Musibah yang sesungguhnya: malas ibadah, rajin dengan dosa.


image

Musibah Yang Sering Tidak Disadari.

Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا

“Ya Allah janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami.”

Musibah pada agama adalah semua perkara yang mengurangi agama kita, seperti malas beribadah, malas pengajian, malas sholat malam, malas bersedekah, dan lain sebagainya.

Seringkali kita benar-benar merasa terkena musibah jika musibah tersebut berkaitan dengan dunia kita, seperti berkurangnya harta, jiwa, atau ditimpa penyakit. Akan tetapi tatkala kita menjadi malas dalam beribadah malah kita anggap hal yang biasa. Padahal itu adalah musibah, bahkankah musibah agama lebih parah daripada musibah dunia.

Betapa sering musibah yang menimpa agama kita tersebut karena kemaksiatan yang kita lakukan, sebagaimana dikatakan, “Kemaksiatan dan dosa mengantarkan pelakunya terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa berikutnya.”

Ya Allah ampunilah dosa kami, jangan Kau jadikan musibah menimpa agama kami yang sangat minim ini.

Ditulis oleh Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى
Ikuti terus kajian quran dan sunnah radio rodja 75.6am atau http://www.radiorodja.com

Dari Mas Syarif, YKM FEUI Group.

🌻🌷🌻🌷🌻🌷

Terima kasih banyak, Mas Syarif.
Benar sekali. Kelalaian kita dalam beribadah dan kelemahan kita meninggalkan perbuatan dosa ini sumber segala bencana di dunia dan akhirat, bukan hanya bagi kita tapi juga bagi keluarga dan keturunan kita.

“..dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri” (QS. Asy-syura/42 : 30)

Abu bilad yang terlahir dalam keadaan buta bertanya kepada al-Ala’ bin Badr : “Bagaimana penerapan ayat ini pada dirinya, padahal ia menderita buta mata sejak dalam kandungan ibunya?”. Jawaban al-Ala’ bin Badr sangat mengejutkan, ia berkata : “itu adalah akibat dari dosa kedua orang tuamu” (Tafsir Ibnu Abi Hatim 10/3279 dan Tafsir al-Baghawi 7/355).

Musibah dunia yang kita biasa alami seperti sakit, perampokan atau bencana, sesungguhnya adalah penghapus dari dosa atau keburukan yang ditimbulkan akibat dosa-dosa kita. Bersyukurlah, karena pembalasan di bumi jauh lebih ringan daripada pembalasan di akhirat.

Dan sumber bencana besar ini adalah bekunya hati.

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk Mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. [Az-Zumar 22].

Orang yang beku hatinya tak akan mampu menangkap pesan Allah untuk mendekat padaNya. Orang yang lembut hatinya akan selalu mampu menangkap pesanNya yang juga disampaikan melalui bencana dunia.

Jadi, kalau tertimpa bencana dunia, bersyukurlah, karena insya Allah kita sedang disucikan. Dan kalau tertimpa bencana malas ibadah dan sering berdosa, segeralah bertobat dan benar-benar merubah diri, karena inilah sumber bencana dunia akhirat yang sesungguhnya.

Semoga kita semua diberi nikmat iman yang kuat dan selalu dimudahkan dalam menjalankan semua perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Aamiin yra.

🌲🍒🌲🍒🌲🍒

Selamat tahun baru, 1 Muharram 1436H


image

Manusia seperti Sebuah BUKU….

Cover depan = tanggal lahir 
Cover belakang = tanggal kematian

Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yang kita lakukan. 

Ada buku yang tebal, ada buku yang tipis. Ada buku yang menarik dibaca, ada yang sama sekali tidak menarik.

Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di’edit’ lagi.

Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih, baru dan tiada cacat. 

Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Allah selalu menyediakan hari yang baru untuk kita. 

Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita setiap harinya.

Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita kedepannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkanNYA.

Terima kasih Ya Allah untuk tahun yang baru ini.. 

Syukuri tahun yang baru ini…. dan isilah halaman buku kehidupanmu dengan hal-hal yang baik semata.

Dan, jangan pernah lupa, untuk selalu memohon dan bertanya kepada Allah, tentang apa yang harus ditulis tiap harinya.

Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan kita selesai, kita dapati diri ini sebagai pribadi yang berkenan kepadaNYA.

Dan buku kehidupan itu layak untuk dijadikan teladan bagi anak-anak kita dan siapapun setelah kita nanti.

Selamat menulis dibuku kehidupanmu. Menulislah dengan tinta cinta dan kasih sayang, serta pena kebijaksanaan. 

Aku berdoa dan berharap agar Allah selalu menyertai setiap langkahmu. Karena  Allah tak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar.

Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu
memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap doa.

Kita telah menulis di atas lembaran hijriah 1435H. Semoga halaman-halaman di 1436H berisi sesuatu yang selalu lebih baik
Amin YRA…

Sumber:
Kiriman pesan Mbak Yasmin, SS Group
Terima kasih banyak, Mbak.

🌷🌾🌷🌾🌷🌾🌷🌾

ASAL MUASAL KALENDER HIJRIAH

Di masa Khalifah Umar bin Khattab (634-644) kekuasaan Islam meluas dari Mesir sampai Persia. Pada tahun 638 M, Gubernur Irak Abu Musa al-Asy’ari berkirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah, yang isinya antara lain: “Surat-surat kita memiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak berangka tahun. Sudah saatnya umat Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun.”

“Kami telah menerima banyak surat dari Amir al Mu’minin, dan kami tidak tahu mana yang harus dilakukan. Kami telah membaca satu perbuatan yang bertanggal Sya’ban, tetapi kami tidak tahu, Sya’ban mana yang dimaksudkan: Sya’ban sekarang atau Sya’ban yang akan datang tahun depan?”

Maka dibentuklah panitia yang diketuai Khalifah Umar sendiri dengan anggota enam Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Talhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan Tahun 1 (Tahun Pertama) dari kalender yang selama ini digunakan tanpa angka tahun.

Ada yang mengusulkan perhitungan dari tahun kelahiran Nabi (‘Am al-Fil, 571 M), dan ada pula yang mengusulkan tahun turunnya wahyu Allah yang pertama (‘Am al-Bi’tsah, 610 M). Dan pada akhirnya, panitia menyepakati usulan dari Ali bin Abi Thalib, yaitu tahun berhijrahnya kaum Muslimin dari Mekah ke Madinah (‘Am al-Hijrah, 622 M).

Maka, Khalifah Umar bin Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah Nabi adalah Tahun Satu, dan sejak saat itu kalender umat Islam disebut Tarikh Hijriah.

Tanggal 1 Muharram 1 Hijriah bertepatan dengan 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya keputusan Khalifah itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai tahun 17 Hijriah.

Kalender Islam dibuat dengan dasar Iman dan Taqwa kepada Allah dengan cara berhijrah dan berjihad menegakkan agamaNya. Peristiwa hijrah merupakan esensi dan substansi hidup Muslim dalam menjaga tegaknya Iman meng Esakan Allah Azza wa Jalla dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Nama Bulan dan Hari Kalender Hijrah menggunakan bulan yang telah digunakan oleh orang-orang Arab. Kendati penanggalannya menggunakan sistem qamariyah, tetapi penamaan 12 bulan terpengaruh nama musim sistem kalender syamsiyah. Nama dua belas bulan itu ialah:
1. Muharram (bulan Suci)
2. Shafar (Bulan yang Hampa)
3. Rabi’al Awwal (Musim Semi Pertama)
4. Rabi’al Akhir / Tsani (Musim Semi Kedua)
5.Jumad al Ula (Musim Dingin Pertama)
6. Jumad al Tsaniyah (Musim Dingin Kedua)
7. Rajab (Bulan Yang dipuja)
8. Sya’ban (Bulan Pembagian)
9. Ramadhan (Bulan Musim Panas)
10. Syawwal (Bulan Perburuan)
11. Dzul Qa’dah (Bulan Istirahat)
12. Dzul Hijjah (Bulan Haji)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya EMPAT bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
QS At Taubat (9) :36

Sumber:
🍓 Kiriman Mbak Tatat, Group Jemaah Haji Balda 2014.
Terima kasih banyak, Mbak.
🍓 http://nizar6189.wordpress.com/2009/12/15/asal-usul-kalender-hijriah/

Mau punya anak yang terus mendoakan dan keturunan yang membawa kebaikan sampai akhir zaman? Semua tergantung cara kita mendidik dan mendoakan


image

Sumber Gambar: Indra W, Group WA YKM FEUI

Sahabat bloggers sekalian,
Pesan ibuku begitu aku pulang haji bagus sekali. Simak yuk. Semoga bermanfaat ya.

🍒🌷🍒🌷🍒🌷

Berawal dari Istri yang Shalihah

Anak yang shalih berawal dari didikan ibu yang shalihah … Ini menunjukkan pentingnya memiliki istri seperti itu.

Seorang pengajar al-Quran di sebuah masjid mengisahkan:

Seorang anak kecil mendatangiku. Dia ingin mendaftar di halaqah Alquran yang aku bina. Aku menanyainya

“Apa kamu hafal beberapa ayat alquran?”

“Iya”

“Coba sekarang bacakan aku beberapa surat di juz amma ya.”

Dia pun membacanya.

“Apa kamu hafal surat tabarak (Al Mulk -ed)?”

“Iya.”

Aku pun kagum dengan hafalannya pada usia yang masih belia ini.

“Apa kamu hafal an-nahl?”

“Iya”

Bertambah kekagumanku padanya. kemudian aku tanyakan tentang surat-surat panjang.

“Apa kamu hafal albaqarah?”

“Iya”

Dia membacanya dan tak salah sedikitpun. Meleleh hatiku semakin kagum.

“Ananda, apa engkau hafal Al Quran seluruhnya?”

“Iya.”

Subhanallah, Masya Allah, . .

Aku memintanya untuk datang besok bersama ayah sebagai walinya. Aku berpikir bagaimana mungkin seorang ayah mampu menjadikan anaknya seperti ini?

Esoknya, ia datang bersama ayahnya. Kulihat penampilan sang ayah sepertinya tidak melazimi sunnah dan bukan penghafal.

Ayahnya menuturkan kepadaku:

“Apakah anda kagum? Aku akan menghentikan kekagumanmu dan kuceritakan bahwa dibalik layar kesuksesan anak ini ada seorang wanita dengan kekuatan seribu lelaki. Dialah ibunya.

Aku ceritakan kabar gembira bahwa aku punya 3 anak dan semuanya adalah penghafal alquran. Anakku yang terakhir berumur 4 tahun namun sudah menghafal juz amma.

Dulu ibunya, ketika mendidik mereka berbicara, dia memulainya dgn mengajarkan alquran kepada mereka. mengajarkan mereka berbicara yaitu dengan Al Quran.

Ibunya juga menumbuhkan kompetisi sehat. Siapa yang menghafal duluan, dia akan bebas memilih makan malam di malam itu. Siapa yang duluan muraja’ah dialah yang akan memilih kemana kita akan rihlah saat libur mingguan. Siapa yang mengkhatam duluan, dialah yang akan memilih kemana kita berpergian saat libur panjang.

Inilah metode ibunya.”

Ternyata beginilah wanita mulia, ketika ia sholehah maka sholeh lah pula sebuah rumah tangga.

______
Diterjemahkan dari page Kun Lillah Kama Yurid Yakun Lakaj Fauqa Ma Turid

Penerjemah: Fachriy Aboe Syazwiena
Go join us with Remaja Islam Mau Mengenal Islam >> http://remajaislam.com/560-berawal-dari-istri-yang-shalihah

🌷🍒🌷🍒🌷🍒

Subhanallah.

Inilah pelajaran berharga bagi kita, para ibu dan orang tua pada umumnya. Mau anak yang baik? Keturunan yang terus mendoakan kita dan membawa kebaikan sampai akhir zaman? Semua tergantung bagaimana kita mendidik dan mendoakan mereka.

Dan bagi kita sebagai anak dari orang tua kita, marilah kita syukuri, karena semua nikmat dan karuniaNya yang kita dapatkan, tak terlepas dari kontribusi orang tua kita.

Semoga kita dapat terus meningkatkan kualitas kita sebagai ibu dan orang tua, dan sebagai anak yang bersyukur.

Aamiin yra.

🍒🌷🍒🌷🍒🌷

Teruslah berbuat dan menyampaikan kebaikan. Kita tak pernah tahu kapan kata atau karya kita dimanfaatkan oleh Allah


image

Sumber gambar: laman facebook Islam itu Indah

Setiap selesai sholat Jum’at tiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku–buku islam, diantaranya buku At-Thoriq Ilal Jannah (jalan menuju surga). Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran Kota Amsterdam.
***

Namun tibalah suatu hari, ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin.

Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin. Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, aku telah siap”
Ayahnya menjawab, “Siap untuk apa?” , Ia berkata, “Untuk membagikan buku (seperti biasanya).”
Sang ayahpun berucap, “Suhu sangat dingin diluar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur.”
Sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan, “akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju neraka diluar sana dibawah guyuran hujan.”

Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata, “Namun ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini.”

Akhirnya anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak dan akhirnya memberikan izin. Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata, “Terimakasih, wahai ayahku”.
***

Dibawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membawa buku-buku itu yang telah dibungkusnya oleh skantong plastik ukuran sedang agar tak basah terkena air hujan, lalu ia membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.
***

Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya. Namun sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah disebrang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.

Sesampainya di depan rumah, ia pun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya. Sebenarnya ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut.

Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih.
Nenek berkata, “Ada yang bisa saya bantu nak?”
Si anak berkata (dengan mata yang berkilau dan senyuman yang menerangi dunia), “Saya minta maaf jika mengganggu, akan tetapi saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan nyonya. Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada nyonya, di dalam nya dijelaskan tentang Allah Ta’ala, kewajiban seorang hamba, dan beberapa cara agar dapat memperoleh keridhoannya.”
***

Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah ia mempersilahkan jama’ah untuk berkonsultasi. Terdengar sayup – sayup dari shaf perempuan seorang perempuan tua berkata, “Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya. Satu pekan yang lalu saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini”.

Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu.
“Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sudah kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel. Aku terdiam sejenak dan berpikir, “Paling sebentar lagi juga pergi”.
Namun suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati: “Siapa gerangan yang sudi mengunjungiku… tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku”.

Kulepaskan tali yang sudah siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian.
Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali. Ia berkata, “Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah Ta’ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya.”
Lalu dia memberikan buku ini (buku jalan menuju surga) kepadaku.

Malaikat kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan hari itu juga secara tiba-tiba. Setelah menutup pintu aku langsung membaca buku dari malaikat kecilku itu sampai selesai. Seketika kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi.
Sekarang lihatlah aku, diriku sangat bahagia karena aku telah mengenal Tuhanku yang sesungguhnya. Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterimakasih kepada kalian yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada waktu yang tepat. Hingga aku terbebas dari kekalnya api neraka.”
***

Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung, masjid bergemuruh dengan isak tangis dan pekikan takbir… Allahu akbar…
***

Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk dan memeluknya erat, dan tangisnyapun pecah tak terbendung dihadapan para jamaah.
Sungguh mengharukan, mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.
***
Judul asli : قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة
Penerjemah : Shiddiq Al-Bonjowiy

M Fitriyadi, YKM FEUI

🍒🌲🍒🌲

Sahabatku,

Janganlah pernah berhenti berbuat kebaikan dan menyampaikan ayatNya kepada siapapun yang kita temui. Kita tak pernah tahu kebaikan atau kata-kata yang mana yang bisa membantu orang lain, bahkan menyelamatkan nyawanya. Yang penting..
Tulis saja kebaikan
Katakan saja kebenaran
Sampaikan hal-hal yang dapat menginspirasi.
Urusan hasil… itu urusan Allah. Kalau Allah berkehendak, Allah akan antar kata-kata kita kepada mereka yang paling membutuhkannya.

Inilah yang kulakukan dengan menulis blog dan menyampaikan berbagai pesan di media sosial. Percaya deh, Allah punya cara sendiri untuk memanfaatkan kata-kata kita.
🍒 Seorang teman tiba-tiba menyatakan terima kasihnya karena salah satu staf ayahnya batal bunuh diri setelah membaca salah satu blog post ku.
🍒 Teman yang lain mengirimkan pesan ke inbox ku mengatakan bahwa status facebook ku menjadi inspirasi baginya untuk menyusun sebuah kampanye kelas dunia dan sukses besar.
🍒 Beberapa orang yang tak kukenal menghampiriku dan mengatakan terima kasih karena tulisanku membangun semangat mereka.

Tujuanku hanya ingun sharing, curhat, berbagi. Rupanya Allah memanfaatkan untuk kepentinganNya sendiri. Dan Allah memberi tahuku dengan berbagai cara. Subhanallah…

Semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk terus menginspirasi dan berbuat kebaikan di dunia ciptaanNya.

Aamiin yra.

Ingin waktu yang berkah, efektif, efisien? Bacalah Al Quran. Kebaikan pun datang, membuat waktu berkah, efektif efisien.


image

Keberkahan Waktu
Apakah Anda Orang Sibuk?

Ada seorang ulama berguru kepada seorang ulama. Selang beberapa lama, saat dia ingin melanjutkan belajar ke guru lain, gurunya berpesan: “Jangan tinggalkan membaca Al Qur’an. Semakin banyak baca Al Qur’an urusanmu semakin mudah.”

Dan muridnya pun melakukan. Dia membaca Al Qur’an 3 juz per hari. Dia menambahkan hingga 10 juz per hari. Dan urusannya semakin mudah. Allah yang mengurus semua urusannya. Waktu pun semakin berkah.

Apa yang dimaksud dengan berkahnya waktu? Bisa melakukan banyak hal dalam waktu sedikit, itulah berkah Al Qur’an . Al Qur’an membuat kita mudah mengefektifkan pengurusan waktu. Bukan kita yang atur waktu kita, tapi Allah.

Padahal teorinya orang yang membaca Al Qur’an menghabiskan banyak waktu, mengurangi kegiatan lain, tapi Allah yang membuat waktunya itu menjadi berkah, hingga menjadi begitu efektif. Hidup pun efektif.

Dan Allah akan mencurahkan banyak berkah dan kebaikan pada kita karena Al Qur’an . Salah satu berkahnya adalah membuka pintu kebaikan, membuka kesempatan untuk amal soleh berikutnya. Dan salah satu balasan bagi amal baik yang kita lakukan adalah kesempatan untuk amal baik berikutnya.

Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu. Dan sebaliknya waktu yang selalu sibuk sehingga hanya habis urusan dunia, itu adalah tanda ada yang salah dalam hidup kita.

Barangsiapa bangun di pagi hari dan hanya dunia yang difikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat HAK ALLAH dalam dirinya, maka ALLAH akan menanamkan 4 macam penyakit padanya:

1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya.
2. Kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya.
3. Keperluan yang tidak pernah merasa dipenuhi.
4. Khayalan yang tidak berujung wujudnya.
[Hadits Riwayat Muslim]

Catatan :
“Keberkahan waktu adalah biasa melakukan banyak amal kebaikan dalam waktu sedikit.”

Oleh: Muharikah

Empat tingkat rizki. Jadilah pekerja keras, sabar, dan takwa untuk meraih semua tingkatan rizkiNya.


image

Assalamualaikum selamat pagi semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan tetap semangat

Ada empat cara Allah memberi rezeki kpd makhluk-
Nya:

1. Rizki tingkat pertama
Yang dijamin oleh Allah

“Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.”(QS. 11: 6)

Artinya Allah akan memberikan kesehatan, makan, minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yang terendah.

2. Rizki tingkat kedua

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya.” (QS. 53: 39)

Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yang dikerjakan. Jika ia bekerja dua jam, dapatlah hasil yang dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh-sungguh, ia akan mendapat lebih banyak. Tak pandang ia itu muslim atau kafir.

3. Rizki tingkat ketiga

“… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. 14: 7)

Inilah rezeki yang disayang Allah. Orang-orang yang pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah dan mendapat rezeki yang lebih banyak. Itulah Janji Allah! Orang yang pandai bersyukurlah yang dapat hidup bahagia, sejahtera dan tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah tambahkan selalu.

4. Rizki tingkat keempat
Untuk orang-orang beriman dan bertakwa

“…. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(QS.Ath-Thalaq/65:2-3)

Peringkat rezeki yang keempat ini adalah rezeki yang istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Orang istimewa ini (muttaqun) adalah orang yang benar-benar dicintai dan dipercaya oleh Allah memakmurkan atau mengatur kekayaan Allah di bumi ini.
Wallaahu alam..

Selamat Menjemput Rejeki.

Mohammad Fitriyadi
YKM FEUI

🌸🌲🌸🌲🌸🌲

Terima kasih kirimannya, Yadi.

Kalau kita bersinar sendirian, seberapa besar jangkaunnya. Buatlah 100 orang bersinar, dunia pun akan turut bersinar bersamamu.


image

Dia berkulit hitam, lahir di daerah kumuh Brooklyn, New York, ia melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi.

Suatu hari ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya: “Menurutmu, berapa nilai pakaian ini?” Ia menjawab, “Mungkin USD 1.” “Bisakah dijual seharga USD 2? Jika berhasil, berarti engkau telah membantu ayah dan ibumu.
“Saya akan mencobanya,” jawabnya.

Ia membawa pakaian itu ke stasiun kereta bawah tanah dan menjual selama lebih dari enam jam, akhirnya ia berhasil menjual USD 2 dan berlari pulang.

Kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya, “Coba engkau jual seharga USD 20.”
Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling hanya USD 2.
Ayahnya berkata, “Mengapa engkau tidak mencobanya dulu?”

Akhirnya, ia mendapatkan ide, ia meminta bantuan sepupunya untuk menggambarkan Donal Bebek yang lucu dan Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu, ia lalu menjualnya di sekolah anak orang kaya, dan laku USD25.

Ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya: “Apakah engkau mampu menjualnya dgn harga USD 200?. Kali ini ia menerima tanpa keraguan sedikit pun, kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farrah Fawcett, berada di New York. Sehabis konferensi pers, ia pun menerobos penjagaan pihak keamanan dan meminta Farrah Fawcett membubuhkan tanda tangan di pakaian bekasnya dan kemudian terjual USD 1500.

Malamnya ayahnya bertanya, “Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian ini apa yang engkau pahami?” Ia menjawab, “Selama kita mau berpikir pasti ada caranya. ”Ayahnya menggelengkan kepala. “Engkau tak salah! Tapi bukan itu maksud ayah. Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai 1 USD juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia? Mungkin kita berkulit gelap dan miskin, tapi apa bedanya?”

Sejak itu, ia belajar dengan lebih giat dan menjalani latihan lebih keras, dua puluh tahun kemudian, namanya terkenal ke seluruh dunia. Ia adalah Michael Jordan.

Kiriman Mbak Uti Rahardjo
WISE Group

🌹🌹🌹🌹🌹

Sahabat blogger,

Cerita ini menarik sekali. Ada dua hal yang saya pelajari dari cerita ini:

1. It doesn’t matter who you are and where you are from. It matters what you’re doing now and where you’re going.

Yang penting bukan siapa kita saat ini, apa warna kulit kita, dari mana kita berasal, kaya atau miskin kita. Yang penting adalah apa yang kita lakukan sekarang dan ke mana arah tujuan kita.

Seorang hitam yang dianggap warga kelas dua, tak berpendidikan dan berkedudukan rendah seperti Michael Jordan mampu menjadi juara dunia mengalahkan warga kulit putih yang dianggap “berkelas” atau berderajat lebih tinggi.

Pernah ada yang bilang ke saya, “Ibu bisa begini karena nama belakang Ibu.” Haloo… faktanya tidak semua orang yang punya nama belakang sama dengan saya punya nasib yang sama dengan saya. Semua tergantung impian kita dan bagaimana kita mencapainya.

2. It’s not about shining so that others can see you. It’s about shining so that others can see their own beauty through you.

Ayah Michael Jordan adalah pemain kunci dalam cerita ini. Ia yang membuat anaknya mampu melihat betapa berharganya ia, tak peduli warna kulitnya. Sang ayah bukannya mempekerjakan anaknya agar ia dapat hidup nikmat dan “bersinar,” ia menyuruh Michael menjual kaos untuk memerlihatkan bahwa semua itu mungkin, meskipun ia berkulit hitam.

Shining example..
Contoh yang benar-benar bagus dan perlu ditiru. Pada saat kita membantu orang lain melihat dan mengalami sendiri bahwa mereka berharga dan punya potensi untuk maju dan unggul, pada saat itulah kita membuka kunci semangat mereka. Sangat beda dampaknya kalau kita hanya berkata bahwa mereka mampu atau mereka bisa, tanpa menggali langsung potensi itu dan membuat mereka mengalami dan melihatnya sendiri.

Inilah tugas seorang coach, dan pemimpin sebagai coach. Kita bekerja bukan agar kita dapat bersinar, tapi untuk membantu orang-orang sekitar kita bersinar dan menyebar sinarnya kepada mereka yang membutuhkannya.

Kalau kita bersinar sendirian, apalah artinya sinar satu orang, seberapa besar jangkauannya. Tapi kalau kita bisa membantu 100 orang bersinar, tentu jangkauannya dapat jauh lebih luas. Dan di sanalah arti hidup kita sebagai manusia… bukan untuk menghasilkan satu sinar tapi ratusan sinar, senagai rahmatan lil alamin, berkah bagi alam semesta.

Aamiin yra.