Jangan semena-mena dalam menawar. Bisa jadi uang yang tak seberapa dapat menyelamatkan hidup mereka.


    


Video ini dibuat oleh aktor Bollywood, Varun Pruthi yang memerankan sendiri seorang penjual kelapa di pinggir jalan.

Seorang pembeli lalu datang, dan marah-marah kepada penjual kelapa itu. Si pembeli berpikir harga yang dipatok oleh si penjual kelapa itu kelewat mahal dan menuduhnya perampok dan pencuri.

Kemudian, pembeli itu memilih beli minuman di sebuah supermarket. Harga air mineral itu ternyata lebih mahal dari kelapa yang ditawarkan si pedagang.

Dalam video ini, Varun menyindir kebiasaan menawar orang-orang kaya yang disebutnya semakin memperburuk kemiskinan. Mereka merasa tak malu ketika menawar harga dari para pedagang yang bisa jadi lebih miskin dari mereka.

Lucunya, bila orang kaya beli barang di supermarket atau mall nan mewah, mereka malah akan malu menawar harga barang itu.

Varun mengingatkan masyarakat kaya, bahwa sebagian besar pedagang kecil, berjualan tidak untuk menjadi kaya, tapi hanya demi bertahan hidup.
Ia pun mengajak agar masyarakat kaya mau berbagi rejeki dengan mereka.

Terima kasih untuk Mbak Dayu Rengganis, yang berbagi video ini di WISE group.
🌹🌹🌹
Sahabatku,

Marilah kita jadikan kegiatan jual beli kita sehari-hari sebagai sarana membantu mereka yang membutuhkan. Apa yang kita beli hanya akan menjadi milik kita saat itu dan habis saat kita selesai menggunakannya. Kebaikan yang kita berikan akan bertahan selamanya dan membantu kita di akhirat nanti. Dan siapa tahu kebaikan kita bisa menyelamatkan hidup orang lain.

Sebarkanlah cinta, bagikanlah kasih, juga saat kita berbelanja dan berdagang. Jangan berhitung karena Allah tak menghitung limpahan karuniaNya bagi kita.

Jadilah tanganNya membuat muka bumi ini penuh cinta kasih. Jadilah alatNya menjawab doa orang-orang yang menjual jasa dan barangnya pada kita.

Bagaimanakah kita bisa berbuat lebih banyak kebaikan pada para penjual hari ini?

Bagaimanakah kita dapat menjadi tanganNya menjawab doa para penjual di pasar?

Tak usah berhitung dalam berbuat kebaikan, karena Allah tak berhitung melimpahkan kebaikan pada kita.


  
Seorang petani Skotlandia mendengar jeritan minta tolong yang datang dari semak belukar dekat rumahnya.

Segera dia berlari ke arah suara itu dan menemukan seorang anak laki-laki sedang berjuang keluar dari lumpur hidup yang hampir menenggelamkan seluruh tubuhnya.

Dengan sigap petani itu menolong anak itu keluar dari lumpur hidup itu.

Keesokan harinya ayah anak itu berkunjung ke rumah si petani dan menawarkan sejumlah hadiah sebagai balas jasa telah menolong anaknya.

Dengan halus petani itu menolak tawaran saudagar kaya itu.

Sementara mereka berbicara, saudagar kaya itu melihat anak laki-laki si petani sedang berdiri dekat pintu.

Saudagar itu lalu menawarkan untuk menyekolahkan anak tersebut.

Petani itu menerima tawaran itu dan memasukkan anaknya di sekolah kedokteran St. Mary di London.

Di kemudian hari anak petani itu yang bernama Alexander Flemming tercatat dalam sejarah sebagai orang yang berhasil menemukan antibiotik Penicillin.

Beberapa tahun kemudian anak saudagar kaya itu berada dalam keadaan kritis karena terserang radang paru Pneumonia,

Tapi beruntung nyawa anak saudagar kaya itu selamat berkat obat Penicillin yang di makannya.

Di kemudian hari anak saudagar kaya itu menjadi Perdana Menteri Inggris yang sangat terkenal namanya adalah Winston Churchill.

Kiriman Pak Nofa Stefanus

🌹🌹🌹🌹🌹

Sahabat blog,

Sesungguhnya setiap manusia berbuat kebaikan untuk kebaikannya sendiri, langsung atau tidak langsung, diniatkan atau tidak. Setiap kebaikan akan menghasilkan kebaikan. Allah sudah mengatur dengan sangat rapih.

Lakukan setiap kebaikan dengan hati yang ikhlas, tak usah berhitung atau berharap ada untung ruginya. 

“Untuk apa gw bantu, apa untungnya buat gw?”

Tak perlulah kita bertanya, karena Allah sudah berjanji bahwak kebaikan sebesar dzarrah (atom) pun akan dibalas dengan kebaikan. Tak ada yang kebetulan. Janji Allah pasti benar.

Jika kamu berbuat baik [berarti] kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri. Al Isra 7

Jadilah manusia penuh cinta yang terus memberi tanpa menghitung, karena itulah yang kita terima dari Allah, karunia berlimpah tanpa dhitung. Lihatlah matahari, hujan, rumput, buah, alam yang begitu indah, semua adalah limpahan karuniaNya yang begitu berlimpah untuk kita semua.

Sebarkan cinta, tebarkan kasih, karena kita ada, tumbuh, sembuh dan menjadi bahagia hanya dengan berbagi cinta dengan berbuat baik. Jadilah tanganNya mewujudkan Rahman dan Rahim, kasihNya di muka bumi.

Just do it!

Kebaikan apa yang dapat kita lakukan lebih baik dan lebih banyak hari ini?

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. Luqman 22

Hati-hatilah, kita bisa masuk neraka karena tidak mau memaafkan


  
[Yaitu] orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri [sambil berkata]; “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. [Malaikat menjawab]: “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “[Allah telah menurunkan] kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat [pembalasan] yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. 16:28-30

Jangan berhenti mencintai di jalanNya, jangan menyesal atas cinta dalam jalanNya


  

Foto di atas diambil pada Lomba Lari Marathon Zheng-Kai tahun 2010. Pelari Jacqueline Nyetipkei Kiplimo (Jacq) adalah pelari wanita maraton papan atas dari Kenya. Ketika Jacq melihat seorang atlit asal China yang tidak memiliki tangan terlihat kesulitan mengambil air dan mengalami dehidrasi, dia membantu memberikan minuman di setiap pos dari km 10 ke km 38, sampai dilihatnya si pelari sudah membaik. Kegiatan tambahan ini otomatis memperlambat lari Jacq, akhirnya dia harus rela menjadi juara ke-2 dan kehilangan hadiah sebesar US$10.000.

Katanya ke media, “Saya tidak pernah menyesal untuk membantu orang lain, bagi saya dia bukan orang asing, tapi perlu mendapat bantuan dari saya…it’s all not about the winning.”

Dan…

mereka tidak saling kenal sebelumnya

mereka tidak satu ras dan tidak satu warna kulit

mereka tidak satu kewarganegaraan

mereka kesulitan berkomunikasi karena berbeda bahasa

mereka berbeda adat istiadatnya

mereka kemungkinan juga berbeda agama

Namun Jacq telah berhasil menanggalkan semua perbedaan itu dan menjadi “pemenang sejati” sebagai seorang manusia yang mengasihi sesamanya.

Kiriman Guy Lesmanadu, Group Soeriawidjaja.

🌹🌹🌹🌹

Sahabat,

Peran kita sebagai khalifahNya menuntut kita untuk menanggalkan identitas apapun. Kebangsaan, ras, suku, warna kulit, agama, ideologi tak lagi relevan untuk memberikan bantuan.

Allah memberikan karuniaNya tanpa pilih kasih. Kepada kitalah Allah meminta untuk menjadi kepanjangan tanganNya untuk membantu dan menyelamatkan umat manusia.

Kebaikan apakah yang dapat kita lakukan dengan lebih baik mulai hari ini?

Identitas apakah yang dapat kita tanggalkan hari ini untuk dapat membantu lebih banyak umat manusia?

Siapakah yang dapat kita ajak untuk mengerjakan kebaikan yang lebih luas lagi?

Kesempatan apa yang akan terbuka luas di depan kalau kita mampu mengalahkan ego dan menanggalkan identitas sehingga banyak yang dapat kita bantu dan selamatkan kehidupannya?

Ajaklah orang ke jalan kebenaran dengan sabar dan baik, hati yang keras pun akan menjadi lembut


  

Kisah seorang Yahudi yang mengIslamkan jutaan orang

Di suatu tempat di Perancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berkebangsaan Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim, ia adalah orang tua yang menjual makanan di sebuah toko makanan. Toko tersebut terletak di sebuah apartemen dimana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak bernama “Jad” berumur 7 tahun.

Jad si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi toko tempat dimana Ibrahim bekerja untuk membeli kebutuhan rumah, setiap kali hendak keluar dari toko –dan Ibrahim dianggapnya lengah– Jad selalu mengambil sepotong cokelat milik Ibrahim tanpa seizinnya.

Pada suatu hari usai belanja, Jad lupa tidak mengambil cokelat ketika mau keluar, kemudian tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong cokelat sebagaimana kebiasaannya. 

Jad kaget, karena ia mengira bahwa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orangtuanya.

Ibrahim pun menjawab: “Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mau keluar dari sini, ambillah sepotong cokelat, itu adalah milikmu!” Jad pun menyetujuinya dengan penuh kegirangan.

Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi.

Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berkonsultasi kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara acak. Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua lembar darinya, menutupnya dan mulai memberikan nasehat dan solusi dari permasalahan Jad.

Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi.

14 tahun berlalu, kini Jad telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim saat itu berumur 67 tahun.

Ibrahim pun akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya dimana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berkonsultasi kepadanya. Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi.

Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika putranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak, Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, karena Ibrahim lah yang selama ini memberikan solusi dari semua permasalahannya, dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya.

Hari-haripun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak. Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya.

Jad lalu mencoba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu berisikan tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak bisa membacanya. Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berkebangsaan Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua lembar dari kitab tersebut. Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan acak saat ia datang berkonsultasi.

Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua lembar yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu. Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan solusi kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut.
Jad pun terhenyak kaget, kemudian dengan penuh rasa penasaran ini bertanya, “Buku apa ini !?”

Ia menjawab : “Ini adalah Al-Qur’an, kitab sucinya orang Islam!”

Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub.

Jad lalu kembali bertanya: “Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?”

Temannya menjawab : “Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!”

Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!


Jadullah seorang Muslim
.

Kini Jad sudah menjadi seorang muslim, kemudian ia mengganti namanya menjadi Jadullah Al-Qur’ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Qur’an yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh problema hidupnya selama ini. Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi menyebarkan ajaran Al-Qur’an.

Mulailah Jadullah mempelajari Al-Qur’an serta memahami isinya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropa hingga berhasil mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.
Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat :


((اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ…!!))
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!!…” (QS. An-Nahl; 125).

Iapun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya.

Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang diantaranya adalah Kenya, Sudan bagian selatan (yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya. Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zolo, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya.


Akhir Hayat Jadullah

Jadullah Al-Qur’ani, seorang muslim sejati, da’i hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Jadullah wafat pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 54 tahun, beliau wafat dalam masa-masa berdakwah.


Kisah pun belum selesai

Ibu Jadullah Al-Qur’ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi. Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah yaitu saat berumur 70 tahun.

Sang ibu bercerita bahwa –saat putranya masih hidup– ia menghabiskan waktu selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan putranya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi putranya untuk kembali menjadi Yahudi. Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain karena Islamlah satu-satunya agama yang benar.

Kemudian yang menjadi pertanyaan: “Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?”
Jadullah Al-Qur’ani bercerita bahwa Ibrahim yang ia kenal selama 17 tahun tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata: “Hai orang kafir!” atau “Hai Yahudi!” bahkan Ibrahim tidak pernah untuk sekedar berucap: “Masuklah agama islam!”

Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarinya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi. Seorang tua muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya diskusi masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Qur’an.

Kemudian dari kesaksian DR. Shafwat Hijazi (salah seorang dai kondang Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas problematika Darfur serta solusi penanganan dari kristenisasi, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zolo. Saat ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur’ani?, ia menjawab; tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani.

Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani. Dan Jadullah Al-Qur’ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berkebangsaan Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci.

Begitulah hikayat tentang Jadullah Al-Qur’ani, kisah ini merupakan kisah nyata yang penulis dapatkan kemudian penulis terjemahkan dari catatan Almarhum Syeikh Imad Iffat yang dijuluki sebagai “Syaikh Kaum Revolusioner Mesir”. Beliau adalah seorang ulama Al-Azhar dan anggota Lembaga Fatwa Mesir yang ditembak syahid dalam sebuah insiden di Kairo pada hari Jumat, 16 Desember 2011 silam.

Kisah nyata ini layak untuk kita renungi bersama di masa-masa penuh fitnah seperti ini. Di saat banyak orang yang sudah tidak mengindahkan lagi cara dakwah Qur’ani. Mudah mengkafirkan, fasih mencaci, mengklaim sesat, menyatakan bid’ah, melaknat, memfitnah, padahal mereka adalah sesama muslim.

Semoga Allah selalu membimbing kita.

Kiriman Eva, fasil akhwat 18

🌹🌹🌹🌹

Sahabat blog,

Dakwah atau menyampaikan kebenaran tidak perlu dengan jalan keras apalagi sampai menimbulkan perpecahan. Kasih sayang dan perhatian Ibrahim yang besarlah yang mampu menyentuh hati dan membuat Jad jatuh hati pada agama Islam. 

Cinta dalam jalan Allah adalah cinta di mana kita selalu mengingatkan akan kebenaran dan kebaikan dengan cara yang baik dan sabar. Inilah cinta terbesar yang dapat kita berikan pada umat manusia di belahan bumi manapun.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.  3:159

Mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Kalau 10= selalu dan 1= tidak pernah, sudah ada di manakah kita?

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta?ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. 103:1-3

Bagaimanakan kita dapat lebih baik dan lebih sabar lagi melimpahkan cinta kita bagi sesama dengan mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran?

Di mana sajakah kita dapat menjadi kepanjangan tanganNya sebagai jendela hidayahNya, dengan kesabaran dan kebaikan?

Mengapa hal itu penting?

Bantulah mereka yang menjaga kehormatan dengan bekerja dan tidak meminta 


  

“Ibu mau saya parkirkan?” 

Suatu malam setelah maghrib, saya mengendarai kendaraan ke rumah.

Tiba-tiba rasa nyeri menyerang hingga saya menepikan kendaraan.
Berhenti sejenak menunggu rasa nyeri berkurang, saya berusaha mengalihkan pikiran dengan melihat sekeliling.
Tiba-tiba kaca mobil saya diketuk seorang anak. 

“Bu… Ibu mau parkir? Saya bantuin untuk parkir ya?” katanya.
“Belum sekarang, saya mau istirahat dulu,” jawabku.
“Kalau gitu Ibu punya uang 2000?” tanya anak itu.

Karena saya sedang tidak mau diganggu, saya buru-buru serahkan uang itu.
Saya pikir anak ini mungkin cuma mau minta-minta.

Saya amati anak itu.

Dia mendekati tukang gorengan lalu membeli beberapa.
Kemudian gorengan itu dia berikan pada sesosok tua yang duduk di bawah tiang listrik.
Ketika dia melewati samping kendaraan saya, saya buka kaca dan memanggilnya.
“Eh… nak .. . Sini… Itu siapa?” tanya saya.

“Gak tau bu… Bapak-bapak tua… Saya juga baru saja ketemu” jawabnya.

“Loh, tadi kamu minta uang ke saya beli gorengan kenapa dikasihin ke bapak itu?”
“Oh… Saya tadi duduk di situ, ngobrol sama bapak itu.
Bapak itu katanya puasa. Tadi saya lihat buka puasanya cuma minum. Katanya uangnya habis. Hari ini saya nggak jualan koran. Tanggal merah, Bu. Jadi ngak punya uang. Saya ada 1000, kalau beli cuma 1 kasihan nggak kenyang. Makanya saya minta ibu 2000. Biar dapat 3. Ibu mau parkir sekarang?Saya bantuin parkir ya, Bu. Ibu kan udah bayar. Kalau saya sebenernya bukan tukang parkir,” katanya tertawa sambil garuk garuk pipinya.

Saya terdiam.

Tadi saya pikir anak ini pengemis seperti anak-anak yang biasa mangkal di jalan.
Ternyata saya salah besar. 

“Terus uang kamu habis dong ?” tanya saya.
“Iya, Bu. Nggak apa-apa. Besok bisa jualan koran. InsyaAllah ada rejekinya lagi.”

“Kalau gitu Ibu ganti yaa uang kamu. Sekalian buat jajan,” kataku meraih dompet di jok samping.

“Nggak usah, Bu. Jangan. Ibu saya sebetulnya melarang saya minta-minta. Makanya saya tawarin Ibu parkirin mobil Ibu. Soalnya tadi saya kasihan bapak itu aja. Cuma saya bener-bener nggak punya uang,” cerocosnya lagi.

“Eh Ibu minta maaf yaa tadi salah sangka sama kamu. Kirain kamu tukang minta-minta,” kata saya merasa bersalah.

“Saya yang minta maaf, Bu. Saya jadi minta uang duluan sama Ibu. Padahal saya belum kerja.”

“Sama – samalah. Ini ambil uangnya. Ini kamu nggak minta, Ibu yang beri,” kataku.

“Nggak, Bu. Makasih. Ibu mau parkir sekarang?” tanyanya lagi.

“Nggak. Ibu nggak usah dibantu parkir,” kataku.

“Beneran, Bu? Soalnya saya mau jemput adik saya ngaji dulu bu. Takut nangis kalau kelamaan telat jemputnya.”

“Udah, sana jemput aja adiknya,” kataku tersenyum.

“Makasih yaa, Bu,” katanya setengah berlari.

Meninggalkan saya yang termangu.
Saya menoleh ke tiang listrik, bapak tua itu sudah pergi.
Saya Iihat dari spion mobil, anak itu berjalan setengah berlari.
Sahabat, di luar sana banyak orang tidak seberuntung kita, tapi mereka masih memikirkan sesama, masih berusaha bersedekah dan sangat yakin akan jaminan rezeki.
Terima kasih untuk pelajaran hari ini, Nak…

Semoga hidupmu berlimpah berkah dan rezeki.

Saya starter kendaraan dan melaju pelan-pelan menuju rumah.

***;**;***

Astaghfirullah…

Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA

via timeline ust. Funi Ummu Raihanah
Hati bening itu dengan melihat lebih dekat kehidupan yang lebih sengsara dari level hidup yang kita alami.
Kiriman Pak Rob, Lavender Yogya.

🌹🌹🌹🌹
Sahabat,

Apakah yang dapat kita lakukan hari ini dengan lebih baik lagi untuk membantu orang lain, meskipun ia tak meminta apapun dari kita?

Bagaimanakah kita dapat melembutkan hati kita untuk dapat melihat kebutuhan orang lain tanpa mereka harus menyebutkannya?

Bagaimanakah kita dapat terus melakukannya dengan lebih baik setiap hari?

Mengapa hal itu penting?

Janganlah berhenti mencintai dengan mengajak pada kebaikan. Inilah cara paling aman meraih ridloNya


  
Sahabat blog,

Mencintai karena Allah artinya mencintai dalam kebaikan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan, kebenaran dan kesabaran.

Nah…Ternyata mencintai karena Allah itu tidak mudah. Kalau ada yang kita rasa salah dan kita ingin membantu meluruskan kadang kita takut mengingatkan. Kita takut hubungan itu rusak.

Lebih luas lagi, kalau kita ingin mewujudkan tujuan yang Allah berikan pada kita, menjadi khalifah Allah yang berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran, membawa berkah bagi semesta, maka kita harus mengingatkan orang yang lebih banyak lagi. Mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Adakah rasa gentar? Rasa takut dibenci banyak orang? Dihina? Dianggap kuno, kolot, atau cap lain yang tidak enak?

Adalah rasa lelah? Rasa lelah karena tak ditanggapi, tak diikuti? Tak digubris?

Lelahkah sahabat mempersiapkan acara? Menembus lalu lintas yang macet, panas, dan membuat badan penat luar biasa?

Seorang khalifah besar, Umar bin Abdul Azis, tubuhnya hancur dalam rangka dua tahun masa kepemimpinannya. Tubuhnya yang perkasa rontok, kemudian sakit lalu syahid. Beliau bekerja sangat keras sehingga saat itu umat kebingungan siapa yang harus diberi zakat. Tak ada lagi orang miskin yang layak diberi infaq.

Memang seperti itulah bekerja untuk Allah. Bekerja atas dasar cinta, cerminan sifatNya yang Rahman dan Rahim.

Cinta akan meminta semuanya dari dirimu.

Sampai pikiranmu.

Sampai perhatianmu.

Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Syekh Musthafa Masyhur mengatakan
“Jalan dakwah ini adalah jalan yang panjang tapi adalah jalan yang paling aman untuk mencapai ridho-Nya.”

Inilah hadiah untuk kepenatan kita, lelahnya tubuh, gusarnya hati, bahkan resahnya jiwa.

Saat Allah ridho, maka apalagi yang kita risaukan?

Saat Allah ridho semua akan menjadi indah, karena surga akan mudah kita rasa, dengan izinNya.

Rasulullah begitu berat dakwahnya.

harus bertentangan dengan banyak kabilah dari keluarga besarnya.
Mush’ab bin Umair harus rela meninggalkan ibunya.
Salman harus rela meninggalkan seluruh yang dia kumpulkan di Mekkah untuk hijrah.
Asma’ binti Abu Bakar rela menaiki tebing yang terjal dalam kondisi hamil untuk mengantarkan makanan kepada ayahnya dan Rasulullah.
Hanzholah segera menyambut seruan jihad saat bermalam pertama dengan istrinya.
Ka’ab bin Malik menolak dengan tegas suaka Raja Ghassan saat ia dikucilkan.
Bilal, Ammar, keluarga Yasir kenyang dengan siksaan dari para kafir.
Abu Dzar habis dipukuli karena meneriakkan kalimat tauhid di pasar.
Ali mampu berlari 400 KM guna berhijrah di gurun hanya sendirian.
Usman rela menginfakkan 1000 unta penuh makanan untuk perang Tabuk.
Abu Bakar hanya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya.
Umar nekat berhijrah secara terang terangan.
Huzaifah berani mengambil tantangan untuk menjadi intel di kandang musuh.
Thalhah siap menjadi pagar hidup Rasul di Uhud, hingga 70 tombak mengenai tubuhnya.
Zubair bin Awwam adalah hawariinya rasul,
Al Khansa’ merelakan anak-anaknya yang masih kecil untuk berjihad.
Nusaibah yang walaupun dia wanita tapi tak takut turun ke medan perang.
Khadijah sang cintanya rasul siap memberikan seluruh harta dan jiwanya untuk Islam, siap menenangkan sang suami di kala susah.

Atau mari kita bicara tentang Nabi Musa as, mulutnya gagap tapi dakwahnya tak pernah pudar.

Ummatnya seburuk-buruknya ummat, tapi proses menyeru tak pernah berhenti.
Nabi Nuh, 950 tahun menyeru hanya mendapat pengikut beberapa orang saja, bahkan anaknya tak mengimaninya.

Nabi Ibrahim as dibakar Namrud.
Nabi Ayub sakit berkepanjangan tapi tetap menyeru.

Nabi Ismail as rela disembelih ayahnya karena ini perintah Allah.

Deretan sejarah di atas adalah SEBAIK-BAIKnya guru dalam kehidupan kita.
Sekarang beranikah kita masih menyombongkan diri bersama jalan dakwah yang kita lakukan saat ini?

Mengatakan lelah padahal belum banyak melakukan apa-apa? Bahkan terkadang kita datang menyeru dengan keterpaksaan, berat hati kita, terkadang menolak amanah untuk menjadi khalifah?

Kita memang bukan Nabi, bukan Rasul, tapi kita semua adalah Khalifah Allah, pemimpin dalam jalanNya. Kita dilengkapi dengan semua potensi yang kita butuhkan untuk menjadi Khalifah. Dan semuanya harus kita pertanggungjawabkan.

Siapkah kita bertanggung jawab?

Marilah kita beristirahat, berjalan tertatih, bahkan merangkak kalau perlu.

Tapi janganlah berhenti mengingatkan pada kebaikan. Janganlah berhenti menggapai ridloNya. Janganlah berhenti menjadi tanganNya. 

 Janganlah berhenti mencintai.

💐💐💐💐💐💐💐💐