Jadikan perbedaan pendapat sebagai rahmat dan berkah


IMG_0629

Suatu ketika terjadi perbedaan pendapat antara sahabat-sahabat Rasululloh SAW. Perbedaan itu sangat menyenangkan karena dengan perbedaan semua terlihat menjadi indah. Sebagaimana keindahan pelangi, karena warnanya yang warna warni.

Ketika melihat perbedaan pendapat yang terjadi di antara sahabat yang mulia , Rosulullah SAW memuji sahabat-sahabatnya seperti bintang yang menghiasi langit biru, indah bersinar menyinari alam semesta raya. Rasulullah saw pun bersabda : “Sungguh para sahabatku bagaikan bintang-bintang di langit, maka dengan siapapun dari mereka kalian berpegangan maka kalian mendapat hidayah, dan perselisihan para shahabatku adalah rahmat bagi kalian” (HR. Atthobaroni Addailami).

Seorang khalifah yang paling jujur dan adil, Umar bin Abdulaziz berkata : Tidaklah menjadikan aku gembira andai para shahabat tidak berselisih pendapat, karena apabila mereka tidak berselisih pendapat maka tidak akan terdapat rukhshah. (Kasyfulkhofa karya Al’ajluni 1/66). Tidahlah aneh jika kemudian ada ungkapan yang amat indah “perbedaan itu adalah rahmat.” Tentu saja harus dewasa, dan tidal lebay.

Kiriman Bakhtiar Rahman, YKM FEUI.

💐🌻💐🌻💐🌻

Jangan takut untuk berbeda dan Jangan gentar menghadapi perbedaan. Jadikan berbagai perselisihan pendapat sebagai sumber kekuatan untuk membangun sesuatu yang lebih besar.

Memang dibutuhkan kebesaran, kekuatan hati dan kemampuan kepemimpinan yang baik untuk dapat melakukan hal itu, menganalisa berbagai perbedaan dan menjadikan setiap perbedaan sebagai bagian-bagian yang saling membangun dan melengkapi.

Semoga Allah berikan kekuatan tersebut bagi kita.

Sedekah yang terus dimanfaatkan oleh umat akan membawa kebaikan lebih dari kemewahan apapun


IMG_0627

“Usai maghrib saya kedatangan tamu dirumah”.

“ Assalamu ‘alaikum “ sapanya ketika sampai di depan pintu.
“ Wa’alaikum salam “ Jawab saya sedikit kaget karena tidak mengenal tamu ini.” Anda siapa? “ tanya saya.
“Saya Sobari .“ katanya dengan wajah diliput senyum.
“Bapak pengurus Masjid?” tanyanya.
“Ya. Betul Pak. Ada apa ? Apa yang dapat saya bantu “
“Saya tadi melewati masjid yang sedang dibangun. Orang disekitar masjid meminta saya untuk menemui bapak ? “
“ Ada apa ?”
“Saya ingin memberikan sedekah untuk penyelesaian pembangunan masjid “ katanya dengan tetap diliput senyum.

Saya memperhatikan penampilan orang ini. Tidak nampak dia memiliki kemampuan untuk bersedekah. Saya lirik diluar, tidak ada nampak kendaraan diparkir. Pasti orang ini datang dengan angkutan umum atau beca. Mungkin orang ini “sakit”. Atau hanya ingin mempermainkan emosi saya.
Ya karena sudah hampir empat tahun masjid itu tidak pernah selesai. Sementara saya sebagai ketua Panitia Pembangunan Masjid sudah bosan mengajak masyarakat untuk berinfaq atau bersedekah. Tapi hasilnya hanya uang kecil yang terkumpul didalam kotak amal. Sementara kotak amal yang diletakkan disetiap sudut pasar atau rumah makan hanya menghasilkan uang tidak seberapa. Padahal masyarakat yang ada disekitar masjid ini terdiri dari para pedagang yang rata rata mempunyai omzet Rp. 3 juta perhari !

“Bagaimana Pak? Kenapa bapak diam ?” tegurnya yang membuyarkan lamunan saya.
“Eh , iya.Pak, ehm..berapa bapak mau sumbang ?” tanya saya masih diliput rasa tidak percaya.

“Boleh saya tau ? berapa dana diperlukan untuk menyelesaikan masjid itu “ tanyanya dengan tenang. 

Pertanyaan yang lagi lagi membuat saya hilang hasrat untuk bicara banyak sama tamu ini. Dia pasti orang “sakit jiwa”.

“Ya.. kita butuh dana sebesar Rp 500 juta “ jawab saya. Berharap orang itu cepat berlalu.

“Baik, pak. Besok kalau bapak ada waktu , saya tunggu di Pengadilan Agama. Saya akan memberikan sedekah dihadapan hakim Agama.” Katanya tenang. “ jam berapa Bapak ada waktu ? “ lanjutnya.

“ya liat besok aja ya pak “ jawab saya. Berharap orang itu cepat berlalu. Karena saya harus memimpin sholat isya di masjid.

“Baiklah , Ini nomor telp rumah saya. Kalau bapak siap , hubungi saya “ katanya. 
“Permisi saya pamit dulu. Rumah saya jauh.” lanjutnya sambil berdiri dan berlalu. 

Baru saya sadar, tamu ini tidak saya tawarkan minum.
Setelah usai sholat Isa. Secara tidak sengaja saya melontarkan cerita kedatangan tamu ke rumah kepada pengurus Masjid. Tanggapan mereka sama seperti saya. Orang itu Stress  dan tidak perlu dilayani. 

Karena besok semua pengurus punya banyak kesibukan, yang tidak mungkin meluangkan waktu untuk datang ke Pengadilan Agama.

Keesokan harinya. salah satu pengurus meminta saya untuk menemaninya ke show room mobil. Dia hendak menebus indent kendaraan yang dipesannya sejak empat bulan lalu. 
Karena lokasi showroom tidak begitu jauh dari Kantor Pengadilan Agama maka saya tawarkan kepada teman ini untuk mampir ke Pengadilan. 
Dia sedikit sungkan tapi akhirnya setuju.

Langsung saya menghubungi orang yang akan menyumbang itu melalui cell phone kerumahnya. 
Dia langsung menyanggupi untuk datang. Berjanji jam 11 siang sudah sampai di Kantor Pengadilan Agama.

“Baiklah. Tapi saya tidak mau tunggu terlalu lama di kantor pengadilan itu. Lewat setengah jam anda tidak datang , saya akan pulang.“ kata saya tegas. 
Karena sebenarnya saya masih sangsi pada orang ini.

“Insya Allah “ begitu jawabnya.

Tepat jam 11 saya dan teman sudah datang di pengadilan Agama. Tapi orang yang akan menyumbang belum juga datang. Lewat lima menit , orang yang akan menyumbang itu datang dengan menumpang angkutan BECAK yang masuk langsung kedalam halaman Pengadilan Agama. 
Bajunya sangat sederhana.

Teman saya yang melihat pemandangan itu,  langsung tersenyum kecut.
Bagaimana mungkin dia bisa menutup kekurangan pembangunan masjid

“Mungkin kita yang gila. Mau-maunya nungguin dia.Tapi ya sudahlah, kita liat aja.,” gerutu teman saya kala melihat kedatangan orang itu.

“Assalamu ‘alaikum “ sapanya ketika sesampai didalam [truncated by WhatsApp]
“Assalamu ‘alaikum “ sapanya ketika sesampai didalam menjumpai kami.
“Ya , Bagaimana Pak. Apakah bapak sudah bawa uangnya?“ tanya teman saya langsung kepokok persoalan.

“Ini, uangnya “ katanya sambil memperlihatkan kantong semen ditangannya. “Mari kita menemui petugas untuk membuat akta penyerahan sumbangan ini. Maaf, bukan saya tidak percaya tapi ini perlu sebagaimama ajaran Al-Quran menyebutkan bahwa segala sesuatunya harus tertulis.“ katanya. 
Sambil melangkah kedalam menemui petugas pengadilan.

Tanpa banyak kata, orang ini langsung menyerahkan tumpukan uang dihadapan petugas pengadilan. 
Petugas itu menghitung. 
Jumlahnya Rp 500 juta..!

Petugas itu kemudian menyerahkan formulir untuk kami isi. 
Kemudian setelah tandatangani formulir itu, maka uang pun pindah ke tangan kami.
  
“Pak, Cukuplah Bapak-Bapak sebagai panitia dan Pak Hakim yang mengetahuinya. Saya menyumbang karena Allah…” katanya ketika akan pamit berlalu.

Melihat situasi yang diluar dugaan kami maka timbul rasa malu dan rendah dihadapan orang ini. Ternyata dia yang kami nilai stress/gila, menunjukan kemuliaannya. 
Sementara kami dari awal meremehkan dan memandang sebelah mata padanya.

Maaf,  Mengapa bapak ikhlas menyumbang uang sebanyak ini. Sementara saya lihat bapak , maaf terlihat sangat sederhana. Mobil pun bapak tidak punya. “ tanya teman saya dengan keheranan.

“Saya merasa sangat kaya. Karena Allah memberikan saya qalbu yang dapat memahami ayat-ayat Alquran. Cobalah anda bayangkan. Bila uang itu saya belikan kendaraan mewah, maka manfaatnya hanya seusia kendaraan itu. Bila saya membangun rumah megah maka nikmatnya hanya untuk dipandang. 
Tapi bila saya gunakan harta untuk saya sedekahkan di jalan Allah demi kepentingan Ummat, maka manfaatnya tidak akan pernah habis. “ Demikian jawabnya dengan sangat sederhana tapi begitu menyentuh.

“Apa pekerjaan Bapak “ tanya teman saya.
“saya petani kopi. Alhamdulillah dari hasil kebun kopi , lima anak saya semua sudah menjadi sarjana dan sekarang mereka sukses dan hidup sejahtera. Lima limanya sudah berkeluarga. Alhamdulillah, semua anak dan mantu saya sudah menunaikan haji.”

“Bapak memang sangat beruntung. Apa resepnya hingga bapak dapat mendidik anak yang sholeh?” tanya saya.

“Resepnya adalah: dekatlah kepada Allah. Cintailah Allah. Cintailah semua yang diamanahkannya kepada kita. Dan berkorbanlah untuk itu. Bukankah anak, istri, lingkungan dan syiar agama adalah amanah Allah kepada kita semua. Bila kita sudah mencintai Allah dengan hati, dan dibuktikan dengan perbuatan maka selanjutnya hidup kita akan dijamin oleh Allah. Apakah ada yang paling bernilai didunia ini dibanding kecintaan Allah kepada kita… “
Dia pamit dan berlalu dengan menumpang becak. 

Sementara saya dan teman saya tercekat dan tak mampu berkata-kata.

Kami tak berani mendahului becak yang ditumpanginya. Toyota Kijang keluaran terbaru yang baru saya beli bulan lalu serasa tak mampu melewati becak itu. 
Saya malu. Malu dengan kerendahan diri saya dihadapan orang yang tawadhu namun ikhlas berjuang karena Allah. Mungkin penghasilan saya lebih besar darinya. Tapi belum bisa seikhlas dia. Saya menjadi merasa tak pantas menyebut diri ini mencintai Allah..”

Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.


IMG_0579
Gambar: kiriman di group Sehat and Smart

Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.

Ia membungkuk menggerutu kecewa. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok.”

Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. “Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno”, kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.

Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.

Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu dan menawarnya 200 dollar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju.

Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.

Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya,

“Apa yang terjadi?
Engkau baik-baik saja kan?
Apa yang diambil perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.
Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.

Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini?

Tidak ada, karena bahkan napas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.
Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah.

Saat kehilangan sesuatu kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa jadi “kehilangan” itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke”aku”an. Ke”aku”an lah yang membuat kita menderita.
Rumahku, hartaku, istriku, anakku. Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak ajak apa-apa dan siapa-siapa.

Pada waktunya “let it go”, siapapun yang bisa melepas, tidak melekat, tidak menggenggam erat maka dia akan bahagia .
Semoga bermanfaat.😊

Kiriman Mbak Rizka dari group SS

🌻💐🌻💐🌻💐

Terima kasih Mbak.
Memang kita semua hanyalah seperti tukang parkir di dunia ini. Kita ditugaskan menjaga mobil yang datang dan membantunya keluar dengan selamat saat Yang Punya datang mengambil.
Kita hanyalah tukang parkir, yang tak berhak marah saat mobil diambil kembali.

Semua dari Allah, untuk Allah, dan kembali ke Allah.

🌻💐🌻💐🌻💐

Bagaimana kita dapat mencapai tujuan kita dengan kelemahlembutan hari ini?


IMG_0611

Seekor monyet sedang duduk di pucuk pohon kelapa tanpa sadar ada tiga angin besar sedang mengintainya, Angin Topan, Tornado dan Bahorok.
Tiga angin itu rupanya sedang membahas, siapa yang bisa paling cepat menjatuhkan si monyet dari pohon kelapa.

Angin Topan mengatakan, ia cuma perlu waktu 45 detik.
Angin Tornado tidak mau kalah, “30 detik,” katanya.
Angin Bahorok senyum meledek, mengatakan, “15 detik juga jatuh si monyet.”

Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju.
Angin TOPAN terlebih dahulu, ia tiup sekencang-kencangnya. Wuuusss… Merasa ada angin besar datang, si monyet langsung berpegangan pada batang pohon kelapa. Ia berpegangan sekuat-kuatnya. Beberapa menit lewat, si monyet tidak jatuh-jatuh juga. Angin Topan pun menyerah.

Giliran Angin TORNADO.
Wuuusss… Wuuusss… Ia tiup sekencang-kencangnya. Tidak jatuh juga si monyet. Angin Tornado juga menyerah.

Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kencang lagi ia tiup.
Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kencang pegangannya, tidak jatuh-jatuh.
Ketiga angin besar itu akhirnya mengakui, si monyet memang jagoan, tangguh, daya tahannya luar biasa.

Tak lama, datang angin sepoi-sepoi. Ia bilang ia pun mau ikut menjatuhkan si monyet. Keinginan itu ditertawakan oleh tiga angin lainnya. Yang besar saja tidak bisa, apalagi yang kecil.

Tanpa banyak omong, angin SEPOI-SEPOI langsung meniup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak sekali. Adem… Segar.. Riyep-riyep mata si monyet. Tak lama si monyet ketiduran dan lepaslah pegangannya, jatuhlah si monyet.

Kadang untuk menyelesaikan sebuah masalah atau mencapai sebuah tujuan, seringkali bukan kekuatan, kebesaran atau derajat yang tinggi kuncinya. Seringkali kelemahlembutan, kehalusan, kesabaran dalam kebaikan adalah senjata paling ampuh.

Di lain sisi..

Boleh jadi , ketika kita:
Diuji dengan KESUSAHAN…
Dicoba dengan PENDERITAAN…
Didera dengan MALAPETAKA…
Kita kuat, bahkan lebih kuat dari sebelumnya…

Tapi jika kita diuji dengan :
…..KENIKMATAN…
…..KESENANGAN…
…..KELIMPAHAN….
…..POPULARITAS…
…..PUJIAN……

Disinilah kejatuhan itu terjadi.

Jangan sampai kita terlena…
Tetap rendah hati dan mawas diri,
ingat kita hanya hidup sementara di dunia ini.
Sandarkan diri hanya kepadaNYA.

Ditulis kembali dari kiriman teman di group WA.

🌹🌻🌹🌻🌹🌻

Semoga Allah berikan kebaikan bagi penulis asalnya, penyebar, pembaca dan pembahas tulisan ini. Semoga bermanfaat dan berkah.

Terlalu banyak karuniaNya yang kita lupakan


IMG_0385-0

🍫 Terlalu Banyak Yang Terlupakan…

Meskipun banyak kenikmatan yang kita sadari, akan tetapi masih terlalu banyak yang terlupakan dan terlalaikan.

Bukankah banyak dari organ tubuh yang bergerak dengan sendirinya –diluar kesadaran manusia- demi kemanfaatan badan dan berlangsungnya kehidupan badan ?

Allah berfirman :

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Ad-Dzaariyat : 21)

Sungguh betapa sering kenikmatan Allah giringkan kepadamu –wahai manusia- manjadikanmu menimatinya sementara engkau tidak menyadarinya. Betapa banyak keburukan dan musibah yang Allah tolak darimu sementara engkau tidak menyadarinya.

Allah berfirman tentang penjagaan manusia :

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS Ar-Ro’du : 11)

Maka sungguh benar firman Allah :

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim : 34)

 Ditulis oleh Ustadz Firanda Andirja, MA

Kiriman Syarif, Group YKM FEUI

🌹😴🌹🌻🌹🌻🌹

Maka nikmatNya yang mana lagi yang hendak kita dustakan?

Terima kasih banyak Mas Syarif. Semoga kita tak pernah lupa akan karuniaNya yang sungguh sangat berlimpah bagi kita semua. Aamiin YRA.

Lir ilir, bangunlah jiwa, bangkitkan iman dan bimbinglah umat dalam jalanNya


https://m.youtube.com/watch?v=8EceUtAJJ48

Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh penganten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak’o surak: iyo…!!

Lir ilir, judul dari tembang di atas, bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang yang mengandung makna sangat dalam. 

Tembang karya Sunan Kalijaga ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah.

Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita simak.

Lir-ilir, lir-ilir 
(Bangunlah-bangunlah)

Tembang ini dibuka dengan lir-ilir; artinya bangunlah dari keterpurukan, bangun dari tidur panjang, bangun dari kemalasan; sadarlah. Apa yang perlu untuk dibangunkan? Apa yang perlu dihidupkan, disadarkan? Yaitu: Ruh, jiwa, akal dan jasmani. Kita sudah lama tertidur pulas hingga mirip orang mati.

Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. 
(Tanamannya sudah bersemi, demikian menghijau, bagai pengantin baru)

Bait ini mengandung makna kalau tanaman iman sebagai nikmat terbesar dari Allah jangan dibiarkan mati. Iman harus dirawat, ditumbuh kembangkan agar memberi manfaat dan kebahagiaan yang luas bagi diri dan masyarakat banyak. Pengantin baru itu adalah Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi.
(Wahai para penggembala, panjatlah pohon blimbing tsB-)

Mengapa “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu membimbing masyarakatnya dalam jalan yang benar. 

Lalu, kenapa “Blimbing”? blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu menggambarkan Rukun Islam, yang merupakan bangunan Islam.

Kenapa “Penekno”? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja
(para pemimpin) untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk konsisten dalam melaksanakan ajaran Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. 
(Licin-licin sekalipun tetap panjatlah, untuk membersihkan pakaianmu)

Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Rintangan dalam jalan da’wah itu banyak, dari mulai hawa nafsu hingga ancaman fisik dan mental. Ini semua dalam rangka membersihkan pakaian taqwa kita.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. 
(Pakaianmu, sobek di bagian pinggir)

Mungkin dalam berupaya istiqamah di jalan da’wah ini, pakaian taqwa itu tersobek karena beratnya tantangan yang harus dihadapi. 

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. 

(Jahitlah, perbaikilah untuk menghadap nanti petang)

Pakaian taqwa harus kita bersihkan. Iman, taqwa dan akhlak kita yang terkoyak karena rintangan di jalan da’wah harus kita perbaiki, kita perbarui lagi, untuk kita pertanggung-jawabkan kelak ketika menghadap Allah swt.  ”Sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa.”

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. 

(Mumpung rembulan bersinar terang, dan mumpung ada waktu luang)

Sunan Kalijaga mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika nyawa/hayat masih di kandung badan.

Yo surak’o surak: hiyo..!. 
(Mari sambut seruan ini dengan teriakan: siap..!)

Sambutlah seruan ini dg semangat dan berseru “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan dan rasa syukur. Sebagaimana firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfal :25)

Carrol Mc Laughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menerjemahkan dan mengaransemen lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.

Kiriman Mas Anto, Vanaya Coaches

🌹🌻🌹🌻🌹🌻

Terima kasih banyak Mas Anto.
Semoga kita bisa memahami, menjiwai tembang peninggalan pemimpin kita di masa lalu ini. Filosofi nya sangat dalam, universal dan relevan dengan tantangan-tantangan yang ada saat ini.

Coba perhatikan, pertama kita harus membangun kesadaran jiwa dulu. Jiwa yang terbuka, tercerahkan adalah awal dari kebangkitan menuju perbaikan terus menerus dalam jalanNya.

Sebagai awal, yuk kita jaga jiwa kita agar selalu dalam kesadaran murni (pure awareness) dalam membangun hidup kita.

Jadikan orang tua seperti raja, maka rizkimu pun akan menjadi seperti raja


Kali ini saya ingin sharing dari seorang ustadz tentang: “Jadikan Orang Tuamu Raja.”

Saya mendapat banyak ilmu dari para jama’ah. Salah satunya dari pak Budi Harta Winata, seorang pengusaha baja.

🌺 Ketika saya tanya rahasia suksesnya menjadi pengusaha, jawabnya singkat, “Jadikan orang tuamu raja, maka rezekinya seperti raja.”

Pengusaha yang kini tinggal di Cikarang ini pun bercerita bahwa orang hebat dan sukses yang ia kenal semuanya memperlakukan orang tuanya seperti raja. Mereka menghormati, memuliakan, melayani dan memprioritaskan orang tuanya.

🌺 Lelaki asal Banyuwangi ini bertutur, “Jang perlakukan orang tua seperti pembantu. Sudah tahu orang tua telah melahirkan dan membesarkan kita, lha kok masih tega-tega ya kita minta uang ke mereka padahal kita sudah dewasa. Atau, orang tua diminta merawat anak kita, sementara kita sibuk bekerja. Bila ini yang terjadi, maka rezeki orang itu hanya cukup untuk bayar pembantu, karena ia memperlakukan orang tuanya seperti pembantu.

🌺 Walau suami-istri bekerja, rezekinya tetap kurang, bahkan nombok setiap bulannya.”

🌺 Dari diskusi itu, kami pun melakukan survey kecil-kecilan kepada jamaah umroh/naik haji. Kami bertanya anaknya berapa? Siapa yang paling sukses? Siapa yang paling susah? Ternyata jawabnya semua sama.

🌺 Anak-anak yang sukses adalah yang memperlakukan orang tuanya seperti raja. Dan anak-anak yang sengsara hidupnya adalah mereka yang sibuk dengan urusan dirinya sendiri dan sedikit mengabaikan orang tuanya.

🌺 Mari terus berusaha keras, agar kita bisa memperlakukan orang tua spt raja. Buktikan dan jangan hanya ada di angan-a tan. Mulailah dari sekarang..

🌺 Masya Allah..😭😭 “Orangtua Adalah Kunci Surga Bagi Anaknya”. Teriring salam hangat dan salam sukses luar biasa.

Kiriman:
Hj Elvia Charlin, sahabat seperjalanan haji tahun 2014.

🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹

Terima Kasih banyak Mbak Elvi.

Sahabat-sahabatku,
Marilah kita evaluasi baik-baik, apakah kita sudah benar-benar menjadikan orang tua kita seperti raja?
Apakah hal terkecil yang dapat kita lakukan mulai hari ini untuk dapat menjadikan orang tua kita seperti raja?