Smile.. Happiness is what you are, not what you have


image

Laman facebook Grace Unplugged

This story is about a beautiful, expensively dressed lady who complained to her psychiatrist that she felt that her whole life was empty, it had no meaning.

So, the lady went to visit a counselor to seek out happiness.

The counselor called over the old lady who cleaned the office floors.

The counselor then said to the rich lady “I’m going to ask Mary here to tell u how she found happiness. All I want u to do is listen to her.”

So the old lady put down her broom and sat on a chair and told her story:

“Well, my husband died of malaria and three months later my only son was killed by a car. I had nobody. I had nothing left. I couldn’t sleep, I couldn’t eat, I never smiled at anyone, I even thought of taking my own life. Then one evening a little kitten followed me home from work. Somehow I felt sorry for that kitten. It was cold outside, so I decided to let the kitten in. I gave it some milk, and the kitten licked the plate clean. Then it purred and rubbed against my leg and, for the first time in months, I smiled.

Then I stopped to think, if helping a little kitten could make me smile, may be doing something for people could make me happy.

So, the next day I baked some biscuits and took them to a neighbor who was sick in bed.

Every day I tried to do something nice for someone. It made me so happy to see them happy.

Today, I don’t know of anybody who sleeps and eats better than I do.
I’ve found happiness, by giving it to others.”

When she heard this, the rich lady cried. She had everything that money could buy, but she had lost the things which money cannot buy.

“The beauty of life does not depend on how happy you are; but on how happy others can be because of you…”

Happiness is not a destination, it’s a journey.

Happiness is not tomorrow, it is now.

Happiness is not dependency, it is a decision.

Happiness is what you are, not what you have.

Good morning everyone :)

🌷🌻🌷🌻

Thank you for sharing this story, Teh Eghie..

🌷🌻🌷🌻

Shalawat Allah adalah rahmatNya yang melebihi murkaNya


image

Sumber gambar: Hadith of the day facebook page

Sahabat-sahabat,

Allah berfirman :
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikatNya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia adalah Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (Al Ahzab : 43).

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Bani Israil pernah bertanya kepada Nabi Musa as, “Apakah Tuhanmu bershalawat terhadapmu ?” Kemudian Allah mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya shalawatKu itu adalah rahmatKu melebihi murkaKu.”

Ibnu Athiyyah berkata, beberapa perawi meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya Allah bershalawat kepada hamba-hambaNya?”
Kemudian Rasulullah menjawab : “Maha Suci Allah, RahmatKu lebih didahulukan daripada murkaKu.”

Sahabat-sahabat,
Allah bershalawat pada hambanya berupa kerberkahan dan rahmat. Dan malaikat ikut berhsalawat berupa permohonan ampun bagi hamba tersebut.
Yang dengan keberkahan, rahmat serta ampunan itu, Allah akan memberikan hidayah pada hambanya meninggalkan kegelapan menuju cahaya Allah.

Lalu, siapakah hamba yang beruntung itu? Hamba itu adalah hamba Allah yang beriman. Karena Allah adalah Maha Penyayang bagi hambaNya yang beriman.

Mari, kita tingkatkan keimanan kita semua.

Wallahu a’lam.

Kiriman dari seorang teman di wa group.
Semoga Allah limpahkan karunia pada penulisnya, yang menyebarkan dan yang menjalankan pesan ini. Aamiin.

🌻🌷🌻🌷🌻🌷

Kalau nikmat Allah untuk kesabaran tak berbatas, kenapa sabar kita ada batasnya?


image

Sahabat…
Sudah banyak dan sudah sering kita mendengar atau menerima nasihat tentang kesabaran. Dan sebagian besar nasihat tentang sabar itu selalu berkaitan dengan datangnya musibah yang menimpa seseorang. Padahal sabar itu mempunyai arti yang sangat luas sekali.

Sabar jenis pertama adalah ‘sabar karena Allah’,
yakni sabar dalam melaksanakan semua perintahNya dan meninggalkan semua laranganNya.

Sabar jenis kedua adalah ‘sabar bersama Allah’,
yakni sabar dalam menghadapi segala cobaan dan musibah yang datangnya dari Allah.

Sabar jenis ketiga adalah ‘sabar terhadap Allah’,
yakni sabar menunggu janji-janji Allah seperti pertolongan, rizki, kelapangan, pahala, dll.

Sering pula kita dengar atau bakan ita lakukan sendiri, ketika emosi atau nafsu sedang menguasai diri kita, lalu kita berkata ‘sabar itu ada batasnya’

Sahabat, mari renungi janji Allah di surat Az Zumar : 10 :
“..sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Lihatlah, apakah begitu sombongnya kita bila kita membatasi kesabaran kita sedangkan Allah saja tidak membatasi pahala bagi orang yang bersabar.

Mari renungi janji Allah lainnya :
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Al Baqarah : 153).

Sahabat, perhatikan firman Allah diatas, bila Allah berjanji bahwa Dia akan selalu bersama orang-orang yang sabar, lalu kenapa kita yang mengaku cinta kepada Allah malah membatasi kebersamaan bersama Allah dengan cara membatasi kesabaran kita?

Bila kita mengaku cinta kepada Allah, pasti kita akan senang bila selalu bersama-sama dengan yang kita cinta. Dan salah satu cara untuk selalu bersama Allah adalah dengan cara tetep memelihara sabar yang tanpa batas.

Wallahu a’lam.

Faisal B Tjatjo

Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu tahu di mana engkau, Rabb memerintahkannya menujumu


image

Sumber gambar: laman facebook Vinna Amir

“Hakekat Rizqi dan Ikhtiar”

Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu.
Tapi rizqimu tahu di mana engkau.
Dari langit, laut, gunung dan lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

Tugas kita bukan mengkhawatirkan rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas tiap karunia.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia;
dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka;
tapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita.
Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.

Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita;
Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwah; tapi Zam-zam justru terbit di kaki bayinya?
Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan.

Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa;
datang dari arah tak terduga.
Tugasnya cuma menempuh jalan halal; Allahlah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta dan Allah memberi karunia;
jaga sikap saat menjemputnya dan jawab soalanNya, “Buat apa?”

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia;
Lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab dan haramnya akan di’adzab.

Banyak yang mencampakkan keikhlasan ‘amal demi tambahan harta, plus dibumbui kata tuk bantu sesama; lupa bahwa ‘ibadah apapun semata atas pertolonganNya.

Dengan itu kita mohon agar setiap tetes keringat dan jengkal langkah kita tercatat ikhlas kepadaNya sebagai tanda bakti dan ibadah hanya untuk Allah semata… Wassalam

Kiriman:
Fahrizal Zein

🌺🌴🌺🌴🌺🌴

Terima kasih banyak, Pak Fahrizal Zein.

Semoga kita selalu diberiNya:
🌺 kekuatan dan kecerdasan untuk menjemput karuniaNya.
🌺 kelapangan rizki yang halal, melimpah, berkah.
🌺 kesempatan untuk menjadi tangan yang di atas, jalan bagi Allah menyalurkan rizkiNya bagi banyak umat manusia lain.

Aamii  yra.

Hati-hati kalau tidak ikhlas, tidak sabar, tidak bersyukur, karena dampaknya bisa panjang menjadi sabotase diri di masa depan


image

Gambar: @IslamicArtDB dari laman facebook Amatullah Umm Abdullah

🍵 Cukup Letakkan Gelasnya 🍵

Seorang dosen memulai kuliah dengan memegang sebuah gelas berisi air, dan bertanya, “Kira-kira berapa berat gelas ini?” sambil mengangkat gelas tersebut pada posisi agak tinggi hingga seluruh mahasiswa dalam ruangan bisa melihatnya.

“50 gram..100 gram..150 gram..entahlah,” jawab seorang mahasiswa.

“Kita takkan tahu jika tak menimbang nya,” jawab sang dosen diiringi tawa kecil para mahasiswa.

“Pertanyaannya adalah apa yang akan terjadi kalau saya mengangkat gelas ini selama 3 menit?” lanjutnya.

“Tidak akan terjadi apa-apa,” kali ini jawaban seorang mahasiswa terdengar sangat meyakinkan.

Dosen tersebut masih melanjutkan, “Kalau saya mengangkatnya selama sejam?”

“Wah..tangan anda akan keram, Prof,” jawab si mahasiswa.

“Bagaimana kalau aku mengangkatnya seharian?” tanya sang dosen belum puas.

“Entahlah, mungkin tangan anda akan mati rasa, beberapa otot akan terluka mungkin juga lumpuh. Dan yang jelas anda harus dibawa kerumah sakit,” seisi ruangan tertawa.

“Betul sekali, lantas apakah berat gelas ini akan berubah?”

“Tidak, Prof.”

“Lalu apa yang harus saya lakukan supaya hal-hal buruk diatas tak perlu terjadi?” sang dosen terus bertanya.

“Anda tak boleh lupa untuk meletakkan gelasnya.”

“Persis, jangan mengangkat gelasnya terlalu lama.”

Masalah hidup layaknya gelas tadi, semakin lama kita bawa, semakin lama kita akan terbebani, semakin menderita pula kita pada akhirnya.

Bobot masalah takkan berubah sedikitpun hanya kita begitu lama dan dalam memikirkan nya.

Benar bahwa setiap masalah memang harus difikirkan untuk dicari solusinya, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita mempercayakan semua pada Allah, bahwa ditanganNya lah segala kuasa. Dia yang mengatur alam semesta, menjaga keseimbangan bumi, sangat mustahil jika Dia lupa memberi kita jalan keluar. 

“Dialah yang  menurunkan keterangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana” (Qs. Al Fath : 4).

Ketenangan hati adalah bukti kuatnya iman, sebaliknya kita harus hati-hati saat dilanda terlalu banyak kegelisahan, seolah masalah kita sangat besar, hingga merasa sebagai manusia paling menderita. Karena bisa jadi saat itu iman kita berada di titik nadir hingga syaithan leluasa menggoda.

Hiduplah dengan semangat pemburu syurga bukan sekedar pemburu dunia yg penuh tipu daya syetan didalamnya (bangga dg harta, kedudukan, kecantikan, dan lain sebagainya).
Bila smua kita pasrahkan kepada NYA  niscaya takkan ada masalah yang terlalu berat terasa.

Kiriman
Pak Fahrizal Zein

Terima kasih banyak, Pak. Semoga berkah untuk semua yang menulis, menyebarkan, mengajarkan dan menjalankannya.

🌺🌴🌺🌴🌺🌴

Teman-teman,

Banyak sekali manusia yang tenggelam dalam masalah dunia dan sulit untuk melepaskan diri dari masa lalu. Allah memang menciptakan otak yang sangat hebat, mampu melindungi pemiliknya dari berbagai trauma. Allah ingin manusia ikhlas, sabar dan syukur sehingga segala pengalaman menjadi pelajaran dan tidak menimbulkan energi negatif seperti kesal, sebal, iri, marah atau takut.

Memang tidak mudah.
Kita masih sering tidak rela, tidak sabar, tidak syukur dan tidak ikhlas. Bahayanya, kekesalan, amarah atau frustasi yang muncul menimbulkan hambatan energi dalam tubuh yang menetap. Otak pun merekam pengalaman buruk ini dan menyimpannya sebagai pikiran bawah sadar. Celakanya pikiran bawah sadar ini yang mengendalikan 90% perilaku kita.

Setiap kali kita menghadapi suasana serupa, pikiran bawah sadar akan mencegah kita melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan hal yang dulu pernah tak kita sukai. Seorang anak yang waktu kecil dilarang bertemu dengan orang yang baru dikenal, di saat dewasanya tak akan mudah bergaul dengan orang baru. Seorang anak yang dicap nakal sejak kecil akan percaya bahwa ia adalah anak nakal dan akan berperilaku seperti itu sampai ia dewasa. Inilah yang namanya sabotase diri, menghambat diri sendiri menjadi sukses.

Marilah kita rajin evaluasi. Gelas mana yang masih kita pegang sampai sekarang dan menyebabkan berbagai perasaan tak enak sehingga kita sulit untuk maju dan ambil resiko?

Apakah ada perasaan kecewa akibat tidak diperhatikan waktu kecil sehingga kita sekarang malas bergabung dalam komunitas karena takut kecewa lagi tidak diperhatikan? Atau malah secara berlebih mencari perhatian orang lain?

Secara spiritual, banyak-banyaklah bertaubat, kembali padaNya, meminta maaf padaNya dan mensyukuri semua hikmah yang telah diberikanNya melalui berbagai ujianNya. Semua pengalaman buruk sesungguhnya Ia berikan sebagai ujian naik kelas. Kalau belum ketemu hikmahnya, coba cari terus.

Secara fisik, pelajarilah teknik EFT untuk melepas hambatan energi yang melekat sejak kita kecil, agar hambatan ini tak menjadi penyakit. Kanker, tumor dan berbagai penyakit lain bisa muncul dari tumpukan hambatan energi ini. Tapping EFT ini juga bisa dipelajari dalam MBP training di Jakarta.

Sebagai coach dan pemimpin kita perlu pula membantu mereka yang kita pimpin untuk bisa meletakkan gelas yang mereka pegang sejak kecil. Ada banyak teknik dan metode Ericksonian yang bisa kita manfaatkan untuk membantu mereka meletakkan  gelas dan fokus mengejar impian mereka.

Yuk, ramai-ramai kita letakkan gelas kita dan mulai fokus ke garis finish kita, ridlo Allah dan surgaNya.

Semoga Allah berikan kita kekuatan untuk bisa melakukannya. Aamiin yra.

🌺🌴🌺🌴🌺🌴🌺🌴

Hedonic Treadmill: gaya hidup kaya yang menjauhkan hati dari bahagia


image

Sufi world

Hedonic Treadmill
Oleh: Anonymous

Pertanyaan:
Kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan?

Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yg kemudian dikenal dengan nama:
“hedonic treadmill”.

Gampangnya, hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis juga.

Kenapa begitu?
Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu.

Dengan kata lain, nafsumu membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan pendapatanmu. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill: seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju. Sebab nafsumu akan materi tidak akan pernah terpuaskan.

Saat pendapatan 10 juta/bulan, mau naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan pengen berubah naik Alphard. Ini mungkin salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill.

Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski pendapatan makin tinggi. Sebab harapanmu akan penguasaan materi juga terus meningkat sejalan kenaikan pendapatanmu.

Ada eksperimen menarik: seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah.

Apa yang terjadi? 6 bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu SAMA dengan sebelum ia menang undian berhadiah.

Itulah efek hedonic treadmill: karena nafsumu terus meningkat, kebahagiaanmu seolah berjalan di tempat, meski pendapatan melompat 10 kali lipat. Atau bahkan dapat hadiah 5 milyar.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Lolos dari jebakan nafsu materi yg tidak pernah berhenti?

Disinilah relevan utk terus mempraktekkan gaya hidup yang minimalis, yang bersahaja: sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Sebagian lagi, mengubah orientasi hidup, makin banyak berbagi kebahagiaan dengan orang lain, teruji makin membahagiakan.

Prinsip hedonic treadmill adalah : more is better. Makin banyak materi yang kamu miliki makin bagus. Jebakan nafsu yang terus membuai.

Makin banyak mobil yang kamu miliki, makin bagus. Makin banyak properti yang kamu beli makin tajir. Godaan nafsu kemewahan yang terus berkibar-kibar.

Gaya hidup minimalis punya prinsip yang berkebalikan : less is better. Makin sedikit kemewahan materi yang kamu miliki, makin indah dunia ini.

Gaya hidup minimalis yang bersahaja punya prinsip: hidup akan lebih bermakna jika kita hidup secukupnya, terlebih bisa membahagiakan orang lain. When enough is enough.

Prinsip hidup bersahaja, yang tidak silau dengan kemewahan materi, mungkin justru akan membawa kita pada kebahagiaan hakiki.

Terlebih lagi, bila bisa bahagia bila melihat orang lain bahagia.

Sebab pada akhirnya, bahagia itu sederhana : misal masih bisa menikmati secangkir kopi panas, memeluk anggota keluarga dan tersenyum mulai di pagi hari, lanjut membaca “makanan” spiritual sepanjang perjalanan menuju tempat tugas.

Selamat menemukan kebahagiaan yang bersahaja, kawan.

Dikirim oleh:
Bakhtiar Rahman
YKM Group

🌾🌺🌾🌺🌾🌺🌾

Allah selalu ada saat tak ada orang lain di sekitarmu, selalu mendengar saat tak ada yang mendengarmu.


image

Sumber gambar: facebook

Muroqobah (Mawas Diri pada اَللّهُ)

Saudaraku, hendaklah qta slalu mawas diri kepada Allah swt dalam setiap aktifitas qta. Dan hendaklah kita sadar bahwa Allah selalu berada di dekat kita.

Dan Allah swt slalu mengetahui dan mengawasi segala gerak-gerik kita. Bagi-Nya tak ada sesuatu yang rahasia dan samar. Makhluk sekecil apapun yang ada di bumi dan langit tak akan pernah lepas dari pengawasanNya.

Ingatlah !!
Bahwa DIA senantiasa mengetahui apa yang kita bicarakan, baik kita bersuara keras maupun lirih. Dimana saja kita berada, DIA slalu mengawasi kita, dan DIA lah Yang Maha Kuasa.

Hendaklah kita malu kepadaNya. Kerjakanlah perintah-perintahNya dan jauhi sgala laranganNya serta beribadahlah kepadaNya seakan-akan kita melihatNya. Dan apabila engkau tidak melihatNya, ketahuilah bahwa DIA selalu melihatmu.

Dan jika di dalam hati kita timbul rasa malas pada ketaatan dan cenderung mengerjakan kemaksiatan, katakan pada nafsumu ; “Hai nafsu !! Sesungguhnya Allah swt slalu mendengarmu, melihatmu, dan mengetahui sgala rahasia dan bisikanmu!”

Dan ingatkanlah dengan firman Allah swt ini, “Ketika dua malaikat yang mencatat amal duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri. Tidaklah perkataan yang dikeluarkan seseorang melainkan di sisinya ada dua malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf, 17-18).

Muroqobah termasuk dalam kedudukan terpuji, pangkat yg paling mulia dan derajat yang paling tinggi. Muroqobah juga termasuk pada Maqom Ihsan, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.

“Ihsan ialah pengabdian pada Allah swt seakan-akan engkau melihatNya. Walaupun engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya DIA melihatmu” (HR. Muslim dari Sahabat Umar bin Khattab RA).

صــدق اللــه العــظيم وصــدق رســول اللــه النبي الحبيبـــ الكريــــــم

Risalatul Mu’awanati wal Muzhaharati wal Muaazarati”, karya Sayyidinal Imam Al-Qutbh, Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad RA

Selamat Pagi, selamat beraktifitas buat Ibu-ibu Hajjah nan Sholehah, semoga Allah melimpahkan BarokahNYA. آمِينْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Kiriman: Mbak Mitri
Group Haji Balda 2014

Terima kasih banyak, Mbak.

🌴🌾🌴🌾🌴🌾🌴🌾🌴