Mau bahagia cari kaya, tenar, kekuasaan atau sehat dulu? Tidak, kita butuh Allah swt saja untuk busa bahagia.


image

🌷 Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

🌾 Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

🍓 Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri.

🌺 Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

🌽Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.

💖 Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau sesukses apapun hidupnya.

💖 Yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri… mampukah ia mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.

💖 Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang- orang kaya akan membeli kebahagiaan itu dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka.

💖 Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti dibelahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada.

💖Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu. Yang kita butuhkan adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ust Fahmi Islam
Kiriman Ukhti Dewa Ayu Putu Sukartini

Bunga berbunga dari kebaikan dan keburukan. Semoga semua kebaikan kita dapat menjadi teladan sampai akhir zaman. Amin


image

Sahabat-sahabat,

Malam ini, izinkan saya mengajak sahabat semua untuk sedikit mengupas hubungan antara firman Allah dan Sabda Rasulullah Muhammad.

Firman Allah dalam surat An Nahl ayat 25 :
“…sehingga mereka memikul dosa-dosa mereka secara sempurna pada hari kiamat dan sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan tanpa pengetahuan…”

Dalam Hadits Riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:
“Siapa yg memulai/merintis satu kebaikan dalam Islam, maka dia akan memperoleh ganjarannya dan ganjaran orang-orang yang mengikuti mengerjakannya tanpa sedikitpun berkurang ganjaran (orang yang memulai), dan siapa yang memulai satu dosa dalam Islam maka dia akan memperoleh dosanya dan dosa-dosa orang-orang yang mengikuti mengerjakannya tanpa sedikitpun berkurang dosa mereka (orang yang memulai).”

Sahabat-sahabat,

dari gabungan keterangan diatas, maka bisa kita ambil kesimpulan bahwa bila kita memulai satu kebaikan dan ada orang lain yang mengikuti kebaikan kita, maka kita akan mendapat ganjaran atas perbuatan kita dan perbuatan kebaikan yang di lakukan orang-orang yang mengikuti kita. Begitu juga sebaliknya, bila kita memulai satu kejahatan atau perbuatan dosa dan ada orang lain yang mengikuti perbuatan dosa kita, maka kita akan menanggung dosa atas perbuatan kita dan dosa atas perbuatan orang-orang yang mengikuti kita. Naudzubillahi min dzalik.

Betapa bahagianya bila perbuatan baik kita diikuti orang lain, dan betapa celakanya bila ada perbuatan dosa kita yg ternyata diikuti orang lain. Marilah kita selalu selalu berbuat baik, dan mengajak orang lain untuk ikut berbuat baik. Wallahu a’lam.

Jakarta 3 September 2014

eLJe :)

🍉🌾🍉🌾

Terima kasih Pak eLJe.
Semoga kita bisa terus berbuat kebaikan yang dapat menjadi teladan bagi sebanyak-banyaknya manusia di muka bumi, diikuti oleh manusia sampai akhir zaman. Semoga kebaikannya pun terus mengalir bagi kita dan keturunan kita sampai akhir zaman.

Aamiin yra

Jangan silau pada yang gemerlap, karena bisa jadi ia menjauhkan kita dari jalanNya


image

Sumber gambar: laman facebook Hadith of The Day

BAHAYANYA KEMEWAHAN D AKHIR ZAMAN

Dari Ali bin Abi Thalib ra:
“Bahwasanya kami sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam masjid. Tiba-tiba datang Mus’ab bin Umair Ra dan tidak ada di badannya kecuali hanya selembar selendang yang bertambal dengan kulit. Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat kepadanya. Baginda menangis dan meneteskan air mata karena mengenangkan kemewahan Mus’ab ketika berada di Mekkah dahulu (karena sangat dimanjakan oleh ibunya), dan karena memandang nasib Mus’ab sekarang (ketika berada di Madinah sebagai seorang Muhajirin yang meninggalkan segala harta benda dan kekayaan di Mekkah).

Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bagaimanakah keadaan kamu pada suatu hari nanti, pergi di waktu pagi dengan satu pakaian, dan pergi di waktu sore dengan pakaian yang lain pula. Dan bila diberikan satu hidangan, diletakkan pula satu hidangan yang lain. Dan kamu menutupi (menghias) rumah kamu sebagaimana kamu memasang kelambu Ka’bah?

Maka jawab sahabat, “Wahai Rasulullah, tentunya keadaan kami di waktu itu lebih baik dari pada keadaan kami di hari ini. Kami akan memberikan perhatian sepenuhnya kepada masalah ibadat saja dan tidak bersusah payah lagi untuk mencari rezeki”.

Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak! Keadaan kamu hari ini adalah lebih baik daripada keadaan kamu pada hari itu,” (HR. Tirmizi).

Keterangan:

Kekayaan dan kemewahan yang ada, sering kali menyibukkan dan menghalangi kita dari berbuat ibadah. Kita sibuk mengumpulkan harta, juga sibuk menjaganya dan sibuk untuk menambah lebih banyak lagi.

🌷🌻🌷🌻🌷🌻

Jangan silau pada tang gemerlap,
Karena di bawahnya bisa saja hitam.
Jangan kecil hati pada yang kusam,
Karena ia dapat menerangi dunia.
Syukurilah semua pemberianNya
Dan manfaatkan sebanyaknya dalam jalanNya.

Aamiin yra.

Sudahkah kita memiliki banyak teman yang membawa ke surga? Yang berkah, saling mengingatkan di jalanNya? Atau teman yang membawa ke neraka?


image

Sahabat bloggers,
siapakah teman-teman yang benar-benar “blessed” atau “berkah” seperti yang disebut dalam gambar di atas?

Kita simak kiriman Mbak Lyra ini yuk..

🍓🍄🍓🍄🍓🍄

7 macam persahabatan, namun hanya 1 yang sampai hingga Akhirat.

🍒 1. “Ta’aruffan”, adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.

🌲 2. “Taariiihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama, sekolah bersama dan sebagainya.

🌸 3. “Ahammiyyatan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

🍉 4. “Faarihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing, dan sebagainya.

🌻 5. “Amalan”, adalah  persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.

🌾 6. “Aduwwan”, adalah seolah sahabat tetapi musuh, didepan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya…
“Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3 : 120).

🌷 7. “Hubban Iimaanan”, adalah sebuah ikatan persahabat yang lahir batin, tulus saling cinta dan sayang karena ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya.
Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.

Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 – 6 akan sirna di akhirat. Yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah…

“Teman-teman akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43 : 67).

Selalu saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

🌷🌾🌷🌾🌷🌾

Setiap hari aku pun berdoa, semoga kita semua diberikah Allah dengan teman-teman yang sholeh dan sholehah sebanyak-banyaknya di seluruh dunia. Aamii  yra.

Teman-teman inilah yang akan bersama saling mengingatkan dan berupaya membawa teman yang lain ke surga, berlomba dalam meraih ridloNya.

🌷🌾🌷🌾🌷🌾

Allah yang memberikan ujian, Allah pula yang memberikan jalan keluar. Sudahkah kita bertobat dan memohon hanya padaNya, meyakini kekuatanNya?


image

☺ Ketika kita mengeluh:
“Ah mana mungkin…..”
💖 Allah menjawab:
“Jika AKU menghendaki, cukup Kuberkata “Jadi”, maka jadilah (QS.Yasin:82)

☺ Ketika kita mengeluh:
“Capek banget deeh….”
💖 Allah menjawab:
“…dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An- Naba:9)

😩Ketika kita mengeluh:
“Berat banget yah, gak sanggup rasanya…”
💖 Allah menjawab:
“AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS.Al-Baqarah: 286)

😨 Ketika kita mengeluh: “Stressss nih bingung”
💖 Allah menjawab :
“Hanya dengan mengingatKu hati akan menjadi tenang”. (QS.Ar-Ra’d:28)

😧 Ketika kita mengeluh: “Yaaaahh… ini mah semua bakal sia-sia..”
💖 Allah menjawab:
”Siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS.Al- Zalzalah:7)

😟Ketika kita mengeluh:
“Gile aje..gue sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin…”
💖 Allah menjawab:
“Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)

😣 Ketika kita mengeluh:
“Duh..sedih banget deh gue”
💖 Allah menjawab:
“La Tahzan, Innallaha Ma’ana… Janganlah kamu berduka cita sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS.At-Taubah:40)

😩 Ketika kita mengeluh: “Ampuuun, kenapa sih susah amat nih kerjaan…”
💖 Allah menjawab:
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah;6-7).

🌷🌻🌷🌻

Segeralah kembali kepadaNya.. Karena semua kebutuhan kita ada padaNya…

Kita punya dua pilihan, yaitu jadi menjadi manusia yg SEMANGAT atau LEBIH SEMANGAT..!!!

Man Jadda wa Jada ..!!!
Siapa yg BERSUNGGUH-SUNGGUH, maka dia akan DAPAT apa yang diinginkannya…
Wassalammu’alaikum.

Kiriman:
Papa Abid Mariyadi SSTP

Terima kasih kirimannya, Mas.
Semoga Allah selalu memberikan jalan keluar dari berbagai kesulitan Mas. Aamiin yra.

Ucapkan hal yang benar, penting dan baik, atau diam!


image

Mari praktekkan/melatih SATU amal baik hari ini:

Berkatalah yang Baik atau Diam.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.”
HR. al-Bukhari dan Muslim

Rasulullah pernah memberi pelajaran kepada ‘Aisyah ra atas ucapan jelek yang diucapkannya. Dikisahkan oleh ‘Aisyah ra,

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ صَفِيَّةَ امْرَأَةٌ-وَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا كَأَنَّهَا تَعْنِي قَصِيْرَةً-فَقَالَ: لَقَدْ مَزَجْتِ بِكَلِمَةٍ لَوْ مَزَجْتِ بِهَا مَاءَ الْبَحْرِ لَمُزِجَ.

“Aku pernah mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Shafiyyah itu seorang wanita (yang seperti ini).’ ‘Aisyah berisyarat dengan tangannya seolah-olah dia menyatakan ‘pendek’. Rasulullah  mengatakan, ‘Sesungguhnya engkau telah mengatakan sebuah kalimat yang jika engkau campurkan ke air laut, niscaya akan tercemari!’.” 
HR. at-Tirmidzi no. 2502, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor.”
HR. at-Tirmidzi no.1977, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim adalah perbuatan fasik dan membunuhnya adalah perbuatan kufur.”
HR. al-Bukhari no. 48

الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُوْمُ

“Dua orang yang saling mencela, dosanya ditanggung oleh yang memulai, selama orang yang dizalimi tidak melampaui batas.” (HR. Muslim no. 2587)

وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيْهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

“Apabila seseorang mencaci dan mencelamu dengan aib yang ada padamu, jangan engkau balas mencelanya dengan aib yang ada padanya, karena dosanya akan dia tanggung.” (HR. Abu Daud)

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا فِى النَّارِ

“Sesungguhnya seseorang mengatakan satu ucapan yang dia tidak menganggapnya sebagai ucapan jelek, namun ternyata dengan ucapannya itu dia terjerumus selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi no. 2314, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi)

أَنَّ رَسُولَ اللهِ n وَقَفَ عَلَى نَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُم مِنْ شَرِّكُم؟ قَالَ: فَسَكَتُوا، فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ

Rasulullah Saw pernah berdiri di hadapan sekelompok sahabat yang sedang duduk. Lalu beliau bertanya, “Maukah kuberitahukan tentang orang yang terbaik dan orang yang terjelek di antara kalian?” Para sahabat terdiam. Beliau mengulangi pertanyaan itu sampai tiga kali. Berkatalah salah seorang dari mereka, “Tentu, wahai Rasulullah. Beri tahukanlah kepada kami orang yang terbaik dan orang yang terjelek di antara kami.” Beliau pun berkata, “Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang bisa diharap kebaikannya dan orang lain merasa aman dari kejelekannya. Adapun orang yang terjelek di antara kalian adalah orang yang tak bisa diharap kebaikannya dan orang lain tak bisa merasa aman dari kejelekannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2263, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani  dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Lebih dari itu, ucapan yang baik akan membuahkan keutamaan di akhirat nanti.

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Siapa yang bisa menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan -red.) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan -red.), aku akan menjamin surga baginya.” (HR. al-Bukhari no. 6474)

Bahkan, ucapan yang lembut kepada ibu akan membawa kebaikan yang amat besar bagi mereka.

Dikisahkan oleh Thaisalah bin Mayyas,

قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ: أَتَفْرَقُ مِنَ النَّارِ وَتُحِبُّ أَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: إِي، وَاللهِ! قَال: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قُلْتُ: عِنْدِي أُمِّي. قَالَ: فَوَاللهِ، لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتَنَبْتَ الكَبَائِرَ.

Ibnu ‘Umar ra pernah bertanya kepadaku, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” “Ya, demi Allah!” jawabku. “Kedua orang tuamu masih hidup?” ia bertanya lagi. “Aku masih punya ibu,” jawabku. “Demi Allah! Sungguh, kalau engkau lemah lembut berbicara dengannya dan selalu memberinya makan, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau jauhi dosa besar.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 8, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 6)

Sebaliknya, ucapan jelek yang biasa terucapkan akan melekat pula dan menghinakan pemiliknya di dunia dan di akhirat.

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sungguh, seseorang mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk ucapan yang diridhai oleh Allah, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu Allah mengangkatnya beberapa derajat. Sungguh, ada pula seorang hamba mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk perkataan yang dimurkai oleh Allah, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu dia terjatuh ke dalam neraka Jahannam.”
HR. al-Bukhari

Ketika Mu’adz bin Jabal ra bertanya tentang amalan-amalan yang bisa memasukkan seseorang ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, Rasulullah Saw  bersabda,

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى، يَا رَسُوْلَ الله. قَالَ: فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ، قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ – أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِم؟

“Maukah engkau kuberi tahu apa yang mengokohkan itu semua?”
“Mau, wahai Rasulullah!” jawabku. Beliau pun memegang lidah beliau sambil berkata, “Tahanlah olehmu ini!” Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, akankah kita dihukum karena apa yang kita ucapkan?” Beliau bersabda, “Ibumu kehilangan engkau, wahai Mu’adz! Bukankah seseorang ditelungkupkan dalam neraka di atas wajah mereka—atau hidung mereka—karena hasil ucapannya?”
HR. at-Tirmidzi no. 2616, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani  dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi

Kiriman Mbak Lyra

🍒🌲🍒🌲

Terima kasih banyak, Mbak.
Yuk, kita test kata-kata kita:
🍒 benarkah?
🍒 pentingkah?
🍒 baikkah?