpanan kuil untuk membeli gandum. Mereka tak mau kehilangan kehormatan karena tak mampu menyediakan makanan gratis bagi sisa-sisa pengikut setianya. Memang hal inilah yang menjadi tujuan Nabi Yusuf as dan Akhnatun karena kuil Amun merasa kuat dengan adanya kekayaan yang tak pernah dapat disentuh istana dan tak pernah dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat Mesir ataupun pengikutnya.

Ketika suatu hari Yusuf mendengar mereka mengatakan harta mereka mulai habis. Yusuf langsung memberi tahu raja bahwa waktu yang ditunggu-tunggu raja untuk menghancurkan kemusyrikan telah tiba.

Mendengar laporan Yusuf Akhnatun memerintahkan Horenhop, komandan istana, untuk mengumumkan bahwa Mesir telah menjadi negara tauhid, semua rakyat harus menyembah Allah yang Satu, yang mereka namakan Atun, dan penyembah Amun akan dihukum. Horenhop juga diperintahkan menduduki kuil Amun.

Firaun yang berhati halus ini khawatir akan terjadi pertumpahan darah. Yusuf pun menghiburnya. “Memang seringkali terjadi pertumpahan darah menuju keimanan, membersihkan jiwa yang kotor dan menuntun pada kedamaian,” kata Yusuf menenangkan Akhnatun.

Rakyat yang tadinya miskin dan telah manikmati pemerataan kesejahteraan menyambut gembira pengumuman ini. Amenhotep dan para biarawan Amun sangat berang. Badu Amun, panglima perang kuil, menyerang lumbung untuk merampas gandum. Rencana penyerangan ini sempat tercium Mimisabu dan digagalkan Yusuf.

Penaklukan Kuil Amun

Badu Amun menggalang kekuatan dari penduduk yang lalu lalang di depan kuil untuk membantunya mempertahankan kuil. Hal ini tak mudah karena penduduk banyak yang membenci biarawan kuil.
Horenhop menyerang kuil Amun dan berhasil mengalahkan Badu Amun. Tak ada perlawanan yang berarti sehingga Yusuf pun dapat masuk dengan mudah.

Ketika Yusuf tak dapat menemukan patung Amun Anekmaho menyatakan bahwa Amun telah naik ke langit. Ternyata patung Amun disembunyikan di bawah tanah. Para biarawan pun dipermalukan oleh ulah kebohongan mereka sendiri.

Dengan digiringnya para biarawan ke penjara habislah sudah penyembahan pada dewa-dewa. Sejarah mencatat peristiwa ini sebagai transformasi keagamaan di masa Akhnatun.

Bersambung…

Kisah Nabi Yusuf 8 – Paceklik di Mesir


Paceklik pun tiba

Selama tujuh tahun rakyat menikmati panen di seluruh penjuru negeri Mesir. Hasil berlimpah ruah dan rakyat pun dengan senang hati menyimpan hasil gandum mereka sebagai simpanan paceklik.

Suatu malam Yusuf datang ke istana raja memerintahkan Minarus mempersiapkan makanan yang banyak. Ternyata tak lama setelah itu raja bangun merasa sangat lapar. Rupanya itulah pertanda datangnya masa paceklik. Rasa lapar melanda seluruh rakyat Mesir. Tanaman pun mengering di mana-mana. Rakyat pun sadar, termasuk para biarawan Amun, bahwa paceklik yang diamalkan Yusuf telah dimulai.

Yusuf memerintahkan agar semua rakyat Mesir berhenti menanam karena paceklik telah tiba. Data rakyat kaya dan miskin diperiksa kembali untuk menentukan kepada siapa gandum dijual dan kepada siapa diberikan.

Pembagian dan penjelasan gandum pun dimulai. Setiap rakyat diberikan jatah sesuai dengan kontribusinya selama masa panen setiap bulan. Satu lumbung untuk jatah satu tahun.

Pemerataan kesejahteraan di Mesir

Budak tak dapat mengambil sendiri jatah gandum. Setiap majikan harus menanggung hidup budaknya. Budak yang sudah merdeka dan dapat membuktikannya dengan membawa surat merdeka dari tuannya, akan dianggap rakyat miskin dan dianggap budak kerajaan, sehingga kerajaan akan memberikan jatah gandum gratis dan pekerjaan.

Orang kaya yang membayar pajak dapat membeli gandum dengan harga normal, namun mereka yang tak membayar pajak, termasuk kuil Amun, harus membayar tiga kali lipat.

Mereka yang hanya memiliki hewan ternak dan kehabisan uang dapat membayar gandum dengan hewan ternaknya. Hewan-hewan tersebut menjadi milik negara dan dapat diambil sewaktu-waktu.

Dengan cara ini kesejahteraan tersebar merata. Budak-budak dimerdekakan dan mendapat jaminan dari negara, dan orang kaya mulai kehabisan harta membiayai jatah gandum keluarga dan budak-budaknya.

Pemerataan ini makin memperkuat posisi Yusuf sebagai tangan kanan raja yang dicintai dan didukung rakyat Mesir.

Bersambung…

Kisah Nabi Yusuf 7 – Turunnya pamor biarawan Amun dan menikahnya Yusuf as


Pamor biarawan Amun makin mundur

Anekmaho yang tadinya menghina takwil mimpi Yusuf dan tak mau percaya bahwa akan ada tujuh tahun paceklik kecewa melihat dukungan rakyat pada Yusuf. Ia pun akhirnya perlahan-lahan mengantisipasi kalau saja takwil tersebut benar. Perlahan-lahan ia mengakui keunggulan dan kemenangan Yusuf.

Anekmaho memerintahkan seluruh kuil Amun di Mesir untuk membuat lumbung sendiri dan menghasut penduduk untuk mengumpulkan gandum di kuil Amun dan tidak membayar pajak. Gandum yang mereka kumpulkan adalah gandum tak bertangkai. Mereka memaki Yusuf di mana pun mereka berada karena mengumpulkan gandum bertangkai.

Setelah lima tahun disimpan gandum-gandum tersebut rusak. Lumbung penyimpanan padi para biarawan penuh gandum busuk dan tikus. Mereka diam-diam membuang semua simpanan gandumnya ke sungai di malam hari. Sayang rencan tersebut tercium pihak kerajaan dan Horenhop, pengawal setia raja, menemukan mereka. Biarawan kuil Amun pun tertangkap tangan sedang membuang gandum rusak.

Raja sangat marah. Hal ini dianggap pengkhianatan kuil pada upaya bersama sluruh masyarakat untuk menyelamatkan negara di saat paceklik nanti, masyarakat pun melaknat biarawan kuil. Para biarawan pun mencari tahu apakah gandum yang disimpan Yusuf ikut rusak. Ternyata tidak. Yusuf pun mengatakan inilah bukti kebenaran ilmu yang diwahyukan Allah swt, agar menyimpan gandum beserta tangkainya. Hal yang telah menjadi bahkan bagi biarawan kuil Amun untuk menghina Yuzarsif ternyata adalah kunci kemenangan Yusuf. Ternyata memang menyimpan gandum selama tujuh tahun harus dengan tangkainya untuk mencegah kerusakan gandum. Mereka baru melihat bukti dari keunggulan ilmu Nabi Yusuf as. Tapi terlambat, gandum sudah rusak, masyarakat Mesir sudah membenci mereka.
Kekalahan telak bagi pihak Kuil Amun.

Yusuf menikah

Di saat Yusuf menjalankan tugas berkeliling penjuru negeri Mesir melihat perkembangan programnya Raja Akhnatun memanggilnya untuk menikahkannya dengan Assinat, seorang gadis cantik beragama tauhid, putri seorang pemuka agama tauhid pula.

Yusuf pun sangat bahagia. Mereka dikaruniai dua orang anak. Kepada Assinat Yusuf menumpahkan suka dukanya, termasuk kerinduannya pada Nabi Yakub as ayahnya. Saat Assinat hendak melahirkan putri pertama Yusuf sangat khawatir mengingat ibunda Rahil yang berpulang setelah melahirkan Bunyamin adiknya. Yusuf berdoa, bersujud dan memegang kalungnya. Ia berkata pada Malik bahwa dalam kalungnya itu ada nama Ahmad, seorang Nabi dan rasul terakhir yang dijanjikan Allah bagi seluruh umat manusia. Mengingat hal itu membuat Yusuf merasa tenang.

Di tengah kebahagiaannya ada hal aneh terjadi. Yusuf berkali-kali bermimpi dipanggil seorang perempuan berkerudung dalam gelap yang tak nampak mukanya. Yusuf pun sangat heran dan risau. Ia yakin ada seseorang yang membutuhkan bantuannya namun ia tak tahu siapa orang ini. Assinat pun menghiburnya. Pasti ada maksud Allah menutup muka orang ini. Kalau tiba saatnya pasti Allah akan menuntun Yusuf menuju orang ini.

Bersambung…

Kisah Nabi Yusuf 6


Amenhotep menjadi Akhnatun

Suatu hari raja Amenhotep mendapat laporan dan pembantu Ibu Suri, Ny Tee, bahwa biarawan kuil merencanakan tipu muslihat untuk membunuh Yuzarsif, atau Nabi Yusuf. Amenhotep meradang dan merasakan kemarahan yang memuncak pada biarawan kuil. Ia memanggil Yuzarsif untuk membahas penjagaan yang lebih ketat bagi Yuzarsif. Yuzarsif tak terlalu mengkhawatirkan rencana pembunuhan tersebut dan mengajak raja membahas mengenai hal yang lebih mendasar: tauhid.

Raja Amenhotep menyatakan bahwa ia sudah lama kafir pada Amun, dan ia beriman pada Tuhan yang menciptakan seluruh manusia dan alam semesta.
Yusuf bertanya, “yang terpenting apakah Paduka beriman pada Tuhan pencipta semua makhluk?”
Raja menjawab, “Ya, aku beriman padaNya dan aku beriman pada nabiNya. Bolehkah aku memanggilnya Atun? Amenhotep… Aku benci nama yang disandingkan dengan Amun. Aku penyembuh Atun, Tuhan yang satu, mulai saat ini aku mengganti namaku menjadi Akhnatun.”

Dengan semangat tauhidnya, raja kemudian berencana menjadikan agama tauhid ini sebagai agama resmi kerajaan Mesir. Yuzarsif mencegahnya. Menurutnya rakyat masih banyak yang cinta Amun. Belum saatnya mengganti agama seluruh masyarakat. Apabila raja mengumumkan agama dan nama barunya, maka kekuatan Amun akan perlahan-lahan melemah dan akan tiba saatnya agama tauhid ditetapkan.

Ratu Nefertiti pun otomatis beriman pada Allah, atau yang mereka sebut sebagai Atun, dan nabiNya. Ia pun menyetujui rencana Yuzarsif. Dengan mengganti agama raja, kuil istana pun akan ditiadakan dan para biarawan kuil Amun tak akan dapat lagi memasuki istana. Raja pun memerintahkan Minarus untuk selalu mendampingi Yuzarsif, karena tentu seluruh pengikut Amun akan marah dan mencoba membunuh Yuzarsif, sebagai orang yang dianggap menjadi biang keladi perpindahan agama raja.

Raja mengumumkan agama barunya

Keesokan harinya kebetulan adalah hari penghormatan Amun. Pada hari itu Amun mengalahkan tuhan Mesir sebelumnya, Ra, dan menjadi tuhan seluruh rakyat Mesir. Hari besar itu selalu diperingati rakyat Mesir setiap tahun pada masa itu, dan raja selalu menjadi pemandu acara, membersihkan patung Amun dengan menggunakan pakaian zirah khusus untuk upacara itu. Seperti biasa semua pejabat istana dan biarawan kuil hadir di istana untuk menyaksikan proses penghormatan pada Amun yang dipimpin oleh raja.

Pada hari itu Amenhotep 4 yang sudah menjadi Akhnatun memasuki ruangan menggunakan pakaian biasa. Ia tak menggunakan baju zirah khusus untuk acara tersebut, tidak membungkuk di depan patung Amun dan tak melakukan penghormatan apapun pada patung Amun. Semua tamu, terutama para biarawan kuil, yang menghadiri upacara tersebut di istana dibuat sangat bingung. Mereka ramai berbisik-bisik. Pada saat itulah raja mengumumkan ketauhidannya.

Raja berkata, “Mulai saat ini aku tak akan menyembah Amun, tapi menyembah Allah Yang Maha Esa.”
Anekmaho berdiri terpana mendengar kata-kata raja, ibu suri memalingkan wajahnya, dan semua tamu makin ramai menyatakan kekagetannya.

Dilanjutkannya, “Ya, aku beriman pada Allah Yang Maha Esa, aku beriman pada Tuhan seluruh langit, namun aku tidak menetapkan agama rakyat Mesir, setiap rakyat bebas menentukan agamanya.”

Raja pun berseru pada biarawan kuil Amun, “wahai para biarawan, keluarkan patung ini dari sini. Istana Akhnatun tak lagi membutuhkan patung ini mulai dari sekarang, termasuk kuil Amun, tak ada lagi kuil Amun di istana.” Raja mendorong patung Amun, ditangkap oleh para biarawan disertai desis kaget para hadirin dan tatapan kemarahan Anekmaho. Yuzarsif pun menjadi sasaran tatapan keji para biarawan dan pendukung Amun dalam ruangan tersebut.

Raja melanjutkan, “wahai para pembesar sekalian, bangsawan dan orang-orang terhormat Mesir, mulai hari ini aku menyembah Tuhan Yang Esa dan mengganti namaku, Amenhotep, menjadi Akhnatun, yang artinya abdi Atun (Allah). Sebarkan lah berita ini ke seluruh penjuru Mesir. Nama raja Mesir sekarang adalah Akhnatun.”

Di literatur barat kita bisa mendapatkan nama ini sebagai Akhenaton, raja Mesir yang melaksanakan revolusi beragama, dari politeisme menjadi moniteisme. Melawan tradisi menyembah dewa-dewa dan menggantinya dengan agama tauhid tentu tak mudah dan membutuhkan keberanian luar biasa.

Bersambung…

Kisah Nabi Yusuf 6


Amenhotep menjadi Akhnatun

Suatu hari raja Amenhotep mendapat laporan dan pembantu Ibu Suri, Ny Tee, bahwa biarawan kuil merencanakan tipu muslihat untuk membunuh Yuzarsif, atau Nabi Yusuf. Amenhotep meradang dan merasakan kemarahan yang memuncak pada biarawan kuil. Ia memanggil Yuzarsif untuk membahas penjagaan yang lebih ketat bagi Yuzarsif. Yuzarsif tak terlalu mengkhawatirkan rencana pembunuhan tersebut dan mengajak raja membahas mengenai hal yang lebih mendasar: tauhid.

Raja Amenhotep menyatakan bahwa ia sudah lama kafir pada Amun, dan ia beriman pada Tuhan yang menciptakan seluruh manusia dan alam semesta.
Yusuf bertanya, “yang terpenting apakah Paduka beriman pada Tuhan pencipta semua makhluk?”
Raja menjawab, “Ya, aku beriman padaNya dan aku beriman pada nabiNya. Bolehkah aku memanggilnya Atun? Amenhotep… Aku benci nama yang disandingkan dengan Amun. Aku penyembuh Atun, Tuhan yang satu, mulai saat ini aku mengganti namaku menjadi Akhnatun.”

Dengan semangat tauhidnya, raja kemudian berencana menjadikan agama tauhid ini sebagai agama resmi kerajaan Mesir. Yuzarsif mencegahnya. Menurutnya rakyat masih banyak yang cinta Amun. Belum saatnya mengganti agama seluruh masyarakat. Apabila raja mengumumkan agama dan nama barunya, maka kekuatan Amun akan perlahan-lahan melemah dan akan tiba saatnya agama tauhid ditetapkan.

Ratu Nefertiti pun otomatis beriman pada Allah, atau yang mereka sebut sebagai Atun, dan nabiNya. Ia pun menyetujui rencana Yuzarsif. Dengan mengganti agama raja, kuil istana pun akan ditiadakan dan para biarawan kuil Amun tak akan dapat lagi memasuki istana. Raja pun memerintahkan Minarus untuk selalu mendampingi Yuzarsif, karena tentu seluruh pengikut Amun akan marah dan mencoba membunuh Yuzarsif, sebagai orang yang dianggap menjadi biang keladi perpindahan agama raja.

Raja mengumumkan agama barunya

Keesokan harinya kebetulan adalah hari penghormatan Amun. Pada hari itu Amun mengalahkan tuhan Mesir sebelumnya, Ra, dan menjadi tuhan seluruh rakyat Mesir. Hari besar itu selalu diperingati rakyat Mesir setiap tahun pada masa itu, dan raja selalu menjadi pemandu acara, membersihkan patung Amun dengan menggunakan pakaian zirah khusus untuk upacara itu. Seperti biasa semua pejabat istana dan biarawan kuil hadir di istana untuk menyaksikan proses penghormatan pada Amun yang dipimpin oleh raja.

Pada hari itu Amenhotep 4 yang sudah menjadi Akhnatun memasuki ruangan menggunakan pakaian biasa. Ia tak menggunakan baju zirah khusus untuk acara tersebut, tidak membungkuk di depan patung Amun dan tak melakukan penghormatan apapun pada patung Amun. Semua tamu, terutama para biarawan kuil, yang menghadiri upacara tersebut di istana dibuat sangat bingung. Mereka ramai berbisik-bisik. Pada saat itulah raja mengumumkan ketauhidannya.

Raja berkata, “Mulai saat ini aku tak akan menyembah Amun, tapi menyembah Allah Yang Maha Esa.”
Anekmaho berdiri terpana mendengar kata-kata raja, ibu suri memalingkan wajahnya, dan semua tamu makin ramai menyatakan kekagetannya.

Dilanjutkannya, “Ya, aku beriman pada Allah Yang Maha Esa, aku beriman pada Tuhan seluruh langit, namun aku tidak menetapkan agama rakyat Mesir, setiap rakyat bebas menentukan agamanya.”

Raja pun berseru pada biarawan kuil Amun, “wahai para biarawan, keluarkan patung ini dari sini. Istana Akhnatun tak lagi membutuhkan patung ini mulai dari sekarang, termasuk kuil Amun, tak ada lagi kuil Amun di istana.” Raja mendorong patung Amun, ditangkap oleh para biarawan disertai desis kaget para hadirin dan tatapan kemarahan Anekmaho. Yuzarsif pun menjadi sasaran tatapan keji para biarawan dan pendukung Amun dalam ruangan tersebut.

Raja melanjutkan, “wahai para pembesar sekalian, bangsawan dan orang-orang terhormat Mesir, mulai hari ini aku menyembah Tuhan Yang Esa dan mengganti namaku, Amenhotep, menjadi Akhnatun, yang artinya abdi Atun (Allah). Sebarkan lah berita ini ke seluruh penjuru Mesir. Nama raja Mesir sekarang adalah Akhnatun.”

Di literatur barat kita bisa mendapatkan nama ini sebagai Akhenaton, raja Mesir yang melaksanakan revolusi beragama, dari politeisme menjadi moniteisme. Melawan tradisi menyembah dewa-dewa dan menggantinya dengan agama tauhid tentu tak mudah dan membutuhkan keberanian luar biasa.

Bersambung…

Kisah Nabi Yusuf 5


Yusuf memimpin Mesir

Zulaikha membebaskan Mimisabu, budaknya yang juga sahabat kecil Yusuf. Mimisabu pun langsung pergi menemui Yusuf untuk mengabdi padanya. Malik bin Azr, pemimpin rombongan yang mengeluarkan Yusuf dari sumur, menyesal setengah mati begitu sadar bahwa Yusuf sesungguhnya adalah sepupunya dan nabi Allah. Bertahun-tahun ia tinggal di Mesir untuk mencari kesempatan menebus dosa. Ketika ia tahu Yusuf bebas dari penjara ia pun berusaha menemui Yusuf. Pada saat yang bersamaan semua tahanan penjara yang dibebaskan raja atas jaminan Yusuf pun berusaha menemuinya. Yusuf pun menemukan “the Winning Team” pasukan berani matinya untuk membantu menjalankan tugas-tugasnya. Malik dan Mimisabu diangkatnya menjadi tangan kanannya. Teman-teman penjara mendapat tugas membangun lumbung gandum, mendata kondisi rakyat, dan melancarkan kampanye membangun dukungan seluruh rakyat Mesir. Secara rutin mereka menyusun strategi menyelamatkan negeri Mesir dari paceklik yang akan berlangsung tujuh tahun lamanya.

Bersama teman-temannya Yusuf membangun tujuh lumbung yang disediakan untuk menyimpan persediaan gandum untuk tujuh tahun. Untunglah ada di antara teman-temannya dari penjara yang pandai mendirikan bangunan. Konstruksi yang dibangun diperkirakan cukup baik untuk menjaga agar lumbung kuat menampung gandum beserta tangkainya, dan mencegah kerusakan gandum tersebut akibat hama dan cuaca. Dasar lambung dibuat sebesar mungkin, diisi dengan batu. Atap lambung dibuat berlubang dengan jembatan untuk memasukkan gandum ditutup dengan atap yang dengan sempurna melindungi dari hujan.

Tujuh lumbung untuk persediaan tujuh tahun dibangun bersamaan untuk menjamin keamanan lumbung.

Quran mengisahkan:

“Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu [mulai] hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”. Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara [Mesir]; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; [dia berkuasa penuh] pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa” (12:54-57).

Butifar yang merasa sangat berdosa ketika aib keluarganya terbuka di istana, tak lama kemudian meninggal. Raja pun mengangkat Yusuf menjadi orang nomor dua paling kuat setelah raja Mesir. Anekmaho tak tinggal diam. Ia membayar pembunuh bayaran untuk membunuh Yusuf. Untunglah Mimisabu, salah seorang budak Butifar dan sahabat kecil Yusuf, menyelamatkannya. Malik berhasil membunuh pembunuh bayaran yang ternyata adalah pencuri yang dijebloskan Yusuf ke penjara dan menyimpan dendam kesumat pada Yusuf.

Yusuf memberdayakan masyarakat Mesir untuk bertani

Yusuf mendorong semua rakyat Mesir untuk bertani dan menyerahkan gandum ke lumbung kerajaan untuk disimpan. Semua yang menyimpan di lumbung raja akan dijamin kehidupannya oleh kerajaan. Tidak ada paksaan untuk menyerahkan gandum ke kerajaan, semua orang bebas membangun lumbung sendiri untuk menyimpan gandumnya, tapi kerajaan hanya akan menanggung kehidupan rakyat yang menyerahkan gandumnya ke lumbung raja. Yusuf turun langsung ke seluruh penjuru kerajaan, menempatkan teman-temannya di berbagai tempat untuk membantunya membangun dukungan demi kelancaran program ini. Ia berbicara langsung pada rakyat dan berhasil memenangkan hati rakyat.

Yusuf membangun sistem irigasi agar semua tanah di seluruh penjuru negeri Mesir dapat ditanami. Makin banyak yang dapat bertani makin banyak persediaan gandum. Semua rakyat yang mau bercocok tanam akan diberikan tanah sesuai dengan jumlah gandum yang diberikannya.

Pajak penghasilan 20% ditarik untuk membiayai program ini. Semua pembayaran pajak akan diganggu no kehidupannya di masa paceklik, dan yang membayar langsung 7 tahun di muka akan di tanggung selama 14 tahun. Alternatif lain adalah perang. Semua rakyat setuju dengan Yuzarsif (Yusuf) untuk menghindari alternatif ini dan memilih membayar pajak. Mereka yang tak punya uang dapat bertani di lahan-lahan kerajaan. Dukungan rakyat yang besar membuat Yuzarsif makin harum namanya dan tinggi derajatnya di Mesir.

Anekmaho dan kawan-kawan tak tinggal diam. Mereka berupaya menggagalkan upaya Yusuf dengan berbagai cara. Mereka membuat lumbung tandingan. Seluruh rakyat Mesir yang mereka temui mereka pengaruhi agar tak mau menyerahkan gandum pada kerajaan dan menyimpan pada kuil saja. Mereka menghina dan memfitnah Yusuf dengan segala daya upaya.

Yusuf sadar akan upaya tersebut. Di sepanjang jalan yang dilaluinya di seluruh penjuru Mesir ia terus mengingatkan bahwa kerajaan tak akan menanggung kalau ada apa-apa dengan gandum yang mereka simpan.

Salah satu hal yang menjadi cercaan Anekmaho dan kawan-kawan adalah instruksi Yusuf untuk menyerahkan gandum beserta tangkainya. Hal itu dirasa aneh dan tak lazim dilakukan. Ternyata hal ini adalah perintah langsung dari Allah agar gandum tersebut tahan selama tujuh tahun. Hal inilah yang tak diketahui para biarawan kuil dan menyebabkan kegagalan mereka di kemudian hari.

Bersambung…

Kisah Nabi Yusuf as 4


Yusuf mentakwilkan mimpi raja

Suatu malam Amenhotep 4 bermimpi aneh, dan meminta Anekmaho, kepala kuil, memerintahkan ahli tabir mimpi kuil mengartikan mimpi itu, seperti yang dikisahkan di bawah ini:
“Raja berkata [kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya]: “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir [gandum] yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.” Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang tabir mimpiku itu jika kamu dapat menabirkan mimpi.” Mereka menjawab: “[Itu] adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menabirkan mimpi itu” (12:43-44).

Minarus, juru masak istana yang ditakwilkan mimpinya oleh Yusuf, teringat pada Yusuf. Maka ia pun menyarankan agar raja memanggil Yusuf. Sementara kelompok pentakwil mimpi meminta kesempatan berunding agar dapat mengartikan mimpi raja, raja mengutus juru masaknya menerima Yusuf:
“Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat [kepada Yusuf] sesudah beberapa waktu lamanya:
“Aku akan memberitakan kepadamu tentang [orang yang pandai] mena?birkan mimpi itu, maka utuslah aku [kepadanya].”
[Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru]: “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir [gandum] yang hijau dan [tujuh] lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” (46) Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun [lamanya] sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. (47) Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya [tahun sulit], kecuali sedikit dari [bibit gandum] yang kamu simpan. (48) Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan [dengan cukup] dan di masa itu mereka memeras anggur.” (49) Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.” (12:46-50).

Yusuf bersedia menemui raja asalkan raja bersedia memperjelas kasus yang membuatnya masuk penjara. Maka raja pun memanggil Zulaikha dan wanita-wanita yang diundang Zulaikha menyaksikan ketampanan Yusuf sampai tangannya terpotong.

Raja berkata [kepada wanita-wanita itu]: “Bagaimana keadaanmu [1] ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya [kepadamu]?” Mereka berkata: Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan daripadanya. Berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya [kepadaku], dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (51) [Yusuf berkata]: “Yang demikian itu agar dia [Al Aziz] mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. (52) Dan aku tidak membebaskan diriku [dari kesalahan], karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (53) Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku” (12:51-53).

Setelah mendengar kabar bahwa kasusnya telah dibahas dan keadilan telah ditegakkan, Yusuf pun bersedia keluar dari penjara. Begitu tiba di istana, di hadapan para pentakwil mimpi dan Anekmaho, raja Amenhotep 4 sekali lagi bertanya pada Yusuf mengenai arti dari mimpinya. Raja sengaja melakukannya untuk membandingkan Tamsil mimpi Yusuf dan hasil kerja para pentakwil mimpi Anekmaho. Dengan jelas Yusuf pun mengartikan mimpi tersebut, dan raja sangat senang mendengarnya. Raja memuji Yusuf dan Yusuf pun mengatkan bahwa yang seharusnya dipuji adalah Allah swt, Tuhan yang mengajarkannya mentakwilkan mimpi. Petunjuk Allah SWT turun langsung dariNya, bukan rekayasa dan buatan manusia seperti yang dilakukan pentakwil mimpi suruhan Anekmaho, kata Yusuf. Sementara itu untuk kesekian kalinya pentakwil mimpi kuil Amun menyerah.

Di depan semua pejabat istana dan biarawan kuil raja menyatakan kepercayaannya terhadap Yusuf dan memuji Tuhan yang esa, sehingga para biarawan kuil pun malu dan tak berkutik. Dendam mereka pada Amenhotep makin besar. Kini Yusuf pun menjadi sasaran mereka.

Selanjutnya raja bertanya pada Yusuf apa strategi yang harus disiapkan untuk menghadapi tujuh tahun paceklik di Mesir. Kembali Yusuf dengan cerdas memberikan jawaban yang memuaskan raja. Secara rinci tahapan-tahapan yang harus dilakukan disampaikan di depan semua pembesar istana. Kemudian raja menantang para pejabat, siapa yang pantas memimpin pelaksanaan penyelamatan negara tersebut. Saat itu Yusuf mendapat bisikan agar ia mengambil kesempatan tersebut karena inilah kesempatan yang Allah siapkan untuknya. Yusuf pun langsung menawarkan diri untuk membantu raja memimpin program tersebut. Raja sangat senang dibuatnya. Ia pun memohon kepada raja agar Zulaikha dan semua wanita yang pernah menyebabkannya dipenjara selama tujuh tahun dibebaskan bersama semua tahanan yang ditahan bersama Yusuf. Yusuf dapat menjamin bahwa semua temannya dalam penjara telah terbina akhlaknya dan dapat menjadi warga negara yang baik.

Bersambung…