Catatan Haji 8: Yuk mulai menghafal Al Quran


Di Aziziah ini rombongan kami, jemaah haji Balda, diperkenalkan dengan Ustad Abdullah, ayahnya dan Rayan, adiknya. Ayahnya, Ustad Abdul Rohim, membawa keluarganya pindah ke Mekah agar semua anaknya menjadi hafidz. Subhanallah.

Ustad Abdullah menguasai 7 cara membaca Quran, menerima sertifikat dari Syekh di Universitas Madinah. Adiknya Rayan 17 tahun dan Nabila 21 tahun sudah hafidz Quran. Adiknya yang terkecil, Raniya 12 tahun, juga sudah hafal 10 juz. Subhanallah. Ayahnya pun tak mau kalah. Tadinya targetnya hanya membuat anaknya menjadi hafidz. Kini ia pun mulai belajar menghafal di usia 55 tahun.

Ustad Abdullah menceritakan betapa indahnya rasanya memiliki keluarga yang hafal Quran. Allah selalu mencukupi keluarganya. Rizki datang dari berbagai sumber untuk segala keperluan mereka.

Tinggal di Mekah tidak menjadi jaminan hafal Quran. Banyak orang Mekah pun tak hafal Quran. Jadi menurut Ustad Abdullah semua orang bisa belajar menghafal Quran. Yang penting niatnya lurus, hanya mengharap ridlo Allah, dan disiplin total.

🍓🍓 Tips-tips nya adalah:
– mulai dengan yang mudah, juz ama
– mulai dengan surat yang keberkahannya ada landasan hadits nya, seperti Al Mulk, Al Waqiah
– hafalkan sedikit-sedikit, seperti 3 ayat setiap hari. Ulang di setiap kesempatan shalat fardlu dan sunnah
– ulang lagi di hari berikutnya dan mulai dengan 3 ayat berikutnya
– ulang terus yang sudah dihafal. Orang Mauritania unggul dalam hal hafalan karena semua ayat diulang setidaknya 100x
– mulai hari ini, sekarang, dari yang mudah, sedikit-sedikit

Alhamdulillah Ustad Abdullah dan adiknya, Rayan, mendampingi kami mempersiapkan dan menjalani perjalanan haji kami. Ayahnya sendiri adalah perwakilan Balda di Mekah. Selama persiapan haji di Aziziah kami pun banyak belajar membaca Quran, memperbaiki bacaan-bacaab shalat kami dan banyak konsultasi kepada Ustad Abdullah, Rayan, dan ayah beliau. Bahkan Nabila dan Rayina pun datang untuk membantu memperbaiki bacaan jemaah haji perempuan Balda. Alhamdulillah saya pun bisa “tentiran” langsung dengan Nabila dan Rayan.

Di bawah ini ada tulisan Ustaz Yusuf Mansyur di republika, kiriman Mbak Citra Moeslim Roesli dari Group YKM FEUI, yang sangat menarik mengenai hal ini. Semoga tulisan ini bisa memotivasi kita semua untuk mulai menghafal Al Quran dan mendorong keluarga kita hafal Quran. Aamiin yra.

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

Sepasang ayah ibu menaiki panggung wisuda tahfidz Ma’had Ustmani, sudah dalam keadaan menangis.

Di panggung sudah berdiri ananda yang akan di wisuda sebagai hafidzah 30 juz. Di antara yang diwisuda, ada Ibu Ismah. Sekitar 4-5 tahun yang lalu mulai menghafal Alquran. Saat beliau bertemu dengan saya saat itu baru mulai menghafal Alquran. Begitu kata gurunya, KH Effendi Anwar, pimpinan Ma’had Tahfidz Ustmani.

Ibu Ismah ini, kemarin ikut diwisuda sebagai Hafidzah. Sudah menyelesaikan hafalan 16 juz. Sudah lulus tes tajwidnya juga. Kalau sekadar hafal, mungkin sudah langsung selesai 30 juz. Tapi ibu ini sekalian ngebenerin bacaan dan pemahamannya.

Bu Ismah lahir pada 1952 atau 62 tahun lalu. “Saya masih semangat nuntasin hafalan sampe30 juz. Nggak apa-apa saat selesai, umur saya barangkali nanti 70 tahun,” kata Bu Ismah. Bagaimana dengan kita?

Sehari-harinya untuk setoran hafalan dan membenarkan bacaannya, Bu Ismah, naik angkot sebanyak empat kali bolak-balik dari Cipayung ke Condet.

Di Ma’had Utsmani, Condet, wisuda 30 juz itu berat. Sebab selain benar hafalannya, juga kudu(harus) benar tajwid (bacaannya), dan sedikit memahami.

Selain Bu Ismah, Ananda Afifa juga berhasil melewati itu. Saat Ananda berdiri di panggung, bersama ayah dan ibunya yang sejak awal sudah menangis duluan sebelum naik panggung.

KH Effendi Anwar mengizinkan saya yang memberikan Ijazah Tahfidz. Gurunya beliau yang mengalungkan bunga. Tibalah saat yang mengharukan.

Kawan-kawan Ma’had Utsmani membuat replika mahkota. Ananda Afifa mengambil mahkota tersebut dan secara santun ia memakaikan ke atas kepala ayahnya.

Tangis ayah-ibu ini pecah. Ayah-ibu ini memeluk Afifa. Seperti ini nanti kejadian di Surga. Allah sendiri yang mewisuda dan memakaikan mahkota, kepada ayah-ibu yang memiliki anak seorang penghafal Alquran. Disaksikan bukan oleh manusia lagi, tapi seluruh malaikat-Nya.
Adapun anak-anak penghafal  Alquran, yang yatim, piatu, atau malah yatim piatu, alias tak berayah tak beribu, mereka pastinya lebih rindu lagi memakaikan mahkota penghafal Alquran untuk ayah ibu yang tak lagi berkumpul bersama mereka.

Sebagian anak-anak calon penghafal Alquran yang yatim, piatu, dan yang sudah yatim piatu, tidak seberuntung Ananda Afifa yang diwisuda, tapi masih bisa disaksikan ayah ibunya langsung, sebab masih hidup.

Sebagian dari anak-anak ini bahkan juga tidak mengenal dan tidak mengetahui seperti apa rupa ayah-ibu mereka. Tapi mereka tahu, Allah akan mengumpulkannya. Dan sekalian berkumpul di surga Allah. Langsung dibawakan mahkota para penghafal Alquran.

Semoga kita dipilih Allah juga, selain sama-sama berjuang untuk ikutan hafal Alquran, memiliki anak-anak keturunan dan keluarga penghafal Alquran, juga semoga bisa menjadi jalan mewujudkan anak-anak yatim, piatu, dan yang yatim piatu, menyiapkan, membawa, dan mempersembahkan mahkota penghafal Alquran, untuk ayah ibu mereka.

Sekarang, saatnya kita memulai. Nggak usah buru-buru, pelan-pelan saja, satu hari satu ayat, lalu istiqamah melaksanakannya. Insya Allah, 10 tahun akan hafal plus dengan maknanya. Dan Insya Allah, penghafal Alquuran akan mampu member syafaat 10 anggota keluarganya.

 Maman Sudiaman

Catatan haji 7: mau bawa berkah atau bencana? Semua tergantung kata dan rasa


Salah satu hal harus senantiasa dijaga oleh para jemaah haji adalah ucapan. Kita hanya boleh berkata yang baik-baik saja. Jangan sampai sebagai tamu Allah kita mencaci, menghina, gosip, menghardik atau mengeluarkan ucapan apapun yang tidak baik. Berkatalah yang baik atau diam.

Sapi Betina (Al-Baqarah):197 – (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Mengapa kita harus selalu menjaga ucapan?

Secara spiritual menjaga ucapan meningkatkan derajat kita di hadapan Allah. Ucapan yang baik dapat memasukkan kita ke dalam surga, ucapan yang buruk dapat menjebloskan kita ke dalam neraka.

“Siapa yang bisa menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan -red.) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan -red.), aku akan menjamin surga baginya.” (HR. al-Bukhari no. 6474)

“Sesungguhnya seseorang mengatakan satu ucapan yang dia tidak menganggapnya sebagai ucapan jelek, namun ternyata dengan ucapannya itu dia terjerumus selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi no. 2314, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi)

“Sungguh, seseorang mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk ucapan yang diridhai oleh Allah, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu Allah mengangkatnya beberapa derajat. Sungguh, ada pula seorang hamba mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk perkataan yang dimurkai oleh Allah, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu dia terjatuh ke dalam neraka Jahannam.” (HR. al-Bukhari)

Allah menetapkan manusia hanya boleh mengatakan hal yang baik dan menetapkan hukuman berat terhadap ucapan yang tak baik karena Allah telah menciptakan sebuah mekanisme dalam tubuh manusia di mana setiap kata yang positif memiliki vibrasi yang positif dan kata-kata negatif memiliki vibrasi negatif pula. Vibrasi ini akan mempengaruhi pikiran dan perasaan.

Vibrasi positif memiliki dampak positif terhadap sel-sel tubuh kita, pembangunan potensi kita dan terhadap perilaku orang di sekitar kita (baca: positifkan yang negatif).

Perasaan dan pikiran yang negatif akibat kata-kata negatif, seperti marah, kesal, perasaan tidak terima, didzalimi, akan dipancarkan kembali, ditangkap oleh seluruh sel dalam tubuh, termasuk sel organ vital seperti jantung, paru-paru, ginjal, liver dan pankreas.

Dampak yang ditimbulkan oleh perasaan negatif itu sungguh buruk bagi tubuh. Sel-sel tadi akan menciut, mati atau bermutasi menjadi kanker.

Jadi memang tanpa sadar kita bisa membunuh atau membangun orang lain secara tidak langsung melalui ucapan kita. Di sinilah perlu kita sadari bahwa Allah menciptakan lidah sebagai pedang bermata dua, karunia sekaligus ujian yang besar bagi manusia.

Inilah nilai penting di balik perintah “menjaga lidah.”

Nah, bagaimana kalau kita yang menjadi korban dari ucapan negatif? Tentu kita tak dapat membiarkan tubuh kita menderita dan terkena dampak buruk ucapan orang lain.

Kalau kita perhatikan mekanismenya, dampak negatif akan terjadi kalau ada perasaan dan pikiran negatif terhadap kata-kata negatif tersebut. Jadi kalau kita tawakal atau bahkan mensyukurinya, perasaan negatif tidak muncul dan dampak negatif tidak terjadi.

Rasulullah sudah mengingatkan kita akan hal ini:
“Apabila seseorang mencaci dan mencelamu dengan aib yang ada padamu, jangan engkau balas mencelanya dengan aib yang ada padanya, karena dosanya akan dia tanggung.” (HR. Abu Daud)

Jadi Allah sudah memberikan alasan agar kita mampu mensyukuri cacian yang dilemparkan pada kita. Kita bisa bergembira dosa kita akan ada yang menanggung. Ingat saja bahwa Allah Maha Adil dan Maha Cinta pada mereka yang didzalimi.

Bagi yang sudah belajar EFT (saya pelajari dari MBP training), praktekkan tapping juga untuk menghilangkan pemblokiran energi yang disebabkan oleh emosi negatif.

Jadi, marilah mulai sekarang kita sadari dampak dari ucapan kita dan menjaga lidah. Berkatalah hanya yang baik karena ucapan kita dapat membawa berkah bagi yang lain dan mendatangkan ridlo Allah untuk surgaNya. Tak mampu? Lebih baik diam untuk menghindari diri dan orang lain dari dampak buruk akibat ucapan kita, termasuk api neraka.

Terima kasih untuk Coach Lyra dan Coach Anto untuk inspirasinya pagi hari ini yang mendorong saya menulis catatan ini.

Takwa: Kemuliaan yang sesungguhnya


image

💖 Kemuliaan yang hakiki 💖

Tidak ada yang bisa mengangkat derajatmu di dunia, seperti agama dan imanmu.

Maka, barangsiapa silau dengan kedudukannya; ingatlah Raja Fir’aun.

Barangsiapa silau dengan hartanya, maka ingatlah Qarun dan hartanya.

Barangsiapa silau dengan nasabnya, maka ingatlah, putra Nabi Nuh yang durhaka, ayah Nabi Ibrohim yang musyrik, dan Abu Lahab paman Nabi kita -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Kemuliaanmu yang hakiki hanyalah ada pada agamamu. Semakin tinggi agamamu, semakin tinggi kemualiaanmu.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Sungguh orang yang paling mulia dari kalian adalah orang yang paling bertakwa” [Hujurot: 13].

Allah juga berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa ingin kemuliaan, maka hanya milik Allah semua kemuliaan” [Fathir:10]

Ditulis oleh Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sumber: whats app group YKM

🌷🌲🌷🌲🌷🌲

Catatan haji 6: sudahkah kita membawa bekal takwa? Itulah bekal kemuliaan yang sesungguhnya


image

Dalam Al Quran Allah memerintahkan kita untuk mempersiapkan bekal takwa sebelum pergi berhaji.

Sapi Betina (Al-Baqarah):197 – (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Sesungguhnya apakah takwa itu?
Allah menjelaskan dalam Al Baqarah:

Sapi Betina (Al-Baqarah):2-5 – Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Jadi takwa adalah:
🌷 beriman kepada yang ghaib
🌷 yang mendirikan shalat
🌷 menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dan
🌷 beriman kepada Kitab (Al Quran) dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu
🌷 yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Dan balasan takwa dari Allah adalah:
🌷 mendapat petunjukNya
🌷 masuk golongan orang-orang yang beruntung.

Nah, sudahkah kita siap dengan bekal itu semua? Yuk kita mulai periksa satu persatu. Dan apabila sudah, in shaa Allah kita telah memiliki bekal terbaik untuk berhaji. Aamiin YRA.

Dalam wa group YKM FEUI ada tulisan Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA yang sangat indah untuk kita simak. Yuk kita simak bersama…

💖 Kemuliaan yang hakiki 💖

Tidak ada yang bisa mengangkat derajatmu di dunia, seperti agama dan imanmu.

Maka, barangsiapa silau dengan kedudukannya; ingatlah Raja Fir’aun.

Barangsiapa silau dengan hartanya, maka ingatlah Qarun dan hartanya.

Barangsiapa silau dengan nasabnya, maka ingatlah, putra Nabi Nuh yang durhaka, ayah Nabi Ibrohim yang musyrik, dan Abu Lahab paman Nabi kita -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Kemuliaanmu yang hakiki hanyalah ada pada agamamu. Semakin tinggi agamamu, semakin tinggi kemualiaanmu.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Sungguh orang yang paling mulia dari kalian adalah orang yang paling bertakwa” [Hujurot: 13].

Allah juga berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa ingin kemuliaan, maka hanya milik Allah semua kemuliaan” [Fathir:10]

Ditulis oleh Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

🌷🌲🌷🌲🌷🌲

Catatan Haji 5: Menghisab Diri Sebelum Dihisab Allah


IMG-20140930-WA0000

Rasulullah selalu mengingatkan bahwa manusia yang cerdas adalah manusia yang mempunyai visi jangka panjang. Dan visi jangka panjang yang sesungguhnya tidak ada di dunia karena dunia ini pendek sekali. Visi yang dimaksud Rasulullah memiliki versi akhirat, hidup abadi yang akan kita masuki, kebahagiaan yang sesungguhnya.

Visi ini akan menjaga kita untuk menjadi manusia yang beruntung karena orientasi jangka panjang, ingin meraih surgaNya:

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang ber-Iman dan mengerjakan amal shaleh”. [Al-'Ashr 2-3].

Wukuf Arafah adalah masa di mana Allah ingin kita menjadi manusia cerdas yang selalu ingat hari pembalasan. Wukuf Arafah adalah miniatur Padang Masyhar di mana semua manusia berkumpul mengenakan pakaian tak berjahit. Semua putih, semua sama, semua menunggu pengadilan besarNya.

Inilah hal yang perlu selalu kita ingat dengan mengalami sendiri Wukuf Arafah, bahwa suatu hari kita akan diminta pertanggungjawaban atas semua pikiran, perkataan dan perbuatan di dunia.

Dengan selalu ingat hal tersebut, sewajarnyalah kita menjalankan perintah Rasulullah untuk selalu “menghisab sebelum dihisab” atau mengevaluasi diri sebelum dievaluasi Allah.

Orang yang menghisab diri akan selalu:
🌷 bertobat dan memohon ampunan Allah untuk segala kesalahan, sekecil apapun.
🌷 menjaga perasaan dan keikhlasan. Bila kita merasa baik, kita akan berfikir baik, berkata baik dan berlaku baik, ada di jalanNya, sesuai kehendakNya.
🌷 menjauhi semua laranganNya karena tahu konsekuensi yang sangat berat di akhirat.
🌷 mendalami Al Quran sebagai manual hidup manusia
“Sesungguhnya orang yang tidak ber-Iman kepada Al-Quran, Allah tidak akan memberi Petunjuk kepada mereka”. [An-Nahl 104].
🌷 memanfaatkan waktu di dunia sebagai investasi akhirat untuk mendapat untung sebesar-besarnya di surga.
“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”. [Al-‘Ashr 1-2]

Manusia cerdas seperti inilah yang dibutuhkan untuk dapat membangun dunia dengan kejujuran, keteguhan, integritas tinggi serta visi besar, berlandaskan tujuan Ilahiah, menjadi rahmat bagi alam. Kecerdasan ini akan mencegah karakter korup yang berorientasi dunia semata, hanya untuk kepentingan jangka pendek.

Dengan menghisab sebelum dihisab kita akan menghindari penyesalan yang Allah peringatkan berkali-kali dalam Al Quran:

Pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam, dan pada hari itu ingatlah manusia, [akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya], dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan amal shaleh untuk hidupku ini”. [Al-Fajr 23-24].

“Ya Tuhanku kembalikan aku ke dunia, agar aku berbuat amal shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan”. [Al-Mu’minuun 100].

“Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia, kami akan mengerjakan amal shaleh”. [As-Sajdah 12].

“Kalau sekiranya aku dapat kembali ke dunia niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik. “Bukan demikian, sebenarnya telah datang keterangan-keterangan Ku kepadamu, lalu kamu mendustakannya”. [Az-Zumar 58-59].

Semoga pengalaman “Padang Masyhar Dunia” di Arafah ini akan benar-benar membangun kesadaran kita untuk selalu mengingat hari akhir, menjadi manusia cerdas yang sesungguhnya.
Semoga pengalaman ini juga akan mampu membangun kecerdasan, wawasan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin kepanjangan tanganNya menciptakan kebaikan dan membangun kedamaian hakiki di muka bumi ini.
Aamiin yra.

Ps.

Terima kasih untuk Bang BRH yang selalu mengingatkan setiap subuh dengan tausiyah BBM nya yang menjadi referensi ayat-ayat dalam catatan ini.
🍓🌲🍓🌲

Bersyukurlah kita masih diberi hidup pagi hari ini. Jauhkan keluh kesah dengan shalat, shalawat dan tasbih


image

Sumber gambar: laman facebook Brad Sugar

Assalamualaikum ww.
Selamat pagi sahabat blogger. Indahnya pagi ini.. bagaimana tidak indah, kita semua masih bisa berjumpa di sini, membaca tulisan ini sementara banyak yang tak dibangunkan lagi oleh Allah pagi hari ini. Banyak pula yang masih diberi hidup, tapi tak diberi mata untuk melihat indahnya matahari pagi bersinar cerah.

Mungkin banyak hal yang membuat hidup terasa berat, susah, menyedihkan, dan berbagai alasan lain untuk mengeluh, tapi sepadankah itu semua dengan fakta bahwa kita masih bernafas?

Yuk, kita syukuri pagi ini. Bagaimanakah kita harus mensyukuri pagi?

Allah mengajarkan kita untuk melakukan hal-hal ini di pagi hari sebagai wujud syukur kita kepadaNya:

🌷 Shalat subuh
Shalat ini adalah standar keimanan sebagai ibadah terberat yang tak semua orang mampu melakukannya dengan disiplin. Shalat ini juga sangat istimewa karena disaksikan malaikat.

“Sesungguhnya Shalat Subuh itu disaksikan oleh para Malaikat”. [Al-Israa 78].  

Rasulullah pernah bersabda bahwa para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada Shalat Subuh.

Shalat subuh adalah salah satu penyebab masuk surga, penghalang masuk neraka, dan menjadikan kita berada dalam penjagaan dan perlindunganNya sepanjang hari.  

Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa melaksanakan Shalat Subuh, ia berada dalam jaminan Allah, maka jangan sampai Allah menarik kembali jaminanNya kepada kalian”.   

🌷 Bertasbih
Mengucap subhanallah untuk mengingatNya sepanjang hari, yang dimulai sebelum matahari terbit hingga terbenamnya bintang-bintang juga tak henti dilakukan oleh malaikat dan segenap makhluk di alam semesta.

Allah berfirman:  
“Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri”. [Ath-Thuur 48].

“Dan waktu kamu berada diwaktu Subuh”. [Ar-Ruum 17].

“Bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari”. [Qaaf 39].

“Dan diwaktu terbenam bintang-bintang”. [Ath-Thuur 49].

🌷 Bershalawat
Mendoakan Nabi Besar Muhammad saw adalah ibadah yang sangat dimuliakan Allah swt. Satu shalawat akan dibalas 10 kali shalawat oleh Allah. Dan tentu 1 shalawat Allah lebih baik daripada shalawat makhluk manapun.

Semoga rasa syukur di pagi hari ini dapat terus menjaga kita untuk menjaga indahnya pagi bersemi dalam hati. Semoga shalat, tasbih dan shalawat kita dapat membantu kita mengucap syukur setiap detik, memuji dan memujaNya dalam setiap helaan nafas kita sepanjang hari.
Semoga semua ini membawa ridloNya dan mendekatkan kita padaNya.

Aamiin yra.

Terinspirasi kiriman pesan Bang BRH.
Terima kasih ya Bang

🌻🌷🌻🌷🌻🌷

Catatan haji 4: sudah daftar haji belum? Jangan tunggu tua, haji butuh fisik kuat. Jangan tunggu kaya, pemulung pun bisa.


image

Ibadah haji bukanlah ibadah yang mudah. Semua prosesnya membutuhkan kesiapan mental dan fisik yang prima. Saya dan Abang beberapa kali memperhatikan banyak jemaah haji yang sudah tua seringkali kesulitan menjalankannya dengan sempurna. Bahkan naik eskalator saja banyak yang harus dibantu.

Nampaknya ada kesan bahwa untuk naik haji harus mapan dan tua dulu. Kalau dilihat dari tingkat kesulitannya, kami merasa justru sebaliknya, makin muda makin mudah naik haji karena kondisi fisik masih prima.

Belum merasa mapan?
Memang disebutkan bahwa haji adalah wajib bagi yang mampu. Kata-kata “mampu” ini hanya diartikan “punya uang” atau “kaya.” Padahal “mampu” itu sangat relatif. Ada anak muda yang baru mulai bekerja dengan penghasilan Rp 2.000.000 sebulan merasa belum mampu, sementara seorang pemulung yang membawa pulang uang jauh lebih sedikit dari itu mampu mendaftar haji dengan tabungannya. Berapa kali kita baca di media banyak orang tak mampu yang berhasil naik haji hasil menabung bertahun-tahun.

Di tanah suci pun kita saksikan bahwa jemaah haji tidak semuanya kaya. Banyak sekali yang berasal dari desa dan tak dapat dikatakan mapan untuk ukuran orang kota. Penghasilan boleh sedikit, niat mereka sekuat baja. Dan sungguh mulia nilai mereka di mata Allah karena Allah. Harta yang dikeluarkan dengan ikhlas di jalanNya hanya untuk mengharap ridloNya tentu akan menjadi investasi dunia akhirat yang menguntungkan.

Jadi janganlah sembunyi di balik kata-kata “tidak mampu.” Kalau kita niat dan berusaha keras Allah akan mendengar doa kita dan menyaksikan usaha kita. Saya dan suami pun sudah merasakan sendiri. Begitu kami meniatkan naik haji, ada saja jalan untuk mendapat dana. Tekad ini yang menjadi modal utama.

Bahkan kami mendengar di Malaysia para orang tua mendaftarkan anaknya untuk naik haji karena panjangnya antrian. Ini ide bagus. Tidak ada salahnya kita daftarkan anak-anak segera agar mereka dapat berangkat begitu mereka cukup usia. Siapkan mental mereka dari sekarang karena naik haji memang membutuhkan mental yang matang. Urusan dana? Sekali lagi… kalau kita bertekad kuat, berdoa memohon padaNya, inshaa Allah akan ada jalan.

Jadi pertanyaannya…

🌷 Seberapa besar keinginan memenuhi rukun Islam kelima ini?
🌷 Seberapa besar komitmen kepada Allah untuk menggenapkan kewajiban kita sebagai manusia untuk menggapai ridloNya?
🌷 Seberapa penting ridloNya bagi kita?
🌷 Kalau sampai Allah memanggil besok dan kita belum mendaftar haji, padahal sesungguhnya sahabat mampu, apa rasanya?
🌷 Dan apa rasanya kalau dibayangkan sudah berada di depan Kabah, menjemput ridlo Sang Pencipta, yang selama ini menjaga, memenuhi kebutuhan dan mencukupi semua kebutuhan sabahat?
🌷 Dapatkah membayangkan momen mengharukan di mana sahabat ada di muka kabah?
Di padang Arafah?
Di saat semua dosa sahabat dihapus oleh Sang Pemaaf?
🌷Apa langkah pertama yang akan dilakukan hari ini menuju perjalanan haji ini?
🌷 Apa lagi langkah selanjutnya?
🌷 Kira-kira kapan mau benar-benar terdaftar sebagai jemaah haji?

Semoga sahabatku semua mendapatkan haji yang mabrur, suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan. Aamiin yra.