Ikhlaskah kita dengan ketentuanNya? Ikhlas menjemput karunia, ikhlas menerima musibah?


    

 
Assalamualaikum ww

Sebelum kita dilahirkan Allah sudah menetapkan nasib kita. Tanggal lahir, orang tua, adik kakak, jodoh, rizki, penyakit yang diderita sampai kematian menjemput semua sudah digariskan.

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 35:2

Dalam Hadits Muslim, Abdullah bin Amr berkata Rasulullah SAW bersabda, “Allah telah menurunkan qadha qadhat  makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Dan Arsy-Nya berada diatas air.” (HR.Muslim).

Sudahkah kita ikhlas dengan semua pemberianNya dan ketentuanNya? Masih adakah yang bertanya, 

“Kenapa aku dilahirkan di keluarga miskin?”

“Kenapa nasibku tak sebaik dia?”

“Kenapa aku diberi kanker?”

“Kenapa aku miskin sementara mereka yang tak bekerja keras lebih sejahtera? Tuhan sungguh tak adil.”

Itulah manusia seperti yang dituliskanNya, hanya mau rahmat, dan selalu menolak musibah. Padahal semua sudah ditentukan 50.000 tahun sebelum kita diciptakan oleh Sang Maha Adil. Kenapa pula kita pusing dengan rasa tidak ikhlas?

Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. 2:243
Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah [bahaya] disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. 30:36

Hati-hatilah kalau kita tak ikhlas menerima ketentuanNya. 

🌹 Pertama, rasa tidak ikhlas menjauhkan kita dariNya.

Tidak ikhlas akan ketentuanNya mencerminkan kurang dekatnya kita padaNya, Ar Rahman, Ar Rahum, Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah memberikan hidup bagi kita, untuk kebaikan kita. Tidak ikhlas berarti tidak beriman, karena keimanan pada janjiNya akan membuat kita yakin bahwa semua ketentuanNya di dunia tidak sebanding dengan nikmat di akhirat.

🌹Kedua, tidak ikhlas merusak tubuh.

rasa tidak ikhlas membuat gejolak energi negatif dalam tubuh. Gejolak ini akan membuat energi terhambat dan tak mampu menjaga kesehatan serta kekuatan tubuh. Hati-hati kalau hal ini berlangsung lama sel bisa terpengaruh dan kanker bisa muncul.

Untuk yang sedang kedatangan tamu kanker, marilah kita evaluasi, apakah ada kejadian yang membuat kita tidak terima, tidak ikhlas dengan ketentuanNya itu? Jangan-jangan ini salah satu kontributornya.

🌹Ketiga, rasa tidak ikhlas mendatangkan musibah dan azab.

Tidak ikhlas mencerminkan rasa tidak syukur dan menggetarkan keburukan ke segenap penjuru alam semesta. Rasa tidak ikhlas menggetarkan berbagai keburukan, musibah lebih lanjut dan akhirnya azab.

Dan [ingatlah juga], tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah [nikmat] kepadamu, dan jika kamu mengingkari [nikmat-Ku], maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” 14:7

Sungguh rugi kalau kita tidak ikhlas dan malah mempertanyakan ketentuanNya pada kita.

Lebih baik kita:

🌹 Mempelajari ketentuanNya

Dari alam dan sejarah banyak pelajaran dan kisah yang dapat menjadi contoh bagi kita untuk selamat dan bahagia dunia akhirat dengan segala ketentuanNya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang­orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumf (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. 3:190-191

🌹 Berdoa 

Hanya doa yang dapat mengubah nasib. Teruslah berdoa sehingga siapa tahu Allah berkenan mengubah nasib kita.

🌹 Berusaha

Jemputlah kondisi yang lebih baik dengan ikhtiar tiada henti. Hasil hanya ada di tangan Allah, kerja kita akan mendatangkan kebaikan bagi kita di dunia, akhirat atau keduanya.

🌹 Bersyukur dan mencari himah 

Yakinlah bahwa setiap ketentuanNya didasari cintaNya. Carilah kesempatan dalam kesempitan. Ingatlah bahwa Hellen Keller sangat menginspirasi justru karena ia buta. Nick Vujicic sangat mempesona justru karena ia dilahirkan tanpa kaki dan tangan.

Syukuri saja dulu ketentuanNya, yakin bahwa semua didasari cintaNya, berdoa, dan terus berusaha. Insya Allah jalan hikmah akan segera terbuka.

Tak ada kecewa, tak ada keluh kesah, tak perlu kesal, iri, dendam, marah, apalagi meninggalkan Allah. Rasa ikhlas atas ketentuanNya hanya akan membawa kebahagiaan dan semangat berkarya, berkreasi membangun hidup yang lebih baik. Kita akan banyak tersenyum mengingat semua karuniaNya, berusaha, berdoa dan mencari kesempatan, menjemput rizkiNya.

Persis seperti Nick yang riang gembira meskipun hidup tanpa tangan dan kaki. Lebih enak, kan?

Pilih mana:

🌹 Tersenyum gembira mensyukuri nafas yang masih diberikanNya, apapun ketentuanNya, baik atau buruk.

🌹 Meratapi nasib buruk dan berbagai musibah yang datang, melupakan nafas yang masih ada, jantung yang masih berdegup?

Silakan pilih, dan silakan nikmati konsekuensi nya di dunia dan akhirat.

Ikhlaskah kita bekerja hanya untuk Sang Maha Pemberi Kerja?


  

Suatu ketika Nabi saw dan para sahabat melihat ada seorang laki-laki yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja, seorang sahabat berkomentar: “Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya itu dipergunakannya di jalan Allah.” 

Rasulullah saw menjawab: 

🌹 “Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah. 

🌹 Apabila dia keluar mencari rejeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia di jalan Allah.

🌹 Apabila dia keluar mencari rejeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia di jalan Allah. 

🌹 Apabila dia keluar mencari rejeki karena riya’ dan kesombongan, maka dia di jalan setan.” (Al-Mundziri, At-Targhîb wa At-Tarhîb). 

Sungguh nikmat menjadi orang beriman karena semua kerja yang kita niatkan ada di jalanNya akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Namun kalau ada unsur riya dan sombong di sana, kerja kita adalah untuk setan. Makan sungguh rugah kita kalau niat kita bekerja membanting tulang menjerumuskan kita pada jalan setan.

Allah berpesan pula di surat Al Jumuah ayat 10:

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 
Nah dari hadits dan ayat di atas marilah kita evaluasi apakah kita sudah ikhlas bekerja hanya untukNya? Banyak masih kita mendengar, “Cari yang haram aja susah apalagi yang halal?” atau.. “Demi anak makan, yang haram pun kukerjakan.”

Sadarkah kita bahwa asal rejeki, asal pekerjaan, sumber segala kerja, adalah Sang Pemberi Rejeki yang sering menguji keikhlasan hambaNya?

Marilah kita evaluasi:

  • Sudahkah kita niatkan kerja kita untuk mencari rizki bagi keluarga, untuk menjaga kehormatan kita dan untuk menjaga orang tua?
  • Sudahkah kita jaga kerja menjauhi segala hal yang dibenciNya? 
  • Apakah “entertain” calon klien harus dilakukan dengan menjamu dengan alkohol?
  • Apakah kita rela membayar atau menerima “kickback” dalam proyek kita?
  • Apakah harta kita hanya datang dari sumber yang halal?
  • Apakah pekerjaan atau produk kita membawa manfaat atau mudlarat?
  • Apakah dalam pekerjaan kita mengeksploitasi orang?
  • Apakah kita selalu ingat Allah dalam bekerja?
  • Apakah kita meninggalkan pekerjaan saat adzan memanggil?
  • Apakah kita mendahulukan pekerjaan dan bukan kewajiban keluarga?
  • Apakah ada dalam hati kita rasa sombong karena kita sudah menempati posisi tertentu?
  • Apakah hasil kerja kita “dinikmati” dengan mengejar prestis agar kita terlhat “bergengsi” dan “berkelas” sehingga kita lebih tinggi derajatnya dari orang-orang lain?

Yuk, kita evaluasi yuk.

Hal ini sangat penting karena sebagian besar waktu kita ada di tempat kerja. Bahkan waktu bersama keluarga pun tidak sebanyak waktu di tempat kerja. Kalau waktu sebanyak itu ada di jalan Allah, Insya Allah kita aman. Namun kalau tidak… Bahaya sekali.

 “Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (QS. An-Najm: 39-41).

Semoga semua pemikiran, perkataan, perbuatan kita mendapat ridloNya dan mendekatkan kita semua pada surgaNya.

Aamiin yra.

Sudahkah kita ikhlas menjalani semua cobaan dan ujianNya kalau kita ingin surgaNya?


  
Sahabat bloggers,

Kalau ditanya siapa ingin masuk surga? Semua pasti tunjuk tangan. Tapi kalau ditanya siapa yang ikhlas menerima ujian dan cobaan hidup, jarang sekali yang mau tunjuk tangan. Padahal Allah sudah mengatakan pada kita semua:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan. Al-Baqarah 214

Rasulullah saw pun bersabda:

“Senantiasa ujian menimpa mukmin, sampai ia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.” HR Ahmad.
Dan Allah pun mengingatkan kita bahwa musibah yang kita jalani itu tak lain dan tak bukan adalah dampak dari apa yang kita lakukan sendiri.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [dari kesalahan-kesalahanmu]. 42:30
Memang manusia banyak yang berputus asa menghadapi berbagai musibah itu, mereka lupa bahwa nikmat yang telah dinikmatinya jauh lebih besar daripada musibah yang harus dijalankannya. Mereka tidak ikhlas menanggung musibah itu, padahal itu pun sebagian besar disebabkan oleh tangan mereka sendiri.

Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah [bahaya] disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia [pula] yang menyempitkan [rezki itu]. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi kaum yang beriman. 30:36-37
Allah juga mengingatkan bahwa perbuatan kita dapat pula membawa musibah pada orang lain, bahkan sebuah kaum. Yang Allah ingatkan di sini adalah bahayanya menyebar berita tanpa cross check:

 Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. 49:6
Nah.. Bagaimanakah kita harus bersikap ikhlas dalam menanggung musibah? Bersabarlah, inilah saatnya kita membuktikan padaNya bahwa kita ikhlas menerima musibah dariNya seperti kita ikhlas menerima karuniaNya, bukti nyata dari keimanan kita.

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu. 3:200.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, [yaitu] orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. 2:155-157
Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah. 31:17.

Sabarlah menjalankan musibah sebagai bagian dari ujianNya yang bukan tak mungkin disebabkan oleh apa yang kita lakukan juga di masa lalu, sadar tak sadar. Dan Allah tentu akan menghargai upaya sabar kita.

Allah menyukai orang-orang yang sabar. 3:146.
Jangan pernah kita putus asa dalam menghadapi musibahNya karena hal ini dapat menjauhkan kita dari karunianNya.

“… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” 12:87

Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. 29:23

Tunjukkanlah iman yang kuat padaNya karena itulah kunci petunjukNya:

Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. 64:1

Dan apabila kita bisa naik satu tingkat lagi dengan mensyukuri segala nikmatNya, maka itulah kunci karuniaNya yang lebih besar lagi:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” 14:7
Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk [kebaikan] dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia. 27:40

Jadi daripada berkeluhkesah, mengeluh, galau, putus asa, lebih baik kita coba hayati, Kira-kira kenapa Allah berikan musibah ini kepadaku, apa hikmah di balik ini, kebaikan apa yangkudapat darinya?

Ingat bahwa Hellen Keller yang buta, tuli, bisu, bisa menginspirasi manusia bahkan sampai berpuluh-puluh tahun setelah ia meninggal, justru karena ia buta, tuli, bisu.

Nick Vujicic bisa tampil begitu mempesona justru karena ia tak punya tangan dan kaki.

Jadi, kebaikan apakah yang dapat kau berikan pada dunia dengan musibah yang ditimpakanNya kepadamu? 

Bagaimanakah kau akan mensyukuri musibah ini setelah tahu bahwa ada kebaikan di baliknya?

Yuk, kita ikhlas dengan segala musibah yang menimpa dengan syukur padaNya.

Sudahkah kita ikhlas jalankan perintahNya, sebelum meminta kepadaNya?


  
Dari pagi sampai malam, kita hidup atas izin dan kasihNya. Dari pagi sampai malam betapa banyak kebutuhan kita terpenuhi atas bantuanNya, betapa banyak harapan kita yang dikabulkanNya, betapa banyak kebaikan yang dilimpahkan pada kita. 

Dan kita terus berdoa, terus berharap, terus meminta. Kita ingin Allah kabulkan semua doa kita, penuhi semua harapan kita.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah] Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.  2:186

Nah… sudahkah kita menjalankan semua perintahNya? Menjauhi semua laranganNya?

Allah telah berpesan pada kita:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. 98:5

Sudahkah kita dengan penuh keikhlasan memurnikan ketaatan kita padaNya? Masihkah kita memilih yang mana yang enak kita jalankan dan meninggalkan yang tidak enak?

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah [Allah] memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut [tidak akan diterima] dan harapan [akan dikabulkan]. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. 7:56
Sudahkah kita benar-benar ikhlas mencegah kerusakan muka bumi? Memilah sampah, mengurangi konsumsi plastik, styrofoam dan berbagai hal lain yang dapat merusak bumi bertahun-tahun? Berhenti makan sebelum kenyang, tak mengambil atau memesan lebih lebih dari kebutuhan sehingga tidak turut mendorong para peternak menggunakan berbagai hormon pertumbuhan yang sangat menyiksa binatang dan dapat menimbulkan kanker? Teliti mematikan listrik atau menutup keran air yang tidak dibutuhkan?

Atau kita masih berlindung di belakang dalih “aku kan bisa bayar” dan lupa bahwa kekuatan bumi menampung sampah ada batasnya? Dan bahwa listrik turut disubsidi rakyat kecil dan dihasilkan dari batu bara yang terbatas persediaannya?

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru [tuhan] selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!” [Tidak], tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan [dengan Allah]. 6:40-41.

Apakah benar Allah sesembahan kita? Sudahkah kita menghentikan segala kegiatan saat Allah memanggil melalui adzan? Mendahulukan menabung untuk memenuhi panggilan hajiNya dan tidak memilih pergi ke Bali untuk berlibur? Dapatkah kita menolak sumber rizki yang halal, lupa bahwa sumber rizki sesungguhnya adalah Allah?

Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu. 6:106

Sudahkah benar-benar kita ikuti semua wahyuNya, juga apabila ada pendapat ilmuwan yang bertentangan dengannya?

Memang ikhlas tidak ringan. Namun kalau ikhlas kita ibaratkan dengan udara, yang kita butuhkan tiap hari untuk dapat hidup, berjalan mencapai surgaNya, Insya Allah kita bisa ikhlas dengan semua perintah dan laranganNya. Dan semoga kita semua tidak termasuk orang yang disebutkanNya dalam ayat ini:

Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya, yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka, dan kafir terhadap perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat. 18:103-105

Yuk, kita bangun keikhlasan menjalankan semua perintah dan laranganNya yuk.

Dengan ikhlas, sakit hati, takut, galau tak lagi ada.


  

Ikhlas…Oh… Ikhlas…

Ikhlas adalah kata yang sering kita dengar dan kita ucapkan. Kata yang begitu ringan dan mudah untuk disebut dan terasa enak di dengar. Namun, cukup sulit untuk merealisasikannya.

Inti ikhlas adalah beramal hanya untuk Allah semata. Seratus persen untuk Allah, LILLAAH, bukan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen. Benar-benar seratus persen untuk Allah, murni untuk Allah dan karena Allah tanpa ada yang lain. Tidak terkontaminasi oleh niat-niat lain walau hanya nol koma satu persen atau kurang dari itu. Oh betapa sulitnya.

Kita tidak akan pernah tahu kadar keikhlasan diri kita sendiri, bagaimana pula kita bisa menilai kadar keikhlasan orang lain..?!

Tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang keikhlasan orang lain karena tempatnya di dalam hati dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.

Kita diperintah untuk memperbaiki diri dan niat kita dan bukan membahas niat dan hati orang lain.

Orang yang mengaku telah berbuat keikhlasan berarti dia belum ikhlas dan keikhlasannya perlu di ikhlaskan lagi.

Amal yang tidak didasarkan oleh keikhlasan atau yang ikhlas namun terkontaminasi oleh niat-niat lain adalah amal yang sia-sia di sisi Allah dan tidak berarti sedikitpun, bahkan pelakunya akan mendapatkan hukuman daripadanya…Oh betapa ruginya..

Orang yang telah mengeluarkan harta, tenaga, pikiran, waktu dan lainnya akan menjadi sia-sia kalau tidak murni keikhlasannya, bahkan ia akan mendapatkan hukuman dan penyesalan..

Diantara syarat diterimanya amal adalah ikhlas…Pelajaran tentang ikhlas dan niat adalah pelajaran yang wajib..

Semoga kita semua mengetahuinya dan mampu merealisasikannya dengan sebenar-benarnya sehingga amal kita diterima Allah dan tidak sia-sia, aamiin..

Orang yang paling rugi adalah orang yang menyangka telah berbuat kebaikan yang sangat banyak namun ternyata semuanya adalah sia-sia di hadapan Allah, tidak berarti dan bahkan ternyata ia mendapat hukuman daripadanya..

Allah Ta’ala berfirman: 

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” 

(QS. Al-Furqaan: 23)

Akhukum Fillah

@AbdullahHadrami

🌍📚 WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang, Bimbingan Al-Ustadz Abdullah Sholeh Al-Hadromi hafidhahullah 📚🌏

🌹🌻🌹🌻🌹🌻

Tulisan ini kemarin dibahas di forum Coaching Lavender, di mana teman-teman Ericsonian Coaches mendampingi Sahabat Lavender, teman-teman penerima tamu kanker. Coach Riza bertanya, “Kalau ikhlas terasa berat, ikhlas bisa di ibaratkan seperti apa, sehingga terasa lebih ringan ?”

Indri, salah seorang Sahabat Lavender menjawab, “Mas Riza, bagi saya agar ikhlas teras lebih ringan, iklas saya ibaratkan seperti udara.

Kenapa udara? Karena udara adalah kebutuhan dasar saya.

Iklas pun kebutuhan saya, bukan kebutuhan orang lain apalagi kebutuhan Allah

Yaaa, iklas adalah kebutuhan saya agar Allah ridho dengan yang saya lakukan…

Kalau Allah Ridho, Allah memiliki hak melimpahkan segala bentuk kasih sayang-Nya pada saya

Inshaa Allah.”

Menganggap ikhlas seperti udara terasa pas bagi saya. Saat kita menjalani berbagai cobaan, menghadapi perilaku orang lain yang tak sesuai keinginan, saat ada penyakit seperti kanker yang datang menghampiri, kalau kita bisa menghadapinya hanya karena Allah, maka kecewa, sakit hati, perasaan tidak terima, apalagi marah kepada Allah tak lagi relevan.

Kanker? Alhamdulillah, dosaku dihapus.

Didzalimi? Alhamdulillah, dosaku akan diambilnya nanti di akhirat. Dosanya bukan urusanku. Kewajibanku hanya beribadah. 

Dirampok? Alhamdulillah dosaku dibayar di sini. Insya Allah kalau bersyukur Allah ganti yang lebih besar di dunia atau akhirat.

Doa tak kunjung dikabulkan? Alhamdulillah, mungkin ada bencana yang dihapuskan sebagai pengganti, atau dikabulkan di akhirat lebih besar lagi, Masya Allah.

Kalau semua hanya untuk Allah Insya Allah kita selalu bahagia dunia akhirat karena tak ada lagi rasa kecewa, marah, sakit hati. Energi tubuh akan mengalir tanpa hambatan, frekuensi tubuh tinggi, dan semua sel bergetar harmonis. Semua membuat pikiran, jiwa dan badan sehat dan kuat. Insya Allah semua penyakit pun jauh.

Sebaliknya kalau saat ini ada penyakit, ini saatnya bagi kita untuk evaluasi. Apakah yang belum kita ikhlaskan dalam hidup ini sehingga muncul ketidak seimbangan yang menimbulkan penyakit?

Yuk, kita bangun semangat ikhlas yuk… Jaga rasa, jaga hati, jaga pikiran. Kalau rasa baik, pikiran baik, perkataan baik, perbuatan baik, Insya Allah akan terbangun kebiasaanand baik, karakter baik, hasil baik dan akhirnya nasib baik.

Di sini kita bisa lihat, nasib sangat terkait dengan pikiran dan perasaan ikhlas sehari-hari.

Semoga Allah mudahkan kita untuk selalu ikhlas, dalam perjalanan kita menuju surgaNya. Aamiin.

Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, [yaitu] surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan [bagi] orang-orang yang berbuat kebaikan [yang ikhlas keimanannya]

QS5:85

🌹🌻🌹🌻🌹🌻

Sudah seberapa ikhlaskah kita?


  

MERBOT MASJID

(Kisah nyata dari Masjid di Puncak, Bogor)

Ada dua sahabat yang terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yang biasa-biasa saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.

Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yg istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah denga arsitektur yang cantik, yang memiliki view pegunungan dengan kebun teh yang terhampar hijau di bawahnya. Sungguh indah mempesona.

Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Perlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya.

Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yang ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu yang diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan.

Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yang ia temukan.

Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.

Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid..!

“Maaf,” katanya menegor sang merbot. “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”

Yang ditegor tidak kalah mengenali. 

Lalu keduanya berpelukan. 

“Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…”. Zaenal terlihat masih dalam keadaan memakai dasi. Lengan yang digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. “Ah, biasa saja…”

Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kain pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidatnya yang lebar  terlhat jelas.

“Mad… Ini kartu nama saya…”.

Ahmad melihat. “Manager Area…”. Wuah, bener-benar keren.”

“Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamua berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf…”.

Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih-bersih dulu… Silahkan ya. Yang nyaman.”

Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yang pintar, kemudian harus terlempar dari kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot… Ah, pikirannya tidak mampu membenarkan. 

Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yang tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenernya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

 Air wudhu membasahi wajahnya…

Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bebersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan “office boy.”

Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal. Sama-sama shalat sunnah agaknya. 

Ya, Zaenal sudah shalat fardhu di masjid sebelumnya. 

Zaenal sempat melirik. “Barangkali ini kawannya Ahmad…,” gumamnya.

 Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.

“Pak,” tiba-tiba anak muda yang shalat di belakangnya menegur.

“Iya Mas..?”

 “Pak, Bapak kenal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad…?”

 “Insinyur Haji Ahmad…?”

 “Ya, insinyur Haji Ahmad…”

 “Insinyur Haji Ahmad yang mana…?”

 “Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…”

 “Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?”

 “Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…”

Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal. Dari dulu sudah haji… Dari sebelum beliau bangun masjid ini…

Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat, Pak. Tawadhu’. Saya lah yang merbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau bangun sendiri masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yang mau shalat. Bapak lihat mall megah di bawah sana? Juga hotel indah di seberangnya? … Itu semua milik beliau… Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…”

Wuah, entahlah apa yg ada di hati dan di pikiran Zaenal…

*****

Bagaimana menurut kita ?

Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu ketemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita siapa yang sebenernya. 

Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita merbot masjid,  maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini.

Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia cool saja. Tenang saja. Adem. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yang memberitahu siapa dia sebenarnya.

“Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi” 

(Orang yang ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, seperti ia menyembunyikan keburukan-keburikannya)

Ya’qub rahimaHullah, dalam kitab Tazkiyatun Nafs

Kiriman: Mbak Ermin Lavender

🌹🌻🌹🌻🌹🌻

Sahabatku,

Mengapa ikhlas itu penting bagi kita semua?

Bagaimanakah kita dapat membangun keikhlasan kita?

Apa yang dapat kita lakukanand berbeda, belajar dari kisah di atas?

Disiplin harian yang membangun kecerdasan Habibie 


  

~Rahasia Kecerdasan Habibie ~

Saya mungkin diantara yang selama ini tidak tahu, bahwa cara BJ Habibie menghabiskan waktunya adalah rahasia terbesar dari kecerdasan beliau yang luar biasa.

Habibie tidak hanya memiliki IQ sangat tinggi (200), melebihi IQ Albert Einstein (160). Beliau tidak sekedar pemikir (penemu “crack theory” pesawat terbang), tapi juga eksekutor yang membidani kelahiran sederet industri strategis Indonesia, seperti IPTN (DI), PAL, PINDAD, INTI, dan lainnya.

Bahkan kecerdasan beliau merambah kebijakan ekonomi. Dengan teori zig-zag, memperkuat Rupiah dari terpuruk hingga Rp17.000,-/USD menjadi menguat hingga Rp7000,-/USD. Hebatnya, terjadi ditengah badai krisis moneter 1998/1999, dalam waktu 1 tahun saja.

Karena waktu yang kita miliki sama banyaknya dengan beliau, 24 jam sehari, maka tentu rahasia waktu ini perlu kita kupas lebih dalam sebagai pencerahan. 

Siapa sangka ternyata beginilah Habibie mengalokasikan waktunya (dan silahkan mempersiapkan diri mengikuti):

  • SHOLAT (2 jam)
  • YASIN dan TAHLIL (1,5 jam)
  • BERENANG dan MANDI (2 jam)
  • MAKAN (3 jam)
  • TERIMA TAMU (3 jam)
  • MEMBACA dan MENULIS (7,5 jam)
  • TIDUR (5 jam)

SHOLAT 

Selain memberikan ketenangan batin, saat beliau sujud dan kepala di posisi terendah diantara seluruh anggota badan, dalam posisi memuji Yang Maha Tinggi, darah segar mengalir dari jantung dibantu efek grafitasi menyusuri pembuluh-pembuluh darah terhalus di otak di sekujur kepala beliau. Dalam kerendahan hati hamba yang ikhlas bersujud, Sang Maha Pencipta menyembunyikan satu rahasia untuk hambanya.

YASIN dan TAHLIL 

Selain memberikan kedekatan dalam penghambaan beliau kepada sang Maha Pencipta Otak beliau itu sendiri, aktivitas ini juga menjadi latihan memperkuat jaringan otak sekaligus berfungsi jadi obat anti pikun bagi beliau. Banyak sekali ide brilian beliau justru muncul di saat tengah khusuk dan tenang membaca Yasin dan Tahlil.

BERENANG dan MANDI 

Di samping menyegarkan tubuh dan melancarkan sirkulasi darah, momen olahraga renang ini memperkuat stamina, endurance dan menghasilkan energi yang mengalir hebat untuk aktivitas beliau yang padat.

MAKAN 

Menu sehat memastikan supply energy mencukupi kebutuhan beliau. Diikuti oleh ritual puasa Senin-Kamis, yang hampir tidak pernah absen, membantu beliau sehat hingga usia yang panjang.

TERIMA TAMU 

Mengisi kebutuhan emosi dari hubungan antar manusia yang sehat, yang saling menyenangkan dan tentunya memberi inspirasi bagi sahabat-sahabat beliau.

MEMBACA dan MENULIS 

Kualitas sekaligus produktivitas beliau menggunakan 7,5 jam di waktu menulis dan membaca ini sangat tinggi. Sholat, yasinan, tahlilan yang dilakukan dengan ikhlas serta berenang telah memberikan beliau ketenangan jiwa dan kedalaman berpikir. Ini menjadi sumber ilham atas gagasan-gagasan beliau yang selalu brilian.

Dengan 7.5 jam yang berisi pertimbangan yang bijaksana, pemikiran yang dalam, kejernihan hati, dan ilham serta inspirasi yang terus mengalir, bagaimana terobosan dan prestasi hebat tidak mampu beliau torehkan?

TIDUR

Tingginya amal dan aktivitas produktif serta damainya suasana kejiwaan beliau yang dicirikan oleh kuatnya spiritualitas menyebabkan tidur beliau yang hanya 5 jam berlangsung sangat nyenyak dan memberikan kesegaran untuk beraktifitas di keesokan harinya.

Maka, jika kita ingin memperbaiki diri, teladanilah figur yang masih hidup bersama kita saat ini. Teladan Habibie dalam mengelola waktunya setiap hari. Manfaatnya, secara langsung tentu untuk diri kita dan keluarga, imbasnya kepada kemaslahatan bangsa juga pada akhirnya.

Indonesia tentu tengah menunggu lahirnya gelombang semangat Habibie-habibie baru.

Indonesia menunggu kamu. 

Ya, kamu-kamu.

Perth, 2 Maret 2015

Prayudhi Azwar

Kiriman Mas Amdiar Amir, YKM FEUI.